pertahanan militer dan nir militer

Clickbank Products

Mobil Esemka, Mentalitas Bangsa dan Industri Pertahanan


Clickbank Products

Catatan Redaksi : Dalam industri strategi dan pertahanan nasional kemampuan anak negeri juga tidak kalah heroiknya, tetapi mereka minim apresiasi dan juga hanya dilihat sebelah mata. Kerena itu menarik untuk melihat bagaimana Mobil Esemka ini jadi perbincangan; khususnya dari semangat membela negari. Berikut Tulisan Heppy Trenggono terkait Mobnas.

Oleh Heppy Trenggono

Beberapa teman bertanya, pak apa yang harus kita lakukan untuk mendorong agar isu tentang mobil Esemka ini jadi produktif? Saya katakan, order mobilnya biar semua jadi semangat!

LinkedTube

Ketika isu ini muncul, sebagian besar berkomentar mendukung. Hanya satu-dua pejabat yang agak sinis. Namun, yang ingin saya garis bawahi dalam kasus ini adalah berkembangnya pembicaraan yang tidak terarah. Banyak pertanyaan seputar teknis, seberapa besar komponen yang dikandung? Apakah ini rakitan atau buatan sendiri? Bagaimana dengan lisensinya, apakah layak digunakan atau tidak?

Inilah persoalan besar bangsa kita hari ini. Kita tidak mampu menangkap substansi dari apa yang terjadi di negeri kita. Saya menyampaikan kepada teman– teman, termasuk pers, agar persoalan teknis dalam kasus ini tidak dikuliti lebih dalam. Mengapa? Karena begitu kita memperbincangkan persoalan teknis mobil Esemka, akan ada seribu alasan masuk akal untuk kita tidak menggunakannya.

Jangankan mobil Esemka yang jelas-jelas produk yang membutuhkan teknologi. Air minum isi ulang pun, produk nyaris tanpa teknologi, pernah ramai-ramai kita jauhi karena sebuah institusi pendidikan tinggi negeri pada saat itu membeberkan secara heroik bahwa air minum isi ulang mengandung bakteri ini dan itu. Saya baru tahu belakangan bahwa riset itu disponsori oleh perusahaan air minum dalam kemasan milik asing, yang hari ini menguasai pangsa pasar terbesar di Indonesia.

Soal mentalitas

Bagi bangsa Indonesia, masalah sesungguhnya yang sedang dihadapi sama sekali bukan masalah teknis. Apakah bangsa kita bisa membuat produk atau tidak, apakah produk bangsa Indonesia bisa bersaing secara kualitas atau tidak, apakah harganya lebih murah atau tidak, itu semua masalah teknis! Persoalan yang dihadapi bangsa Indonesia hari ini—sehingga produk kita tidak ada di pasar sehingga bangsa kita miskin—adalah persoalan mentalitas. Mentalitas pembelaan terhadap produk bangsa kita sendiri! Kita belum bisa membedakan produk mana yang seharusnya dibela, apakah produk bangsa sendiri atau produk bangsa lain.

Coba lihat bagaimana sebuah BUMN, seperti PT Merpati Nusantara, dengan gagah berani membela pesawat buatan China yang tidak berlisensi, padahal kita sendiri mampu membuat pesawat. Juga lihat bagaimana institusi pendidikan tinggi negeri yang pernah memublikasikan hasil risetnya tentang air isi ulang dan meruntuhkan pengusaha-pengusaha kecil di negeri kita sendiri, pada kesempatan lain, berperilaku membingungkan dengan mati-matian menutup rapat identitas perusahaan asing dan merek produk asingnya ketika riset mereka menemukan bahwa produk-produk susu yang diproduksi oleh perusahaan asing tersebut berbakteri dan sangat merugikan masyarakat.

Tidak jelas apa yang dibela! Itulah substansi dari permasalahan bangsa kita. Ketidakberdayaan produk dalam negeri hanyalah sebuah indikasi dari pembelaan yang tak terjadi di negeri ini. Kita belum bisa memahami bahwa produk asing artinya ekonomi asing, produk Indonesia adalah ekonomi Indonesia.

Pembangunan industri di negeri kita kedodoran setengah mati karena produk anak-anak kita tak dibela di negeri sendiri. Pasar yang sangat besar tidak memberikan makna bagi kemajuan ekonomi bangsa kita sendiri. Membangun industri tidak bisa dimulai dari industri itu sendiri karena industri tidak menentukan pasar, tetapi pasar yang menentukan industri. Produk tidak bisa mendikte pelanggan. Pelangganlah yang mendikte produk.

Kalau bangsa Indonesia tidak mau menggunakan produk milik bangsa sendiri, produk dalam negeri akan runtuh. Itulah yang terjadi hari ini sehingga jumlah pengusaha di Indonesia sangat kecil: hanya 0,28 persen (China 6 persen, Amerika Serikat 11 persen, Singapura 9 persen).

Kesediaan Wali Kota Solo menggunakan mobil dinas buatan SMK adalah contoh konkret bagaimana seharusnya seorang wali kota bersikap terhadap produk anak bangsanya. Jelas apa yang dibela! Bukan pertanyaannya apakah mobil tersebut layak atau tidak. Pertanyaannya: mau pakai atau tidak!

Jika minggu-minggu ini kita mendengar wali kota tersebut dengan mobil Esemka-nya, beberapa minggu yang lalu kita mendengar Gubernur Jawa Timur menolak beras impor untuk masyarakat miskin. Kita juga mendengar beberapa bulan yang lalu Gubernur Jawa Barat melarang semua staf di lingkungan pemda menggunakan sepatu impor. Bahkan, beliau menghukum mereka dengan push up 200 kali jika ketahuan menggunakan sepatu impor. Beberapa hari yang lalu, Bupati Kulon Progo menyatakan gerakan ”Beli Kulon Progo”, dan setiap hari mengampanyekan agar masyarakat Kulon Progo menggunakan produk-produk Kulon Progo sendiri untuk membangkitkan ekonomi daerahnya.

Pada sisi lain, kita sedih mendengar petani kentang di Dieng tidak bisa menjual kentang karena dihajar kentang impor yang harga jualnya Rp 2.750 per kg, jauh lebih rendah daripada ongkos produksi mereka. Petani bawang di Brebes bergelimpangan karena bawang dari China membanjiri pasar bak air bah dengan harga yang juga tidak kalah murahnya. Demikian juga petani garam, nelayan, dan pedagang ikan. Mereka yang dulu mandiri secara ekonomi kini menghadapi serangan gelombang kemiskinan baru di negeri ini.

Siasati dengan cerdas

Kesadaran tentang ”apa yang kita bela” sepertinya sedang terjadi pada beberapa pemimpin di daerah yang setiap hari melihat keadaan ekonomi rakyatnya. Namun, kesadaran setara justru belum kita lihat secara nyata pada pemerintah pusat yang sedang sibuk berbicara tentang pertumbuhan 6,5 persen meskipun lupa menunjukkan di mana dan siapa yang bertumbuh. Sebab, kita tahu petani sedang bertumbangan, bukan sedang bertumbuh.

Pasar bebas jelas bukan segala- galanya. Juga bukan sesuatu yang membuat kita tak berkutik. Pasar bebas bisa disiasati dengan cerdas. Artinya, tidak membiarkan produk asing masuk begitu saja tanpa strategi sehingga menghancurkan produk anak-anak bangsa sendiri.

Jadi, kalau standar pembelaan seorang wali kota adalah mobil Esemka, standar pembelaan direksi BUMN, seperti PT Merpati Nusantara, adalah membeli pesawat dari IPTN. Demikian juga dengan Pertamina, Telkom, dan BUMN lain yang seharusnya mengutamakan pemasok dan produk anak bangsa sendiri.

Standar pembelaan menteri adalah tidak menjual BUMN atau go public, tetapi mencegah dan melindungi pasar dalam negeri dengan segala cara dari serangan arus barang impor, menggunakan sebesar-besarnya anggaran pembelian untuk produk anak bangsa sendiri. Sementara standar pembelaan seorang presiden adalah mengembalikan Freeport, mengembalikan tambang-tambang minyak dan gas yang sudah lama diserahkan kepada asing agar kembali kepada bangsa sendiri. ( Heppy Trenggono Pemimpin Gerakan Beli Indonesia,sumber kompas,9 jan2012)

No comments yet... Be the first to leave a reply!

Leave a Reply

  • RSS WilayahPerbatasan.com

    • Garda Batas Malaysia, Askar Wataniah February 17, 2012
      Askar Wataniah (AW) telah diorganisasikan dan distrukturkan dalam komponen-komponen berikut: Elemen Tempur melekat pada satuan Tempur Elemen Bantuan Tempur melekat pada bantuan tempur Elemen Bantuan Pelayanan melekat pada satuan admin Elemen Pakar Pasukan Latihan Perwira Cadangan (PALAPES). Pasukan AW Kerahan (Mobilisasi). Elemen Tempur.     Yaitu Seri 500 A […]
      harmen batubara
    • Askar Wataniah, Garda Batasnya Malaysia February 10, 2012
      Kita turut gembira, Pemerintah membentuk Garda Batas yang terdiri dari para tokoh masyarakat dan pemuda di kawasan perbatasan. Pem bentu kan Garda Batas ditujukan sebagai bagian dari pengembangan manajemen lintas batas negara. Ditargetkan, hingga 2014 mendatang anggota Garda Batas akan mencapai dua ribu orang yang tersebar di 111 kecamatan lini terde pan pri […]
      harmen batubara
    • Grand Design Pembangunan Papua February 3, 2012
      oleh harmen batubara Sejak menjadi bagian dari Indonesia, sampai kini Papua terus bergejolak. Kemduain banyak yang iktu bermain ada satu masa dahulu pemerintah mempercayakan “keamanan” kepada TNI dan Polri dengan dana “tanpa batas” dan hingga kini efeknya masih terasa. Begitu juga dengan persoalan sosial yang terus mengemuka, berbentuk penyerangan atau tuntu […]
      harmen batubara
  • RSS HarmenBatubara.com

    • Cash Bullets Software Review February 17, 2012
      Who will benefit from Cash Bullets? Basically anybody who wants to make a site as an affiliate business would love this software. Let’s take a look and face it; as affiliate marketing you need to know how to optimize your website; you need to make sure that you know how it all works, honestly, by using this software it can help you out without wasting your m […]
      batubara
    • Armageddon Paydays review February 11, 2012
      Armageddon Paydays is software that helping you automates making money online, especially for newbie’s. It utilizes social media Face book and blogs as target. So whatever Armageddon Paydays is? Believe me it is a value added tool that you can take advantage of. With this software you can makes the largest social networking site and most visited website Face […]
      batubara
    • CurationSoft Review of the Full Version February 4, 2012
      In a simple manner lets me asking you a question. Have you ever created a “roundup”, “mash up” or some sort, or a “resource list” in your website or blog? But remembers not just scrapping it. In another word, choose a topic, research for the best articles out there, combine them into a post, publish, and share it to the world. That’s curating content! Bear i […]
      batubara
SEO Powered by Platinum SEO from Techblissonline