Warning: Illegal string offset 'post_thumb' in /home3/harmen/public_html/wp-content/themes/profitstheme_11/lib/layouts/html.php on line 48

Pidato Penerimaan, kompetisi usai, saatnya bersatu


Warning: Illegal string offset 'disable_postoptin_global' in /home3/harmen/public_html/wp-content/plugins/premium-list-magnet/plm.php on line 1220

Jakarta, Kompas – Presiden 2009-2014 terpilih, Susilo Bambang Yudhoyono, menyampaikan pidato penerimaan (acceptance speech) di Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta, Kamis (20/8) malam. Selain berterima kasih kepada seluruh rakyat Indonesia, ia juga menyerukan persatuan seusai kompetisi dalam Pemilu 2009.

”Ada waktunya berkompetisi, ada waktunya bersatu. Marilah kita jadikan hasil pemilu sebagai modal bagi bangsa untuk membangun hari depan yang lebih baik,” ujar Yudhoyono di hadapan sekitar 3.000 undangan yang duduk melingkarinya dengan tempat duduk berundak-undak.

Yudhoyono yang berpidato dengan bantuan dua teleprompter di depannya dan teks pidato di atas podium mengemukakan, kemenangan bersama Wakil Presiden 2009-2014 terpilih, Boediono, adalah kemenangan seluruh rakyat Indonesia. Ia bertekad bekerja sekeras-kerasnya untuk kepentingan seluruh rakyat, termasuk yang tak mendukungnya dan tak menggunakan hak pilihnya.

Kepada semua pendukungnya, Yudhoyono meminta segala atribut, semboyan, dan yel-yel ditinggalkan. ”Gantikan dengan semangat kebersamaan sebagai bangsa bersatu,” ujarnya.

Pada awal pidatonya, Yudhoyono menyampaikan hormat kepada calon presiden-wapres Megawati Soekarnoputri-Prabowo Subianto dan M Jusuf Kalla-Wiranto, yang menjadi peserta Pemilu Presiden-Wapres (Pilpres) 2009. ”Beliau-beliau adalah putra dan putri terbaik bangsa yang memberikan yang terbaik demi kemajuan demokrasi kita. Pengabdian beliau tidak akan kenal batas akhir dan akan terus berlanjut,” ungkapnya lagi.

Terkait mandat lima tahunnya saat ini yang belum berakhir, Yudhoyono dan Wapres Kalla bersepakat melaksanakan agenda sebaik-baiknya sampai 20 Oktober 2009. Kepada seluruh jajaran Kabinet Indonesia Bersatu, ia memerintahkan untuk tetap bekerja sebagaimana mestinya sampai pemerintahan baru terbentuk.

Rencana aksi

Dalam dua bulan ke depan, ia akan menyiapkan rencana aksi yang terdiri dari program kerja 100 hari dan agenda kebijakan lima tahun. Rencana aksi itu merupakan penjabaran dari visi dan misi kampanye Pilpres 2009.

Akan ada kesinambungan dan perubahan. Yang baik dilanjutkan dengan penajaman, sementara yang kurang baik dan tidak baik diperbaiki dengan ide, langkah, dan semangat baru. Secara umum, agenda utama pemerintahan lima tahun ke depan adalah meningkatkan kualitas hidup rakyat Indonesia.

Agenda utama lima tahun itu difokuskan pada bidang pendidikan, kesehatan, penguatan usaha kecil dan menengah dengan peran aktif negara secara terukur, tekanan baru pada revitalisasi pertanian, mendorong revitalisasi industri, serta memajukan infrastruktur.

Yang akan dimajukan adalah infrastruktur fisik, seperti jalan, jembatan, pelabuhan, kereta api, irigasi, dan telekomunikasi. Soft infrastructure meliputi iklim usaha yang mendukung dan infrastruktur sosial berupa kebijakan prorakyat.

Yudhoyono yakin, rencana aksi lima tahun ke depan dapat dijalankan jika dikelola oleh pemerintahan yang bersih dan cakap. Sebab itu, reformasi birokrasi dan upaya pemberantasan korupsi terus diintensifkan.

Untuk membantunya lima tahun ke depan, Yudhoyono segera menyiapkan kabinet baru yang berisi orang yang kompeten, bersih, jujur, dan penuh dedikasi. Anggota kabinet akan diikat dengan pakta integritas dan kontrak kerja.

Pada akhir pidato penerimaannya, Yudhoyono menegaskan, kemajemukan Indonesia adalah kekuatan yang harus terus dibangun. Ia juga menegaskan kembali empat konsensus dasar yang menjadi pilar Indonesia, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia, Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika.

”Pemilu bisa datang dan pergi, kekuasaan bisa naik dan turun, perjalanan ke depan penuh tantangan. Namun, Indonesia akan tetap hidup dan berdaya sampai kapan pun,” ujarnya.

Seusai pidato, Boediono diundang ke atas panggung, menyusul kemudian Ny Ani Yudhoyono dan Ny Herawati Boediono.

Dalam pidato sekitar 20 menit, Yudhoyono juga menyampaikan pesan kepada dunia internasional. Pesan dalam bahasa Inggris itu diharapkan disebarluaskan melalui media massa asing yang hadir.

Konvensi baru

Secara terpisah, Kamis, mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Jimly Asshiddiqie dan pengamat hukum tata negara Irman Putra Sidin mengapresiasi pidato kemenangan Yudhoyono. Hal itu adalah langkah awal yang bagus bagi pembangunan demokrasi.

Namun, kata Irman, akan lebih bagus lagi jika pasangan calon presiden-wapres lain dapat hadir dalam satu panggung. Hal itu penting untuk memperlihatkan kepada seluruh bangsa, segala konflik yang terjadi selama pemilu sudah selesai.

Jimly menambahkan, Yudhoyono-Boediono harus meyakinkan, mereka adalah presiden dan wapres untuk seluruh rakyat Indonesia, baik yang memilihnya maupun yang tidak memilih. ”Jadi, pemilu sarana dan cara untuk memilih pemimpin saja. Sesudah terpilih, tak perlu lagi ingat kemarin memilih siapa,” ujarnya.

I Gusti Putu Artha, anggota Komisi Pemilihan Umum, juga menilai, pidato penerimaan presiden terpilih adalah tradisi politik yang baik. ”Pidato dengan menunggu putusan Mahkamah Konstitusi keluar adalah tradisi politik yang baik. Artinya, tidak terburu-buru,” katanya.

Wakil Ketua Umum Partai Gerakan Indonesia Raya Fadli Zon pun menyambut baik isi pidato penerimaan Yudhoyono. Namun, rakyat tetap perlu menuntut pemenuhan janji kampanye dari presiden-wapres terpilih itu.

Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai Golkar Fahmi Idris menilai isi pidato Yudhoyono sangat bijaksana dan tak menunjukkan arogansi sebagai pemenang pilpres. (inu/sie/ana/dwa/har/jumat,21 agustus 2009)

No comments yet... Be the first to leave a reply!

Leave a Reply