Wilayah Pertahanan, Kemanunggalan TNI-Rakyat Bagi Kejayaan Bangsa

Oleh harmen batubara

Sejarah memperlihatkan kepada kita bahwa tumbuhnya kemanunggalan Rakyat-TNI itu sepenuhnya karena tuntutan zaman. Pada masa Revolusi Fisik, inti kekuatan bersenjata pada masa perjuangan kemerdekaan atau revolusi fisik adalah rakyat yang mempersenjatai diri yang diwujudkan dalam kepemimpinan jenderal besar Soedirman, seorang sipil yang berprofesi sebagi guru. Soedirman bangkit memanggul senjata memimpin rakyat, bekas pasukan PETA, dan eks KNIL untuk mempertahankan proklamasi 17 Agustus 1945. Rakyat bersenjata itu kemudian menjadi cikal bakal TNI. Dalam era ini hubungan sipil dan militer adalah bagian dari kehidupan bernegara itu sendiri.

Kemudian Indonesia memasuki masa kemerdekaan dalam Era Demokrasi Terpimpin dan Demokrasi Liberal. Banyak para pengamat melihat hubungan Sipil dan Militer pada era ini tidak memiliki konstelasi yang jelas, begitu juga dengan komunikasi politiknya, bentuk kerjanya, dan prioritas kepentingan. Pada era ini muncullah dua kekuatan politik utama yakni TNI (khususnya TNI-AD) dan Komunis. Amerika dan Eropa terpaksa mendekati TNI untuk menghadapi munculnya kekuatan Komunis di Asia khususnya di Indonesia. Mereka berharap Indonesia jangan sampai jatuh ketangan komunis.

Kemudian Indonesia memasuki era Orde Baru dan perubahan itupun terjadi. Indonesia yang dimotori kekutan TNI membangun hubungan politik dengan Amrika dan sekutunya. Di sisi lain Amerika dengan perhitungannya sendiri, terpaksa “merestui” konsep dwi fungsi ABRI ketimbang membiarkan komunis muncul dengan kekuatan baru di Indonesia. Tetapi kebijakannya dalam persenjataan Alus Sista TNI sangat terkendali. Indonesia hanya diberikan Alut Sista bekas yang sesungguhnya tidak sesuai dengan kebutuhan Pertahanan itu sendiri. TNI boleh dikatakan tidak sempat memikirkan sistem pertahanannya sendiri, karena sepenuhnya aktif dalam memastikan hilangnya paham komunis dari Indonesia sesuai dengan harapan Barat.

Indonesia di Era Reformasi tidak lepas dari perkembangan ekonomi dan politik global yang ditandai oleh runtuhnya Uni Sovyet sebagai Negara Adi Daya dan pihak Barat yang kemudian menghendaki hilangnya konsep Dwi Fungsi ABRI dan menghendaki TNI kembali ke barak menjadi militer profesional seperti konsep militer yang mereka kembangkan di negaranya.Program pemerintahan Jangka Panjang yang terkenal dengan Istilah GBHN harus berakhir dengan Anti Klimaks. Dwi Fungsi Abri, GBHN, dan kepemimpinan Soeharto dianggap sudah tidak sesuai dengan tuntutan zaman. TNI terpisah dan tidak boleh terlibat dalam politik praktis lagi. Hubungan TNI dan Sipil diharapkan berorientasi pada pendekatan kesejahteraan menghindari tindakan militer dalam mengatasi permasalahan bangsa.

Kemanunggalan TNI-Rakyat

Pelan tapi pasti peran TNI sudah mengikuti keinginan Barat, ”Militer tidak lagi memiliki otonomi atau wewenang penuh dalam mengembangkan strategi yang berhubungan dengan perang. TNI hanya fokus pada strategi dan taktis tetapi kapan, dimana mereka perang dan apa sasarannya serta dengan senjta apa mereka berperang sepenuhnya ada dalam otoritas Sipil. Dalam batasan tersebut maka berlaku political atau civilian supremacy atas militer”. TNI terpisah sama sekali dengan kegiatan politik praktis.

Dalam kondisi yang demikian serta dikaitkan dengan kemanunggalan TNI-Rakyat kita kembali ingat semangat nasionalisme kita takkala mempertahankan kemerdekaan pada masa lalu. Kita juga teringat akan pemikiran klasik yang dikembangkan oleh Napoleon Bonaparte, yaitu mengubah tentara profesional, tentara bayaran menjadi tentara rakyat. Napoleon memiliki sikap yang berbeda dengan pemimpin Eropa lainnya waktu itu, dimana Napoleon dalam sejarah perangnya tidak puas dengan tentara professional dan tentara bayaran yang mahir dan terampil menggunakan senjata tetapi tidak didukung oleh rakyat.
Masa itu Napoleon menginginkan adanya tentara rakyat di perancis yang dapat dipupuk dan dipelihara semangat juang serta pengabdiannya kepada bangsa dan negaranya. Fakta memperlihatkan bahwa usaha Napoleon tersebut berhasil, dengan pasukan hanya berkekuatan kecil namun banyak memenangkan perang di medan pertempuran. Selanjutnya seiring berjalannya waktu para pemimpin Negara Eropa lain meniru dan mengadopsi apa yang telah dilakukan napoleon. Bagi kita apa yang telah dilakukan bangsa Indonesia terdapat kesamaan seperti apa yang telah dilakukan Napoleon. Dan hal seperti itu jugalah yang kita sampaikan pada Vietnam dan Korea Utara dalam menghadapi perang dengan Amerika, dan mereka berhasil. Karena perang yang sebenarnya, bukanlah hanya persoalan tentara profesional, tentara bayaran, dan Alut Sista tetapi justeru perang yang dilakukan secara bersama yang dilandasi oleh kebersamaan Tentara dan Rakyat, seperti yang kita kenal dengan kemanunggalan TNI – Rakyat.

Sekarang bagaimana cara kita untuk memupuk dan melestarikan kebersamaan, kemanunggalan TNI-Rakyat haruslah terus dikembangkan sehingga sesuai dengan tuntutan zaman. Selama ini kita masih melihat berbagai program Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD), dan itu jelas sangat menggembirakan. Ke depan kita ingin agar pola TMMD ini tetap bisa serta sesuai dengan semangat dan aturan pada pengelolaan APBN atau APBD dan sekaligus mampu mensejahterakan prajurit dan Rakyatnya. Mereka membangun infrastruktur dan sekaligus kegiatan itu mampu merangkai kebersamaan dan rasa korsa yang baik diantara mereka, dan keluarga besarnya rakyat Indonesia.

x

Silahkan Download Buku Panduan Buat Blog WordPress

Caranya Sangat Mudah. Masukkan Nama dan Email Anda, dan anda akan dituntun untuk Down Load...