Blog

Pertahanan, Membangun Semangat Profesionalisme TNI

Oleh harmen batubara

TUNTUTAN TNI untuk menjadi profesional adalah keniscayaan. Tantangan kepemimpinan TNI sampai kapanpun adalah membangun TNI yang profesional, yaitu ahli di bidangnya, disiplin, bertanggung jawab, dan berjiwa korsa yang tepat. Memang mudah diucapkan, tetapi untuk mewujudkannya? Jelas perlu kerja professional pula. Semangat seperti itu terlihat saat Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal Budiman bercakap-cakap dengan para Bintara Pembina Desa (Babinsa) dan perwira dari Bandung dan sekitarnya, pertengahan Oktober 2013. Di depan mereka, Budiman memulai dengan kebijakan politik, yaitu UUD 1945 dan UU No 34/2004 tentang TNI.

Saat itu Budiman memaparkan mengenai cetak biru TNI AD sekitar 20 tahun lagi.  Menurutnya, ada satu kebiasaan di TNI AD dari atas sampai ke bawah yang mengubah kebijakan begitu pimpinan berganti. Akibatnya, setiap pimpinan membuat kebijakan sendiri. Hasilnya, TNI AD yang warna-warni. ”Ke depan, organisasi TNI AD harus berdasarkan sistem, bukan orang, dan transparan,” ujarnya kala itu.

Baca Juga : Membangun Sinergitas Tri Matra TNI

Dalam percakapan dengan beberapa perwira menengah yang menjadi komandan satuan di TNI AD, pernyataan Budiman diharapkan bisa dilaksanakan. Sebab, masih banyak masalah, misalnya dalam mobilitas vertikal. Walau secara formal ada parameter yang jelas untuk naik pangkat atau jabatan, jargon ”siapa kenal siapa” atau ”siapa dibawa siapa” masih terlalu dominan. ”Anak-anak jenderal atau purnawirawan jenderal punya jalur khusus. Tahu-tahu sudah di atas saja,” kata seorang prajurit berpangkat mayor.

Namun, tentara yang berhadapan langsung dengan masyarakat justru tentara berpangkat rendah, dan terkesan kurang terlatih dengan baik. Peristiwa menarik terjadi dalam pertemuan dengan para Babinsa sehingga KSAD pun membatalkan agenda lain demi bisa mendengar keluh kesah anggotanya yang rata-rata berpangkat sersan itu.

Budiman mengajukan sejumlah pertanyaan, seperti ”Berapa jumlah warga di desa kamu?”, ”Berapa jumlah perempuan dan laki-laki?”, ”Berapa banyak keluarga siswa Seskoad yang mengontrak?” Tentara yang ditanya tak ada yang bisa menjawab secara benar. Sampai-sampai Budiman menyuruh mereka push up di ruangan.

Boleh Juga : Membangun Kekuatan Dengan Alut Sista Rekondisi

Dalam dialog terlihat juga bahwa pemahaman Babinsa mengenai pelaksanaan Operasi Militer Selain Perang (OMSP) belum cukup jelas. Hal itu terlihat dari belum jelasnya para bintara itu tentang pembagian tugas Polri dan TNI di lapangan. Ketidakjelasan menimbulkan kegamangan. Seorang prajurit bertanya, bagaimana jika ada masyarakat yang meminta tolong soal keamanan. ”Harus dibantu. Kalau kamtibmas ajak ke polisi, kalau pemerintahan ajak ke kepala desa,” kata Budiman.

TNI Konsentrasi Tingkatkan Profesionalisme

Penilaian terhadap kinerja para prajurit TNI, umumnya kita dapatkan dari para Pimpinan Militer asing yang pernah membawahi satuan TNI. Misalnya Komandan Sektor Timur Unifil (United Nations Interim Force in Lebanon), Brigadir Jenderal Juan Carlos Medina Fernandez tahun 2008.Saat akan mengakhiri masa tugasnya di Lebanon. Medina secara khusus datang ke markas Indonesia Battalion di UN POSN 7-1, Adshit al Qusayr, untuk berpamitan. Kedatangan Medina disambut meriah oleh prajurit Kontingen Garuda XXIII-C dengan nyanyian dan tepuk tangan. Sambutan dan sekaligus ciri khas prajurit Indobatt (Indonesian Battalion) dalam menyambut kedatangan para petinggi Unifil.

Medina yang telah bertugas selama 4,5 bulan di Lebanon merasa puas dengan profesionalisme prajurit Indobatt dalam melaksanakan tugas selama berada di bawah komandonya. Medina sangat terkesan dan memuji kemampuan kontingen garuda khususnya pada saat pelaksanaan INDONESIAN MEDAL PARADE, pada bulan Agustus silam. Dalam sambutannya dia berharap dapat berjumpa kembali pada penugasan ke depan tentunya pada misi yang berbeda. Medina juga berharap kontingen Indonesia yang baru datang ini akan kembali dengan selamat dalam jumlah yang sama dan meraih keberhasilan serta kebahagiaan. Pesan ini disampaikan mengingat kontingen Spanyol dalam misi UNIFIL selama ini telah kehilangan beberapa orang prajuritnya.

Boleh dikatakan semua profesi sampai tahapan tertentu diregulasi oleh negara, profesi militer dimonopoli oleh negara. Keterampilan seorang dokter adalah diagnosa penyakit dan perawatan, dan tanggung jawabnya adalah kesehatan pasiennya. Sedangkan keterampilan seorang prajurit adalah manajemen kekerasan, sedangkan tanggung jawabnya adalah keamanan dan rasa aman militer bagi kliennya, yaitu masyarakat. Tanggung jawab dan keterampilan inilah yang membedakan seorang militer dengan jenis-jenis profesi sosial lain.

Bagi prajurit motivasi utamanya untuk bertindak bukanlah karena insentif ekonomi. Perilakunya di dalam profesi militer ini juga tidak diatur dengan imbalan atau hukuman yang bersifat ekonomi. Prajurit  TNI didesain bukanlah untuk menjadi tentara bayaran yang mentransfer jasanya ke pihak yang membayar paling mahal. Ia juga bukan warga negara-prajurit yang terinspirasi oleh tugas dan patriotisme sesaat yang gencar, tanpa hasrat permanen dan kesediaan untuk menyempurnakan dirinya dalam manajemen kekerasan.

Baca Juga : Membangun Sinergitas dan Etos Kerja Bersama

Motivasi seorang prajurit adalah kecintaan teknis pada keterampilan kemiliteran dan rasa kewajiban sosial untuk menggunakan keterampilan ini bagi kemaslahatan masyarakat. Kombinasi dari dua hal inilah yang membentuk motivasi profesional. Di sisi lain, masyarakat hanya bisa menjamin motivasi ini apabila dapat menawarkan pembayaran yang memadai dan berkesinambungan pada anggota militernya, baik ketika mereka masih aktif bertugas maupun ketika sudah pensiun.

Bagi prajurit TNI, profesionalisme TNI menurut penjabaran resmi diukur dari tiga hal, yaitu: kompetensi, akuntabilitas, dan kesejahteraan. Kompetensi TNI adalah untuk mempertahankan kedaulatan negara, keutuhan wilayah, dan keselamatan bangsa dari ancaman militer bersenjata, baik dari dalam maupun dari luar.

Namun, profesionalisme militer bukan cuma dipengaruhi oleh kompetensi, akuntabilitas, dan tingkat kesejahteraan para anggotanya. Ideologi negara juga memiliki dampak terhadap profesionalisme militer. Apapun juga, profesionalisme militer –dan dalam konteks kita, profesionalisme TNI– bukanlah produk jadi yang siap pakai dan bisa diperoleh begitu saja. Profesionalisme TNI adalah suatu proses yang mentradisi, suatu kondisi dinamis yang harus terus diperjuangkan, baik oleh jajaran TNI sendiri maupun oleh para pemangku kepentingan terkait  lainnya. Berbagai tantangan konkret dalam pentas politik nasional di tengah keterbatasan anggaran, akan menjadi batu ujian, dalam upaya kita membentuk sosok TNI yang betul-betul profesional.

Catatan Blog Seorang Prajurit Perbatasan

 

Leave a Reply