Blog

Klaim China Atas Natuna, Klaim Untuk Pengamanan Energi

Oleh harmen batubara

Pembangunan ekonomi telah meningkatkan permintaan China untuk energi, khususnya minyak, terus meroket. Industrialisasi dan peningkatan standar hidup telah mensyaratkan  telah menaikkan kebutuhan energi 2,9 menjadi 7 juta barrel perhari (2006).  Pada tahun 2004, 40% dari pasokan minyak di Cina diimpor. Laporan IEA 2004 memperkirakan bahwa pada tahun 2030, proporsi impor minyak akan melebihi 70% dari permintaan domestik (IEA 2004).

Cina, sejauh ini, menjadi produsen batubara terbesar di dunia. Pada tahun 2004, produksi batubara mencapai hampir 2 miliar ton atau 42% dari produksi dunia. Pertambangan batubara sertaproduksi listrik berbasis batu bara menyebabkan masalah lingkungan dan kesehatan yang sangat besar. Kualitas udara di China Timur Laut, termasuk ibu kota Beijing, telah memburuk. China kini fokus pada energy Gas, energy yang dipercaya lebih baid dan murah dari pada batubara. Barangkali inilah salah satu yang jadi mereka sangat tertarik dengan Natuna, yang kini diberitakan telah secara terang-terangan di klaim oleh China.

Kepala Humas SKK Migas Zuldadi Rafdi mengakui potensi sumber daya alam di perairan Natuna cukup besar. Setidaknya ada dua blok tambang minyak dan gas bumi yang sudah dieksplorasi di sana, yaitu blok A dan blok B. Sejauh ini produksi gas lebih besar dibandingkan minyak bumi. Tak kurang dari 1,1 juta kubik feet per hari gas yang dihasilkan dari kedua blok tersebut. “Itu belum termasuk dengan cadangan yang terkandung di blok D, yang masih dirahasiakan.”

Sejumlah perusahaan gas Internasional sudah menginvestasikan uangnya untuk mengelola blok-blok tersebut. Di antaranya adalah, untuk blok A sudah ada PT Medco Energy International, Exxon Mobil,  dan Premiere Oil Indonesia. Sementara blok B dikelola oleh Premiere Oil Indonesia, ConocoPhillips, dan Star Energy.

Klaim Atas Natuna

Isunya, pemerintah Republik Rakyat China dikabarkan telah mengklaim perairan yang berbatasan dengan laut China Selatan, yaitu perairan Natuna. Menurut kantor berita Antara, Asisten Deputi I Kementerian Koordinator Politik Hukum dan Keamanan, bidang doktrin strategi pertahanan Fahru Zaini mengatakan Natuna, yang berada di provinsi kepulauan Riau sudah masuk ke dalam peta negara China. Apakah kutipan itu benar?

Perairan Pulau Natuna atau Kepulauan Natuna terletak di Kepulauan Riau, Natuna terletak di antara Pelabuhan Kuching di Sarawak dan Johor Bharu di Johor serta Kuantan, Pahang, di Malaysia. Kepulauan ini memiliki luas 2000 kilometer persegi.

Seperti diketahui, Kabupaten Natuna sendiri, telah dimekarkan menjadi Kabupaten Natuna dan Kabupaten Kepulauan Anambas, kini diusulkan kembali untuk dimekarkan menjadi tiga daerah otonom baru lagi, yakni Kota Ranai.

Menurut juru bicara presiden Faizasyah, “yang saya ketahui, memang Cina mengeluarkan peta sembilan garis putus. Itu memang klaim tumpang tindih dengan negara lain seperti Brunei, Malaysia, Vietnam, Taiwan dan Filipina, tapi tidak dengan Indonesia,” katanya.  Faizasyah kemudian mengungkapkan, pemerintah Indonesia sebenarnya telah menyampaikan keberatan atas batas Laut China Selatan dengan Laut Natuna saat Menteri Luar Negeri dijabat Ali Alatas. “Kalau di sekitar Natuna, kita sempat menyampaikan keberatan saat era Pak Ali Alatas (menjabat Menteri Luar Negeri). Kita tidak ada masalah dengan perbatasan,” ungkapnya.

Selama ini yang menonjol adalah klaim china atas daerah tersebut sebagai daerah penangkapan ikan tradisional china. “Kami waspada kemungkinan klaim wilayah penangkapan ikan tradisional itu menjadi klaim teritori mereka,” kata Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono di Markas Besar TNI waktu itu(29 Januari 2013).

Menurut Agus, TNI sudah memperkuat pasukan Angkatan Laut dan Angkatan Darat di Natuna. Hingga, TNI tidak pernah menemukan lagi nelayan ilegal China yang menangkap ikan, bahkan setelah pemerintah China menyatakan klaim di wilayah tersebut.

Secara hukum, Indonesia memiliki kedaulatan yang syah atas kepulauan Natuna dan itu sudah diakui dunia internasional yang memang berada di bagian baratdaya Laut China Selatan. Keberadaan Natuna juga sesungguhnya berada di luar klaim Nine Dash Line China. Tetapi dihadapkan dengan kebutuhan energy China, maka Indonesia tetap perlu memperhatikan kekuatan serta memperhatikan dislokasi satuan TNI di kawasan tersebut. Khususnya posisi Natuna sebagai bagian dari Kodam Bukit Barisan atau Kodam Tanjung Pura.

One Response

Page 1 of 1
  1. harmen batubara says:

    Selama ini yang menonjol adalah klaim china atas daerah tersebut sebagai daerah penangkapan ikan tradisional china. “Kami waspada kemungkinan klaim wilayah penangkapan ikan tradisional itu menjadi klaim teritori mereka,” kata Panglima TNI Laksamana Agus Suhartono di Markas Besar TNI waktu itu(29 Januari 2013).

Leave a Reply