Blog

Industri Pertahanan Nasional, Bisnis dan Strategi  Samudra Biru

Oleh Harmen Batubara

Kalau anda ke Klaten dan memesan katakanlah 200 lusin cangkul, maka yang kan terjadi samalah kira-kira saat Kasad menerima pesanan Heli NBell-412 dari PT DI, dan berharap PT Dirgantara Indonesia sebagai salah satu industri pertahanan diharapkan dapat tepat waktu dan meningkatkan kualitas produksinya. Hal ini penting untuk tertib administrasi dan peningkatan kemampuan pertahanan. Hal ini disampaikan Wakil Kepala Staf Angkatan Darat Letjen Johanes Suryo Prabowo saat menerima serah terima satu unit helikopter NBell 412 Extra Performance di Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Rabu (2/2/2011).

Ini artinya, konsep dagang atau industry kita sesungguhnya masih amat lemah  dalam rekayasa manajemen. Kalau soal kerja tenaga kerja kita kualitasnya tidak kalah dengan tenaga kerja dari manapun; tetapi soal bagaimana membuat mereka bekerja ? Nah disanalah terlihat lemahnya kemampuan para manajerial kita. Ini fakta dan ini ada dimana-mana. Artinya kemampuannya itu sesungguhnya baru ada pada tataran “bekerja” saja, selebihnya mereka kehilangan kreativitas. Dalam skala kecil, seperti industri tempaan besi di Klaten misalnya, mereka lemah dalam permodalan, mereka tak mampu meyakinkan bank yang ada; kalaupun ada dana untuk memproduksi, mereka juga tidak yakin bisa memasarkannya. Lalu apa yang bisa diharapkan dari mereka? Nah hal seperti itulah sebenarnya yang ada di industry nasional kita PT.DI.

Baca Juga : Menjaga Marwah Perbatasan

Seperti harapan Wakasad yang mengatakan, sesuai dengan komitmen pemerintah, TNI AD menyambut produksi dari industri pertahanan seperti PT DI untuk melengkapi alat utama sistem persenjataan. Diharapkan produksi industri pertahanan bisa memiliki harga bersaing dan terus meningkatkan kualitas dan tepat waktu. ”Tepat waktu karena kita juga ada hubungan dengan pemeriksaan eksternal,” kata Suryo Prabowo. Kata kunci di sini adalah “Tepat Waktu”.

Padahal dalam persepsi Tepat waktu bagi Direktur Utama PT DI Budi Santoso mengatakan, berkaitan dengan ketepatan waktu itu, untuk pembuatan Bell 412 EP ini, PT DI baru menerima kontrak pada Oktober 2010. Saat itu mereka sudah bekerja tanpa ada kepastian kontrak. Molornya penyelesaian heli ini juga karena ada penambahan spesifikasi. ”Masalahnya, anggaran baru keluar akhir tahun. Tapi, untungnya sekarang kebijakan bisa multi-years, jadi sudah ada perencanaan jangka panjang,” kata Budi.   Ini artinya PT DI yang akan kita banggakan itu, tohk tidak bisa berbuat apa-apa kalau uang “tanda jadi” dari pemerintah tidak turun. Padahal kita tahu, dalam system anggaran kita sangat erat kaitannya dengan penerimaan pajak. Uang baru ada, ya saat-saat di akhir tahun. Secara logika sederhana hal seperti ini sungguh konyol. Sebuah Industri yang akan dikembangkan secara nasional, ternyata kemampuan manajerialnya tidak beda dengan tukang besi atai pandai besi dari Klaten sana. Mereka baru bisa produksi kalau sudah jelas ada uang dan ada yang membeli produknya. Kalau yang dua itu tidak jelas, maka tidak ada yang namanya “bisnis”.

Padahal kalau kita cermati  acara ”Global Investment Opportunities” pada Asian Financial Forum di Hongkong, (17/1). Levin Zhu, Presiden China International Capital Corporation Limited, mengemukakan, catatan perdagangan China menguatkan besarnya potensi hubungan dagang antarnegara di wilayah Asia. Sekitar 15 persen dari nilai perdagangan China tercatat dengan negara di Eropa dan Amerika Serikat. Sekitar sepertiga dari total perdagangan dicapai dari hubungan dagang dengan Jepang dan Korea. ”Sisanya, dengan negara-negara Asia,” kata Levin Zhu.

Dari data yang ada Data Badan Pusat Statistik menyebutkan, negara tujuan utama ekspor non-minyak dan gas Indonesia pada Januari-November 2010 adalah Jepang dengan nilai 14,719 miliar dollar AS.Disusul kemudian ke China dengan nilai 12,379 miliar dollar AS dan ke Amerika Serikat, yakni 12,026 miliar dollar AS.Sebaliknya, impor non-migas ke Indonesia terbesar dari China, dengan nilai 17,695 miliar dollar AS pada periode Januari-November 2010. Disusul dari Jepang dengan nilai 15,357 miliar dollar AS dan Amerika Serikat senilai 8,528 miliar dollar AS.  Ini artinya potensi dagang di Asia atau Asean sungguh besar. Persoalannya kita tidak bisa ikutan untuk mengolahnya.

Kreativitas Bisnis Meskipun demikian, upaya Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) untuk menyiasati minimnya anggaran pertahanan tersebut bisa ditiru. Siasat ini dijadikan contoh dalam buku Blue Ocean Strategy (Strategi Samudra Biru) karya W Chan Kim dan Renee Mauborgne (PT Serambi Ilmu Semesta, 2008).

Buku pemasaran ini memberikan banyak contoh di dunia bahwa untuk mengejar diferensiasi—aspek penting dalam pemasaran agar memenangkan persaingan—tidak selalu berbiaya tinggi. Dalam buku itu, Chan Kim dan Mauborgne mengajarkan bahwa diferensiasi bisa dilakukan dengan biaya rendah. Salah satu contoh yang dikemukakan kedua dosen bisnis di sekolah bisnis terkemuka di Prancis, yaitu Institut Européen d’Administration des Affaires, itu saat Pentagon mengalami minimnya anggaran pertahanan tahun 1993.

Pengalaman program F-35 Keterbatasan dana sebenarnya adalah sesuatu hal yang sering terjadi di bidang apa saja. Termasuk dalam industry strategis sekalipun. Siasat Pembiayaan Model Strategi Samudra Biru (Kompas/16/11/2009).Persisnya, waktu itu Pentagon menghadapi masalah biaya yang membengkak untuk pemeliharaan dan penggantian pesawat terbang Angkatan Laut dan Angkatan Udara. Membengkaknya biaya tersebut karena tiap-tiap angkatan punya konsep sendiri-sendiri tentang pesawat terbang.

Angkatan Laut menekankan pentingnya pesawat tahan lama yang bisa mendarat di dok kapal induk. Marinir menginginkan pesawat terbang ekspedisi yang mampu melakukan lepas landas dan pendaratan cepat. Angkatan Udara menginginkan pesawat terbang yang paling canggih dan cepat. Menurut Chan Kim dan Mauborgne, Program Joint Strike Fighter (JSF), yang juga disebut pesawat F-35, menentang praktik industri yang membagi tiga segmen tersebut. Tim JSF justru mencari kesamaan-kesamaan keinginan tiap-tiap angkatan dan membuang hal-hal yang berbiaya tinggi di peranti lunak dan mesin.

Baca Pula : Pertahanan dan Kemandirian Industeri Pertahanan

Pesawat tempur F-35 ini sekaligus dapat memenuhi tiga keinginan yang berbeda tersebut, yaitu berteknologi pengintaian dan tangkas (keinginan Angkatan Udara), berdaya tahan dan kemudahan perawatan (keinginan Angkatan Laut), serta memiliki kemampuan pendaratan vertikal lepas landas yang cepat dan kemampuan tindakan darurat yang cepat (keinginan Marinir). Tim JSF juga berani berjanji biaya pembuatannya jauh lebih murah dibandingkan dengan harga pesawat-pesawat yang biasa dipakai Angkatan Udara, Marinir, dan Angkatan Laut tersebut, yaitu dari 190 juta dollar AS per pesawat menjadi 33 juta dollar AS per pesawat. Kinerja F-35 juga jauh lebih unggul daripada F-22 milik Angkatan Udara, Harrier AV-8B milik Marinir, dan F-18 milik Angkatan Laut.

Pesawat F-35 ini dibuat oleh perusahaan Lockhead Martin sejak tahun 2001 dan selesai tahun 2010. Salah satu negara yang meminati pesawat F-35 di Asia adalah Singapura. Negara tetangga Indonesia tersebut telah berminat memesan 100 pesawat F-35 (Kompas, 10/7/2008).  Yang menarik dari sini adalah bagaimana strategi samudra Biru bisa memecahkan keterbatasan anggaran yang ada. Strategi  seperti ini sesgungguhynya bisa di “cloning” atau di modifikasi hingga munculnya berbagai ide yang bisa menjawab tantangan yang ada. Apalagi tantangan itu sebenarnya hanyalah persoalan “tenggat” waktu atau pada aliran “cash flow”nya saja. Sungguh tidak semestinya manajemen sebuah industry nasional mati langkah dalam hal-hal seperti ini. Tapi faktanya? Ternyata mereka kehilangan langkah juga.

Kepentingan Nasional Pada awal pemerintahan keduanya, salah satu program yang akan menjadi fokus pemerintahan SBY-Boediono dalam 100 hari pertama adalah revitalisasi industri pertahanan. Demikian dinyatakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono waktu itu di Kantor Presiden, Kompleks Istana Negara, Jakarta, Kamis (5/11/2010). Kini berbagai geliat tentang kebijakan itu tengah dan akan berlanjut; dalam persfektif seperti itulah kita melihat adanya kegiatan Expo Pertahanan, Kedirgantaraan dan Kelautan Indonesia waktu itu kian menjadi menarik; khususnya bagi mereka yang bisa melihat peluang dalam upaya membangun Industri pertahanan Indonesia. Suatu Expo ber skala besar yang akan memberikan inspirasi bagi mereka yang bergerak dalam bidang industri pertahanan. Expo dimaksud telah di laksanakan di International Expo Kemayoran mulai dari tanggal 10-13 November 2010. Kita belum tahu apakah ada hasil konkritnya. Sebab pada umumnya program seperti ini adalah program yang pembiayaannya juga dari APBN sehingga,( maaf ngomong) hanya penyelenggaranya saja yang senang dan jelas untung.

Pada waktu itu Presiden sangat yakin dan mengatakan “Lima tahun mendatang akan kita lakukan revitalisasi”. Dalam program 100 hari yang lalu mestinya telah dibuat rencana induk, master plan, dan roadmap untuk revitalisasi industri strategis,”; begitulah kira-kira keinginan presiden SBY kala itu. Revitalisasi ini termasuk menentukan apa yang diproduksi, terutama untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, keperluan pemesanan dari luar negeri, dan kontrak-kontrak yang sedang berjalan. Kita optimistis dengan revitalisasi ini karena industri pertahanan sudah dikembangkan cukup lama. Indonesia telah berinvestasi dalam penguasaan teknologi dan sumber daya manusia yang andal.

Pada waktu itu, presiden SBY mengatakan, industri pertahanan strategis yang akan dijadikan target, antara lain, industri yang memproduksi senjata, peralatan, dan perlengkapan pertahanan, militer, dan kepolisian. Misalnya, PT PAL di Surabaya, PTDI, PT PINDAD di Bandung, dan industri strategis lainnya. Menurut SBY, industri-industri tersebut sempat tidak mendapat perhatian karena krisis ekonomi. Lima tahun sebelumnya hal ini belum menjadi fokus karena pertumbuhan ekonomi belum cukup baik dan anggaran tidak cukup.

Karenanya, bertitik tolak dari program  100 hari dan ke depan serta adanya expo Industri Pertahanan Nasional yang memadukan industri dirgantara dan kelautan  dan dengan adanya kemudahan dan pleksibilitas pembiayaan, khususnya dengan menggali potensi pembiayaannya; terserah  apakah menggunakan sumber dalam negeri, multi-years budgeting, dan atau menentukan pola fasilitas pembiayaan perbankan dalam negeri. Adanya upaya pleksibilitas dalam pembiayaan terkait dalam pembangunan industri pertahanan, maka di pastikan Expo waktu itu akan dapat tampil lebih berdaya guna.

PT DI mengatakan NBell 412 EP ini adalah varian terbaru Bell 412. Masih ada kontrak untuk 5-6 Bell lagi untuk TNI AD serta 3 buah maritime patrol untuk TNI AL. Dengan membeli produksi PT DI, banyak keuntungan yang diperoleh TNI. Misalnya, kalau membeli di luar negeri, seperti AS, pasti banyak pembatasan. Sementara dengan PT DI, minta apa saja akan dikasih. ”TNI juga dapat dukungan purnajual dan bisa tingkatkan kemampuan Indonesia, baik dalam pertahanan maupun lapangan kerja,” kata Budi.

Komandan Pusat Penerbangan TNI AD Brigjen N Wachju Rianto mengatakan, heli NBell 412 EP akan dipergunakan untuk heli angkut dan ditempatkan di Skuadron 31 Semarang. ”Nanti juga akan dilengkapi dengan senapan 30 mm di kiri dan kanan heli. Ini untuk pengamanan saat pendaratan,” ujar Wachju. Asisten Logistik TNI AD Mayjen Wibowo mengatakan, heli NBell 412 EP berkapasitas mesin yang lebih besar serta semua peralatannya sudah digital. Heli ini juga bisa melakukan an auto-pilot hovering, yakni terbang stabil di udara secara otomatis. (Kompas /EDN)

I agree to have my personal information transfered to MailChimp ( more information )

Related Post

Leave a Reply