Blog

Pertahanan, Modernisasi Untuk Mengimbangi Perubahan Zaman

Peringatan Hari Ulang Tahun Ke-70 Tentara Nasional Indonesia di Dermaga Indah Kiat, Cilegon, Banten, Senin (5/10), menjadi ajang unjuk kekuatan militer RI yang bertekad menjadi poros maritim dunia. Upacara juga dimeriahkan atraksi kapal perang, pesawat tempur, dan bela diri militer dengan disaksikan ribuan orang. Untuk pertama kali, Presiden Joko Widodo menjadi inspektur upacara HUT TNI yang digelar di Dermaga Indah Kiat, Cilegon, Banten, Senin (5/10). Panglima Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat Letnan Jenderal Edy Rahmayadi menjadi komandan upacara, tugas yang biasanya dilaksanakan perwira menengah berpangkat kolonel.
Hal baru lainnya adalah ribuan warga memadati lokasi acara untuk menyaksikan atraksi militer tersebut. Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo menyebutnya pesta rakyat.Inklusivitas peringatan kali ini sejalan dengan tema “Bersama Rakyat TNI Kuat, Hebat, Profesional, Siap Mewujudkan Indonesia yang Berdaulat, Mandiri, dan Berkepribadian”.Sejak subuh warga Banten berduyun-duyun datang ke lokasi peringatan yang terletak tak jauh dari pelabuhan penyeberangan Merak. Sebagian datang menumpang truk militer dan ada juga yang berjalan kaki. Akses menuju dermaga pun sempat macet sepanjang 5 kilometer.

aprodukhan

Peringatan dibuka dengan sajian orkestra TNI AD yang berada di atas KRI Oswald Siahaan. Kapal layar KRI Dewaruci juga bersandar di dermaga. Seusai upacara, 1.637 prajurit TNI AD mempraktikkan bela diri militer.Selanjutnya, masyarakat dihibur drama kolosal perjuangan Panglima Besar Jenderal Sudirman yang menggambarkan kemanunggalan tentara dengan rakyat dalam mengalahkan penjajah Belanda. Nuansa bersatunya rakyat dengan TNI kian terasa saat defile kendaraan tempur. Ratusan kendaraan tempur berat, kendaraan angkut lapis baja, dan kendaraan artileri berkonvoi di hadapan tenda tamu. Ratusan warga menaiki kendaraan tempur sambil melambaikan bendera merah putih kepada penonton.

Demonstrasi pertempuran melibatkan 52 kapal perang, mulai dari kapal patroli hingga kapal selam, serta puluhan pesawat tempur, pesawat angkut, dan helikopter serbu jadi pemuncak. Demonstrasi pertempuran itu terasa hidup sebab menggunakan puluhan peluru kendali yang ditembakkan dari kapal, pesawat, helikopter, tank, dan kendaraan artileri. Tak ayal, terdengar suara dentuman tembakan yang memekakkan telinga serta efek guncangan akibat tembakan peluru kendali bertubi-tubi ke laut.
Atraksi ini memukau penonton. Ditambah lagi atraksi terjun payung, kendaraan amfibi yang terjun bebas dari dermaga, dan sajian akrobat udara dari Tim Jupiter TNI AU yang disambut tepuk tangan penonton.

Teknologi pertahanan

Presiden mengatakan, Indonesia perlu meningkatkan kapasitas pertahanan nasional melalui pembentukan TNI yang profesional. Untuk membangun kekuatan pertahanan, Indonesia harus bisa memenuhi kebutuhan alat utama sistem persenjataan (alutsista) secara terpadu di ketiga matra pertahanan. Apalagi, saat ini hampir semua negara berlomba-lomba memajukan teknologi pertahanannya. “Kita juga membangun postur pertahanan TNI yang makin kokoh, alutsista makin lengkap, dan makin modern. Modernisasi teknologi pertahanan diperlukan untuk terus mengimbangi kemajuan zaman,” kata Presiden. Pada saat yang sama, Indonesia juga sedang mewujudkan kemandirian pertahanan dengan mengurangi ketergantungan impor kebutuhan pertahanan melalui pengembangan industri pertahanan nasional. Kemandirian juga dibangun melalui diversifikasi kerja sama pertahanan sesuai kepentingan nasional.
Kepala Staf TNI Angkatan Laut Laksamana Ade Supandi mengingatkan pentingnya kekuatan armada untuk menjadi penyeimbang pertarungan kekuatan regional di ASEAN dan Asia Timur. Saat ini, perencanaan kekuatan minimum TNI AL adalah 151 kapal perang berbagai ukuran dan untuk mendukung poros maritim disiapkan pangkalan TNI AL setiap 150 atau 300 mil. Kemampuan industri strategis nasional memproduksi alutsista terus berkembang dan semakin kompetitif di pasar global. Berbagai inovasi dan kerja sama strategis dijalin dengan produsen ternama dunia agar dapat masuk dalam rantai pasok pasar alutsista global. PT Pindad (Persero) di Bandung, Jawa Barat, telah memproduksi kendaraan tempur angkut personel Anoa, yang sudah digunakan dalam sejumlah misi perdamaian TNI di luar negeri, serta mengekspor senapan serbu SS2 ke Timur Tengah, Filipina, dan sejumlah negara lain. Pesawat CN-235 produksi PT Dirgantara Indonesia (Persero), yang juga berada di Bandung, masih diandalkan dan saat ini sudah beroperasi sampai ke Korea Selatan, Pakistan, Senegal, dan Arab Saudi.

Pertengahan September 2015, PT DI dan Direktorat Kepolisian Udara Polri menandatangani kontrak jual beli satu pesawat CN295 dan satu helikopter BELL 412 EP. Ada juga pabrik bom latih dan bom tempur PT Sari Bahari di Kota Malang, Jawa Timur, yang menyuplai kepala roket asap TNI sejak 2000 dan mengekspor ke Cile sejak 2013. “Pengiriman saat itu berhasil dengan baik dan kini kami sedang menunggu kontrak berikutnya,” kata pemilik Sari Bahari, Ricky Hendrik Egam, di Malang, pekan lalu.
Kepala roket asap buatan Sari Bahari memiliki keunggulan mampu mengeluarkan asap selama 2 menit setelah terkena sasaran. Produk lain hanya mampu mengeluarkan asap kurang dari 1 menit.
Direktur Utama PT Pindad Silmy Karim di Jakarta, mengatakan, kemajuan industri alutsista dalam negeri menjadi tanggung jawab semua pihak. “Kalau industri buruk, itu bukan kesalahan industrialisnya, melainkan tanggung jawab semua pihak, mulai dari pengguna produk sampai perusahaan. Sebab, ini menyangkut jumlah pemesanan dalam negeri dan juga sinkronisasi perencanaan antara kebutuhan pengguna dengan perencana kapasitas dan kapabilitas perusahaan itu sendiri,” kata Silmy.
Secara terpisah, Manajer Hukum dan Humas PT DI Irland Budiman mengatakan, selain masih memenuhi pesanan pesawat, PT DI juga fokus membuat pesawat N-219 dan mengembangkan N-245.

“N219 ditargetkan keluar hanggar tahun ini. Pesawat ini tidak hanya akan menjadi jembatan untuk penerbangan sipil Indonesia, tetapi juga jembatan regenerasi teknisi muda dunia penerbangan Indonesia,” kata Irland Budiman di Bandung, akhir pekan lalu.
Pesawat N-219 diklaim piawai terbang di antara perbukitan. Kemampuan daya angkutnya pun lebih besar ketimbang pesawat setara buatan Twin Otter. dengan kemampuan avionik dan aerodinamika modifikasi N-250 dan CN-235, teknologi N-219 diyakini lebih modern ketimbang pesaing yang mengandalkan desain tahun 1960-an.

Industri strategis lain, PT Industri Telekomunikasi Indonesia (Persero), di Bandung, fokus memenuhi kebutuhan TNI membangun sistem radar. “Ada kebutuhan radar dari TNI dan kami juga bekerja sama dengan industri pertahanan dari Ukraina, ISKRA. Kerja sama ini dalam upaya mewujudkan dan transfer teknologi program radar ground controlled intercept (GCI), khususnya untuk TNI AU,” kata Kepala Bagian Hubungan Masyarakat Divisi Sekretariat Perusahaan PT Inti Hendrix Lesmana. Secara terpisah, Ketua Bidang Perencanaan Komite Kebijakan Industri Pertahanan Muhammad Said Didu mengatakan, yang dibutuhkan untuk membesarkan industri pertahanan nasional adalah komitmen pemerintah. ( Sumber : Kompas, 6 Oktober 2015; why/ong/bil/age/che/dia/sem/ody)

Leave a Reply