Blog

Pertahanan, Kebangkitan Pahlawan, stabilitas,  keterbukaan dan Innovasi

Oleh Moeldoko

“Hentikan Gambang, Allah Maha Besar. Gambang, sudahlah, ayahmu (Teuku Umar) telah syahid. Gambang, sebagai perempuan Aceh, pantang meneteskan air mata untuk orang yang telah syahid di medan perang. Bangkitlah! Agar arwah ayahmu tenang. Perjuangan kita masih panjang Gambang..” Begitulah ucapan Tjoet Nyak Dhien terbata-bata dengan meneteskan air mata-diperankan sangat baik oleh Christine Hakim tahun 1988-kepada putrinya, Tjoet Gambang, ketika Teuku Umar wafat saat merebut Meulaboh. Seakan mendahului program bela negara yang sempat diwacanakan pemerintah beberapa waktu lalu, kesadaran tentang bangkitnya berbangsa seolah kembali digairahkan oleh kalangan sineas kita setelah lebih dari 22 tahun vakum. Masih melalui film epik tentang kepahlawanan, selanjutnya hadir Ahmad Dahlan dalam Sang Pencerah (2010), Albertus Soegijapranata dalam Soegija (2012), Soekarno dalam film dengan judul nama yang sama (2013), Tjokroaminoto dalam Guru Bangsa (April, 2015), dan film tentang sosok Jenderal Soedirman yang rilis tepat pada peringatan kemerdekaan 17 Agustus 2015.

Memang, memaknai kedalaman hadirnya sosok pahlawan nasional sangat bergantung pada persepsi seseorang. Namun, ada satu pandangan dan semangat sama yang dihadirkan para sineas tersebut saat berbicara tentang pahlawan nasional kita: bahwa pahlawan adalah mimbar sekaligus narasi bagi mereka yang memilih mengorbankan jiwa untuk sesuatu yang lebih besar daripada diri mereka sendiri, bahkan lebih besar daripada negara dan tanah air mereka.

Sudah seharusnya kisah tentang kepahlawanan mampu menjadi oase yang menampung kejernihan dalam merefleksikan kisah wajah patriotisme dengan senjatanya untuk pencapaian sebuah cita-cita berbangsa dan bernegara, yang sekaligus mendaur berlapis-lapis ragam tentang nilai keberanian dan pengorbanan. Film-film yang tak melibatkan kehadiran negara tersebut, kecuali barangkali Jenderal Soedirman yang produksinya dibantu TNI AD, juga mampu hadir sebagai alat penolak aneksasi bangsa lain. Mereka hadir sebagai upaya meremajakan kembali pengertian tentang hati dan jiwa para pahlawan yang selama ini dipelihara secara klise melalui kisah-kisah legenda, sejarah, dan mitos.

Setiap merayakan Hari Pahlawan, tampaknya kita perlu memaknai dengan konteks kekiniannya. Mengapa para pahlawan berjuang secara total dan berani mempertaruhkan jiwa raga? Nilai apa di balik pengorbanan yang luhur dan mulia itu? Jika dihayati dengan jernih, sejatinya mereka hanya ingin generasi penerus menikmati hak dasar manusia serta terbebas dari kemiskinan dan kebodohan. Makna lebih jauh lagi: sebuah visi besar, masa depan bangsa Indonesia sudah selayaknya berada dalam sebuah bingkai negara yang sejahtera, adil, makmur, dan aman.

Musuh baru

Saat ini zaman sudah bergerak maju dengan tingkat persaingan yang begitu kompleks. Perubahan yang terjadi bak turbulensi, begitu cepat dan terkadang sangat mengejutkan. Untuk menghadapi efek guncangannya, semangat kepahlawanan sangat penting dan menentukan. Sebab, salah satu kunci menghadapi masa sekarang dan masa depan adalah perjuangan secara total dan tidak setengah-setengah. Memang situasinya berbeda. Paradigma tentang perang pun telah berubah. Dulu para pejuang menggunakan fisik dan kekuatan senjata dengan bertaruh jiwa raga. Perang sekarang sudah berubah wujud dengan medan tempur berbeda: tidak nyata, tanpa wilayah, serta bisa terjadi di mana saja dengan aktor negara (state)atau bukan. Pemerannya bisa terkamuflase melalui berbagai bentuk.

Sekarang era perang kebudayaan yang bentuknya kompleks dan mengerikan. Salah satu cirinya adalah menyenangkan korban. Tampak aneh, tetapi begitulah kenyataannya. Para korban narkoba merasa nikmat, padahal mereka korban. Demikian pula anak-anak kita lebih senang memilih artis dan restoran bermerek asing dibandingkan produk dalam negeri. Di sisi lain, kesadaran tentang hak asasi manusia juga semakin kuat. Perjuangan akan kebenaran, kebaikan, cinta, dan kasih makin kencang, tetapi perilaku sadis dan kejam terhadap sesama manusia tetap terjadi. Kita semua seolah terperangkap dalam kondisi seperti ini dan kita kurang menyadari bahwa kekuatan kita semakin dilemahkan.

Sebagai generasi penerus para pahlawan, memberikan konteks kekinian atas nilai-nilai heroik mereka menjadi penting. Dalam mewujudkan harapan itu, sekarang kita juga dihadapkan pada kondisi persaingan yang sangat ketat. Keinginan tatanan masyarakat yang sejahtera dan aman tentu bukan keinginan kita semata karena bangsa lain pun juga terus berupaya untuk memenuhi kesejahteraan bangsanya. Di masa depan, kita akan masih berhadapan dengan berbagai tantangan. Menurut James Canton dalam The Extreme Future, ada lima penentu masa depan: (1) perubahan (change), (2) kecepatan (speed), (3) risiko (risk), (4) kompleksitas, dan (5) sering mengejutkan (surprise). Dalam menghadapi situasi ini, kita memang harus antisipatif dengan tak henti melahirkan terobosan dengan beragam bentuk inovasi.

Mengejar kesempatan

Tahun ini, Global Innovation Index mencatat peringkat negara kita di posisi ke-97 dari 147 negara, kalah jauh dari Singapura yang berada di peringkat ke-7. Di tingkat regional lain, tetangga kita Malaysia di peringkat ke-32, Vietnamke-52, dan Thailand ke-55. Yang paling mengkhawatirkan laporan pada Innovation Output Sub-Index: kita di peringkat ke-85 yang berimplikasi pada rendahnya keluaran ilmu pengetahuan dan teknologi (di posisi ke-100) dan keluaran kreatif  (di posisi ke-78). Hal yang sungguh penting untuk mengatasi ketertinggalan ini adalah kehadiran negara untuk segera membangun ekosistem inovasi yang sehat di negara kita. Salah satu peran utama adalah meningkatkan pemberdayaan institusi yang masih di peringkat ke-130 serta sumber daya manusia dan riset yang berada di peringkat ke-87. Sudah tidak ada alasan lagi bagi para inovator bahwa kita sulit mengurus paten dan tergoda mendaftarkan penemuan baru di luar negeri.

Dulu Singapura berusaha menarik sebanyak mungkin uang dari Indonesia. Sekarang mereka sudah berubah dengan berusaha menarik manusia-manusia unggul kita untuk menjadi bagian dari pembangunan negara mereka. Mereka serasa tak pernah henti untuk terus meningkatkan inovasi dengan berbagai cara dan kita seakan tak kuasa untuk berbuat sesuatu. Dalam menyikapi ini, kita tentu harus terus berjuang dengan meningkatkan kemampuan dan berperan aktif dalam persaingan global.

Masalah kita tentu bukan hanya inovasi. Kita masih menyimpan dua persoalan utama: stabilitas dan keterbukaan. Stabilitas menuntut toleransi dari berbagai sisi, sementara keterbukaan adalah ruh dari demokrasi. Peristiwa di Papua dan Aceh baru-baru ini sungguh menyadarkan bahwa kita harus belajar lagi tentang toleransi, sementara demokrasi kita memang masih berusia belia. Sebagai mantan Panglima TNI, saya pernah merasakan bagaimana rumitnya bermain di ruang sempit di antara keduanya dengan harus tetap menjaga keseimbangan nilai-nilai kedua hal tersebut.

Mengingat kondisi tersebut, saya sepakat program bela negara masih kontekstual dilaksanakan untuk memberikan penyadaran bahwa bangsa ini bisa menjadi besar jika kita memiliki kedisiplinan serta visi yang kuat seperti yang dicontohkan oleh para pahlawan kita. Disiplin yang kuat, visi yang jauh ke depan, serta semangat juang yang tak pernah menyerah akan menghasilkan karya yang inovatif untuk memulai hadirnya kemakmuran sebuah bangsa. Hal ini telah dibuktikan oleh 180 animator anak bangsa, yang dengan segala totalitas menghadirkan film Battle of Surabaya, yang dirilis tiga hari setelah film Jenderal Soedirman tayang di bioskop.

Film ini merupakan film animasi 2D dengan tema sejarah bangsa yang gaungnya mampu memberi sesuatu yang baru untuk film bergenre anime di Indonesia. Seolah mewarisi semangat juang Bung Tomo dan kawan-kawan, waktu tayang film Battle of Surabaya berani bersaing merebut penonton dengan film animasi Inside Out produksi Pixar yang distribusinya ditangani Walt Disney Pictures. Meski seolah berakhir dengan kalahnya pertempuran dalam jumlah perolehan penonton-padahal bertempur di area sendiri dengan segala macam propaganda yang melibatkan emosi nasionalisme-paling tidak karya keroyokan anak-anak muda kita menyisakan sebuah harapan yang menyertakan renungan baru.

Harapannya adalah kita telah memiliki contoh generasi muda yang berani mengejar kesempatan untuk menjadi pahlawan dengan berbuat sesuatu yang inovatif bagi kemakmuran bangsa dan negara. Dan, sekaligus meninggalkan renungan: kenapa para patriot kita kini sering kalah dalam bersaing meski segala tumpah darah telah diupayakan secara maksimal? Jawaban saya sederhana. Kita kalah berperang bukan karena musuh kita yang kuat, tetapi lebih karena kita yang lemah. Namun, kita harus selalu bangkit, seperti pesan Tjoet Nyak Dhien kepada anaknya. Moeldoko, Jenderal (Purn) Tni; Mantan Panglima Tentara Nasional Indonesia ; kompas 10 November 2015

Leave a Reply