pertahanan militer dan nir militer
Pembangunan kekuatan dan kemampuan pertahanan negara diselenggarakan secara terpadu dan bertahap sesuai dengan kemampuan negara

Pembangunan kekuatan dan kemampuan pertahanan negara diselenggarakan secara terpadu dan bertahap sesuai dengan kemampuan negara, serta diarahkan untuk mewujudkan pertahanan yang profesional dan modern yang mampu menindak dan menanggulangi setiap ancaman. Pembangunan pertahanan negara sampai saat ini baru menghasilkan postur pertahanan negara dengan kekuatan yang masih terbatas, terutama perimbangan gelar kekuatan TNI dengan kemampuan Pemerintah bila dihadapkan dengan tugas, luas wilayah, jumlah penduduk dan nilai kekayaan Nasional yang harus dijamin keamanannya. Kekuatan personil sebagai salah satu komponen utama TNI, pada saat ini berjumlah 376.375 prajurit yang terdiri dari 288.857 prajurit TNI-AD, 59.189 prajurit TNI-AL dan 28.329 prajurit TNI-AU.

Click here for more >>

Peningkatan Kemampuan Pertahanan Negara(1)

Oleh: Harmen Batubara

Pembangunan kekuatan dan kemampuan pertahanan negara diselenggarakan secara terpadu dan bertahap sesuai dengan kemampuan negara serta diarahkan untuk mewujudkan pertahanan yang profesional dan modern yang mampu menindak dan menanggulangi setiap ancaman. Pembangunan pertahanan negara sampai saat ini baru menghasilkan postur pertahanan negara dengan kekuatan yang masih terbatas, terutama perimbangan gelar kekuatan TNI dengan kemampuan Pemerintah bila dihadapkan dengan tugas, luas wilayah, jumlah penduduk dan nilai kekayaan Nasional yang harus dijamin keamanannya. Kekuatan personil sebagai salah satu komponen utama TNI, pada saat ini berjumlah 376.375 prajurit yang terdiri dari 288.857 prajurit TNI-AD, 59.189 prajurit TNI-AL dan 28.329 prajurit TNI-AU.

Adapun kondisi Alutsista TNI sebagian besar telah berusia tua, yaitu antara 25 sampai sampai dengan 40 tahun. Peralatan tersebut secara kualitas masih jauh dibawah standar dan secara kualitas belum memenuhi kebutuhan table Organisasi dan Peralatan (TOP)/daftar susunan Personil dan perlengkapan (DSPP), meskipun secara terus menerus dipelihara dan diperbaiki agar siap dioperasikan. Komponen cadangan dan pendukung pertahanan negara yang merupakan bentuk implementasi kesemestaan dalam system pertahanan negara, belum dapat dipersiapkan secara fisik mengingat penyusunan RUU Komponen cadangan saat ini sedang dalam proses penyelesaian di Departemen Pertahanan dan diharapkan pada tahun 2006 dapat diajukan ke DPR RI.

Sedangkan komponen pendukung masih merupakan kekuatan potensial yang memerlukan pengelolaan lebih lanjut agar pada saatnya nanti pertahanan negara selain mengandalkan kemampuan komponen utama dan komponen cadangan dapat juga mengandalkan kekuatan dan keampuan komponen pendukung. Sementara itu anggaran Pertahanan sampai dengan tahun 2006 baru mencapai 0,93 % ( persen) dari produk domestic bruto (PDB) atau 4,36 % (persen) dari anggaran pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Sebagai gambaran pembanding, anggaran Pertahanan Negara di Kawasan Asia Tenggara pada umumnya telah mencapai diatas 2 % (persen) dari PDB. Kondisi ideal anggaran pembangunan Pertahanan Indonesia dalam periode 5 tahun kedepan diharapkan berkisar 3-4 %(persen) dari PDB. Rendahnya anggaran pertahanan menyebabkan upaya peningkatan kemampuan pertahanan menjadi semakin sulit, termasuk program peningkatan profesional dan kesejahteraan prajurit. Untuk itu pembangunan pertahanan Negara diarahkan pada tercapainya kekuatan pokok minimal (minimum essintial force), yaitu tingkat kekuatan yang mampu menjamin kepentingan strategi pertahanan yang mendesak.

I.  PERMASALAHAN YANG DIHADAPI    Belum terpenuhinya minimum essential force TNI, menyebabkan tugas-tugas TNI dalam rangka menegakan kedaulatan dan keutuhan NKRI masih terkendala. Kurang memadainya kondisi dan jumlah alat utama system persenjataan (alutsista), sarana dan prasarana, serta masih rendahnya tingkat kesejahteraan anggota TNI merupakan permasalahan yang selalu dihadapi dalam upaya meningkatkan profesionalisme TNI. Peralatan militer yang dimiliki kebanyakan sudah usang dan ketinggalan jaman dengan rata-rata usia lebih dari 20 tahun. Dengan wilayah yang sangat luas baik wilayah daratan, laut maupun udara, maka kondisi kuantitas, kualitas serta kesiapan operasional alutsista yang kurang memadai sangat muskil untuk dapat menjaga integritas dan keutuhan wilayah yurisdiksi secara oftimal, terlebih lagi bila timbul permasalahan lain yang tidak terduga, seperti bencana alam. Keterbatasan dukungan anggaran yang disediakan untuk TNI berdampak pada sulitnya mempertahankan kekuatan dan kemampuan yang ada. dari alokasi anggaran TNI sebesar 54 % diperuntukan bagi belanja pegawai dan sebesar 27 % diperuntukan bagi belanja barang/jasa.

Sementara itu untuk kebutuhan pembangunan materiil (belanja Modal) dalam upaya memperpanjang usia pakai alutsista yang ada, porsinya hanya 27 %. Kondisis ini tidak menguntungkan bagi TNI kedepan mengingat prosentasi terbesar alokasi anggaran TNI digunakan untuk belanja rutin (belanja pegawai dan belanja barang/jasa). Rendahnya alokasi anggaran rupiah untuk pembangunan materiil dihadapan dengan besarnya anggaran untuk memenuhi kebutuhan dalam pengadaan dan pemeliharaan kesiapan operasional alutsista TNI, menyebabkan pemanfaatan pinjaman luar negeri tidak dapat dihindarkan lagi. Masih rendahnya tingkat kesejahteraan prajurit TNI dapat mempengaruhi tingkat kedisiplinan dalam melaksanakan tugas. Rendahnya tingkat kesejahteraan prajurit TNI merupakan masalah serius karena secara langsung atau tidak langsung dapat mempengaruhi tingkat priofesinalisme dan kedisiplinan. Kecukupan kalori dangizi serta kondisi kesehatan para prajurit sangat penting guna memiliki kemampuan dan keahlian untuk berlatih dan bertempur dengan baik.

Disamping itu terpenuhinya kebutuhan dasar hidup keluarga dapat mempengaruhi ketenangan dan konsentrasi dalam melakukan tugas operasi dan latihan. Uang Lauk Pauk (ULP) saat ini hanya cukup untuk 1.700 kalori perhari dari kebutuhan ideal 3.600 kalori perhari. Demikian halnya, besarnya gaji dan asuransi serta tunjangan lainnya, saat ini masih relative masih jauh dari mencukupi apabila dihadapkan pada tugas tugas yang diembannya. Belum terwujudnya kegiatan peneltian dan pengembangan nasional yang terpadu dan nyata dibawah kendali [pemerintah untuk kepentingan kebutuhan alutista. Ketergantungan pada teknologi dan industri militer luar negeri yang rawan embargo merupakan permasalahan yang masih dihadapi dalam rangka kemandirian industri pertahanan dalam negeri. Selama ini sumber pengadaan atau pembelian alutsista TNI sebagian besar hanya berasal dari beberapa Negara sehingga rentan terhadap pembatasan atau embargo yang diterapkan oleh Negara pemasok.

Disamping factor kompatibilitas, terbatasnya variasi sumber pengadaan yang juga merupakan akibat dari ketergantungan terhadap bantuan dari beberapa Negara tersebut. Selama ini sulit dihindarkan, Selain kedua factor tersebut mahalnya biaya pnelitian dan pengembangan dalam bidang teknologi militer modernm menyebabkan tingginya biaya produksi yang bermuara pada tidak komfetitif harga jual produk militer dalam negeri. Hal tersebutlah yang menjadi penyebabnya kurangnya minat untuk memilih produksi dalam negeri, terlebih lagi bila jumlah jkebutuhan /permintaan terlalu kecil. Dissi lain Joint production antara industri strategis nasional dengan industri pertahanan asing tidak mudah terealisasikan karena adanya persyaratan-persyaratan tertentu yang menynagkut aspek politik, ekonomi dan teknis. Keterbatasan deplomasi militer sebagai bagian dari deplomasi politik Negara untuk kepentingan nasional. Diosamping terkendala oleh terbatasnya alutsists, sarana dan prasarana serta belum mantapnya profesiponal prajurit TNI, system pertahanan Negara juga terkendala oleh minimnya perangkat hokum terutama dalam hal deplomasi militer dengan kekuatan militer asing.

Kasus pelanggaran wilayah sebagaimana yang terjadi diwilayah perbatasan dan pulau-pulau kecil terluar seperti Blok Ambalat , Pulau Gosong, Pulau Bidadari, Pulau Mengkudu, Pulau Sutri dan Pulau Kukusan merupakan dampak dari belum tersedianya perangkat hokum yang memberikan ketegasan garis perbatasan nasional dan simbul kepemilikan. Disamping itu dalam tataran pergaulan internasional sebagai akibat rendahnya kemampuan deplomasi militer disertai dengan rendahnya daya penggentar system pertahanan menyebabkan partisifasi dalam menciptakan keamanaa kawasan, regional, dan internasional kurang dapat diperhitungkan. Hal ini terlihat dari kecilnya peran Indonesia dalam mengatasi krisis persenjataan nuklir Korea Utara.

No comments yet... Be the first to leave a reply!

Leave a Reply

  • RSS WilayahPerbatasan.com

    • Grand Design Pembangunan Papua February 3, 2012
      oleh harmen batubara Sejak menjadi bagian dari Indonesia, sampai kini Papua terus bergejolak. Kemduain banyak yang iktu bermain ada satu masa dahulu pemerintah mempercayakan “keamanan” kepada TNI dan Polri dengan dana “tanpa batas” dan hingga kini efeknya masih terasa. Begitu juga dengan persoalan sosial yang terus mengemuka, berbentuk penyerangan atau tuntu […]
      harmen batubara
    • Perdagangan di Perbatasan, Kata Kuncinya Infrastruktur dan Kerjasama January 30, 2012
      by harmen batubara Sebenarnya kalau infrastruktur dan aturannya nya dibangun dan berkualitas, maka geliat ekonomi akan mencari jalannya sendiri. Hal seperti itu terlihat jelas dalam perdagangan antara Indonesia dan Malaysia di wilayah perbatasan, pulau Kalimantan. Malaysia dengan kesiapan infrastrukturnya, ternyata telah jadi “pendikte” pasar di perbatasan, […]
      harmen batubara
    • Potret Perbatasan, Melihat Geliat Kehidupan di Pulau Sebatik January 21, 2012
      Berikut adalah gambaran kehidupan masyarakat di Pulau Sebatik, sketsa kehidupan yang dicuplik dari hasil penelitian Pusat Kajian Perbatasan Unhan terkait “Sebatik Social Mapping-2011).  Hal yang sangat penting dan menarik untuk dipelajari adalah pada sistem mata pencaharian hidup masyarakat pulau Sebatik karena sangat berkaitan dengan peningkatan kesejahtera […]
      harmen batubara
  • RSS HarmenBatubara.com

    • CurationSoft Review of the Full Version February 4, 2012
      In a simple manner lets me asking you a question. Have you ever created a “roundup”, “mash up” or some sort, or a “resource list” in your website or blog? But remembers not just scrapping it. In another word, choose a topic, research for the best articles out there, combine them into a post, publish, and share it to the world. That’s curating content! Bear i […]
      batubara
    • The Revolving Commissions product on Review January 29, 2012
      What is Revolving Commissions Any way? First you must remember. These products not products that give you money just of a matter push of button. This is a system that you can use as a part of money machine. The basic idea behind Revolving Commissions is leveraging social platforms to generate massive traffic to generate massive online commissions. For exampl […]
      batubara
    • Marketing With Anik review and $5000 Worth Of Bonuses, January 20, 2012
      Anik has also put together some amazing bonuses himself which gives the bonuses + the course a total value of nearly $5000 dollars even though you can get access to everything for just $37 dollars. These bonuses consist of some of his best products and you’ll get them 100% free when you take up the coaching offer from Anik: Best Affiliate Training – $997 Val […]
      batubara
SEO Powered by Platinum SEO from Techblissonline