Menhan Prihatin, Sarana Pertahanan Pulau Rondo
Dari liputan Media Indonesia (4/7), diberitakan ; Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro prihatin terhadap perlengkapan militer yang dimiliki personel TNI yang menjaga pulau perbatasan Indonesia. ”Saya merasa prihatin dengan peralatan militer yang dimiliki anggota TNI di Pulau Rondo, karena peralatan yang ada masih minim untuk melakukan pemantauan daerah itu dari berbagai aksi pencurian,” katanya usai melakukan kunjungan kerjanya ke Pulau Rondo, Provinsi Aceh, Sabtu (3/7). Pulau Rondo yang bersebelahan dengan Pulau Sabang merupakan salah satu dari 12 pulau terdepan di Indonesia.
Disebutkannya, sebanyak satu pleton pasukan yang ditempatkan di sana masih belum memiliki peralatan yang memadai akibat anggaran yang dimiliki masih terbatas. “Kami akui minimnya anggaran yang kami miliki berdampak terhadap peralatan militer yang kita punya saat ini,” jelasnya. Idealnya untuk penjagaan Pulau Rondo, terutama yang berdekatan dengan Selat Malaka itu, dibutuhkan peralatan seperti kapal cepat dan peralatan lainnya. Selain melengkapi perlengkapan, kesejahteraan prajurit juga penting diperhatikan, karena berbagai kebutuhan yang diperlukan harus didatangkan ke sana.
Kendati demikian, kata Menhan, pihaknya akan berupaya melakukan berbagai perbaikan dan bekerja semaksimal mungkin dalam mempertahankan keutuhan NKRI di masa mendatang. “Semua itu perlu perbaikan secara bertahap, karena saat ini pemerintah sedang fokus untuk kesejahteraan rakyat Indonesia di seluruh tanah air,” katanya. Selain melakukan peninjauan, Menhan juga memasang batu prasasti sebagai tanda perbatasan tanda wilayah negara Indonesia di pulau tersebut. Pangdam Iskandar Muda Majen TNI Hambali Hanafiah mengatakan, pihaknya terus memberikan berbagai dukungan seperti kesehatan bagi para prajurit yang ditugaskan menjaga perbatasan RI itu. “Untuk kesehatan mereka, kami rujuk ke Kota Sabang,” demikian Hambali. (Ant/OL-5)
Bisa dibayangkan, bagaimana hati seorang menteri pertahanan melihat kekuatan militer yang dipercayakan untuk menjaga ke daulatan NKRI di salah satu pulau kecil terluar Indonesia yang paling barat, yakni di pulau Rondo, terlebih lagi kalau mengkaitkannya dengan system pertahanan nasional. Padahal sesungguhnya, dari pulau itu, Indonesia bisa mengawasi seluruh perairan pintu masuk dari India, Thailand, Vietnam, Malaysia; idealnya kita punya jaringan radar, yang bisa memantau area di sekitarnya serta dibantu adanya landasan terbang yang bisa di darati pesawat tempur di Sabang; sayangnya semua itu belum ada, kecuali para prajurit marinir, yang fungsinya, tidak lebih baik dari sekedar tugu prasasti; maksudnya kalau ada apa-apa, mereka tidak akan bisa apa-apa; bahkan untuk sekedar melaporkan saja juga jaringan komunikasinya juga belum terdukung.
Untuk mencapai pulau Rondo, bisa dari Sabang, kalau memakai kapal patrol Lanal, dapat dicapai sekitar satu jam. Sebenarnya, kehidupan di pulau itu cukup menyenangkan, hutannya masih rimbun,Posisinya berbatasan dengan India dan Thailand, kedudukan Geografis dan koordinat di Samudra Hindia 06º 04’30” U 95” 06’45 BT, luas 3 km persegi daerah administrasi Nanggroe Aceh Darussalam. Pulau Rondo inilah serambi Indonesia yang sesungguhnya Indonesia dibagian Barat bersama Pulau Weh, Pulau Klah, Pulau Rubiah dan Pulau Seulako masuk dalam Kabupaten Sabang. Untuk menuju P. Rondo dari ibu kota Sabang jaraknya + 15 km memakan waktu 2 jam dan jarak terdekat ditempuh dari Ujung Bau hanya sekitar 5 km dan memakan waktu 45 menit perjalanan laut. Pulau Rondo tidak ada penduduknya, pulau ini bisa dimanfaatkan untuk pariwisata karna memiliki kakayaan laut yang melimpah ( sekarang belum tersentuh). Dipulau ini terdapat mercusuar dan dijaga secara bergiliran, dan juga prajurit marinir.
Pulo Rondo terletak pada Titik Dasar (TD) no. 177 dan Titik Referensi (TR) No. 177, telah dibangun tugu/prasasti disana oleh angkatan laut. Karena letaknya yang sangat stategis dijalur lalulintas pelayaran antara Asia dan Eropa maka perlu dibangun pos pengamat angkatan laut dan pulau ini perlu menjadi perhatian khusus. Tetapi itu baru wacana, sampai sekarang belum bisa di apa-apakan, termasuk untuk pembuatan dermaga sederhana.
Comments
One Comment on Menhan Prihatin, Sarana Pertahanan Pulau Rondo
-
harmen on
Mon, 5th Jul 2010 11:03 am
Secara akal sehat, menempatkan satu pleton marinir untuk menjaga pulau terluar pulau Rondo, adalah sesuatu yang menggembirakan, minimal dalam sejarahnya nanti akan tercatat bahwa pulau tersebut pernah di jaga marinir; tetapi dari segi pertahanan, penempatan itu sendiri sebenarnya hanya membuat masalah; khususnya bagi mereka yang bertugas di sana, apalagi tunjangan bagi prajurit perbatasan yang oleh pemerintah telah di upayakan sejak tahun 2009 lalu, dan meski semua setuju, nyatanya para prajurit itu masih dengan tunjangan lama; uang berlayar rp2600/hari ( ingat satu bungkus rokok saja sudah sepuluh ribu) dan tunjangan pisah keluarga masih Rp50 ( baca: limapuluh rupiah ) perhari; ya teman saya bilang ga ada bedanya dengan masa kerja paksa jamannya Daendels tempo doeloe. Ya, semoga saja; negara kita tidak makin korup, dimana golongan tiga-A saja bisa korupsinya sebesar 100 milyar lebih; lha gimana kalau pangkatnya yang lebih tinggi lagi? Sementara prajuritnya hanya diberi 50 rupiah/hari? Gimana menurut anda; masihkah itu manusiawi?
Tell me what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!

















