Pimpinan Yang Menodai Pengabdiannya

February 6, 2010 by harmen
Filed under: Pertahanan 

Kalau mencermati tuntutan para demosntran di jalan-jalan dewasa ini, maka yang menjadi fokus utama adalah pada adanya tuntutan pemerintahan masyarakat madani yang demokratis, bersih dari korupsi dan transparan. Artinya apa? Kehidupan demokrasi yang di cita-citakan itu masih sangat jauh dari jangkauan, yang ada justeru pengulangan-pengulangan dari kehidupan bernegara yang masih berpola Korup, KKN, penyalah gunaan kekuasaan.

Di satu sisi pimpinan pemerintahan dan jajarannya masih berpola kucing-kucingan, artinya sedapat mungkin masih memanfaatkan kelemahan peraturan yang ada demi kepentingan pribadi dan golongan dan sama sekali bukan demi Indonesia yang makin membaik yang wilayah pertahanannya kian mantap. Pemikiran tentang Indonesia yang kaya tidak bisa sejahtera kalau hanya semata-mata dengan konsep ekonomi warisan. Menghabiskan warisan alam (batu bara, emas, timah, dan migas) atau menjual wisata warisan (candi, tarian, kesenian, pantai, dan gunung berapi) tidaklah cukup untuk memasarkan Indonesia.

Indonesia harus mempunyai semngat demokrasi baru yang mampu mensinergikan pembangun di semua lini, mendorong percaya diri, dan mengubah persepsi bahwa kita memang mampu membangun Indonesia yang sejahtera dan modern. Generasi ini harus bisa membuktikan kemampuannya mewariskan, bukan sekadar menghabiskan. Indonesia jelas harus mengubah paradigma pembangunannya dari inherited wealth menjadi created wealth. Sudah bukan zamannya lagi kaya karena ladang-ladang minyak, melainkan menguasai kilang dan teknologi dan itu hanya bisa dilakukan kalau pemerintah bisa menghadirkan pemerintahan yang bersih, amanah, kreatif dan dipercayai oleh rakyatnya. Bisakah kita mengharapkan hal-hal mendasar yang seperti itu dari pemerintahan yang ada sekarang? Tadinya kita percaya bahwa kita sudah “on the track”, tetapi setelah munculnya skandal “Cicak Vs Buaya” upaya pengkriminilisasian para pejabat KPK ( Ketuanya masih dalam proses), Bank Century Gate, Markus, dan Korupsi / Gratifikasi para pimpinan Daerah lewat Bank-Bank daerahnya sendiri.

Maka sadarlah kita bahwa kita hanya mengulang – ulang pola lama dengan jargon-jargon baru, artinya para pimpinan yang kita pilih itu, masih memilih untuk lebih mementingkan diri pribadi, dan golongannya, masih jauh dari membangun Indonesia baru yang kuat dan sejahtera, adil serta wilayah pertahanan yang kian mantap. Kita percaya di dunia ini tidak ada bangsa yang maju dapat dibangun tanpa kepemimpinan yang kuat. Kita masih perlu bersabar, dan sambil berdoa agar sebelum pimpinan seperti itu tiba. Indonesia masih ada. Saat ini kita masih disibukkan oleh pola dan tingkah laku para Pimpinan yang tega menodai pengabdianya.

Comments

One Comment on Pimpinan Yang Menodai Pengabdiannya

  1. harmen on Sat, 6th Feb 2010 8:46 am
  2. Kalau melihat cara-cara pimpinan lembaga atau departemen dalam mengelola kewenanganya, yang terkesan adalah masih jauhnya kita dari semangat untuk membangun Indonesia yang bersih, efisien dan adil, yang ada justeru masih dengan pola-pola lama yang masih mengutamakan kepentingan pribadi, golongan dan kkn serta korupsi …jadi kapan kita akan mulai membangun Indonesia yang kuat, sejahtera dan adil itu ? Ya kapan ?

Tell me what you're thinking...
and oh, if you want a pic to show with your comment, go get a gravatar!