Blog

Blok Masela Membangun Pertahanan Di Wilayah Indonesia Timur

Oleh harmen batubara

Di lihat dari sisi perekonomian ke depan. Blok Masela akan memberikan perubahan yang signifikan bagi masyarakat Maluku dan sekitarnya. Hal ini seirama dengan harapan  manta Menteri Koordinator Kemaritiman Rizal Ramli  mengatakan keputusan pemerintah menjalankan skema pengelolaan Blok Masela secara onshore, atau di darat, dapat menyerap pengangguran di wilayah Maluku. “Skema darat di Blok Masela akan membutuhkan minimal 150 ribu tenaga kerja. Kalau skema di laut paling hanya 5.000 orang,” kata Rizal saat menjadi pembicara dalam acara Jambore Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Perguruan Tinggi di Aula Telkom University, Kabupaten Bandung, Selasa, 24 Mei 2016.

Ia menilai, jika sudah berjalan, pengelolaan Blok Masela di darat dapat mengembalikan kejayaan wilayah Maluku, seperti zaman pemerintahan Hindia-Belanda. Rizal mengatakan, pada masa kolonial Belanda, kesejahteraan di Maluku menempati urutan ketiga teratas di Hindia-Belanda. “Tapi sekarang sungguh menyedihkan.

Baca Juga : Mengoptimalkan Wilayah Pertahanan Negara

Berbeda dengan sisi ekonomi, adalah kalau melihat wilayah ini dari sisi pertahanan. Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo seutuhnya menyadari lemahnya pertahanan di wilayah Indonesia timur. Khususnya pulau-pulau terluar seperti Pulau Lirang, Pulau Wetar, Pulau Kisar, Pulau Leti dan Pulau Alor termasuk wilayah Blok Masela ini. Gatot menyebutkan, pertahanan di daerah perbatasan itu hanya dijaga 2 anggota TNI Angkatan Laut (AL) dan 2 Babinsa TNI Angkatan Darat (AD). Pengawasan dipersulit dengan minimnya jumlah radar TNI Angkatan Udara (AU). Meski di Pulau Saumlaki. ada Satuan Radar, tapi kalau ada pesawat masuk Indonesia, mereka bisa apa? Mereka hanya bisa berdoa. Memohon pada ‘Tuhan agar segeralah pesawat itu keluar’. Karena, kalau melapor ke Kohahudnas dan minta dikirimkan pesawat dari Makassar tidak bisa, jarak capainya terlalu jauh.”

Dominasi dan Pelecehan Kedaulatan Oleh Australia

Pertahanan udara di wilayah Indonesia timur saat ini masih jauh dari memadai, terlebih lagi untuk wilayah NTT.  Padahal wilayah ini berbatasan langsung dengan Timur Leste dan Australia. Saat ini Indonesia baru mempunyai Skuadron di Makassar dengan 16 unit pesawat tempur Su-27/30. Memang Timor Leste saat ini belum punya skuadron tempur, tetapi Australia?  Australia punya markas Angkatan Udara Australia RAAF Base di Darwin yang dilengkapi dengan puluhan pesawat tempur F/A-18 E/F Super Hornet dan E/A-18 Growler dan juga terdapat pangkalan Marinir Amerika Serikat. Masih ada lagi pangkalan Angkatan Udara di Tindall yang rencananya akan dilengkapi dengan 1 Skuadron pesawat tempur F-35 A.

Australia adalah tetangga dengan budaya Eropa, kepentingan nasionalnya ada pada prioritas utama dan itu tanpa basa basi. Masih ingat tahun 1999 lalu ketika terjadi gejolak di Timor Timur menjelang referendum kemerdekaan Timor Leste dari Indonesia. Hubungan Indonesia dan Australia sudah buntu dan tanpa “pakewuh atau tanpa basa basi” mereka masuk dan mengacak acak wilayah kedaulatan udara Indonesia seenaknya. Tepatnya tanggal 16 September 1999, dimana 2 unit F/A-18 Hornet Australia memasuki wilayah udara Indonesia di sekitar NTT meski akhirnya berhasil di usir oleh 2 unit Hawk-109/209 milik TNI AU. Malam harinya setelah kejadian tersebut, Lanud El Tari Kupang kedatangan  8 unit F/A-18 Hornet Australia yang terbang diatas Lanud El Tari Kupang tanpa bisa dicegah TNI-AU. Memang 8 unit F/A-18 Hornet Australia ini hanya sekedar lewat atau fly pass tanpa izin diatas pangkalan militer Indonesia. Suatu penghinaan yang amat keterlaluan. Apakah Panglima bisa melihat kondisi serupa lagi?

Info Pertahanan : Pertahanan di wilayah Flash Point

Dalam hal memperkuat pertahanan. Mabes Angkatan Darat akan membangun 2 kompi kavaleri di wilayah Korem 161/Wirasakti (NTT) dalam rangka memperkuat sistem pertahanan keamanan di perbatasan Indonesia-Timor Leste dan Indonesia-Australia.”Ada dua lokasi yang nantinya dijadikan tempat untuk pembangunan kokav tersebut, yakni di Kabupaten Belu yang berbatasan dengan Timor Leste dan satu lagi di Kabupaten Kupang, tepatnya di Naibonat,” kata Komandan Korem 161/Wirasakti Kupang Brigjen TNI Heri Wiranto di Kupang, Jumat (27/5/2016).

Hal senada juga oleh Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI-AU) El Tari Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ini juga sudah mulai membangun radar pertahanan udara di Kabupaten Sumba Barat Daya (SBD).Hal ini dilakukan pihak TNI-AU sebagai langkah menjaga pertahanan keamanan udara di Nusa Tenggara Timur (NTT).“Kami akan bangun satuan radar pertahanan udara di wilayah Kabupaten SBD, sebagai wujud pertahanan udara di wilayah selatan Indonesia, dan meningkatkan Paskhas Kompi C menjadi detasemen pertahanan udara di wilayah Kupang,” kata Komandan Pangkalan Udara (Danlanud) El Tari Kupang, Kolonel Penerbang Jorry Koloay kepada wartawan, Sabtu, 9 April 2016. Tapi tanpa adanya skuadron tempur yang melekat, apalah artinya satuan Radar?

Pulau Biak, Jayapura dan Merauke Juga Tak Punya

Pulau Biak merupakan gerbang timur Indonesia yang langsung berbatasan dengan Samudera Pasifik. Oleh karena itu, lokasi Pulau Biak menjadi sangat penting dalam menjaga kedaulatan di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) terutama dalam menghadapi serangan maupun penerobosan wilayah dari laut lepas Samudera Pasifik. Pulau Biak saat ini hanya dijaga oleh pasukan TNI dari Korem 173/Praja Vira Braja dan jajarannya, juga menjadi pusat penjagaan pulau-pulau kecil terluar di sekitarnya, seperti Kepulauan Mapia yang terletak di sisi utara, Kepulauan Padaido yang terletak di sisi timur, Pulau Supiori yang terletak di sisi barat maupun Pulau Numfor yang berada di sisi selatan Pulau Biak.

Dalam melaksanaan pengamanan, Korem 173/PVB berfungsi sebagai Komando Pelaksana Operasi (Kolakops) dibawah Kodam XVII/Cenderawasih yang menjalankan dua operasi yaitu Pengamanan Daerah Rawan (PAM Rahwan) dan Pengamanan Pulau Terluar (PAM Pulau Terluar). Dengan bekerja sama secara terpadu dengan dengan satuan-satuan lain dari Angkatan Laut dan Angkatan Udara di Pulau Biak, mereka rutin melakukan patroli di daerah-daerah rawan, pesisir pantai dan pulau-pulau kecil terluar. Selain pengamanan, salah satu fungsi TNI di pulau terluar adalah memberdayakan serta membantu masyarakat lokal yang membutuhkan. Oleh karena itu mereka juga sering turun ke lapangan untuk melihat dan membantu masyarakat secara langsung.

Pemerintah Jokowi-JK pernah berjanji akan mengalokasikan anggaran untuk TNI sebesar 275 triliun bila perekonomian Indonesia mampu bertumbuh diatas 6 persen pertahun. Kini setelah dua tahun, kita melihat harapan itu tetap ada dan berharap di tahun 2017 pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai diatas 6 persen. Kalau hal itu bisa terjadi, kita ingin melihat adanya suatu pembangunan skuadron di wilayah sekitar Blok Masela dan Blok Tangguh. Kalau tidak di Kupang ya di Ambon

Paket 3 Buku Perbatasan Catatan Blog Seorang Prajurit Perbatasan

 

Leave a Reply