Blog

Papua Kemiskinan Pembiaran dan Separatisme

oleh harmen batubara
Papua menarik untuk ditulis karena berbagai stigma dan permasalahan yang melekat padanya. Gambaran umum tentang Papua adalah lemahnya kinerja pelaksanaan pembangunan daerah dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat. Pemerintah dan pemerintah daerah setempat sepertinya punya agenda sendiri dan masih lebih mementingkan kesejahteraan golongan dan diri mereka sendiri. Berbagai alasan yang dikemukakan sebenarnya hanya sekedar mencari alasan dan pengalihan issu dari masih besarnya; korupsi, kkn dan sejenisnya. Sarana dan prasarana memang dibangun tetapi jumlahnya tidak memadai, sudah itu kualitasnya jelek pula. Peyimpangan terjadi dimana-mana, tetapi tetap saja tidak tersentuh UU dan peraturan.
Papua memang beda, tetapi jelas adalah Indonesia. Memang secara etno biologis penduduk Papua merupakan suku yang memiliki pertalian etnis tersendiri yang berbeda tetapi tetap punya hubungan dengan suku lainnya di Indonesia. Berada di ujung Timur Indonesia, hidup di tengah keterasingan. Kenyataan menujukkan bahwa masyarakat Papua berada dalam tarap hidup sederhana dan memprihatinkan, seolah-olah mereka tergolong dari para suku pemilik keterisolasian dan kemiskinan yang ada di Indonesia.

Berbagai alasan yang dikemukakan sebenarnya hanya sekedar mencari alasan dan pengalihan issu dari masih besarnya; korupsi, kkn dan sejenisnya. Sarana dan prasarana memang dibangun tetapi jumlahnya tidak memadai, sudah itu kualitasnya jelek pula

Pada saat ini masih ada orang Papua yang berbusana sederhana meski hal itu harus dilihat sebagai simbol tradisi luhur mereka. Mereka sering disebut penduduk primitif, suku dari jaman batu, kaum peramu, penduduk terasing dan masih banyak lagi stigma yang diberikan tetapi sebenarnya semua itu adalah ciri-ciri khas yang menandai betapa naifnya pembangunan di papua dilaksanakan, karena pola pembangunan yang kita punya hanya dengan model yang sama, tidak bisa membedakan antara pola pembangunan di Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Papua semuanya sama saja. Setidaknya pada masa lalu.

Lemahnya unsur pelayanan Pemda, membuat kita melihat betapa pemerintah daerah dan pusat tersandera oleh “ketidak mampuan” itu sendiri. Tujuan pembangunan yang begitu luhur dan sederhana ternyata “bisa disabot” oleh lemahnya penegakan hukum, korupsi dan KKN. Hal itu pulalah yang kita lihat dan menjadikan Papua jadi tetap tidak berubah, kalaupun ada kemajuan nyaris tidak dirasa.
Di sisi lain, telah banyak didiskusikan bahwa di Papua, tidak saja terdapat dikotomi antara wilayah pantai dan pegunungan, tetapi juga ada pertentangan-pertentangan antar entitas mikrolokal, seperti perang antarsuku. Rakyat Papua memiliki tradisi menyelesaikan konflik dengan perang antarsuku, apalagi di Papua terdapat 268 bahasa daerah dan 255 suku dengan bahasa masing-masing yang berbeda. Hal ini menyebabkan konflik dan perang antarsuku menjadi sebuah realita bagian dari kehidupan itu sendiri. Kenyataan yang sulit dihilangkan karena sudah menjadi bagian hidup keseharian mereka. Namun, menyelesaikan masalah Papua sebenarnya bukanlah sesuatu yang berat hanya saja dia membutuhkan cara khusus dan keberpihakan Pemerintah kepada mereka. Dari pengamatan saya terkait Papua memang ada empat kelompok arus besar yang mempengaruhi pembangunan Papua, saya menggambarkannya sebagai berikut:
Pertama: Mereka yang mengambil keuntungan dari kondisi Papua itu sendiri. Maksudnya mereka sama sekali tidak peduli pada pembangunan Papua, yang mereka tahu adalah mengambil keuntungan dari Papua. Mereka bisa datang dari kalangan mana saja, mereka bisa dari golongan pejabat (militer atau sipil), para pengusaha, politisi, tetua adat, kalangan profesional, dan para opportunis. Terkadang kelompok ini saling menjalin kerja sama. Semakin Papua tidak beres maka semakin besar peluang golongan ini memperkaya diri dan golongan mereka sendiri.

Kedua: Mereka Generasi didikan dan antek Belanda, yang menginginkan Papua Merdeka. Mereka adalah bentukan Belanda. Generasi binaan Belanda mulai dari bayi hingga dewasa. Mereka diajari cara makan, istirahat, tidur, dan kerja. Setiap hari mereka sudah bangun sejak jam 5 pagi. Tiap hari mereka juga diberi pekerjaan, berangkat dari rumah hanya pakaian di badan, tapi tiba ditempat sekolah semua sudah disediakan. Handuk untuk mandi sudah ada. Roti dan susu untuk makanan sudah ada. Menurut mereka Belanda bentuk dulu fisiknya, setelah semua itu berjalan dengan baik baru diberikan pelajaran. Belanda bentuk dulu manusianya baru diberi ilmu dan ketrampilan.
Menurut mereka Papua sudah disiapkan oleh Belanda dalam suatu persiapan kemerdekaan pada tahun 1961, termasuk didalamnya agreement Roma dan agreement New York. Mereka merujuk pada Resolusi PBB 2504 yang antara lain mengamanatkan kepada Indonesia diberi izin untuk membangun Papua selama 25 tahun. Setelah masa pembangunan 25 tahun itu selesai. Indonesia berkewajiban menyerahkan Papua kepada PBB untuk melaksanakan referendum atas tanah Papua. Kalau diingatkan bahwa PBB sudah melakukannya pada tahun 1969 dengan nama Pepera. Mereka tidak menerima Pepera, mereka bilang Pepera itu penentuan pendapat rakyat, dan itu menyangkut self determination bukan one people one vote, satu orang satu suara. Mereka tidak mau tahu bagaimana kondisi psikis warga Papua waktu itu, yang tak butuh apa-apa. Ketika diingatkan bahwa PBB mengakui Pepera adalah referendum. Mereka tetap tidak terima dengan berbagai alasan. Mereka inilah yang membentuk sayap perjuangan bersenjata lewat OPM dan Diplomasi internasional.

Ketiga : Pemerintahan yang tidak melayani baik pada zaman Orde Baru maupun zaman Reformasi. Kita tahu selama orde baru sepenuhnya pemerintahan dikendalikan oleh militer. Pejabat di jajaran Pemda sepenuhnya diatur oleh pusat lewat jalur militer. Masa-masa inilah masa kelam di Papua, tambang, Kayu, gaharu dll diambil habis dengan berbagai cara, dan sayangnya rakyat tidak boleh mengambil hasil hutan. Padahal hidup mereka sepenuhnya adalah peramu, rezeki mereka ada di hutan. Mereka melakukan protes tetapi itu tidak bermakna untuk kemudian hilang di telan protesnya. Begitu juga dibidang lainnya, kalau tidak KKN jangan harap bisa jadi apa-apa. Warga Papua pada zaman ini, benar-benar memilih “lari” daripada hidup berurusan dengan pemerintah.
Setelah reformasi hingga Otsus memang ada sedikit perubahan, secara kasat mata semuanya seolah transparan tetapi sesungguhnya pola lama masih saja berjalan. Tetapi jauh lebih halus dan tidak “tertangkap” oleh UU dan peraturan itu sendiri. Setelah Otsus perubahan besar terjadi, militer dan polisi keluar dari pemerintahan tetapi sayangnya Pemda sendiri seperti tidak terkendali. Idealnya di Pemda itu ada semacam pembina dan sekaligus pengawasnya dari Kemdagri. Tetapi ternyata hal seperti itu tidak ada dan memang tidak ada dalam UU. Dana Otsus memang besar tetapi pemakaiannya entah untuk apa sementara Rakyat hanya kebagian sangat sedikit. Korupsi meraja lela dan KKN kian nyata ada.

Keempat : mereka ini adalah generasi Papua baru yang melek pendidikan, bisa berorganisasi, dekat dengan semua pihak, tetapi mereka juga tidak suka Belanda. Mereka percaya bahwa Belanda juga ada maunya, sekali Belanda tetaplah Belanda yang sebenarnya. Mereka paham bahwa bergabung dengan NKRI jauh realistis dan memang kehendak sejarah, tetapi bukan pemerintahan ala Orde Baru, Bukan juga era zaman Reformasi dan juga bukan zaman Otsus. Mereka ini sedang mencari bentuk dan pemerintahan yang peduli Papua.
Pemerintah yang mampu memberikan pembinaan seperti Belanda membina warga Papua pilihan di zaman penjajahan. Pemerintah yang lebih dahulu membentuk karakter jiwa dan hidup Papua sejati baru kemudian diberikan pengetahuan dan ketrampilan. Pemerintahan yang tidak sekedar memberikan kartu sehat dan pintar tetapi lebih dari itu pemerintah yang mampu meng”orangkan” warga Papua tanpa curiga. Warga Papua yang jadi andalan Indonesia di masa datang. Mereka merindukan Pemerintahan yang menjalankan hukum dan aturan secara transparan, adil dan sejahtera. Pemerintah yang tidak KKN, pemerintahan yang bersih dan berdedikasi.

Indah dan Miskinnya Papua

Papua sejatinya, sungguh indah terlebih lagi kalau kita melihatnya dari danau Sentani yang tenang dikelilingi pegunungan cycloops yang anggun layaknya dilapisi permadani hijau. Pepohonan matoa dan coklat terhampar membentang serasi. Namun dibalik potensi dan kekayaan alam Papua yang demikian indah, tersimpan kondisi yang kontradiksi, di wilayah pedalaman papua, kediaman warga komunitas adat terpencil dan terisolir seperti di Distrik Kemtuk Gresi dan Gresi Selatan.
Saya ingat pada waktu itu petugas Pusat Penyuluhan Sosial pada November 2013 mengunjungi wilayah Distrik tersebut dalam rangka memberikan dukungan terhadap Program Pengembangan SDM Papua yang diselenggarakan oleh Badiklitkesos, untuk turut serta memberikan penguatan motivasi dan optimalisasi peran sebagai potensi sumber kesejahteraan sosial pada warga masyarakat di Desa Klaisu, Desa Yanim, Desa Braso, Desa Nembu Gresi dan Desa Yansip.

Boleh dikatakan banyak hal yang dilakukan oleh para pihak khususnya pemerintah Pusat dan Pemda untuk pembangunan Papua. Tetapi harus kita akui semua itu bagai penggalan-penggalan kegiatan mulia yang tidak terasa manfaatnya. Sama halnya seperti Universitas Pertahanan yang meneliti semangat bela negara di antara anak muda Papua. Pangdam waktu itu bilang, upaya seperti itu sungguh mulia, tetapi persoalannya di sini masalahnya adalah bagaimana untuk makan hari ini, makan hari besok, hari lusa dst.dst. Tetapi itulah sesungguhnya yang terjadi, para pihak bukan bekerja untuk membangun kesejahteraan Papua, tetapi mereka mencari rezeki sesuai dengan Visi dan Misi Kementerian/Lembaga mereka pada anggaran yang diperuntukkan untuk Papua. Bahasa ilmiahnya ikut berpartisipasi dalam pembangunan Papua dengan agenda dan kepentingannya masing-masing.
Saya lalu ingat desk perbatasan dan sekarang sudah digantikan oleh Badan Nasional Pengelola Perbatasan BNPP. Kalau sebelumnya ada sebanyak 29 K/L yang ikut mengambil peran dan berpartisipasi untuk pembangunan perbatasan, maka kalau disederhanakan saja kalau masing-masing K/L mendapatkan dana 2 milyar/tahun, maka ada anggaran sebesar 58 milyar yang pasti habis dan tidak menghasilkan apa-apa. Padahal kalau dana sebesar itu di peruntukkan untuk membangun jalan atau jembatan atau untuk membuka lahan karet rakyat untuk Papua, maka sungguh dalam waktu lima tahun warga Papua sudah punya kebun karet rakyat dengan masing-masing dua hektar per orang. Pola pikir itu memang terkesan sederhana dan salah. Sebab dana-dana itu sudah ada gatukkannya. Jadi jelas tidak bisa dipakai sembarangan. Tapi kalau pola pikir kita disederhanakan, aturannya kan bisa diatur. Artinya dananya kan bisa di pusatkan secara terpadu.

Selama ini, keempat kekuatan arus besar itulah yang mewarnai pembangunan di Papua. Isu yang berkembang adalah lemahnya pengelolaan pembangunan di Papua, terlebih lagi di wilayah perbatasan Papua. Pemerintah selama ini hanya menyama rakatan antara perbatasan di Kalimantan-Timor Leste dengan Papua. Padahal semestinya beda, serta mempu mengakomodir hukum adat di dalamnya. Papua punya beragam persoalan sosial yang terus mengemuka, di antaranya masalah tanah ulayat yang dijual oleh para pemuka adat (Ondo Api) tanpa seizin warga. Habisnya lahan sagu warga yang dikonversi dengan kebun sawit dengan cara mengintimidasi, serta tuntutan para petualang demokrasi untuk referendum. Selain itu, Undang-Undang (UU) nomor 21 tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Papua (Otsus) yang pelaksanaannya belum sebagaimana mestinya. Akibatnya, rakyat Papua masih belum juga keluar dari profilnya sebagai rakyat yang terbelakang, miskin, dan terpinggirkan atau “The people time forgot”. Fakta-fakta itu merupakan ironi rakyat Papua yang tak terbantahkan oleh siapa pun.

Semua permasalahan ini menjadi persoalan pertahanan-keamanan yang harus ditangani secara arif bijaksana oleh Pemerintah Pusat bersama Pemerintah Daerah Papua. Apabila persoalan yang hakiki tersebut dapat diuraikan dengan baik, maka diharapkan Pemerintah akan mendapatkan jalan keluar dari permasalahan tersebut. Untuk itulah, maka pada waktu Universitas Pertahanan dirasa perlu melakukan penelitian pertahanan di wilayah perbatasan Papua-PNG, sehingga perlu digali nilai-nilai kebangsaan yang ada di tanah Papua melalui kajian data dan penelitian yang hasilnya bersifat komprehensif, sebagai bahan pertimbangan perumusan kebijakan pertahanan di perbatasan Papua, baik yang bersifat jangka pendek, jangka menengah, maupun yang bersifat jangka panjang.
Pembangunan Papua bila dilihat dari sisi pengelolaan wilayah perbatasan di Papua maka ia perlu memakai pendekatan multidisiplin keilmuan, baik dari sisi sosial budaya yang terkait sejarah dan perkembangan pemberdayaan warga; pendidikan; kesehatan; kemampuan ekonomi warga dalam bentuk wirausaha; maupun pendekatan pertahanan nirmiliter melalui paradigma geografi politik, kebudayaan, pertahanan serta perkembangan demokrasi dalam bentuk otonomi daerah.

Leave a Reply