Pertahanan Indonesia, Geostrategis dan Geoekonomis Skenario 2025

disunting oleh harmen batubara

Diskusi panel ”Skenario Indonesia 2025” yang diselenggarakan Kompas bekerja sama dengan Shell, 10 November 2011, waktu itu mencoba mengungkapkan, meneropong masa depan yang tentunya tak sesederhana ekstrapolasi data statistik. Ada faktor ketidakpastian, asumsi, dan prasyarat. Bagaimana Indonesia akan membangun system pertahanannya agar mampu mengambil peran dalam tatanan ”ekonomi baru” dan ”masyarakat global baru” yang akan terbentuk ke depan? Dan sejauh mana Indonesia akan mampu menjawab tantangan dan mengambil peluang yang terbuka dari transisi menuju 2025, 2030, atau 2050?

Seperti apa kondisi Indonesia pada 2025, 2030, dan 2050? Di mana posisi Indonesia di tengah pergeseran peta geopolitis, geostrategis, dan geoekonomis global beberapa dekade mendatang? Dalam praktiknya, keberadaan skenario yang hebat sering kali too academic to be true karena melupakan dinamika evolusi antropologis yang menyangkut praktik perilaku kolektif bangsa, mulai dari politik, ekonomi, sosial, kultural, legal, dan sebagainya.

Artinya, lompatan ke depan tak akan terjadi tanpa perubahan perilaku masyarakat sebagai aktor-aktor perubahan itu sendiri. Di sinilah pentingnya pendidikan. Pendidikan yang dimaksud di sini bukan sekadar pendidikan sebagai komoditas ekonomi seperti kini marak terjadi, melainkan pendidikan sebagai bagian dari kultur. Secara garis besar, skenario Indonesia ke depan sangat dipengaruhi perubahan iklim geopolitik-strategis-ekonomi regional dan global, bagaimana kita berinteraksi dengan lingkungan tempat kita berada.

Perkembangan yang sudah pasti akan mewarnai lanskap global menuju 2025 di antaranya adalah, pertama, terbentuknya suatu sistem multipolar global dengan bangkitnya China, India, dan perekonomian berkembang lain sebagai pengimbang kekuatan kelompok negara maju. Transisi menuju sistem multipolar juga akan diwarnai friksi dan rivalitas yang kian intensif antarnegara dan kawasan di bidang perdagangan, investasi, serta inovasi dan akuisisi teknologi, dan bukan tak mungkin pula dibarengi ketegangan militer, ekspansi teritorial, dan friksi perbatasan. Di bidang ekonomi, menguatnya regionalisme Asia beberapa dekade ke depan akan mengarah pada terbentuknya tiga quasi-block perdagangan dan finansial, yakni Amerika Utara, Eropa, dan Asia Timur, yang berkompetisi dalam mendiktekan standar produk trans-regional di berbagai bidang.

Kedua, terjadinya pergeseran penguasaan kekayaan dan kekuatan ekonomi dari Barat ke Timur. Perubahan pemain global ini juga akan memunculkan berbagai konsekuensi, peluang dan juga tantangan, serta isu transnasional lain terkait kepentingan setiap negara untuk menjaga kemakmuran dan kesinambungan pertumbuhan ekonominya.

Ketiga, berlanjutnya pertumbuhan ekonomi yang dibarengi peningkatan jumlah penduduk dunia sebesar 1,2 miliar jiwa hingga 2025 akan memunculkan tekanan luar biasa pada kebutuhan akan energi, pangan, dan air bersih. Kondisi ini akan meningkatkan potensi konflik dalam perebutan sumber daya dan pada saat yang sama juga mendorong lahirnya berbagai teknologi baru di bidang energi dan pangan.

Sekitar 60 persen penduduk dunia—termasuk Indonesia—pada 2025 akan tinggal di perkotaan dengan pendapatan per kapita yang meningkat beberapa kali lipat dari sebelumnya.

Kondisi ini memunculkan beban masalah perkotaan yang luar biasa dan tuntutan pemenuhan lapangan kerja dan infrastruktur seperti perumahan, pendidikan, layanan kesehatan, air bersih, sanitasi, transportasi, dan fasilitas publik lain dalam skala yang belum pernah ada sebelumnya.

Kemampuan Pertahanan Tri Matra

Banyak masalah mendasar yang sudah perlu di kaji ulang tentang system pertahanan yang kita miliki. Misalnya gelar Kotama antar matra ( Kodam-AD, Armada-AL dan Koops-AU), sampai dimana kemampuan sinergitasnya. Untuk Kodam yang memiliki perbatasan misalnya, apakah gelar (dislokasi) dan dukungan yang ada sekarang sudah pas. Misalnya kemampuan mobilisasi udaranya Kodam (dari sisi penerbad) apakah Kodam mempunyai kemampuan itu? Padahal kalau terjadi sesuatu di wilayah perbatasan misalnya, sampai sejauh mana kemampuan Kodam dalam memproyeksikan pasukannya ke trouble spots tersebut? Kalau sekarang jelas tidak terbayangkan repotnya.

Kalau kita melihat konflik Thailand-Kamboja, apakah kita punya gelar arhanud yang mencerminkan pertahanan di wilayah perbatasan? Selama ini kita hanya peka dengan “gelar pertahanan pantai” meskipun minus “arhanud yang handal”, padahal persepsi ancaman yang paling realistic di masa datang  datangnya justru dari konflik perbatasan.  Bagaimana Gelar Tri Matra kita dalam mengantisipasi pertahanan di perbatasan? Rasanya selama ini kita lebih banyak berkelit di balik minimnya anggaran.

Kita bisa melihat cara cara Nato maupun AS dalam menghancurkan pertahanan negara taklukannya seperti di Irak, Iran dan kini Libya, maka kekuatan intinya ada pada serangan udara yang massiv yang berasal dari Kapal Induk atau dari pangkalan-pangkalan negara sekutunya di sekitar wilayah yang jadi sasaran. Dalam konstek Indonesia, maka kapal Induk itu bisa berada di jalur ALKI (alur laut kepulauan Indonesia) sementara pangkalannya bisa di Singapura, Malaysia atau Papua Nugini dengan sasarannya Jakarta serta semua infrastruktur pendukungnya.

Salah satu aspek terpenting dalam perang modern adalah pertahanan udara, karena itu harus ada upaya membangun kemampuan Radar nasional yang minimal dapat memantai 300 km  dari lapis luar wilayah pertahanan nasional. Disinilah peran Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) sebagai penanggung jawab pertahanan udara dalam lingkup nasional sekaligus integrator berbagai kemampuan deteksi dan pertahanan udara. Diharapkan Kohanudnas punya kemampuan mengoptimalkan jaringan radar miliknya sendiri, kemudian kemampuan radar di jajaran pertahanan pantai (arhanud), KRI maupun yang berada pada jajaran sipil. Minimal tidak ada lagi celah-celah bolong di wilayah udara nasional yang tidak terpantau.

Program Modernisasi Hingga 2014

Program modernisasi alat utama sistem persenjataan hingga tahun 2014 memerlukan dana sebesar Rp 99 triliun. Selain dipenuhi lewat APBN, kebutuhan dana tersebut juga akan dipenuhi lewat pinjaman luar negeri. Menurut Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Armida S Alisjahbana, dari jumlah Rp 99 triliun itu, sebanyak Rp 66,5 triliun di antaranya dipakai untuk belanja modal. Sisanya, Rp 32,5 triliun, dipergunakan untuk pemeliharaan dan perawatan. Keperluan dana ini sudah dimasukkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2010-2014. Pemeliharaan/perawatan masuk dalam program ini karena juga bertujuan untuk membuat alutsista (alat utama sistem persenjataan) yang sudah ada berfungsi dengan baik. Seperti apa proyeksi kemampuan Industri pertahanan kita di tahun 2025?

Posisi Indonesia

Proyeksi PricewaterhouseCoopers dan Goldman Sachs memprediksikan bahwa Indonesia masuk jajaran tujuh perekonomian terbesar 2050, bersama Brasil, Rusia, India, China (BRIC), Meksiko, dan Turki. Gambaran Indonesia 2030 versi Yayasan Indonesia Forum meramalkan Indonesia masuk lima besar perekonomian dunia dengan produk domestik bruto (PDB) 5,1 triliun dollar AS dan PDB per kapita 18.000 dollar AS pada 2030. Proses industrialisasi akan menjadi katalisator akumulasi modal menuju negara maju dengan kontribusi terutama dari sektor jasa.

Di satu sisi, transformasi Indonesia menjadi salah satu kekuatan ekonomi besar dunia akan terjadi secara alamiah, terutama dengan skala ekonomi dan jumlah penduduk yang besar dan lingkungan geografis di tengah Asia Timur sebagai kawasan dengan pertumbuhan ekonomi terpesat di dunia. Namun, ini saja tak menjamin kita menjadi bangsa sejahtera dan negara industri maju 2030. Meski masuk kelompok elite G-20 dan tergolong negara berpendapatan per kapita menengah bawah dunia, banyak tantangan dihadapi Indonesia untuk bisa mewujudkan pembangunan berkelanjutan dan berkualitas ke depan.

Bagaimana kita merespons isu kependudukan/SDM, pangan, energi, pendidikan, kesehatan, keamanan, pembangunan daerah, iklim usaha, perkotaan, politik, hukum, dan tantangan eksternal akan menentukan apakah kita akan mampu memanfaatkan berbagai peluang yang terbuka ke depan. Tata kelola yang baik, visi yang jelas, eksekusi kebijakan di lapangan, serta efektivitas kepemimpinan dan kelembagaan juga memegang peran penting. Pembusukan dan pembajakan proses pembangunan oleh perilaku perburuan rente seperti terjadi sekarang tak akan membawa kita ke mana-mana dan hanya membuat kita kian tercerabut dari tujuan pembangunan.

Pertanyaan yang harus dijawab antara lain bagaimana kita mampu melakukan transformasi dan lompatan ke depan menuju negara maju dalam 15-20 tahun jika ekspor dan industri lebih banyak bertumpu pada industri ekstraktif? Bagaimana pertumbuhan ekonomi bisa berkelanjutan tanpa upaya menginvestasikan kembali manfaat ekonomi dari eksploitasi masif SDA pada human-made capital sebagai basis pembangunan ekonomi ke depan? Kesinambungan pembangunan hanya bisa terjadi jika kita mengikis praktik kebijakan dan perilaku yang cenderung destruktif terhadap lingkungan.

Bagaimana Indonesia dengan penduduk 242 juta saat ini dan 280 juta lebih pada 2030 akan mampu memanfaatkan jendela peluang bonus demografi jika struktur demografi yang didominasi kelompok usia muda dijejali tamatan SMP ke bawah atau tenaga kurang terampil? Kemudian, bagaimana menyediakan lapangan kerja untuk 69 persen penduduk yang akan memasuki usia kerja dan membutuhkan lapangan kerja pada dua dekade mendatang? Juga, bagaimana memberi makan dan menyediakan sarana-prasarana untuk 280 juta lebih penduduk yang sekitar 70 persen akan tinggal di perkotaan pada 2030? (sumber : Sri Hartati Samhadi Laporan Diskusi/25/11/2011)

Rujukan Bagi Advertising Lewat CPA

Masukkan Nama dan Email Anda

Your Privacy is SAFE!

One Response to “Pertahanan Indonesia, Geostrategis dan Geoekonomis Skenario 2025”

  • harmen batubara on May 6, 2012

    Bagaimana Indonesia dengan penduduk 242 juta saat ini dan 280 juta lebih pada 2030 akan mampu memanfaatkan jendela peluang bonus demografi jika struktur demografi yang didominasi kelompok usia muda dijejali tamatan SMP ke bawah atau tenaga kurang terampil? Kemudian, bagaimana menyediakan lapangan kerja untuk 69 persen penduduk yang akan memasuki usia kerja dan membutuhkan lapangan kerja pada dua dekade mendatang? Juga, bagaimana memberi makan dan menyediakan sarana-prasarana untuk 280 juta lebih penduduk yang sekitar 70 persen akan tinggal di perkotaan pada 2030?
    harmen batubara recently posted..Pertahanan Indonesia, Geostrategis dan Geoekonomis Skenario 2025My Profile

Leave a Reply