Wilayah Pertahanan, Memilih Partner Dalam Membenahi Alut Sista Pertahanan

Oleh harmen batubara
Fakta memperlihatkan, kekuatan Alut Sista pertahanan Indonesia sangat membanggakan saat Indonesia berteman baik dengan Rusia. Pilihan itu adalah sesuatu yang alami. Saat perebutan Irian Jaya waktu itu, Belanda justeru berada satu pihak dengan sekutu plus Amerika. Tiongkok pada zaman itu, juga masih sebatas negara yang penuh dengan trauma sebagai negara taklukan barat plus Jepang. Kondisi seperti itulah yang menyebabkan Semangat Trikora kala itu memintak dukungan Rusia. Gayung bersambut luar biasa. Presiden Soekarno yang pernah di buang ke Boven Digul, juga tahu dengan niat pecah-belah dan adu domba Belanda dibantu Sekutu, yakni dengan membentuk negara boneka Papua, negara yang seolah-olah berdiri sendiri tetapi sebenarnya sepenuhnya dibawah kendali Belanda.
Presiden Sukarno dengan pilihan yang ada mengambil tindakan ekstrim, tujuannya satu, merebut kembali Irian Jaya. Sukarno segera mengeluarkan maklumat “Trikora” di Yogyakarta, dan isinya adalah: Gagalkan pembentukan negara boneka Papua buatan kolonial Belanda; Kibarkan Sang Saka Merah Putih di seluruh Irian Barat; dan Bersiaplah untuk mobilisasi umum, mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan tanah air bangsa.
Di saat seperti itulah Indonesia mendapatkan bantuan besar-besaran berupa kekuatan super power baik dalam wujud armada laut dan udara, dan bisa dikatagorikan sebagai negara dengan kekuatan militer terdepan di dunia dengan nilai raksasa, US$ 2.5 milyar saat itu. Masa itu, kekuatan militer Indonesia menjadi yang terkuat di seluruh belahan bumi selatan. Kekuatan utama Indonesia di saat Trikora itu terlihat dari salah satu kapal perang terbesar dan tercepat di dunia buatan Sovyet kelas Sverdlov, dengan 12 meriam raksasa kaliber 6 inchi, dinamai KRI Irian, dengan bobot raksasa 16.640 ton dengan awak sebanyak 1270 orang termasuk 60 perwira. Sovyet, tidak pernah sekalipun memberikan kapal sekuat ini pada bangsa lain manapun, kecuali Indonesia. (bayangkan kapal-kapal terbaru Indonesia sekarang dari kelas Sigma hanya berbobot 1600 ton).
Demikian pula dengan angkatan udara Indonesia, juga menjadi salah satu skuadron udara paling ditakuti di dunia sat itu, yang terdiri dari lebih dari 100 pesawat tercanggih di zamannya yang terdiri dari : 20 pesawat pemburu supersonic MiG-21 Fishbed ; 30 pesawat MiG-15; 49 pesawat tempur high-subsonic MiG-17; dan 10 pesawat supersonic MiG-19.
Pesawat MiG-21 Fishbed misalnya adalah salah satu pesawat supersonic tercanggih di dunia saat itu, yang telah mampu terbang dengan kecepatan mencapai Mach 2. Pesawat ini bahkan lebih hebat dari pesawat tercanggih Amerika kala itu, pesawat supersonic F-104 Starfighter dan F-5 Tiger. Sementara Belanda sendiri masih mengandalkan pesawat-pesawat peninggalan Perang Dunia II seperti P-51 Mustang. Indonesia juga masih memiliki armada 26 pembom jarak jauh strategis Tu-16 Tupolev. Fakta ini membuat Indonesia menjadi salah satu dari hanya 4 bangsa di dunia yang mempunyai pesawat pembom strategis, yaitu Amerika, Rusia, dan Inggris. Pangkalannya terletak di Lapangan Udara Iswahyudi, Surabaya.
Bayangkan negara sebesar China atau sekaya Australia pun belum memiliki pesawat pembom strategis seperti itu. Pembom ini juga dilengkapi berbagai peralatan elektronik canggih dan rudal khusus anti kapal perang AS-1 Kennel, yang daya ledaknya bisa dengan mudah menenggelamkan kapal-kapal tempur Barat.Indonesia juga memiliki 12 kapal selam kelas Whiskey, puluhan kapal tempur kelas Corvette, 9 helikopter terbesar di dunia MI-6, 41 helikopter MI-4, berbagai pesawat pengangkut termasuk pesawat pengangkut berat Antonov An-12B. Total, Indonesia mempunyai 104 unit pesawat tempur. Belum lagi ribuan senapan serbu terbaik saat itu dan masih menjadi legendaris sampai saat ini, AK-47.

Orde Baru dan Persahabatan Dengan Amerika

Anda bisa bayangkan bagaimana Amerika melihat posisi Indonesia pada saat itu. Amerika melihat jangan sampai Indonesia benar-benar jadi negara satelit Uni Sovyet. Hal itu harus mereka perlihatkan bahwa Amerika juga adalah negara sahabat bagi Indonesia. Salah satunya ditunjukkan Amerika di bawah pimpinan John F. Kennedy memintak paksa Belanda untuk segera keluar dari Papua, dan dengan lantang menyatakan dalam forum PBB bahwa peralihan kekuasaan di Papua, dari Belanda ke Indonesia adalah sesuatu yang harus dilakukan.
Belanda tidak saja telah menjajah negera kepulauan ini serta menguras harta kekayaan alamnya, tetapi juga telah menanamkan semangat devide et impera yang sangat melumpuhkan perkembangan negara kesatuan ini menjadi suatu negara yang layak jadi pimpinan di kawasan ini. Dipercaya NKRI akan mampu menghadapi berbagai himpitan persoalan yang tengah menimpanya, termasuk dengan pendekatan Demokrasi Asimetri yang didesain agar sesuai dengan kondisi lokal yang ada. Secara perlahan, kita melihat Aceh sudah mulai bisa melihat “jalannya”, demikian juga Papua, kita berharap suatu saat mereka juga akan menemukan jalan yang sesuai dengan kondisi wilayahnya.
Pada tahun 1960 an awal lahirlah Orde Baru dan ternyata Amerika dengan cara-caranya sendiri berhasil mengambil alih persabatan antara Indonesia- Rusia untuk kembali jadi sahabat Amerika. Orde Baru mengikis habis pertemanan dengan Rusia termasuk dengan Tiongkok. Sejak itu pulalah kekuatan Udara dan Laut Indonesia jadi lumpuh karena ketiadaan suku cadang. Di dalam negeri, konsolidasi kekuatan rezim Orde Baru yang berbasiskan TNI Angkatan Darat berusaha meredam kekuatan Angkatan Udara dan Angkatan Laut yang dikenal memiliki banyak elemen pendukung rezim sebelumnya.
Pesawat MiG-21 akhirnya di-grounded setelah terjadi beberapa kali kecelakaan. Sesudah itu dari sekutu Amerika, Australia, pada 1970-an sempat mendatangkan hibah pesawat F-86 Sabre eks RAAF Australia dan pesawat latih T-33 dari Amerika Serikat untuk menjaga kemampuan terbang para penerbang TNI AU. Kondisinya benar-benar sangat memprihatinkan ketika itu. Pada Operasi Seroja di Timor-Timur 1976 masih dioperasikan pesawat tua, termasuk B-25 Mitchell dan pesawat-pesawat tua Dakota untuk mendukung operasi tempur, untungnya waktu itu Amerika mendorong upaya tersebut dan lagi pula yang dibutuhkan waktu itu cukup dengan memakai kekuatan Angkatan Darat saja sudah cukup.
Tetapi kemudian Amerika dan sekutunya mulai berbalik arah namun demikian Orde Baru waktu itu berhasil meyakinkan Amerika Serikat untuk mendapat dukungan persenjataan, termasuk jet-jet tempur maka hadirlah jet tempur yang ditampilkan dalam parade Hari ABRI, 5 Oktober 1980, yakni jet tempur F-5E yang dibeli baru dari Amerika Serikat dan jet tempur A4-E Skyhawk (Skuadron Udara 11) bekas pakai yang dibeli dari Israel hasil Operasi Alpha lihat buku TNI-AU: Elang Tanah Air di Kaki Lawu: Sejarah Pangkalan Udara Iswahjudi, 1939-2003.
Pesawat-pesawat F-5E Tiger datang dengan diangkut pesawat angkut raksasa C-5A Galaxy yang mendarat di Lanud Iswahjudi, Madiun, Jawa Timur, 21 April 1980. Teknisi Amerika Serikat melatih teknisi TNI AU. Pelatihan kepada penerbang TNI AU di Amerika Serikat dimulai dengan kehadiran mereka sejak 5 Desember 1979 dan 19 Januari 1980 di Lanud Williams di Negara Bagian Arizona. Sebanyak 16 unit atau satu skuadron penuh F-5E dimiliki TNI AU. Operator F-5E adalah Skuadron Udara 14 yang sebelumnya mengoperasikan MiG-21 (1962-1970) dan F-86 Sabre (1974-1980). Selama periode Orde Baru pada 1980-an hingga 1990-an, F-5E Tiger menjadi tulang punggung kekuatan dirgantara Indonesia, termasuk menjaga keamanan Konferensi Tingkat Tinggi Nonblok di Jakarta pada 1992

Era Reformasi Bersahabat dengan Rusia, Amerika dan Tiongkok

Pada ujungnya kita bisa melihat fakta bahwa persoalan Alut Sista tidak lepas dari persahabatan antar negara itu sendiri. Pertanyaannya bisa kah kita mempunyai Alut Sista kuat dan modern tetapi hanya sekedar pembeli semata? Maka siapapun itu pasti bisa menjawabnya sendiri. Fakta memperlihatkan teman-teman sekutu yang berada di luar benua Amerika-Eropa dan Australia tidak pernah sepenuhnya memperoleh Alut Sista yang memadai sebaliknya ketergantungannya dengan Sekutu kian tinggi. Yang sering kita lihat alut sista yang mereka berikan adalah alut sista bekas pakai dari negara-negara sekutu itu sendiri. Sementara dari Fakta juga kita bisa melihat bagaimana Rusia bisa memberikan semuanya, tanpa pernah bertanya. Semua itu adalah soal pilihan dan kita harus paham teman yang abadi itu hanyalah pada kepentingan. Mau tidak mau kita harus memperkuat Industeri pertahanan sendiri.

x

Silahkan Download Buku Panduan Buat Blog WordPress

Caranya Sangat Mudah. Masukkan Nama dan Email Anda, dan anda akan dituntun untuk Down Load...