RI-Papua Nugini, Peresmian Pintu Perbatasan Sko-Wutung

Pintu perbatasan yang resmi antar Negara pada umumnya jumlahnya, sangat terbatas seperti contoh di perbatasan antara RI-Malaysia di Kalimantan, yang panjangnya itu mencapai 2004 km, pintu resmi yang disebut juga sebagai Pos pemerikasaan Lintas Batas atau PPLB, hanya ada tiga, di Entikong-Tebedu, Aruk-Biawak, (Kalbar-Sarawak) dan Simenggaris-Serudong (Seliku), Pulau Sebatik-Tawao (Kaltim-Sabah). Untuk perbatasan antara RI-PNG, terdapat dua satu di Sko (Sukaw)-Wutung (sudah diresmikan) dan satu lagi di Sota (Merauke, belum diresmikan). Kalau pintu-pintu batas tidak resmi ya banyak, jumlahnya ga kehitung (ratusan). Pada kenyataannya, dengan adanya PPLB yang resmi ini, maka berbagai kepentingan bisa terakomodasi di sana, baik itu untuk kepentingan usaha, bisnis dll dapat dilakukan secara resmi. Kalau PPLB itu ga ada, ya sulit untuk melakukan suatu kegiatan secara formal.

Terkait peresmian PPLB Sko Wuutung, Media Indonesia menuliskannya demikian:

Dalam lawatannya ke Papua Nugini, Presiden Susilo Bambang Yudoyono membuat tiga nota kesepahaman dalam rangka peningkatan hubungan Indonesia dan Papua Nugini. Salah satunya yakni membuka perbatasan Sukaw-Wutung.

Dalam keterangan persnya di Hotel Crowne Plaza Port Moresby, Jumat (12/3), Presiden mengatakan keinginannya untuk menghadirkan rezim perbatasan yang soft. Dalam arti, kerjasama perbatasan yang tidak hanya dalam konteks kepolisian dan militer, tetapi juga sosial, budaya, serta ekonomi.

“Yang saya dengar, di perbatasan Indonesia-Papua Nugini, setiap bulannya ada transaksi USD 500.000. Dan diharapkan dengan kerjasam kedepan, hal itu bisa meningkat,” ungkap Presiden.

Pada dasarnya, Presiden menginginkan kehidupan masyarakat perbatasan berjalan dengan baik dan memastikan perbatasan aman. Sedangkan dalam konteks kerjasam militer to militer, lanjut Presiden, dalam bentuk pendidikan, pelatihan dan tukar menukar kunjungan.

Untuk itulah kemudian kedua negara sepakat untuk membuka pintu perbatasan Sukaw -Wutung. Penandatanganan prasati langsung dilakukan oleh Presiden Yudhoyono dan Perdana Menteri Papua Nugini Michael T Somare.

Selain kerjasama dalam bidang pertahanan, Indonesia-Papua Nugini juga sepakat melakukan peningkatan kerjasama dalam bidang ekonomi, khususnya kesepakatan terkait double taxation. Presiden berharap dengan adanya MoU mengenai double taxation tersebut, jangan sampai komiditi ekspor dan impor antara Indonesia-Papua Nugini dikenakan dua kali pajak.

Ide dari perjanjian double taxation yakni jangan sampai dikenakan pajak dua kali. Untuk detilnya akan dilakukan nanti, dalam forum ministrial meeting dan pada prinsipnya akan dilakukan pada setiap komoditi,” kata Presiden.

Nota kesepahaman lainnya dalam bidang ekonomi, yang tujuannya untuk meningkatkan investasi, pertanian, perdagangan, transportasi, termasuk kebijakan mikro finance. Sedangkan untuk bidang kesejahteraan rakyat, kata Presiden, Indonesia akan melakukan pendampingan dalam peningkatan sumberdaya manusia dalam bidang kesehatan, pendidikan.

“Termasuk juga pertukaran budaya, yang pada prinsipnya untuk mempererat people to people exchange,” ungkap Presiden.

Pada dasarnya, kata Presiden, kunjungannya ke Papua Nugini untuk meningkatkan lagi persahabatan, kerjasama dan kemitraan, meskipun hubungan kedua negara selama ini berjalan dengan baik. Presiden juga mengundang kembali Gubernur Jendral Papua Nugini Paulis Matane dan Perdana Menteri Somare datang ke indonesia, sekaligus untuk mempertegas kerjasama yang telah disusun bersama.

Sementara itu PM Somare mengatakan bahwa Indonesia merupakan mitra yang sangat penting bagi Papua Nugini. Dimana selama ini telah banyak terjalin kerjasama, baik bilateral maupun dalam forum internasional. Ia mengatakan, sangat penting kerjasama antara Indonesia dan Papua Nugini dalam pengelolaan hutan, dalam rangka untuk mencegah perubahan iklim.

“Hubungan mulai berjalan baik pasca konferansi kopenhagen, dan mejelang konferensi pemanasan global di meksiko Desember mendatang diharapkan sudah ada program dan rencana baru dalam mengatasi pemansan global,” kata Somare.

Sebelumnya, saat acara jamuan makan malam, pemerintah Papua Nugini memberikan pernghargaan Grand Companion of the Order of Logohu kepada Presiden Yudhoyono. Presiden Yudhoyono dinilai telah berjasa dalam peningkatan hubungan dengan PNG. Tokoh dunia yang pernah menerima penghargaan serupa yakni, mantan Presiden AS Bill Clinton dan Pangeran Charles. (Sumber: MI/ Akhmad Mustain/3/2010/ST/OL-7)

No comments yet... Be the first to leave a reply!

Leave a Reply