Kawan Sejati, Brunei Hibahkan Dua Kapal Patroli

May 28, 2010 by harmen · Leave a Comment
Filed under: Dialektika Pertahanan 

Indonesia sejatinya adalah sebuah Negara besar, mempunyai potensi untuk maju yang sangat besar, tetapi sayang; Negara ini layaknya tidak terurus, korupsinya luar biasa. Demokrasi memang jalan. Tetapi sungguh masih sebatas retorika. Artinya demokrasi dilaksanakan, tetapi pada sisi-sisi yang menguntungkan para pihak saja atau layaknya etalase saja. Sehingga yang sering kita lihat adalah, demokrasi oke, tetapi pelanggaran HAM juga jalan terus. Pemberantasan Korupsi oke, tetapi hanya pada tataran tertentu saja; bukan berarti para pejabatnya tidak bekerja, mereka melakukan semuanya tetapi memang tidak bekerja dengan cara yang semestinya. Jadi Indonesia itu sangat sibuk, tetapi pada hakikatnya tidak berbuat apa-apa. Salah satu contohnya, kita kini sudah memasuki era perdagangan bebas, dan baru kita sadar sepenuhnya, ternyata Negara kita itu tidak ada produknya sama sekali. Tidak ada produk yang akan di jual, yang terjadi adalah Negara kita jadi pasar bagi semua Negara, termasuk limbah-limbah mereka.

Dalam keterpurukan ekonomi yang demikian, kita coba melihat pada pertahanan Negara kita, ternyata juga sama saja. Kita selama ini selalu bangga dengan TNI kita, tetapi ternyata TNI itu juga banyak masalahnya. Sudah rekrutmennya jauh dari baik, ternyata gelar kekuatan TNI kita itu juga masih jauh dari memadai. Yang terjadi adalah masing-masing matra menggelar kekuatannya sesuai dengan karakteristik matranya, dan nyaris tidak terlihat adanya gelar trimatra terpadu. Jadi sangat wajar kalau kemampuan deteksi dini gelar kekuatan TNI/Polri kita itu sangat lemah. Akibatnya, kekayaan Negara di hutan dan di laut kita tidak terawasi, jadi bancaan semua orang. Negara lain bawa uangnya, oknum masyarakat kita yang mencurinya. Maka jadilah pencurian..kekayaan alam kita terjadi dimana-mana. Pihak TNI dan Polri sibuknya bukan main, tetapi penjarahan terus berlanjut dengan seksama. Nah celah itulah yang di lihat Negara tetangga kita Brunai Darussalam.

Untuk mengeratkan hubungan baik yang sudah terjalin selama ini, dan memahami kebutuhan Indonesia, Brunei menghibahkan dua kapal patroli kepada TNI AL. Brunei juga menyatakan akan mempertimbangkan pembelian produk industri pertahanan Indonesia, seperti pesawat patroli dan senapan serbu.

Hal itu disepakati dalam kunjungan kerja Wakil Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin ke negara tetangga ASEAN di ujung utara Borneo ini, 24-25 Mei. Sjafrie menandatangani kesepakatan di atas bersama mitranya, Wakil Menteri Pertahanan Brunei Pehin Mohammad Yasmin Umar, di ibu kota Bandar Seri Begawan.

Dua kapal patroli yang dihibahkan Brunei merupakan Kelas Waspada, yakni KDB (Kapal Diraja Brunei) Waspada dan KDB Pejuang. Kapal yang dibuat oleh galangan Vosper Thornycroft Singapura tahun 1978-1979 ini dikategorikan sebagai kapal patroli berpeluru kendali. Memiliki bobot 210 ton, KDB Waspada memiliki dua tabung peluncur rudal antikapal Exocet MM-38, meriam antipesawat 30 mm buatan Oerlikon, dan dua senapan mesin kaliber 7,62 mm yang dimutakhirkan pada 1990-an.

”Kita sekarang perlu mempersiapkan kapan dan bagaimana kedua kapal patroli tersebut dapat dialihkan ke Indonesia,” ungkap Sjafrie ketika membahas cara memindahkan kedua kapal yang masing-masing membutuhkan sekitar 40 awak itu bersama dengan perwira TNI AL yang menyertai lawatannya.

Mengomentari hibah Brunei, Wamenhan RI menjelaskan bahwa hal tersebut merupakan wujud ketulusan Brunei dalam menjalin persahabatan dengan RI. Brunei bahkan menyatakan akan mempertimbangkan serius penambahan pesawat patroli CN-235.

(Kompas, Ninok Leksono,27 Mei 2010)

Next Page »