Lingkungan Strategis

Pertahanan di Perbatasan: Gelar Kekuatan TNI di Perbatasan

Pertahanan NKRI di Wilayah Perbatasan
Pertahanan suatu negara adalah lambang Kedaulatan sebuah bangsa dan sekaligus kebanggan atasnya dalam menjaga kepentingan Nasional. Kepentingan Nasional itu terdiri dari kepentingan nasional Abadi dan termaktub dalam Konstitusi kita pada Pembukaan UUD 1945 yang meliputi Kedaulatan Nasional, Integritas Teritorial dan Keselamatan Bangsa, serta Kepentingan Nasional Dinamis yang muncul akibat perkembangan lingkungan strategis. Dalam perkiraan ancaman yang dihadapi Indonesia dalam kurun waktu 2010-2014 adalah adanya : kekuatan Militer asing terlibat Dalam gerakan Separatisme; Penggunaan KEKUATAN MILITER DALAM KONFLIK PERBATASAN; Tekanan asing disertai kehadiran Militer dalam mengamankan akses terhadap sumber energi di Indonesia; Kehadiran Militer Asing di ALKI dalam mengamankan jalur ekonomi; Kehadiran Militer asing dalam kerangka memerangi Terorisme; Terorisme Internasionald dan Kejahatan Internasional; dan Intervensi Kemanusiaan dalam konflik horizontal dan vertical.

Continue Reading

Indo Defence 2016 Membaca Industri Pertahanan Dunia

Juga dimeriahkan oleh berbagai perusahaan papan atas dunia, seperti Boeing Defence Space & Security, Airbus Group, BAe System, Thales, SAAB, dan Lockheed Martin. Hal ini menunjukkan bobot dari penyelenggaraan pameran industri pertahanan berskala internasional ini. Di samping itu, jumlah peserta pada kegiatan dua tahunan ini terus naik; tahun 2014 ada 672 peserta dan tahun 2012 ada 603 peserta. Harapannya akan jadi yang terbesar dari event sejenis yang ada. Kita kerja keras untuk itu, tutur Jan, yang adalah Direktur Teknologi Industri Pertahanan, Ditjen Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan.

Continue Reading
Post thumbnail

Blok Masela Membangun Pertahanan Di Wilayah Indonesia Timur

Di lihat dari sisi perekonomian ke depan. Blok Masela akan memberikan perubahan yang signifikan bagi masyarakat Maluku dan sekitarnya. Hal ini seirama dengan harapan manta Menteri Koordinator Kemaritiman Rizal Ramli mengatakan keputusan pemerintah menjalankan skema pengelolaan Blok Masela secara onshore, atau di darat, dapat menyerap pengangguran di wilayah Maluku. “Skema darat di Blok Masela akan membutuhkan minimal 150 ribu tenaga kerja. Kalau skema di laut paling hanya 5.000 orang,” kata Rizal saat menjadi pembicara dalam acara Jambore Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Perguruan Tinggi di Aula Telkom University, Kabupaten Bandung, Selasa, 24 Mei 2016.

Continue Reading

Pertahanan Perairan Natuna, Menjadikan Natuna Sentra Perikanan Modern

Natuna Juga akan Jadi Sentra Perikanan Modern
Natuna saat ini memang masih bagian dari kehidupan Nelayan tradisional sama seperti di perkampungan nelayan tradisioal lainnya di Indonesia. Mereka biasanya menghadapi kendala pemasaran bagi hasil tangkapan ikan mereka. Di Natuna juga, masalah pemasaran tersebut, memang diakui juga oleh pejabat di Pemerintah Kabupaten Natuna. Menurut Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Natuna Wahyu Nugroho, selama ini para nelayan memilih mencari ikan dalam jumlah kecil saja. Sementara, untuk yang dalam jumlah besar itu hanya didominasi oleh para pengusaha saja. Menurutnya “Ini yang akan coba kita pecahkan. Masalah pemasaran ini yang menghambat perkembangan Natuna di pasar ikan nasional. Padahal, potensi di Natuna sangat tinggi. Solusi yang diharapkan bisa memecahkan soal pemasaran tersebut, kata Wahyu, ada di Selat Lampa.

Continue Reading
Post thumbnail

Mensinergikan Poros Maritim Dengan Pembangunan Perbatasan

Indonesia telah mengenal Pembangunan dengan pola Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI), yang kalau disederhanakan gambarannya adalah membagi negara kepulauan ini menjadi 6 Koridor pembangunan regional yang mandiri dan sekaligus terintekrasi dengan satu sama lain. Artinya pembangunan infrastrukturnya dilakukan sesuai dengan dinamika yang ada sesuai dengan kebutuhan riel yang ada di koridornya masing-masing. Diharapkan perkembangan di masing-masing koridor nantinya akan memicu sinergi antar corridor dan yang akan menjadikannya sebagai kekuatan perekonomian bangsa. Konsep ini jelas membutuhkan waktu lama dan juga tanpa control yang baik, rawan dengan berbagai penyalah gunaan anggaran yang membuat banyak program-programnya “mangkrak” dengan sendirinya.

Continue Reading

Pertahanan, Menjadikan Natuna Kapal Induknya Armada Barat

Tiongkok tidak main-main, niatnya untuk menjadikan Kepulauan Spratly dan Pracel jadi “Kapal Induk” sudah jadi kenyataan. Sengketa kepulauan di Laut Tiongkok Selatan telah menjadikan wilayah tersebut jadi ajang rebutan wilayah dari empat negara Asean (Malaysia, Vietnam, Pilifina dan Brunei), Taiwan dan Tiongkok. Tiongkok juga ingin memperkuat klaimnya lewat “Nine Dash Line” dengan mengklaim perairan Natuna sebagai kawasan “Traditional Fishing Ground” nya. Semua ini membuat Indonesia sadar bahwa pada suatu saat akan terjadi “perang terbatas” di wilayah tersebut. Indonesia harus dengan cepat mempersiapkan pertahanan kedaulatan di wilayah tersebut sesuai amanat UU.

Continue Reading

Pertahanan Perairan Natuna, Menjaga Kedaulatan Bangsa

Indonesia hanya mempunyai Lapangan terbang di Ranai, dan itupun tidak bisa di darati oleh pesawat tempur. Karena Lanudnya masih tipe C. Sama sekali tidak mampu melayani kepentingan pesawat tempur. Untungnya di sana sudah ada Lanal Ranai di bawah komando Lantamal IV Belitung dan telah ditingkatkan dari tipe C ke tipe B. Ini berarti di sana ada penempatan kapal TNI AL di Lanal tersebut, termasuk penempatan kapal kombatan secara reguler dari Mako Armabar di Jakarta. Lanal Ranai tidak hanya sebagai pusat pengendali lalu lintas laut, tetapi juga sebagai bunker logistik dan amunisi, sebagai suplai perbekalan bagi kapal-kapal TNI AL yang berlayar di sekitar perairan tersebut. Tipe kapal yang beroperasi di sana adalah kapal yang mempunyai kemampuan deteksi dini, cepat, bersenjatakan rudal anti kapal, dan mampu melakukan peperangan udara.

Continue Reading