Blog

Memilih Pengganti Pesawat F-5, Faktor Deterence dan Pembangunan Industri Pertahanan

Oleh harmen batubara

Sesuai dengan masa tugasnya pesawat F-5 sudah memasuki masa PHASE OUT, atau memasuki masa lansia pada akhir tahun 2019. Sesuai kemampuannya pesawat F-5 itu masih bisa dipakai sambil menunggu kedatangan pesawat baru meskipun tidak lagi digunakan sebagai pesawat tempur. Masalahnya menjadi menarik untuk kita amati. Pesawat seperti apakah nantinya yang akan dibeli untuk menggantikan pesawat F-5 yang masuk usia lansia pakai itu?

Kepentingan Nasional dan Langkah Startegis

Kalau dilihat dari kepentingan nasional, maka pilihannya jelas yakni pesawat yang terbaik di kelasnya. Kepentingan nasional itu bisa dilihat pada level mana? Apakah berada pada level yang mendesak? Pada alasan berikutnya adalah dilihat dari perbandingan relatif dengan negara tetangga. Sebaiknya yang kita punya adalah yang lebih baik dari tetangga. Kalau hal itu tidak bisa dicapai ya minimal yang setara dengan tetangga. Tetapi kalau memilih yang jauh dibawah tetangga, maka dalam tataran logika berpikir itu jelas penghianatan namanya.
Kalau dilihat dari segi pembangunan industeri pertahanan nasional maka itu harus di lihat dengan kacamata Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2012 tentang INDUSTRI PERTAHANAN. Salah satu amanat yang harus dipenuhi adalah adanya soal transfer teknologi, penggunaan konten lokal, imbal dagang, dan kompensasi yang nilainya 35 persen dari harga persenjataan yang dibeli.Hal ini sudah jelas dan menjadi amanat undang-undang yang harus diperjuangkan oleh para pihak baik dari Kemhan, TNI dan BUMN yang bersangkutan dan diawasi oleh DPR. Sebab pada umumnya walau secara formal penjual pesawat-pesawat yang akan dibeli itu menyatakan siap transfer teknologi, tetapi pada faktanya tidaklah semudah itu. Menurut Proff BJ. Habibie Teknologi itu hanya bisa didapat kalau direbut.

Pilihan Yang Tidak Mudah

Kalau kita ingin tahu pesawat apa sebaiknya yang akan jadi pengganti F-5 itu maka yang paling pas untuk di tanya adalah TNI-AU, mereka sesungguhnya paling tahu tentang pesawat seperti apa yang mereka harapkan. Pengganti pesawat tempur F-5 Tiger mengerucut menjadi dua pilihan, yaitu F-16 blok 70 dan Sukhoi Su-35.Ini disampaikan Kepala Staf TNI AU Marsekal Agus Supriatna seusai geladi resik HUT ke-69 TNI AU, Selasa (7/4/). Agus mengatakan, kebutuhan pesawat tempur pengganti F-5 untuk TNI AU adalah generasi di atas Sukhoi yang ada sekarang. “Itu berarti generasi 4,5 ke atas,” kata Agus.
Dari seluruh opsi yang ada, yang paling dianggap memenuhi kebutuhan TNI AU adalah F-16 blok 70 dan Sukhoi Su-35. Hal ini telah menjadi hasil kajian TNI AU dan telah disampaikan kepada Kementerian Pertahanan (kompas,7/4/2015). Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsekal Pertama Hadi Tjahjanto mengatakan, TNI AU menginginkan pesawat tempur generasi 4,5. “Kami inginkan yang punya faktor deterrence, yaitu efek gentar tinggi di kawasan,” katanya.
Lalu seperti apa sebenarnya pesawat tempur yang dipunyai negara tetangga? Dalam World Defence Almanac 2014, terlihat negara-negara tetangga telah dilengkapi dengan pesawat-pesawat generasi ke-5. Jadi kalau TNI AU hanya memintak generasi 4.5 sebenarnya hal itu sudah tidak punya efek deterence. Beberapa diantaranya Australia misalnya, mereka punya pesawat jet tempurnya 33 Hawk 127, 55 pesawat F-18A, 16 pesawat F-18B, dan 24 pesawat F-18F Super Hornet. Australia juga sudah memesan pesawat tempur F-35 untuk tahun 2018.
Malaysia saat ini memiliki pesawat 10 MiG 29N/MiG 29NUB, 6 F-5E, 2 F-5F, 2 RF-5E, 8 F-18D, 14 Hawk 208, dan 18 Sukhoi 30MK.
Singapura, memiliki pesawat 37 F-5 Tiger II, 40 F-15 SG, dan 62 F-16 C/D blok 52, F-15 SG.
Indonesia mempunyai pesawat 12 F-16 A/B blok 15, 5 F-16 C/D blok 25 di upgrade jadi blok 52, 16 Sukhoi Su-27/30 MKI, dan 9 F-5 E/F Tiger.

Bagaimana Kemhan Melihatnya?

Kepala Komunikasi Publik Kementerian Pertahanan Djundan Eko Bintoro mengatakan, Kementerian Pertahanan belum memutuskan dan masih akan terus menimbang-nimbang sejumlah faktor. Namun, ada beberapa jenis pesawat calon pengganti F-5 yang mencuat, yaitu F-16 blok 60 dari Lockheed Martin, Gripen E/F dari SAAB, Sukhoi Su-35, dan Typhoon dari Eurofighter.Setiap pesawat tentu memiliki spesifikasi teknis yang harus dibanding-bandingkan kekuatan dan kelemahannya serta dipertimbangkan kesesuaiannya dengan kebutuhan Indonesia.(kompas,7 april 2015).
Kalau kita melihat pada sejarah pengadaan alut sista kita, maka sesungguhnya Soviet adalah negara yang selalu memberikan dukungannya secara penuh dan menjadikan kita sebagai kekuatan yang mumpuni di Asia Tenggara. Anda bisa baca lebih lanjut di Sini. Tetapi fakta juga memperlihatkan pengadaan alut sista rentan terhadap budaya korupsi dan nepotisme. Kita akan bisa melihat hal itu nantinya. Apakah pesawat pengganti F-5 itu sesuai dengan harapan TNI-AU? Atau apakah nantinya tidak bertentangan dengan UU Industri Pertahanan. Kita akan tahu jawabnya kelak.

Leave a Reply