Clickbank Products

Pertahanan Udara Peran Kohanudnas dan Sishanrata


Clickbank Products

oleh harmen batubara

Pada Hari Selasa 8 Februari 2012 takkala Kohanudnas genap berusia 48 tahun; Panglima Kohanudnas waktu itu Marsekal Muda Dradjad Rahardjo menuturkan” Dahulu Kohanudnas sebelum tahun 1985 cukup efektif dan sangat eksis sekali. Indonesia punya pesawat sergap, punya rudal sekelas rudal SA-75, dan radar. Namun, sejak tahun 1985, terjadi dinamika dan ada perubahan organisasi  dan oleh kebijakan pimpinan, radar dan pesawat sergap ada di Koops AU”.

“Kebijakan berubah kembali, sejak zaman KSAU Hanafi Asnan (1998-2002), radar dikembalikan ke Kohanudnas. Dalam konsep sistem pembinaan latihan (sisbinlat) memang betul, semua kekuatan yang ada diserahkan kepada setiap masing-masing angkatan TNI. Namun, dari segi kesatuan komando (unity of command) tidak bisa dipisah-pisahkan, mulai dari radar, pesawat tempur sergap, syukur-syukur ada rudal “.

Pertahanan Udara Nasional – Chappy Hakim

www.chappyhakim.com2/9/12

Maka, seperti halnya peran angkatan udara di mana pun, seluruh kegiatan angkatan udara berada dalam kerangka pertahanan udara nasional. Pertahanan ini dalam konteks tertentu secara universal akan berarti ”to defend

Rudal Pertahanan Udara Indonesia « Cakidur’s Blog

cakidur.wordpress.com1/26/12

Di awal Januari tahun ini mengemuka hasrat dari pimpinan pertahanan udara TNI-AU untuk membeli rudal pertahanan udara jarak menengah LY-80 buatan RRC. Sistem rudal pertahanan jarak menengah menjadi salah

Berita HanKam: Supremasi Pertahanan Udara vis-a-vis Hibah F16

beritahankam.blogspot.com1/27/12

Untuk perang udara yang menjadi salah satu ikon kekuatan utama perang masa depan, kekuatan pertahanan udara akan terletak juga pada kemampuan pengendalian udara yang mencakup: Supremasi udara (air

Sistem Pertahanan Udara Terbaru Inggris “Sea Ceptor” | SWATT

www.swatt-online.com1/31/12

Sistem Pertahanan Udara Terbaru Inggris “Sea Ceptor” | Angkatan Laut Kerajaan Inggris sedang mengembangkan sistem baru pertahanan udara. Sistem pertahanan ini diklaim mampu menghancurkan rudal lawan dengan

Pertahanan Udara Butuh Penguatan | Indonesian Companies News

indonesiacompanynews.wordpress.com2/7/12

Hal tersebut mengemuka pada lokakarya dalam rangka HUT ke-50 Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) dengan tema ”Strategi Pengembangan Kohanudnas ke Depan”, Senin (6/2), di Jakarta. Berbagai

Peran KRI Dalam Pertahanan Udara Nasional – PROUDLY WE

damnthetorpedo-2.blogspot.com1/5/12

Hal itu bukan saja menyangkut soal kemampuan radar pertahanan udara yang diusung, tetapi juga rudal anti pesawat yang digendong. Hingga kini rudal pertahanan udara yang digelar pada KRI adalah rudal-rudal jarak

KRI Dan Gelar Pertahanan Udara Nasional – PROUDLY WE SERVE

damnthetorpedo-2.blogspot.com1/6/12

Apabila KRI dianggap sebagai bagian integral dari sistem pertahanan udara nasional, maka gelar kekuatan KRI yang berkemampuan pertahanan udara pun harus diatur sedemikian rupa. Seperti diketahui, dewasa ini masih

Kosekhanudnas Medan Tinjau Rudal Perkuat Pertahanan Udara

defense-studies.blogspot.com1/6/12

Medan, Komando Sektor Pertahanan Udara Nasional (Kosekhanudnas) III Medan meninjau peluru kendali (rudal) di luar negeri untuk memperkuat pertahanan udara di daerah itu. “Jenis rudalnya (yang ditinjau) KY-80,” kata

Marinir Beli Senjata Pertahanan Udara dan BMF-3 – blog*spot

uckitjoesangkhalifahindonesia.blogspot.com2/6/12

Tujuh senjata tersebut juga dibeli untuk melengkapi kebutuhan Batalion Artileri Pertahanan Udara Marinir dan mengganti peralatan lama yang umurnya sudah sangat tua. Peralatan baru pun digunakan untuk operasi-operasi

Gelar Radar & Center Pertahanan Udara Nasional 2012 « the

theskykeeper.wordpress.com2/1/12

Protected: Gelar Radar & Center Pertahanan Udara Nasional 2012. Posted: February 1, 2012 in Uncategorized. This post is password protected. To view it please enter your password below: Password:

Update : Unsur – Unsur Kohanudnas Perlu Disinergikan Untuk

indo-defense.blogspot.com2/7/12

“Unsur – unsur yang ada di Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) baik itu Angkatan Darat maupun Angkatan Laut perlu disinergikan untuk kepentingan operasi – operasi pertahanan udara. Oleh karenanya

Pertahanan Udara Nasional | national security watch indonesia

securitywatchindonesia.wordpress.com2/9/12

[NSWI] – Tugas menjaga kedaulatan negara di udara bukan hanya saat negara dalam keadaan perang, melainkan juga dan terutama saat damai. Peran angkatan udara berada dalam kerangka pertahanan udara nasional.

Dari sisi pengamanan wilayah peranan Komando Pertahanan Udara Nasional atau Kohanudnas perlu ditingkatkan, caranya dengan menggabungkan modernisasi radar dan memasukkan unsur pesawat-pesawat tempur sergap ke Kohanudnas. Selain mempercepat komando pengendalian, hal tersebut bisa menambah efek penggentaran (deterrent) kekuatan udara Indonesia.

Ketika suatu dinamika terjadi maka barulah terlihat dimana unsur lemahnya, dan semestinya kita bisa belajar untuk memperbaikinya. Masih ingat peristiwa Bawean? Tahun 2003, tepatnya 3 Juli 2003, armada US Navy yang berupa kapal induk, kapal perusak, dan fregat berlayar dari Singapura menuju Australia melalui Selat Karimata, Laut Jawa.

Saat melewati perairan Bawean, pesawat F-18 yang terbang bermanuver di udara terdeteksi oleh radar sipil dan militer Indonesia. Gerakan ini dilihat oleh pilot Bouraq dan dilaporkan ke Air Traffic Control (ATC) Surabaya karena mengganggu penerbangan sipil. Setelah diidentifikasi oleh dua pesawat F-16 TNI AU, disepakati bahwa pesawat-pesawat US Navy tersebut melaporkan posisi mereka ke ATC Surabaya dan Bali.

Benar Kohanudnas waktu itu telah memerintahkan pesawat tempur sergap untuk melihat pesawat F-18 Amerika Serikat. Pesoalannya ada pada Radar, Radar yang bisa memantau peristiwa itu adalah radar Sipil Bandara Juanda. Masalahnya tergolong cukup mendasar kemampuan dan teknologi  Radar yang ada sudah jauh tertinggal, sementara pesawat nya ada di Koop AU. Padahal yang diperlukan di lapangan adalah adanya institusi yang bisa memantau (radar), bisa mengintersep dan bisa memberikan komando. Menurut Dradjad Rahardjo yang waktu itu bertugas sebagai Komandan Pangkalan TNI Iswahjudi (Kompas 9,2,2010) menuturkan adanya keterlambatan dalam komando khususnya, Radar yang mendeteksi adalah Radar Sipil Bandara Juanda, pesawat sergapnya ada di Koops AU. Peristiwa Bawean menjadi berkah, karena kita tahu persis kondisi dan kemampuan pengawasan udara nasional kita yang sebenarnya. Tapi apakah sudah ada perubahan?

Karena itu menurut Chappy Hakim Chairman CSE Aviation (kompas 9/2/2012) Tugas-tugas pengawasan udara wilayah kedaulatan Indonesia memang sangat kompleks. Maka, keberadaan radar canggih dan pesawat tempur yang siaga menjadi sangat penting.

Dasar hukum pelaksanaan aktivitas menjaga kedaulatan negara di udara tidak pula sederhana. Seperti diketahui, referensi standar yang menjadi acuan bersama adalah Konvensi Chicago.

Pasal 1 dari Convention on International Civil Aviation, Chicago, 7 Desember 1944, berbunyi, ”Setiap negara memiliki kedaulatan yang lengkap dan eksklusif (complete and exclusive) terhadap ruang udara di atas wilayah kedaulatannya.”

Masalahnya adalah pada kasus-kasus tertentu konvensi ini akan berhadapan dengan hukum laut internasional yang berhubungan dengan alur laut Kepulauan Indonesia atau ALKI yang mengatur batas ketinggian terbang tertentu di jalur tersebut. Belum lagi perdebatan yang belum usai mengenai ALKI yang membujur utara-selatan versus keinginan banyak pihak agar dikelola pada arah timur-barat. Semua itu tentu saja mengebiri status komplet dan eksklusif kedaulatan RI di udara.

Peran Kohanudnas

Maka, seperti halnya peran angkatan udara di mana pun, seluruh kegiatan angkatan udara berada dalam kerangka pertahanan udara nasional. Pertahanan ini dalam konteks tertentu secara universal akan berarti ”to defend by attacking”.

Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas) memiliki peran sentral dalam menjalankan tugas-tugas itu. Namun, dalam konteks pertahanan negara yang menganut total defense—dulu dikenal sebagai sishankamrata—kiranya Kohanudnas dan angkatan udara tidak boleh dibiarkan sendirian. Seluruh potensi nasional dalam bidang keudaraan (national air power) harus menjadi bagian utuh dalam upaya mempertahankan kedaulatan negara di udara.

Memelihara pertahanan udara nasional terlalu besar untuk didelegasikan kepada Kohanudnas saja. Kohanudnas harus diberdayakan sesuai tugas pokoknya, demikian pula angkatan udara yang bertanggung jawab terhadap kedaulatan negara di udara.

Dalam kehidupan sehari-hari kita bisa melihat bagaimana sishanrata berperan dalam menjaga wilayah nasional. Misalnya di darat kita melihat masing-masing pihak melakukan tugas sesuai fungsinya meskipun belum terlihat saling terkoordinasi; minimal kita masih melihat adanya patroli jalan raya dan objek-objek vital oleh kepolisian RI, adanya siskamling oleh warga serta TNI AD yang mengamankan lingkungannya sendiri. Di laut di samping adanya TNI AL,  kita juga mengenal adanya Polisi Air yang juga melakukan patroli, adanya petugas patroli dari keimigrasian yang bahu membahu mengawal wilayah perairan nasional.

Di Udara mestinya tidak jauh berbeda, TNI AU ( Kohanudnas) sesuai tugasnya  memastikan agar semua benda-benda lewat media udara, seperti pesawat, pesawat tanpa awak, atau peluru kendali (rudal) yang masuk wilayah udara nasional bisa terawasi dan bisa dikendalikan dengan efektip. Sementara itu wilayah udara nasional kita membutuhkan kehadiran petugas Patroli udara di wilayah perbatasan, diatas pulau-pulau kecil terluar yang bisa dilakukan dengan pesawat yang lebih sederhana, yang murah operasionalnya. Yang penting ada kehadiran dan memastikan wilayah nasional tidak jadi sasaran kegiatan illegal pihak manapun; kehadiran petugas dan mampu mengamankan wilayah udara nasional adalah tugas bersama, masalahnya bagaimana melakukannya?.

 

 

No comments yet... Be the first to leave a reply!

Leave a Reply