Blog

Gelar Kekuatan Angkatan Laut Malaysia di  Perbatasan Kalimantan

Oleh harmen batubara

Panglima TNI Jenderal Moeldoko menyatakan akan mendirikan Merah Putih di bangunan yang dibangun pihak Malaysia di wilayah Tanjung Datok.”Bangunan yang sudah ada, kalau nanti masuk wilayah Indonesia, Saya akan berdirikan bendera Merah Putih di sana. Bangunannya tidak akan saya bongkar,” kata Moeldoko di Markas Kolinlamil, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Minggu (25/5/2014).

Panglima TNI Jenderal Moeldoko menegaskan, TNI akan membangun kekuatan pertahanan di Tanjung Datu. ”Dari waktu ke waktu, kita selalu ribut masalah Tanjung Datu. Saat ini sedang dievaluasi. Kami akan membangun kekuatan di sana,” kata Moeldoko seusai apel di lapangan Komando Lintas Laut Militer Tanjung Priok, Jakarta Utara, Minggu (25/5).Moeldoko menjelaskan, akan dibangun pangkalan TNI AL, pangkalan TNI AU, dan menempatkan satuan infanteri TNI AD di Tanjung Datu. Pembangunan itu diharapkan bisa menjadi kekuatan besar Indonesia untuk menghadapi ketegangan antarnegara.

Masalah yang dianggap sensitif dan akan jadi sumber masalah antara hubungan bertetangga Indonesia-Malaysia, adalah adanya 10 masalah perbatasan darat dan laut di kalimantan yang belum selesai dan juga yang sangat menonjol adalah klaim sepihak Malaysia atas Ambalat, Karang Unarang di laut Sulawesi, Kalimantan Utara. Hal ini ditambah lagi oleh pihak Malaysia dengan rencana pembangunan Mercusuar di Tanjung Datu. Klaim sepihak Malaysia ini sebenarnya sejalan dengan upaya mereka membangun kekuatan matra lautnya di wilayah itu.

Tentara Laut Diraja Malaysia (TLDM), dalam Rencana Malaysia (Malaysia Plan) 2001-2005 telah melakukan pengadaan enam kapal korvet kelas Meko A-100 dari Jerman, dua kapal selam kelas Scorpene dan satu kapal selam bekas Agosta A-70 dari Prancis.Selain pengadaan kapal perang, Malaysia juga membangun sejumlah pangkalan baru TLDM, yakni di Lumut, Sabah. Untuk memperkuat pertahanan maritim di sekitar Laut Sulu, Laut Sulawesi dan Laut Cina Selatan, Malaysia mengembangkan pangkalan Angkatan Laut di Teluk Sepanggar, Sabah.

Pangkalan Angkatan Laut Teluk Sepanggar dirancang menjadi pangkalan kapal selam kelas Scorpene dan sekaligus menjadi Markas Besar Komando TLDM Wilayah II. Di samping itu, TLDM memiliki empat pangkalan lain di Sabah yaitu Sandakan, Labuan, Semporna dan Tawau. Pangkalan Sandakan merupakan pangkalan Angkatan Laut terbesar kedua yang dimiliki negara itu setelah Pangkalan Teluk Sepanjang. Adapun Pangkalan Tawau yang saat ini tengah dibangun ulang diharapkan menjadi pangkalan terbesar ketiga. Hal ini menandakan adanya perhatian khusus terkait kemampuan AL nya di sekitar Ambalat. Sementara Indonesia?

Bagaimana Indonesia Mengamankan Wilayah Perbatasannya

Yang terbaru kita dengar adalah keinginan TNI AL untuk memutakhirkan Pangkalan Angkatan Laut (Lanal) Pontianak menjadi pangkalan utama (Lantamal). Tiga markas AL sedang dibangun, termasuk markas di Teluk Batang. Sebagaimana kita ketahui Pangkalan angkatan laut adalah salah satu komponen Sistem Senjata Armada Terpadu (SSAT) yang mendukung sistem persenjataan lainnya seperti kapal, pesawat tempur, dan marinir.

Lanal Teluk Batang Kabupaten Kayong Utara akan diposisikan sebagai pendukung utama untuk keperluan administrasi dan logistik TNI-AL untuk melayani kapal, pesawat, dan personil kelautan. Pangkalan ini, sebagai pusat logistik untuk keamanan maritim di wilayah tersebut Kalimantan Barat, akan menggunakan infrastrukturnya untuk memaksimalkan potensi maritim bersama organisasi AL lainnya. Maknanya, kita tidak punya upaya mengimbangi kemampuan Malaysia di Kalimantan Utara atau Kalimantan Timur.

Kita tahu, gelar pos-pos TNI kita diperbatasan, kalau kita mau jujur sebenarnya tidaklah lebih canggih dari gelar pos-pos hansip yang kita kenal selama ini. Kenapa? Karena mereka tidak dilengkapi dengan sarana pendukung lainnya. Tidak ada kemampuan monitoring atau radar ( kalaupun ada, adanya jauh dari perbatasan dan itupun operasionalnya hanya 8 jam dengan alat yang sudah uzur). Mereka juga tidak mempunyai kemampuan mobilitas- yang ada hanya dibelaki dengan kemampuan jalan kaki, padahal di perbatasan jalan kaki 5km saja sudah letoi, taruhlah oleh satuan infantry bisa 10 km.

Juga tidak punya satuan Gelar pendukung-maksudnya negara kita belum punya meriam yang punya kemampuan menjangkau lebih dari 30 km. Jangankan lebih dari 30 km, meriamnya saja kita belum punya, belum di gelar. Artinya perbatasan kita itu, hanya di jaga dengan kemampuan tradisional. Ya baru setingkat diatas sarana “bambo runcing”. Itulah sebenarnya yang membuat negara kita tidak mendapat respek dari negara tetangga. Mereka melihat Indonesia itu hanya bisa omong doang, dan kalaupun membeli sarana atau alat perang uangnya malah lebih banyak yang dikorupsi. Mungkin terasa sangat ironi, tetapi itu fakta. Tetapi kini ada sesuatu yang akan berubah. Betulkah?

Kodam XII/Tanjungpura akan membangun satu Batalyon Altileri Medan, yang dilengkapi dengan 30 meriam 155mm Caesar buatan Francis. Meriam 155mm Caesar adalah self-propelled howitzer yang dipasang di atas truk Unimog 6×6 yang punya kecepatan hingga 80 km/jam. Dengan pengisian proyektil otomatis, meriam 155mm ini mampu menembakkan 18 munisi per menit. Meriam otomatis ini memiliki jarak tembak 42 km atau 50 km untuk munisi roket. Rencananya Batalyon Armed Caesar 155mm ini, dipersiapkan bertugas sebagai supporting Batalyon Kavaleri yang diperkuat dengan 40 MBT Leopard 2 yang rencananya akan di tempatkan di Bengkayang.

Tidak hanya itu, nantinya Kodam VI/Mulawarman, sebagai penjaga wilayah Kalimantan Utara,Timur dan Selatan akan disuport satuan Skadron Helikopter Serbu. Kemungkinan besar, Skadron ini akan diisi dengan Helikopter AH 64 Apache. Kodam VI Mulawarman juga akan dilengkapi peluncur roket multi laras MLRS. Kini Kodam VI/ Mulawarman sedang membangun pangkalan MLRS di wilayah Berau Kalimantan Timur. MLRS yang akan mereka gunakan kemungkinan HIMARS plus Roket buatan Pindad.

Yang ingin kita katakan sebenarnya sederhana, kalau negara tetangga selalu membangun kekuatan militernya sesuai dengan klaim kedaulatan yang dilakukan pemerintahnya. Mereka melakukan klaim sepihak atas Ambalat, dan termasuk mengeluarkan Peta kedaulatan secara sepihak di tahun 1979 merupakan sebuah upaya berlanjut. Masalah Ambalat memang kini seolah reda, tetapi jangan lupa Malaysia sudah membangun pangkalan Angkatan Laut Teluk Sepanggar dirancang menjadi pangkalan kapal selam kelas Scorpene dan sekaligus menjadi Markas Besar Komando TLDM Wilayah II.

Di samping itu, TLDM memiliki empat pangkalan lain di Sabah yaitu SANDAKAN, LABUAN, SEMPORNA dan TAWAU. Pangkalan Sandakan merupakan pangkalan Angkatan Laut terbesar kedua yang dimiliki negara itu setelah Pangkalan Teluk Sepanjang. Adapun Pangkalan Tawau yang saat ini tengah dibangun ulang diharapkan menjadi pangkalan terbesar ketiga. Begitu juga dengan Airport Tawau, panjang landasannya 3000 m lebih. Hal ini menandakan adanya perhatian khusus terkait kemampuan AL nya di sekitar Ambalat. Sementara Indonesia? Sama sekali belum ada. Pemikiran ke arah itu juga belum terlihat. Di pulau Sebatik? Pos AL kita mirip dengan TNI AD di darat, maaf fasilitas dan sarananya baru setingkat diatas Pos Hansip. Masih ingat Pos Hansip?

Selama ini kita hanya terbuai oleh iming-iming kemampuan industri pertahanan kita, padahal tiba di pembeliannya ternyata TNI juga nggak beli produknya. Tapi malah membelinya dari negara Korea Selatan. Para pimpinan militer kita sangat bangga dengan produk Korea Selatan, padahal negara itu termasuk 14 negara pendukung yang menyoroti masalah pelanggaran hak asasi manusia di Papua. Pada sidang kelompok kerja Universal Periodic Review (UPR) Dewan HAM PBB, 23 Mei 2012. Empat belas negara itu adalah AS, Australia, Inggris, Italia, Jepang, Jerman, Kanada, KOREA SELATAN, Meksiko, Norwegia, Perancis, Selandia Baru, Spanyol, dan Swiss.(Freddy Numberi,Kompas 7 Mei 2014).
Sebagai pemerhati pertahanan yang kita lihat adalah; pembangunan kekuatan TNI kita SEPERTINYA tidak sejalan dengan perkembangan ancaman dari negara tetangga, dan juga produk Alut Sista TNI malah di beli dan dibuat dari negara yang secara mendasar tidak mendukung upaya Indonesia di fora Internasional.

One Response

Page 1 of 1
  1. harmen batubara says:

    Di samping itu, TLDM memiliki empat pangkalan lain di Sabah yaitu SANDAKAN, LABUAN, SEMPORNA dan TAWAU. Pangkalan Sandakan merupakan pangkalan Angkatan Laut terbesar kedua yang dimiliki negara itu setelah Pangkalan Teluk Sepanjang. Adapun Pangkalan Tawau yang saat ini tengah dibangun ulang diharapkan menjadi pangkalan terbesar ketiga. Begitu juga dengan Airport Tawau, panjang landasannya 3000 m lebih. Hal ini menandakan adanya perhatian khusus terkait kemampuan AL nya di sekitar Ambalat. Sementara Indonesia? Sama sekali belum ada. Pemikiran ke arah itu juga belum terlihat. Di pulau Sebatik? Pos AL kita mirip dengan TNI AD di darat, maaf fasilitas dan sarananya baru setingkat diatas Pos Hansip. Masih ingat Pos Hansip?

Leave a Reply