Akankah AS kehilangan Muka di Afganistan, Seperti Rusia

January 27, 2010 by harmen · Leave a Comment
Filed under: Forum Pertahanan, Pertahanan 


Kedutaan AS secara terbuka menyampaikan keluhan, Kamis (7/1), karena staf-stafnya telah ditahan dan dilecehkan saat mereka melakukan perjalanan di seputar Pakistan. Protes terbuka yang sangat jarang terjadi itu menggambarkan ketegangan seiring dengan penambahan kehadiran personel AS di Pakistan. ”Misi AS untuk Pakistan khawatir mengenai berlangsungnya terus tindakan-tindakan provokatif dan tuduhan-tuduhan keliru terhadap personel AS, yang bekerja untuk melaksanakan kemitraan baru antara pemimpin-pemimpin Pakistan dan AS,” demikian disampaikan Kedutaan Besar AS dalam pernyataannya.

AS menuntut tindakan segera dan pengaturan yang layak untuk memungkinkan misi-misi asing bisa melakukan tugas-tugas mereka. AS meminta Kementerian Luar Negeri Pakistan melaksanakan tanggung jawabnya untuk memfasilitasi pengaturan yang selayaknya sehingga misi-misi asing bisa bekerja dengan keamanan penuh. Pejabat-pejabat AS mengatakan, mereka perlu memperbanyak staf kedutaannya untuk membantu menyalurkan bantuan 7,5 miliar dollar AS ke Pakistan. Akan tetapi, banyak warga Pakistan yakin AS membawa mata-matanya untuk mengganggu stabilitas Pakistan dan mengambil alih program nuklir mereka.

Sebelumnya, Pakistan juga merasakan hal yang sama, Pakistan menghendaki kejelasan dalam strategi baru Presiden AS Barack Obama di Afganistan. Perdana Menteri Pakistan Yousuf Raza Gilani, Kamis (3/12) di London, mengatakan, kejelasan itu diperlukan agar Pakistan bisa menentukan posisi dalam strategi baru AS. ”Berkenaan dengan kebijakan baru Presiden Obama, kami tengah mempelajarinya. Kami memerlukan lebih banyak kejelasan dan setelah ada kejelasan, kami akan melihat apa yang bisa kami lakukan untuk rencana itu,” kata Gilani.

Pakistan khawatir bahwa penambahan pasukan AS di Afganistan hanya akan mendorong kelompok Taliban lebih jauh ke Pakistan dan membuat daerah perbatasan kedua negara kian tidak stabil. Itulah sebabnya, pengumuman Obama untuk mengirimkan 30.000 tentara tambahan ke Afganistan tidak mendapat sambutan di Pakistan. Gilani berada di London untuk mengadakan pembicaraan dengan Perdana Menteri Inggris Gordon Brown. Brown telah lama melobi Pemerintah Pakistan untuk berbuat lebih banyak guna menemukan tempat persembunyian para pemimpin Al Qaeda di sepanjang perbatasan Pakistan-Afganistan.

Amerika Akan Dipermalukan

Amerika sebenarnya ingin secepat mungkin bisa keluar dari Afganistan, tetapi jalan untuk itu tidak ada, selama Taliban masih menjadi musuh utamanya. Para analis malah hawatir, dengan pengumuman Obama bahwa tentara AS akan mulai ditarik dari Afganistan pada Juli 2011, justeru akan jadi penambah semangat bagi Taliban. Keluarnya pasukan AS yang prematur bisa mengguncang Afganistan dan Pakistan. ”(Penarikan pasukan) ini akan menyebabkan efek samping yang besar dan merusak,” kata Ahmad Behzad, anggota parlemen Afganistan, di Kabul.

”Kami pikir, memberi batas waktu tahun 2011 bukan keputusan bijaksana karena jika Taliban cukup pintar, mereka akan berhenti bertempur saat ini dan menunggu hingga tentara AS keluar lalu memulai serangan,” kata pejabat keamanan senior Pakistan.
Di Brussels, para menteri luar negeri negara anggota NATO bertemu untuk membahas permintaan AS. Italia, Inggris, Georgia, Polandia, dan Slovakia telah berjanji mengirimkan tambahan pasukan. Namun, Perancis, Jerman, dan Denmark lebih hati-hati. Banyak pemerintahan negara anggota NATO menghadapi pandangan publik yang lebih skeptis tentang perang di Afganistan dibandingkan di AS atau Inggris.

Wacana yang berkembang adalah kembali merangkul Taliban, hal ini terlihat bocoran “sengaja” dibocorkan, surat kawat duta besar AS di Kabul yang mengatakan bahwa Karzai bukanlah mitra strategis AS. Menurut mantan kepala Intelijen Pakistan Brigjen Pur Amir Tarar- kini saatnya AS melakukan jalur diplomasi dengan pimpinan Taliban; Negosiasi untuk suatu penyelesaian politik atas perang di Afganistan harus dilakukan AS langsung dengan pemimpin Taliban Afganistan, Mullah Mohammad Omar. Dia cukup terbuka untuk membicarakan penyelesaian politik seperti itu. Menurut Tarar, ”Jika sebuah pesan tulus datang dari pihak Amerika, orang- orang ini (Taliban) akan sangat berbesar hati. Mereka akan mendengar. Namun, jika Anda berusaha memecah belah Taliban, Anda akan gagal. Siapa pun yang meninggalkan Mullah Omar bukan lagi Taliban. Orang-orang seperti itu hanya berusaha menipu,” Selasa (26/1).

Komentar itu disampaikan saat AS dan sekutu-sekutunya di Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) semakin cemas dalam mencari sebuah jalan menuju penyelesaian politik atas perang di Afganistan, yang telah berlangsung lebih dari delapan tahun itu. Perang itu semakin menyita pengerahan sumber daya manusia dan dana serta semakin banyak ditentang warga di banyak negara yang terlibat perang. Di Washington, AS, Penasihat Keamanan Nasional James Jones mengisyaratkan penolakan pemerintahan Barack Obama agar menjadikan badan intelijen Pakistan, sebagai perantara dalam hubungan antara AS dan Mullah Omar. AS akan “mengupayakan sebuah strategi berhubungan”.

Yang menjadi masalah adalah, bagaimana AS bisa keluar dari Afganistan kalau tidak merangkul Taliban. Kalau mereka merangkul Taliban, maka bagaimana mereka bisa menjelaskannya ke warga Amerika, dan menempatkan kembali Osaba bin Laden sebagai mitra setara? Pilihan itu ada pada Obama. Haruskah dia merangkul Osama dan melupakan tragedy 9/11, atau mau seperti Rusia yang terpaksa hengkang kaki dan kehilangan muka dari bumi Afganistan. Sebuah pilihan yang sungguh sulit. (Sumber: Kompas,Antara dan Media Indonesia)

Next Page »