Tekanan Terhadap Peran Negara karena ketidak puasan terhadap situasi dan kondisi tertentu

Tekanan Terhadap Peran Negara karena ketidak puasan terhadap situasi dan kondisi tertentu. Berbagai studi untuk mencoba memahami bagaimana kelompok-kelompok yang tidak puas berusaha untuk mengartikulasi keluhan-keluhan mereka dan melakukan mobilisasi untuk menentang para pemegang otoritas dalam persoalan-persoalan tertentu. Gurr (1993) menyatakan bahwa kelompok-kelompok di dalam suatu negara (etnis, sekte militan, separatis dan lain-lain) dapat secara bertahap menyatakan ketidakpuasan mereka terhadap kondisi tertentu, mulai dari protes secara damai, protes dengan diikuti pengrusakan, pembangkangan hingga kepada pemberontakan bersenjata (revolusi bersenjata).

Click here for more >>

Saparatisme Jangan Ditakuti (2)


Ads By CbproAds

Saparatisme Jangan Ditakuti (2) Melihat Konflik Sebagai Peluang Pembangunan Ketahanan Berbangsa
Oleh: Harmen Batubara.

Tekanan Terhadap Peran Negara karena ketidak puasan terhadap situasi dan kondisi tertentu. Berbagai studi untuk mencoba memahami bagaimana kelompok-kelompok yang tidak puas berusaha untuk mengartikulasi keluhan-keluhan mereka dan melakukan mobilisasi untuk menentang para pemegang otoritas dalam persoalan-persoalan tertentu. Gurr (1993) menyatakan bahwa kelompok-kelompok di dalam suatu negara (etnis, sekte militan, separatis dan lain-lain) dapat secara bertahap menyatakan ketidakpuasan mereka terhadap kondisi tertentu, mulai dari protes secara damai, protes dengan diikuti pengrusakan, pembangkangan hingga kepada pemberontakan bersenjata (revolusi bersenjata).

Untuk melakukan perubahan dari satu tahap aksi ke tahap berikutnya, kelompok-kelompok yang melakukan perlawanan biasanya mempertimbangkan :

  • Besar/kecilnya peluang untuk memenangkan perjuangan;
  • Kebutuhan untuk meningkatkan tekanan terhadap pemerintah;
  • Antisipasi mereka terhadap risiko dan
  • Adanya kelemahan di pihak lawan, seperti krisis kepemimpinan, krisis kepercayaan diri, krisis legitimasi atau bahkan krisis ekonomi.

Kemampuan negara untuk mengelola dan menyelesaikan jenis konflik akibat ketidakpuasan pada kondisi tertentu sangat tergantung pada kemampuan negara dalam memberikan respon yang tepat. Respon akomodatif biasanya diperlukan pada saat konflik masih pada tahap awal (proses damai dan demonstrasi) untuk mencegah terjadinya eskalasi. Respon represif barangkali juga diperlukan ketika protes telah menjurus ke arah pembrontakan yang dapat membahayakan stabilitas suatu negara. Namun demikian, upaya yang sangat ideal, sebagaimana dikatakan oleh Azar (1990) adalah built mechanism of conflict resolution, yakni sebuah upaya yang melibatkan pihak-pihak yang terlibat konflik untuk terbiasa membicarakan perbedaan dalam suatu dialog dengan didampingi oleh pihak ketiga yang sungguh-sungguh netral.

Konflik di tingkat lokal dapat juga dipicu oleh ambisi-ambisi pribadi para pemimpin kelompok di dalam suatu negara dengan cara mengeksploitasi suasana pluralitas demi kepentingan pribadi/kelompoknya melalui penggalangan dukungan massa. Konflik yang melanda berbagai kawasan di Balkan maupun Afrika tidak lepas dari peran para pemimpin yang mengeksploitasi perbedaan dalam rangka memperoleh dukungan massa guna kepentingan pribadi atau kelompoknya. Bentuk eksploitasi kaum elite terhadap massa yang plural dapat dalam berbagai bentuk seperti diskriminasi yang mengistimewakan kaum mayoritas dan menindas kaum minoritas; mendefinisikan partisipasi politik berdasarkan pembagian etnis atau agama tertentu; menyebarkan kebencian terhadap golongan tertentu secara terbuka di media massa atau bahkan membentuk satuan-satuan pembantai misalnya kelompok inter-ahamwe di Rwanda ketika “menghabisi” suku Huttu (Miall, et.al., 1999 ;90). Maka tidak dapat diragukan lagi bahwa ambisi pribadi elite ikut berperan dalam berbagai konflik yang mengakibatkan beban penderitaan bagi jutaan umat manusia.

Konflik Primordial. Di luar bentuk eksploitasi pluralitas, konflik juga dapat terbangun dari akibat pola primordial. Ketika masih berlangsung pengelompokan negara menjadi Blok Barat dan Blok Timur atau Kapitalisme-liberal versus Marxisme-Leninisme, eksploitasi pluralitas menjadi tidak relevan. Namun ketika Perang Dingin berakhir, maka benih-benih primordialisme mulai muncul ke permukaan.

Dengan meminjam enam unsur ikatan primordial yang dikembangkan oleh Geertz (1973), kita dapat memahami kecenderungan konflik primordial yang makin intensif sejak awal 1990-an, yang dapat dijelaskan sebagai berikut :
Konflik primordial yang terkait dengan hubungan darah; yaitu suatu komunitas yang diikat oleh hubungan biologis/darah (kekeluargaan dan/atau kekerabatan) dimana setiap individu di dalamnya mengidentifikasikan dirinya sebagai bagian dari suatu keluarga besar. Perikatan semacam ini lebih mudah ditemui di masyarakat Afrika dan Asia. Berbagai konflik lokal di kedua benua tersebut seringkali dipicu oleh hubungan darah.

Konflik primordial dihubungkan dengan persoalan ras; suatu komunitas yang dipersatukan oleh kesamaan etno-biologis yang ditampilkan dalam ciri-ciri fisik yang sama, seperti warna kulit, jenis rambut, bentuk wajah dan lain-lain. Berdiasporanya kelompok ras tertentu Cina di Indonesia dan Malaysia, India dan Yahudi di Inggris serta Afrika di AS menempatkan mereka sebagai kelompok minoritas di negara-negara tertentu seringkali memicu konflik rasial.
Konflik primordial yang terkait dengan hubungan agama; persoalan agama merupakan sumber konflik yang cukup krusial di berbagai kawasan dunia. Partisi antara India-Pakistan pada dekade 1950-an merupakan contoh paling jelas dari konflik agama berskala besar. Pada skala yang lebih kecil konflik agama terjadi di berbagai Asia, seperti India, Filipina, Indonesia dan Thailand.

Konflik primordial dihubungkan dengan wilayah; Ikatan yang didasarkan atas kesamaan wilayah seringkali menjadi salah satu sumber konflik, baik dalam masyarakat pluralis maupun homogen. Fanatisme kedaerahan yang dimiliki kelompok tertentu biasanya berkembang menjadi semangat kedaerahan (nasionalisme lokal) sempit yang diwarnai oleh stereotype terhadap pendatang di daerah lain. Dalam masyarakat Indonesia dan India, misalnya semangat kedaerahan seringkali memicu intra–state conflict.
Konflik yang terkait dengan ikatan adat istiadat. Suatu komunitas juga dapat diikat berdasarkan kesamaan, kebiasaan dan norma-norma yang dianut.

Dalam praktek kehidupan sehari-hari konflik adat istiadat seringkali terjadi menyertai konflik etnis dan wilayah karena pihak-pihak yang terlibat didalamnya biasanya mempersoalkan perbedaan norma dan kebiasaan-kebiasaan adat/budaya. Dalam suatu masyarakat yang terdiri dari kaum mayoritas dan minoritas, kaum mayoritas biasanya mendominasi norma dan nilai yang berlaku sehingga membuat “kebiasaan” kaum minoritas tersubordinasi. Walaupun kita jarang menemukan peperangan yang dipicu hanya oleh persoalan adat istiadat, tetapi faktor ikatan adat istiadat dapat membuat suatu konflik menjadi dahsyat dan lebih rumit.
Konflik primordial dihubungkan dengan ikatan bahasa. Walaupun bahasa seringkali berfungsi sebagai sumber pemersatu komunitas, tetapi bahasa juga dapat menjadi sumber konflik seperti yang terjadi di Afrika dan Asia Selatan (India, Pakistan dan Srilanka). Pemaksaan bahasa kelompok etnis tertentu sebagai bahasa nasional biasanya menimbulkan ketidakpuasan dari kelompok etnis lain yang tidak jarang berkembang menjadi konflik kekerasan.

No comments yet... Be the first to leave a reply!

Leave a Reply