Cart

Home Page

China Yang Kuat dan Stabilitas di Kawasan

Kebangkitan China sebagai kekuatan utama dunia memicu dinamika pelik. Isu Laut China Selatan dan perang dagang merupakan beberapa di antaranya. Berkat kekuatan ekonomi besar dan militer digdaya, China mampu ”merealisasikan” klaim wilayah di Laut China Selatan dengan membangun pulau buatan. Di atas daratan anyar tersebut dibangun pula hanggar dan landasan pacu. Tak mudah bagi negara-negara di sekitar Laut China Selatan untuk menandingi langkah Beijing ini. Dibutuhkan biaya sangat besar dan peralatan rumit untuk membangunnya.

Membangun Pertahanan Negara Kepulauan

Dalam hal pemenuhan Alut Sista pemerintah Jokowi-JK memilih untuk memanfaatkan kemampuan teknologi dan bisnis nasional, dalam artian mengembangkan kemampuan produksi persenjataan canggih nasional serta sekaligus menjadikannya lading bisnis yang menjanjikan. Terlebih lagi bila dilihat dari segi ancaman strategis dalam kurun waktu 20 tahun ke depan, maka memenuhi Alutsista sendiri dengan produksi nasional akan memungkinkan kekuatan sendiri. Maksudnya kita tidak memerlukan senjata canggih mutakhir tetapi lebih cenderung membutuhkan berbagai alut sista yang dalam hal hal tertentu bisa dimanfaatkan untuk kepentingan bantuan pada penanggulangan bencana nasional. Karena secara fakta kebutuhan nyata kita adalah berbagai alut sista yang bisa membantu penanggulangan bencana nasional.

Membangun Pertahanan Dengan Produk AlutSista Sendiri

Keinginan untuk membangun industri pertahanan dalam negeri bukan hanya untuk meminimalkan ketergantungan kepada negara lain. Namun jauh dari itu. Penguasaan industri pertahanan, seperti di banyak negara, akan meningkatkan penguasaan teknologi yang pada gilirannya memberikan efek berganda terhadap pengembangan bisnis industri di luar pertahanan itu sendiri. Hal ini mengingat industri pertahanan selalu memerlukan teknologi yang lebih maju, presisi tinggi serta inovasi. Penguasaan teknologi seperti itu juga akan meningkatkan rasa percaya diri sebagai bangsa.

Halusinasi Dwifungsi Ditengah Supremasi Sipil

Penderita halusinasi DFA lupa bahwa militer adalah penyokong utama sebuah negara dalam menjalankan agenda demokrasi, terutama di negara berkembang di mana kaum militer merupakan bagian yang terintegrasi pada negara dengan beragam derajat dan fungsinya. Karena itu, keterlibatan militer dibutuhkan untuk melaksanakan dan menciptakan nation building. Ketakpahaman tentang makna peran militer dalam kukuh, tegak, dan utuhnya demokrasi diikuti kealpaan sebagian mereka pada sejarah perjalanan bangsa—yang sebenarnya terbukti memiliki tentara lebih berwawasan demokratik dibandingkan tentara mana pun di belahan bumi.

Pertahanan Perbatasan : Menjaga Kepentingan Nasional RI

Seperti apa pertahanan RI dalam menjaga Kedaulatannya? Seperti apa pertahanan RI di Perbatasan? Kemampuan pertahanan seperti apa yang kita punya di area Perbatasan serta area Flash Points? Pertahanan negara adalah benteng utama dalam menjaga kepentingan Nasional. Kepentingan Nasional itu terdiri dari kepentingan nasional Abadi dan termaktub dalam Konstitusi kita pada Pembukaan UUD 1945 yang meliputi Kedaulatan Nasional, Integritas Teritorial dan Keselamatan Bangsa, serta Kepentingan Nasional Dinamis yang muncul akibat perkembangan lingkungan strategis

Pertahanan, Bangga Dengan Produk AlutSista Sendiri

Membangun industri pertahanan dalam negeri bukan hanya untuk meminimalkan ketergantungan kepada negara lain. Namun jauh dari itu. Penguasaan industri pertahanan, seperti di banyak negara, akan meningkatkan penguasaan teknologi yang pada gilirannya memberikan efek berganda terhadap pengembangan industri di luar pertahanan itu sendiri. Hal ini mengingat industri pertahanan selalu memerlukan teknologi yang lebih maju, presisi tinggi serta inovasi. Penguasaan teknologi seperti itu juga akan meningkatkan rasa percaya diri sebagai bangsa. Dalam produksi pesawat, kita memiliki PT Dirgantara Indonesia (PTDI). Indonesia patut bersukur, produk PTDI telah dibeli sejumlah negara, sahabat antara lain Thailand, Filipina, Malaysia, Brunai dan Senegal. PTDI juga memproduksi helikopter EC725 Cougar (Super Puma) yang memiliki spesifikasi mirip dengan AW 101.

Kogabwilhan, Komando Tri Matra Pertahanan Negera Kepulauan

Satuan TNI Terintegrasi mulai dibangun tahun 2016. Hadi menjelaskan, ke depan Satuan TNI Terintegrasi direncanakan menjadi Komando Gabungan Wilayah Pertahanan. Ia menambahkan, walaupun sudah diresmikan, menurut rencana akan banyak pengembangan dilakukan di Natuna.
Komando Tri Mtra atau Komando Wilayah Gabungan telah mulai di rancang pada saat era Presiden SBY. Pada waktu itu, Kementerian Pertahanan (Kemenhan) telah menyusun struktur baru untuk membangun pertahanan Indonesia yang lebih kuat. Struktur baru itu dinamakan Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan). Panglima komando akan dijabat oleh jenderal bintang tiga.

Membangun Kemampuan Mematikan Separatisme

Selama ini kita tidak melihat sesuatu yang khas serta dikemas untuk diperuntukkan bagi penanganan para penggiat separatism. Polanya hanya sejenis “memadam kebakaran”. Kalau persoalannya lagi “mengendap” maka semua berjalan sebagaimana biasa. Tetapi kalau separatism itu muncul, maka dilakukan pulalah operasi “penumpasan” teroris, begitu seterusnya. Padahal kita percaya, kalau pengalaman TNI dan berbagai elemen bangsa lainnya dimanfaatkan dengan tepat, kita percaya Indonesia mempunyai kemampuan yang tidak terbantahkan dalam hal menangani masalah separatism. Sayang kalau potensi semacam itu tidak dimanfaatkan untuk kebaikan bersama dalam membangun bangsa.

Tank Harimau, Tank Unggulan Untuk Medan Asia

PT Pindad (Persero) memperkenalkan kendaraan tempur terbarunya TANK HARIMAU pada pameran teknologi industri pertahanan Indo Defence 2018 Expo and Forum di Jakarta, Rabu-Sabtu (7-10/11/2018). Tank medium yang dikembangkan bersama FNSS, perusahaan industri strategis asal Turki, ini siap diproduksi secara massal. Ada dua unit Tank Harimau yang diperkenalkan dalam kesempatan ini. Tank yang diproduksi di Indonesia ditempatkan di dalam area pameran di gedung Jakarta Internasional Expo, Kemayoran, sedangkan tank yang diproduksi di Turki dipamerkan di lapangan bersama sejumlah kendaraan tempur lainnya.

Impian Indonesia Untuk Membuat Pesawat Tempur Sendiri

Disamping perihal Izin dari AS., perlu juga di garis bawahi bahwa Proyek KFX/IFX yang dimenangkan oleh Konsersium KAI KorSel dengan perusahaan AS-Lockheed Martin. Kita tahu Lockheed Martin juga tengah menangani Program pengadaan pesawat jet tempur canggih dan berbiaya lebih murah, F-35 di AS, juga menghadapi berbagai kendala dan keterlamabatan. Dalam prosesnya ternyata pesawat yang F-35 yang diproduksi Lockheed Martin itu tidak semurah seperti yang direncanakan. Waktu pembuatannya juga molor dari jadwal yang direncanakan. Artinya ada hal hal yang memang perlu di lihat secara lebih realistis kembali agar kerja sama RI-Korsel dalam pengembangan Jet Tempur ini nantinya bisa lebih memberikan manfaat.

Industri Pertahanan Nasional, Bisnis dan Strategi  Samudra Biru

Dengan membeli produksi PT DI, banyak keuntungan yang diperoleh TNI. Misalnya, kalau membeli di luar negeri, seperti AS, pasti banyak pembatasan. Sementara dengan PT DI, minta apa saja akan dikasih. ”TNI juga dapat dukungan purnajual dan bisa tingkatkan kemampuan Indonesia, baik dalam pertahanan maupun lapangan kerja,” kata Budi.
Komandan Pusat Penerbangan TNI AD Brigjen N Wachju Rianto mengatakan, heli NBell 412 EP akan dipergunakan untuk heli angkut dan ditempatkan di Skuadron 31 Semarang. ”Nanti juga akan dilengkapi dengan senapan 30 mm di kiri dan kanan heli. Ini untuk pengamanan saat pendaratan,” ujar Wachju. Asisten Logistik TNI AD Mayjen Wibowo mengatakan, heli NBell 412 EP berkapasitas mesin yang lebih besar serta semua peralatannya sudah digital. Heli ini juga bisa melakukan an auto-pilot hovering, yakni terbang stabil di udara secara otomatis.

Pertahanan Negara,  Poros Maritim dan Industri Pertahanan Nasional

Munculnya pemikiran dan keinginan untuk membangun pertahanan seiring dengan perkembangan poros Maritim Nusantara, secara langsung telah memberikan masukan perlunya penyesuaian dan pemahaman baru terkait pertahanan nasional. Ada beberapa hal penting yang perlu disampaikan di sini. Pertama, sebagai negara kepulauan, prioritas pertahanan memerlukan pertimbangan lebih besar dialokasikan untuk pengembangan alat utama sistem persenjataan (alutsista) TNI AL dan TNI AU karena luasnya area yang harus mereka amankan. Kedua, adanya wacana Menteri Pertahanan, Januari 2014 lalu, untuk membentuk Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan). Apakah wacana itu masih valid? Terutama bila dikaitkan dengan pertumbuhan Ekonomi Indonesia berkisar di pusaran 5 plus persen? Kalau Alut sistanya masih yang itu-itu saja, jelas Kogabwilhan anggak akan bermakna.