Indo-Expo, Expose Industri Pertahanan
| “Lima tahun mendatang akan kita lakukan revitalisasi. Dalam program 100 hari yang lalu mestinya telah dibuat rencana induk, master plan, dan roadmap untuk revitalisasi industri strategis,”; begitulah kira-kira keinginan presiden SBY kala itu.
Revitalisasi ini termasuk menentukan apa yang diproduksi, terutama untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, keperluan pemesanan dari luar negeri, dan kontrak-kontrak yang sedang berjalan. Ia optimistis dengan revitalisasi ini karena industri pertahanan sudah dikembangkan cukup lama. Indonesia telah berinvestasi dalam penguasaan teknologi dan sumber daya manusia yang andal. Pada waktu itu, presiden SBY mengatakan, industri pertahanan strategis yang akan dijadikan target, antara lain, industri yang memproduksi senjata, peralatan, dan perlengkapan pertahanan, militer, dan kepolisian. Misalnya, PT PAL di Surabaya, PTDI, PT PINDAD di Bandung, dan industri strategis lainnya. Menurut SBY, industri-industri tersebut sempat tidak mendapat perhatian karena krisis ekonomi. Lima tahun sebelumnya hal ini belum menjadi fokus karena pertumbuhan ekonomi belum cukup baik dan anggaran tidak cukup. Karenanya, bertitik tolak dari program 100 hari dan ke depan serta adanya expo Industri Pertahanan Nasional yang memadukan industri dirgantara dan kelautan dan dengan adanya kemudahan dan pleksibilitas pembiayaan, khususnya dengan menggali potensi pembiayaannya; terserah apakah menggunakan sumber dalam negeri, multi-years budgeting, dan atau menentukan pola fasilitas pembiayaan perbankan dalam negeri. Adanya upaya pleksibilitas dalam pembiayaan terkait dalam pembangunan industry pertahanan, maka di pastikan Expo kali ini akan dapat tampil lebih berdaya guna. |








