Perompak Di Perairan Sabah, Sorganya Penculik Sandra Abu Sayyaf

Oleh Harmen Batubara

Untuk ke sekian kalinya warga Indonesia di culik atau jadi Sandra di perairan Sabah, Malaysia. Bagi kelompok Abu Sayyaf, warga Negara Indonesia adalah Sandra yang empuk dan gampang di jadikan uang. Beda kalau menyandra warga Malaysia, mana urusannya bisa bertele-tele, sudah itu banyak warga “Filipina” di Sabah yang ikut kena imbasnya. Warga Indonesia? Sungguh beda, culik tunggu dua minggu, uang masuk, selesai. Kejadian terahir ini, kurang lebih kronologinya begini. pada pukul 16.00, Sabtu 19 November, kapal ikan Malaysia diawaki 13 ABK yang seluruhnya WNI disergap. Sejumlah perompak naik ke kapal dan meneliti mana calon Sandra yang empuk. Sekitar pukul 19.00  kemudian datang speedboat dan mengambil dua ABK “terseleksi” dan dibawa ke pangkalan mereka di Zulu, Filipina. Sebelum kejadian ini, pada 5 November 2016 lalu, penculikan menimpa dua nakhoda Indonesia asal Buton.

Reaksi Indonesia, seperti biasa “heboh” dan sesaat setelah insiden itu, Menlu Retno Marsudi segera terbang ke Negeri Jiran bertemu Koleganya, untuk melakukan upaya yang terbaik dan meminta bantuan kerja sama untuk membebaskan para sandera. Menlu Retno Marsudi juga menagih janji Malaysia untuk memberikan jaminan keselamatan bagi 6.000 nelayan warga negara Indonesia yang bekerja di kapal-kapal penangkap ikan milik saudagar Malaysia. Seperti biasa Menteri Besar Sabah di Kota Kinabalu, Dato Musa Aman yang didampingi Komandan Eastern Sabah Security Command (ESSCOM) sebagai “penguasa perairan Sabah”, Mayjen Wan Abdul Bari memberi respon positif terhadap permintaan Menlu RI. Mereka menyatakan siap bertanggungjawab atas insiden penculikan dua kapten kapal asal Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara  sabtu lalu itu. “ESSCOM adalah armada Malaysia yang bertanggungjawab atas keamanan di wilayah Perairan Sabah. Esscom bisa jadi padanannya di kita setingkat dengan “Armada”?

Baca Juga : Operasi Pembebasan Sandra Abu Sayyaf

Menteri Besar maupun Komandan ESSCOM juga menyampaikan dapat memahami sepenuhnya keprihatinan tersebut. Baik Menlu RI atau Menteri Besar Sabah dalam pertemuan di Kota Kinabalu juga menyepakati ada beberapa upaya antisipasi kejahatan laut. Mereka akan melakukan beberapa pendekatan baru antara lain dengan mewajibkan pemilik kapal melengkapi kapal dengan peralatan Automatic Identification System (AIS), melakukan sosialisasi langkah pengamanan pelayaran kepada majikan dan para anak buah kapal.”Membangun mekanisme quick response yang lebih baik serta membuat safety point di sejumlah pulau kecil di sekitar perairan Sabah,” katanya.  Ya hanya itu yang bisa kita dapatkan. Tapi itupun ya disyukuri sajalah.

Sabah dan Perairan Sabah Memang Rentan

Masih ingat kejadian “Pendudukan[1]” Sabah yang menghebohkan itu? Kejadian itu bermula pada tanggal 9 Februari 2013, saat itu ada rombongan perahu motor penuh muatan senjata dan manusia berseragam ala militer yang merapat di pantai dekat Lahat Datu, Sabah Malaysia Timur. Banyak diantara mereka terlihat lengkap dengan senjata berat. Kemudian pada keesokan harinya gerombolan pendatang itu sudah terlihat merapat perkampungan perkebunan dekat Lahad Datu, kejadian itu kemudian di laporkan penduduk pada Polisi maka terjadilah “Drama pendudukan Sabah”. Hari hari berikutnya, rombongan besar terus mengalir, dan entah kenapa pasukan penjaga perbatasan Malaysia nampaknya jauh dari siap. Ibarat serangan dadakan, semua sudah terlambat.  Ternyata tokoh di belakang semua ini adalah Jamalul Kiram III, Sultan Sulu dari Filipina.

Bayangkan terkait apa yang dilakukan oleh pemerintah Malaysia? Hampir satu bulan penuh, mereka tidak juga melakukan sesuatu yang berupa serangan balasan. Barulah pada tanggal 5 Maret 2013, Malaysia muncul dan sedikitpun tidak pernah ragu-ragu, negara itu melakukan serangan udara di pagi Selasa tanggal 5 Maret 2013; 8 jet tempur Angkatan Udara Malaysia yang terdiri dari 3 Hornet dan 5 Hawk berusaha meluluh lantakkan kawasan “hunian” pejuang Sulu yang sudah melakukan penyusupan sejak  9 Februari 2013 di Kampung Tanduo Lahad Datu Sabah.  Serangan itu kemudian dilanjutkan dengan pengerahan ribuan militer Malaysia berikut persenjataan berat berupa kendaraan lapis baja dan artileri.

Juga Baca : Penduduk Sabah dan Filipina

Filipina meradang, warganya dibantai, secara hukum sulit bagi Filipina untuk berbuat sesuatu. Untuk saat itu pemerintah Filipina hanya bisa berharap dan mendesak Malaysia untuk melakukan toleransi maksimum untuk menghindari pertumpahan darah lebih lanjut. Menteri Luar Negeri Filipina Albert del Rosario (waktu itu) berada di Kuala Lumpur untuk bertemu dengan menteri luar negeri Malaysia. “Kami telah melakukan segala sesuatu untuk mencegah hal ini terjadi, tapi pada akhirnya orang-orang Sulu memilih jalan ini,” kata juru bicara Presiden Filipina, Ricky Carandang. Menteri Luar Negeri Malaysia, Anifah Aman mengatakan kepada TV3, Malaysia menganggap kelompok Filipina sebagai teroris yang telah melakukan kekejaman dan kebrutalan. Dia juga meminta Filipina melakukan aksi hukum melawan Sultan Sulu Jamalul Kiram III. Bagaimanapun, krisis di Lahad Datu telah memicu kekhawatiran timbulnya ketidakstabilan di Sabah karena sejumlah warga Filipina bersenjata telah memasuki kabupaten lain di Sabah. Kepala Polisi Malaysia Ismail Omar mengatakan aparat polisi dan militer masih memburu orang-orang Filipina di daerah Lahad Datu yang mencakup lahan perkebunan dan medan berbatu.

Sabah Yang Indah dan Tempat Mencari Nafkah Kehidupan

Bagi negara tetangganya, Filipina dan Indonesia Sabah adalah negeri elok yang bisa memberikan mereka kehidupan. Bayangkan, jumlah warga Sabah asal Filipina, khususnya Muslim Filipina dari Mindanao sebenarnya tergolong besar. Perdagangan di Kinabalu boleh dikatakan dikuasai oleh warga Muslim Filipina. Hanya anehnya. warga sabah asal Filipina Selatan ini tidak dianggap sebagai warga negara. Mereka hanya dianggap sebagai penduduk tetap bahkan banyak diantaranya  yang dianggap sebagai pendatang gelap. Sesuai data Biro Statistik Malaysia 2010, mayoritas penduduk Sabah adalah warga pendatang yang bukan berkewarganegaraan Malaysia. Komposisinya, dari sekitar 3,2 juta populasi Sabah, 27,81 persen adalah warga pendatang, di urutan kedua, warga Bumiputra (20 persen), urutan ketiga dan selanjutnya berturut-turut adalah; Kadazan-Dusun (17,82 persen), Bajau (14 persen), Cina (9,11 persen) dan Brunei-Melayu ( 5,71 persen).

Bagi para pelaut Indonesia, Sabah dan perairan Sabah adalah sorganya bagi para awak kapal pencari Ikan. Data terahir, ada sekitar 6000 WNI yang menjadikan nelayan penangkap ikan di kapal-kapal Malysia sebagai tulang punggung penopang kehidupannya. Caranya juga sangat sederhana, Kapal itu seutuhnya, setelah diisi dengan “bekal” melayar sesuai waktunya diserahkan untuk di kelola oleh awak ABK WNI. Merekalah yang jadi “tuan” di atas kapal itu, setelah hari yang ditentukan; mereka kembali ke Touke, menyerahkan hasil tangkapan mereka, Touke kemudian melakukan perhitungan, semua dapat bagian dan semua senang. Meski tidak membuat mereka kaya, tetapi jauh lebih baik daripada mereka jadi nelayan di wilayahnya sendiri di Indonesia. Karena Ikan sebanyak apapun tangkapan di Malaysia pasti laku dan malah kekurangan. Sebaliknya di negeri sendiri, kalau tangkapannya banyak, malah bisa jadi malapetaka. Tidak ada yang beli. Tidak tahu apakah hal ini masih berlaku saat ini. Khususnya setelah Bu Susi membuat berbagai terobosan tentang Perikanan di Indonesia.

Bagi warga Filipina, ceritanya juga relative sama. Banyaknya warga Filipina di Sabah disebabkan kehidupan mereka di Filipina Selatan kurang lebih sama dengan di Indonesia yang sama sekali tidak memberi harapan. Indonesia dan Filipina adalah dua negara Terkorup di Asia, yang program pembangunannya sangat bagus dan ideal, tetapi uangnya di korupsi oleh para pejabatnya. Ya di eksekutif, legislative dan bahkan Yudikatif (dahulu, semoga sekarang sudah tidak lagi).  Tidak heran, warga Filipina Selatan dan Indonesia tertarik untuk merantau ke Sabah. Secara geografis, lokasi Sabah sangat dekat dengan Pulau Sulu di Filipina Selatan. Bagi WNI juga tidak kalah dekatnya. Bisa ditempuh dalam waktu satu jam dengan perahu motor dan lima belas menit dari Pulau Sebatik.

Jadi apa yang bisa kita katakana? Mau melarang warga berusaha di negeri itu? Ya sama saja dengan bohong. Soal pembajakan? Ya itu adalah resiko kehidupan. Bahwa harga Sandra sekarang ini lagi tinggi nilainya di Indonesia? Yah arena kita menaruh harga yang tinggi atas mereka. Padahal kalau dibiarkan begitu saja. Ya Abu Sayyaf tidak akan tertarik. Memang konyol. Ya kadang-kadang kita harus bisa melihatnya secara jernih dan biasa. Apalagi kalau hal itu dihubungkan dengan “ kegaduhan” yang akan di timbulakannya di dalam negeri sendiri. Ya memang begitulah bernegara. Kita hanya ingin mengatakan. Kehidupan ini setiap harinya pasti akan berlalu, bahwa kita berharap agar Malaysia bisa mengamankan perairan Sabah bagi kepentingan warga kita, tentu sebuah harapan yang terlalu jauh. Kalau keamanan negaranya sendiri juga “kebobolan”, bagaimana mereka bisa memberi rasa aman bagi pekerja ABK Indonesia? Yang terlalu itu ya kita yang berharap itu.

[1] Baca juga : http://www.wilayahperbatasan.com/wilayah-perbatasan-ada-apa-dengan-pendudukan-sabah/

  • iphone
x

Silahkan Download Buku Panduan Buat Blog WordPress

Caranya Sangat Mudah. Masukkan Nama dan Email Anda, dan anda akan dituntun untuk Down Load...