Kalau Perang di Kawasan, Bisnis Korsel Rugi Besar
Diatas kertas, para pengamat militer banyak menilai dan setuju akan supremasi kekuatan Korsel dan sekutunya. Mereka sangat percaya, misalnya seperti yang dituliskan oleh Simon Saragih (Kompas/28/10)” tak akan sulit bagi Korsel meluluhlantakkan Korut, yang penduduknya saja kelaparan itu. Juga tak akan sulit secara militer bagi Korsel, apalagi dibantu AS, untuk melumat ”mulut besar” Korut. Ini adalah proksi dari perseteruan AS-China di kawasan. Tak mungkin Korut, yang mayoritas pasokan pangannya dari China, berani bertindak sendiri. Setelah Korut melakukan penembakan ke wilayah Korsel pada hari Selasa (23/11) lalu, PM Wen tidak mengecam Korut. Bahkan, media China menilai serangan itu adalah akibat provokasi AS-Korsel karena melakukan militer di Laut Kuning.
Dalam perbandingan kekuatan militer sekarang ini, juga sulit bagi China-Korut melawan kolaborasi AS-Korsel jika terjadi perang, apalagi didukung dengan kekuatan Jepang, Australia, India, atau mungkin Rusia, teman dekat Korsel. Namun, ke depan, dengan memudarnya pamor AS, dan menguatnya pamor China, bukan tak mungkin keadaan menjadi terbalik. Apa yang harus dilakukan? Wakil Menlu AS James Steinberg di situs The Japan Times, 18 Oktober lalu, menegaskan ”jaminan strategis” bagi sekutu-sekutunya di Asia. Ini adalah jaminan bagi kawasan untuk menghadapi China.
Korsel Juga Profokator
Mengutip Kompas (Mei 26,2010) Pada bulan Mei yang lalu Morsel melancarkan lagi propaganda anti-Korea Utara yang pernah dihentikan sejak Juni 2004. Hal itu ditandai, antara lain, pemasangan puluhan pengeras suara raksasa di zona demiliterisasi di sepanjang sekitar 250 kilometer di perbatasan kedua negara. Sejumlah sarana digunakan sebagai wahana propaganda. Pengeras suara dipasang di 14 tempat strategis di perbatasan agar militer dan warga Korea Utara (Korut) bisa mendengarnya. Selain lewat pengeras suara, Korea Selatan (Korsel) juga menyampaikan pesan kampanye lewat balon lonjong setinggi 40 kaki, selebaran, poster, layar bergerak, dan radio.
Kampanye Korsel waktu itu adalah bentuk protes Seoul terhadap Pyongyang yang terbukti telah memerintahkan militernya menorpedo kapal korvet Cheonan milik Korsel pada 26 Maret 2010. Kapal meledak, tenggelam, dan 46 marinir tewas. Mayat mereka pun hingga kini tidak pernah ditemukan. Seoul sakit hati. Persiapan militer Korsel untuk perang psikologis ini dilakukan sejak Senin sore setelah Departemen Pertahanan mengumumkan dimulainya lagi gerakan anti- Korut. Unit militer Mt Baekdu di Provinsi Gangwon, pos pemantau terdepan Korsel di dekat tapal batas, membersihkan pengeras suara yang tidak pernah digunakan sejak enam tahun lalu.
Rencananya, ada 14 tempat di dekat perbatasan yang akan dipasangi 94 pengeras suara. Pada siang hari, gema yang keluar melalui pengeras suara itu bisa terdengar hingga sejauh 10-12 kilometer. Pada waktu malam yang hening, suara yang dipancarkan terdengar hingga 24 kilometer. Biaya untuk setiap set pengeras suara sekitar 200 juta won. ”Perangkat ini menjadi gangguan terbesar bagi militer Korut dan diharapkan bisa merusak moral ideologis mereka,” kata seorang perwira militer Korut.
Jungkalkan Kim Jong Il
Korsel juga memasang 11 layar pajangan elektronik dan papan ukuran 110 x 17 meter untuk kepentingan propaganda pada waktu malam. Waktu pemasangan semua alat itu 4-5 bulan. Materi propaganda yang disampaikan kali ini hampir sama dengan sebelumnya. Di balon setinggi 40 kaki tertulis ”Hapus Kamp Penyiksaan Gulag dan ”Jungkalkan Sang Diktator Kim Jong Il”. Departemen Pertahanan Korsel sudah memulai kampanye lewat siaran radio untuk mempermalukan Pyongyang pada Senin malam sejak pukul 18.00 dengan tajuk ”Voice of Freedom”. Siaran berdurasi empat jam itu mengudara tiga kali dalam sehari. Propaganda di radio diselingi alunan suara musik seorang gadis Korsel yang memuji kebebasan bersuara dan kemakmuran di negaranya. Selebaran yang seharusnya sudah disebarkan lewat udara pada hari Senin terpaksa ditunda karena hujan lebat. Inti kampanye adalah menggembar-gemborkan keunggulan demokrasi dan kemajuan ekonomi Korsel dibandingkan dengan Korut yang berhaluan komunis dan rakyatnya yang miskin.
Dengan berbagai propaganda Korsel tersebut, sebenarnya bisa di bayangkan bagaimana perasaan warga Korut, meskipun dalam beberapa hal misalnya mereka tidak setuju dengan kebijakan negaranya, tetapi kalau pimpinan dan Negara mereka di lecehkan; jelas mereka akan memberikan pembelaan. Malah komentar Kim Jong Il waktu itu, “perang melawan Korsel kemungkinan tidak terhindarkan”. Jika Korsel melakukan propaganda di perbatasan, mereka akan ditindak tegas oleh pihak militer Korut.
Produk China akan MenangDalam dunia bisnis, sebenarnya China telah memberi manfaat ekonomi yang besar juga bagi dunia. Karena itu tidak salah kalau, ramai-ramai berbagai negara merangkul China menjadi teman. Sejak dimulainya keterbukaan dan reformasi dalam sistem ekonomi dan perdagangan China tahun 1978, perjuangan China cukup panjang dan berat untuk bisa diterima sebagai komunitas internasional dengan segala privilese dan posisi yang setara dengan negara adidaya lainnya. Sebagai kekuatan yang baru bangkit, China diharuskan untuk berubah dan menerima norma-norma internasional. Di sisi lain, secara perlahan banyak pengamat dan politisi dunia mulai melihat China sebagai ancaman terselubung dan mengatakan dunia kini menuju apa yang disebut sebagai ”The Coming China Wars”, seperti judul buku yang ditulis oleh Peter Navarro pada tahun 2008. Navarro melihat China secara perlahan menaklukkan satu per satu negara-negara kuat, dan bangkit di tengah globalisasi sebagai. Kebangkitan itu muncul dengan memberikan sugesti baru bagi perdagangan internasional dengan menggunakan slogan ” hanya harga produk China” yang paling murah dibanding produk negara mana saja.
Pertumbuhan ekonomi China yang tinggi selama dua dekade terakhir ini selalu dipacu lewat ekspor. Pertumbuhan ekonomi China yang sangat tinggi tidak pernah dialami oleh negara mana pun di dunia ini. Prestasi China ini dianggap tidak adil dengan tuduhan China telah mempraktikkan merkantalisme, mencakup subsidi ekspor, pembajakan hak cipta, dan berbagai aspek yang dituduh telah menjadi penopang ”harga produk China” yang murah itu. Nah kalau saja perang Korea pecah, maka tidak pelak lagi, produk China akan jadi pilihan utama di kawasan; hal itu logis sebab disamping harganya yang paling murah dan kini kualitasnya juga tidak kalah.







