Kaji Ulang Strategi dan Efektivitas TNI-AL
Filed under: Pertahanan, strategi dan efektifitas Han TNI-AL
TNI AL mengadakan forum strategi Angkatan Laut, dengan maksud untuk mengevaluasi strategi pertahanan dan efektivitasnya di masa depan. Pelaksanaan forum ini merupakan yang pertama kali dalam kurun waktu 18 tahun terakhir. Forum seperti ini dilaksanakan terakhir pada 1992. Jadi, sudah sekian lama tidak dilaksanakan.
Pada forum strategi lalu menghasilkan strategi pertahanan laut nusantara yang kalau dibandingkan dengan situasi saat ini tentu sudah ada yang berubah, perlu penyesuaian dan sebagainya. KSAL memandang perlu ada forum strategi seperti ini untuk merumuskan strategi di laut di dalam mempertahankan NKRI,” begitu KSAL Laksamana Agus Suhartono menjelaskan kepada wartawan seusai pembukaan forum di Jakarta, Senin (22/3).
Kita ketahui pertahanan laut nusantara disusun dengan mengacu kepada enam konsep Wawasan Nusantara, yaitu : Konsep Persatuan, Bhineka Tunggal Ika, Kebangsaan, Negara Kebangsaan, Negara Kepulauan dan Geo Politik. Strategi Pertahanan Laut Nusantara (SPLN) telah menjadikan laut sebagai medan penangkalan untuk mencegah niat pihak-pihak yang akan mengganggu kedaulatan negara dan keutuhan wilayah NKRI.
Strategi Pertahanan Berlapis (Layer Defence Strategy) ditujukan untuk meniadakan dan menghancurkan ancaman dari luar melalui gelar kekuatan gabungan laut dan udara di medan pertahanan penyanggah, medan pertahanan utama dan daerah perlawanan dengan melibatkan kekuatan TNI AL berasama-sama seluruh komponen maritim yang didukung oleh kekuatan TNI AU. Oleh karena itu medan pertahanan laut ditata dalam lapisan-lapisan pertahanan sebagai berikut :
Medan pertahanan penyanggah, yaitu daerah pertahanan lapis pertama yang terletak di luar garis batas Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI) dan lapisan udara diatasnya.
Medan pertahanan utama, yaitu daerah pertahanan lapis kedua mulai dari batas luar laut teritorial sampai dengan ZEEI dan lapisan udara di atasnya.
Medan perlawanan, yaitu daerah pertahanan lapis ketiga yang merupakan daerah-daerah perlawanan, yang berada di laut teritorial dan perairan kepulauan serta lapisan udara diatasnya dalam menghadapi setiap bentuk ancaman terhadap keselamatan bangsa dan negara.
Dengan berbagai pertimbangan lainnya, Forum juga mengagendakan pembahasan untuk menyusun strategi mewujudkan postur TNI AL, cetak biru logistik, dan personel dalam tataran minimum essential forces (MEF). Semua dibahas dan disesuaikan dengan kondisi yang ada sehingga bisa diimplementasikan di lapangan. Pemilihan strategi yang akan digunakan menjadi prioritas dalam forum yang akan dilaksanakan selama seminggu ke depan. “Produk terutama strategi pilihan dan kekuatan minimum seperti apa yang kami susun sebagai buku nomor satu, baru kemudian blueprint logistik dan personelnya kami susun.
Kajian strategi, menurut KSAL akan delihat dari dua sisi, yakni dari sisi ancaman dan tuntutan kapabilitas. Perinciannya sendiri akan dijabarkan oleh asisten pengamanan TNI AL dalam forum tersebut. “Tentunya dalam membangun kekuatan tidak hanya memandang ancaman, tapi juga kapabilitas yang diperlukan untuk mempertahankan ini. Jadi, ada dua tinjauan dalam membangun kekuatan,” Hasil dari forum tersebut, diharapkan akan dapat menggambarkan apakah strategi yang ada masih bisa dipertahankan atau sudah harus diubah. Itu tak menutup kemungkinan sebab situasi dan kapabilitas TNI AL sudah berbeda dan itu tidak bisa lepas dari cara kita melihat kekuatan laut secara universal, khususnya pada peran Angkatan Laut sebagai Peran Militer (Military Role), Peran Polisionil (Constabu-lary Role), Peran Diplomasi (Diplomacy Role). Disamping ketiga peran Angkatan Laut yang berlaku universal terdapat peran pula dan fungsi Angkatan Laut dimasa datang yang mencakup ; War at sea, melaksanakan perang laut; Deterrence at sea, untuk menangkal ancaman; Power Projection, projeksi kekuatan; Coersive Naval Diplomacy, yang lebih menekankan kepada patroli‑patroli laut (kehadiran Angkatan Laut di laut). Dan Cooperative Naval Diplomacy, kerja sama militer antar Angkatan Laut di dunia untuk meningkatkan solidaritas internasional. (Sumber :Kompas/Antara/MI (DM/)L-04/22/3/2010)















