Blog

Indo Defence 2016 Membaca Industri Pertahanan Dunia

Indo Defence 2016 Expo & Forum yang ketujuh akan diikuti 844 peserta perusahaan, baik dalam negeri maupun luar negeri.“Ada 573 perusahaan asing yang sebagiannya berskala dunia, serta 271 perusahaan dalam negeri yang bergerak di industri pertahanan sudah konfirmasi sampai hari ini,” ujar Brigjen TNI Jan Pieter Ate, Ketua Pelaksana Indo Defence 2016 Expo & Forum, (26/10/2016) di Kementerian Pertahanan Jakarta.

Juga dimeriahkan oleh berbagai perusahaan papan atas dunia, seperti Boeing Defence Space & Security, Airbus Group, BAe System, Thales, SAAB, dan Lockheed Martin. Hal ini menunjukkan bobot dari penyelenggaraan pameran industri pertahanan berskala internasional ini. Di samping itu, jumlah peserta pada kegiatan dua tahunan ini terus naik; tahun 2014 ada 672 peserta dan tahun 2012 ada 603 peserta. Harapannya akan jadi yang terbesar dari event sejenis yang ada. Kita kerja keras untuk itu, tutur Jan, yang adalah Direktur Teknologi Industri Pertahanan, Ditjen Potensi Pertahanan Kementerian Pertahanan.

Baca Juga : Membangun Industri Pertahanan Unggulan

Dari 844 peserta itu ada 28 delegasi resmi yang hadir, 22 di antaranya akan mendirikan paviliun. Enam Menteri Pertahanan dari, antara lain, Yunani, Pakistan, Cekoslovakia, dan Timor Leste, sudah menyatakan kesediaannya untuk hadir. Menurut Jan, penyelenggaraan Indo Defence itu untuk meletakkan dasar yang kuat bagi perusahaan dalam negeri berinteraksi dan menjalin kemitraan dengan perusahaan global. Indo Defence 2016 Expo & Forum, juga menyertakan Indo Aerospace 2016 Expo & Forum, Indo Marine 2016 Expo & Forum, dan Indo Helicopter 2016 Expo & Forum, akan digelar 2-5 November nanti di JIExpo Kemayoran Jakarta. Rencananya ajang promosi bagi produsen peralatan pertahanan dan keamanan internasional ini akan dibuka oleh Presiden Joko Widodo.

Didukung Dari Berbagai Industri Negara Sahabat

Pemerintah Amerika Serikat (AS) memastikan 14 hingga 15 perusahaan dan kontraktor pengembang jet-jet tempur AS dipastikan akan meramaikan pagelaran Indo Defence 2016. Mereka akan pamerkan produk-produk tempur terbaiknya.”Akan ada 14 hingga 15 perusahaan dan kontraktor Amerika yang terlibat di sana, seperti Lockheed Martin. Mereka yang mengembangkan F-16, Boeing akan ada di sana, dan beberapa kontraktor pemerintah lainnya,” kata atase pers Kedutaan Besar AS, John Johnson, pada Kamis (27/10/2016).Selain AS, negara lain yang diketahui akan meramaikan pameran ini adalah Rusia. Namun belum diketahui akan ada berapa perusahaan atau kontraktor militer Rusia yang akan ambil bagian dalam pameran ini.

Tank Boat Indonesia Dipamerkan

Tank Boat merupakan kendaraan tempur yang memadukan kapabilitas darat seperti yang dimiliki tank dan kemampuan manuver di perairan yang dimiliki kapal. Dengan menggabungkan kemampuan manuver darat dan laut, kendaraan tempur ini menjadi yang pertama di dunia. “Ini teknologi pertama di dunia jika berhasil,” ujar Brigjen Jan Pieter Ate. Pieter menjelaskan, Tank Boat merupakan kendaraan tempur produksi Indonesia, hasil kerjasama PT Pindad dan PT Lundin asal Swedia.

Tank Boat memiliki spesifikasi panjang 18 meter dan dioperasikan oleh 12 orang awak. Kendaraan tempur ini juga disebut mampu beroperasi di perairan dangkal di kedalaman hingga 90 cm. “Bisa beroperasi di pinggir pantai, bersembunyi di antara pohon bakau,” ucap Pieter. .Kendaraan tempur yang memadukan kemampuan darat dan manuver di perairan cocok untuk negara kepulauan seperti Indonesia.

Sementara itu, dari kalangan industri pertahanan dalam negeri yang ikut memamerkan produknya antara lain PT Pindad, PT Dirgantara Indonesia, PT Len Industri, PT Krakatau Steel, PT Industri Kapal Indonesia, PT PAL Indonesia, dan PT Tesco Indomaritim. Beberapa produk yang akan dipamerkan adalah mobil unit Rehabmedik Keliling dari Kemhan, UAV Puna dan Sriti milik Kementerian Ristekdikti, helikopter Dauphin dan Personel Rescue Carrier milik Basarnas, serta kendaraan taktis Anoa dan Komodo dari PT Pindad.

Kiprah & Semangat Industri Pertahanan Dalam Negeri

Indonesia kini tengah berjuang untuk terus meningkatkan kualitasnya. PT Pindad misalnya,  kini terus memproduksi berbagai peralatan tempur, kendaraan tempur berupa panser serta Senapan Serbu SS3, Senapan Serbu SS2 subsonic 5,66 mm, Sub Machine Gun dan Pistol G2 Premium.Khusus Senapan Serbu SS1 dan SS2 ini  telah terbukti akurat dan memenangkan lomba menembak internasional. Setelah berhasil membuat berbagai varian panser Anoa dan Kendaraan Taktis Sherpa, kini Pindad mengembangkan lapis baja penggerak rantai (tracked). Setelah membuat prototype tanks SBS, Pindad mengembangkan Self Propelled Artillery berbasis tank AMX-VCI.

Sementara itu PT Dirgantara Indonesia  juga telah mampu memproduksi Peluncur Roket NDL-40. dengan ukuran  peluru berdiameter 70 mm atau 2,75 inchi.  Roket ini menggunakan sistem multi luncur FFAR 2.75″ yang diproduksi secara lisensi oleh PT DI.NDL-40 bisa meluncurkan 40 roket dari 40 tabung luncurnya secara salvo dengan selang 0,1 sampai 9,9 detik untuk tiap roketnya. Dengan kemampuan ini NDL-40 mampu menghancurkan sebuah daerah seluas 200m x 300m dalam waktu singkat. Jangkauan terjauh dari senjata ini adalah sejauh 6 km. Tapi jika roketnya diganti dengan R-HAN 122  yang memiliki jangkauan sampai 15km, maka NDL-40 akan jauh lebih efektif dan mematikan.Kemampuan lain yang juga  ditunjukkan  oleh PT DI ialah produksi pesawat CN 235 dan  kemungkinan untuk membangun pesawat C295 atau versi jumbo CN235 dan N219, belum lagi  kerja sama dengan Korea Selatan untuk membangun PESAWAT TEMPUR siluman KFX.

Juga Bca :Membangun Dan Merevitalisasi Industri Pertahanan

Hal serupa juga dilakukan oleh PT PAL Indonesia berhasil memproduksi kapal perang BRP TARLAC (LD-601). Kapal jenis Strategic Sealift Vessel sebagai hasil modifikasi PT PAL Indonesia dengan Landing Platform Dock (LPD-125) produksi bersama PT PAL dan Korea Selatan. Kapal jenis SSV ini mampu membawa dua helikopter dan mengangkut kapal landing craft utility (LCU) serta sejumlah tank perang hingga truk militer. Kapal dengan panjang 123 meter, lebar 21,8 meter, dan kecepatan 16 knot ini memiliki ketahanan berlayar selama 30 hari.

Industri Pertahanan Indonesia diharapkan mampu membangun tradisi sebagai produser alut Sista yang tahan banting, fungsional dan bisa diandalkan. Tentu jalan untuk itu masih sangat panjang, tetapi kalau para pihak tetap dengan komitmen bersama yang kuat, di percaya Indonesia akan mampu. Mampu memproduksi Alut Sista bagi kepentingan diri sendiri dan juga bagi negara sahabat yang membutuhkannya. Kalau anda sebagai pemerhati tentang perkembangan industeri pertahanan Indonesia. Inilah kesempatan terbaik untuk melihat kemampuan mereka di tengah-tengah produsen sejenis di kelas dunia. (Yasmin Naira)

 

Leave a Reply