Blog

Hut 70 Tahun Topografi AD, Mengoptimal Informasi Medan dengan Drone

Oleh harmen batubara

Topografi AD atau Direktorat Topografi Angkatan Darat adalah pembina dan penyelenggara  penyedia dan penyaji informasi dalam bentuk Peta Topografi, Data dan Analisa geografi/medan dalam segala bentuknya dalam rangka pelaksanaan Tugas TNI Angkatan Darat. Topografi AD adalah mata dan otaknya informasi medan bagi kepentingan operasi militer maupun non militer TNI khususnya TNI AD.

Kebayang nggak kalau suatu saat Topografi memanfaatkan perangkat “google view” pada pesawat Drone untuk kemudian memotret medan-medan yang menjadi interest TNI atau TNI AD? Dan apa yang akan terjadi? Maka medan-medan yang menjadi sasaran TNI misalnya seperti operasi lawan teroris  Tinombala di pegunungan atau lawan separatis di Papua. Maka akan terlihat dengan jelas, dimana sarangnya para teroris dan separatis itu. Tentu saja suara mesin dronenya harus kedap suara dan bentuknya juga jangan seperti yang ada sekarang. Mungkin lebih cocok kalau wujudnya seperti elang. Jadi tidak terlihat takkala ia mengambil informasi medan. Semoga suatu saat kita akan bisa melihat kemampuan Topografi AD yang seperti itu; menghasilkan foto medan yang jernih dan atau peta digital yang presisi terkait medan.

Nah tahun ini dalam rangka memperingati Hut ke 70 Topografi Angkatan Darat[1] Tahun 2016 , Dittopad secara khusus menggelar kegiatan lomba Orienteering dan Drone. Pada perlombaan kali ini  melibatkan sekitar 200 peserta dari kalangan atlet prajurit TNI dan masyarakat dari pelajar SLTA dan Mahasiswa di Buperta, Cibubur, Jakarta Timur, Sabtu (9/4/16). Menurut Direktur Topografi Angkatan Darat Brigjen TNI Ir Dedy Hadria Msc,Orienteering  adalah salah satu cabang olah raga di alam bebas yang semakin popular dan digemari masyarakat. Bagi kalangan penggemarnya orienteering merupakan olah raga bersifat rekreatif yang menggabungkan kemampuan fisik yang prima, penguasaan medan yang baik serta semangat bertanding yang kuat dan sportif.

“Untuk itu Atlet dituntut memiliki ketiga kemampuan  secara berimbang, tidak boleh pincang. Oleh karena itu tidak ada jaminan atlet yang fisiknya lebuh kuat akan keluar sebagai juaranya. Saya selaku Pembina Cabang Orienteering Angkatan Darat berharap melalui ini para atlet dapat mengukur kemampuannya masing-masing sebagai buah dari pembinaan diri berlatih selama ini. Kita semua paham bahwa prestasi tidak dapat diperoleh secara instant, butuh ketekunan dan konsistensi berlatih yang kuat,”kata Direktur Topografi Angkatan Darat.

Dalam kesempatan tersebut Direktur Topografi Angkatan Darat mengingatkan agar para atlet prajurit TNI perlunya pembinaan atlet Orienteering  secara berkelanjutan. Oleh sebab itu teruslah berlatih  dan berlatih, jangan pernah berhenti berlatih. Manfaatkan event secara rutin lomba Orienteering HUT Topad sebagai tolak ukur hasil berlatih dan sebagai ajang keseiapan menghadapi lomba-lomba resmi lainnya.

Bagi atlet Orienteering khususnya dari mahasiswa perguruaan Tinggi dan pelajar SLTA lomba Orienteering ini di maksudkan sebagai salah satu sarana atau forum untuk konsolidasi dan komunikasi komunitas  dan penggemar Orienteering dan juga untuk lebih memasyarakatan untuk mengenalkan olah raga Orienteering kepada masyarakat.

“Saya ingin menyampaikan tentang lomba drone ini dirancang untuk mewadahi para pecinta komunitas drone yang sedang naik daun, pemanfaatan drone oleh banyak kalangan semakin bervariasi.Jajaran Topografi Angkatan Darat terlibat dalam pengembangan dan menggunakan drone guna mendukung pelaksanaan tugas-tugasnya khususnya dalam kegiatan pemotretan udara untuk survey pemetaan. Untuk lomba Drone ini diharapkan dapat dijadikan sebagai wahana tempat mencari pengalaman serta penyaluran hobi atau bakat para pecinta komunitas Drone,”jelasnya.

Drone dan Operasi Militer

PBB sudah mulai menggunakan drone pengintai di Kongo pada Desember 2013. Saat itu pejabat PBB dan diplomat merasakan manfaat drone yang dapat membantu misi PBB untuk melacak kelompok-kelompok bersenjata di wilayah padat Kongo bagian timur. Kini, PBB juga berencana menggunakan drone untuk misi penjaga perdamaian di Mali. Meskipun belakangan, beberapa negara, termasuk Rusia, China dan Rwanda, sebelumnya telah menyatakan keberatan tentang penggunaan drone oleh PBB.

Kopassus juga sudah pernah memanfaatkan Drone ini takkala operasi lawan separatis di Mapenduma[2]– pada waktu itu Operasi Mapenduma juga melibatkan advisor pemetaan dari kelompok penempuh rimba WANADRI (Teddy Kardin), advisor analis operasi dari FBI, Scotland Yard, advisor teknis lapangan dari satuan elite Inggris SAS, dan paling fenomenal adalah peminjaman pesawat tanpa awak (UAV) milik angkatan bersenjata Singapura.

Hal ihwal peminjaman UAV dari Singapura dalam Operasi Mapenduma berawal ketika medan operasi sangat sulit untuk melakukan pengintaian dan penjejakan secara langsung mengingat lebatnya hutan, curam dan terjalnya medan yang harus dilalui. Bahkan menurut pengakuan Prabowo Subianto dalam acara Mata Najwa Metro TV edisi 5 Oktober 2011, bahwa salah satu kelemahan operasi ini adalah TNI tidak memiliki peta topografi wilayah operasi yang akurat dan memadai. Dari sinilah muncul ide meminjam pesawat tanpa awak (UAV) milik angkatan bersenjata Singapura.

Pesawat tanpa awak (UAV) dalam Operasi Mapenduma pada saat itu dipakai untuk pemetaan wilayah operasi yang selanjutnya hasil pemetaan ini dipakai untuk menjadi bahan analisis wilayah/medan operasi, yang dalam hal ini dilakukan oleh Teddy Kardin dari WANADRI. Disamping itu pesawat tanpa awak (UAV) ini juga melakukan misi pengintaian sehingga didapat data yang akurat mengenai posisi para sandera dan para penyandera. Kecanggihan pesawat tanpa awak (UAV) memang diakui turut andil dalam keberhasilan Operasi Mapenduma saat itu.

Topografi AD ke depan tentu sudah bisa membaca kualitas informasi medan seperti apa yang dibutuhkan oleh berbagai operasi TNI khususnya TNI AD dalam pengabdiannya. Kita percaya Topografi AD akan mampu memberikan yang terbaik dalam hal drone tersebut; khususnya terkait dengan pemakaian mesin yang kedap suara, bentuknya yang alamiah dan sekaligus memudahkannya dalam menyamar saat pengambilan informasi serta kemampuan Topografi menghasilkan peta garis dari rangkaian foto udara yang dihasilkannya.

Ketua Panitia HUT Ke 70 Topografi Kolonel Ctp Drs Ibnu Fatah Msc mengatakan, lomba orienteering ini sengaja digelar sebagai bagian dari kalender  kegiatan pembinaan prestasi atlet orienteering TNI AD. Selain itu juga untuk menjaring bibit baru atlet prajurit TNI AD, selain lomba Orienteering juga dilombakan Drone, sedangkan Drone ini adalah pesawat tanpa awak jenis Multi Rotor,lomba ini guna mewadahi para pecinta komunitas Drone yang sedang naik daun. Kita ketahui bersama pemanfaatan drone oleh banyak kalangan semakin bervariasi seperti pembuatan video, dunia fotografi,pengambilan foto dan video landscape atau bentang alam, liputan berita, peristiwa monitoring (surveillance), pengintaian dan banyak aplikasnya.

“Perlombaan  Drone dan Orienteering yang di lakukan ini  dalam rangka Hut Kesatuan Topografi ke 70 yang jatuh tanggal 26 April 2016 nanti. Jadi, Komunitas Drone menyadari semakin banyak yang menggunakan tidak terbatas oleh kalangan Sipil dan militerpun yang menggunakannya. Supaya kita ada saling berbagi pengalaman buka wawasan, Drone ini juga perkembangan sangat cepat, hari ke hari banyak aplikasinya. Nah, kita bisa saling bertukar pengalaman kemudian bisa tahu perkembangan diluar,”kata Ketua Panitia Kolonel Ctp Drs Ibnu Fatah

Dirtopad berharap  “Dari perlombaan ini saya berharap kedua kegiatan tersebut baik lomba Orienteering maupun Drone dapat mendekatkan TNI dengan rakyat dalam rangka ikut mendukung program pembinaan Teritorial yang dicanangkan pimpina TNI dengan semboyan TNI Kuat bersama rakyat dn rakyat aman sejahtera bersama TNI,”pungkasnya

 

[1] http://klik7tv.com/?s=drone&submit=Cari

[2] http://forum.detik.com/showthread.php?p=28649248

Leave a Reply