Blog

Poros Maritim Dunia, Membangun Digniti Lewat Maritim

Oleh harmen batubara

Saat debat Capres ke tiga, Jokowi memberikan pencerahan baru dengan memperkenalkan idiom baru Poros Maritim Dunia. Poros yang memimpikan kita kembali menjadi negara yang memiliki digniti di mata negara-negara lain dengan mengedepankan kekuatan maritimnya. Indonesia bisa menginisiasi kekuatan poros baru, yaitu poros negara-negara berbasis maritim. Bisa jadi hal itu terispirasi oleh Konferensi Asia-Afrika(KAA) yang membukakan mata para pihak agar menjadi negara yang merdeka dan mandiri di atas tanahnya sendiri sebagai simbol persahabatan. Sebuah strategi baru yang pada masa itu belum terbayangkan dimensinya.

Suatu strategi adalah keseluruhan keputusan-keputusan kondisional yang menetapkan tindakan-tindakan yang harus dijalankan guna menghadapi setiap keadaan yang mungkin terjadi. Dengan demikian, merumuskan suatu strategi berarti memperhitungkan unsur-unsur geografis dengan politik luar negeri yang dijalankan secara sinergis oleh suatu negara. Geopolitik memberikan perhatian terhadap berbagai kekuatan dan kelemahan geografis yang dapat mempengaruhi haluan dan strategi suatu negara dalam melakukan hubungan-hubungan dengan negara lain, terutama dengan negara tetangga di sekelilingnya.

Menurut Daoed Yoesoef[1] Geostrategi adalah adik kembar dari geopolitik. Keduanya bagian integral dari geografi umum. Orang yang merasa terpanggil memimpin suatu komunitas, mengatur (govern) sebuah negara, perlu mengetahui dan memanfaatkan potensi geografi dalam bertindak. Terutama ketika memilih dan menerapkan suatu politik. Intervensi manusia adalah konkretisasi suatu kemauan politik yang, bila perlu, berbentuk aksi militer. Bukankah perang, menurut Clausewitz, adalah lanjutan dari politik (jalan damai) dengan cara/alat lain, sedangkan Vo Nguyen Guap berpendapat, politik (damai) adalah lanjutan dari perang dengan cara/alat lain.

Membalik Paradigma

Poros Maritim Dunia adalah sebuah ide yang brilian. Ide ini memerlukan sambutan serius dari orang-orang yang konsen di bidang maritim. Bukankah selama ini, sebagai negara yang 2/3 wilayahnya adalah laut, paradigma pembangunan justru berbasis kontinental (daratan)? Dengan demikian dalam kepemimpinan Jokowi, kita akan diajak untuk mengembalikan paradigma pembangunan kita sesuai dengan karakter geografis negara kita sebagai negara kepulauan.

sebenarnya sebagai negara kepulauan jauh lebih sesuai untuk mengembangkan geoekonomi Indonesia melalui pembangunan potensi maritim seperti industri perkapalan, pelayaran, serta pelabuhan, dermaga dan tol laut yang terkait. Bukankah kita perlu sekali mengukuhkan konektivitas regional asean, serta antar pulau di negara kita, terutama di Indonesia timur yang selama ini seolah masih diabaikan. Kalau negara kita mempunyai pantai sepanjang 82 ribu km, bisakah anda bayangkan betapa besarnya potensi wilayah pesisir yang bisa dikembangkan?

Sebagai negara kepulauan, indonesia berada di pusaran perekonomian dunia lewat selat Malaka, yang menjadi jalur perdagangan dan distribusi minyaknya dunia. Kalau Indonesia dengan negara tetangganya mampu memberikan jaminan keamanan dan menyediakan fasilitas bagi kapal-kapal lintas samudra, bisa dipastikan ia akan jadi sumber kehidupan yang menjanjikan kesejahteraan di kawasan. Persoalannya kita harus memulainya dari yang sangat mendasar menjadikan negara kita mampu mengolah potensi maritim jadi kekuatan pengungkit kesejahteraan bangsa.

Kita perlu sadar bahwa Sriwijaya pada abad VII dan Majapahit pada abad XIV berjaya selaku pemegang kendali kekuatan maritim di selat Malaka dan seantero nusantara, yang secara sederhana mengambil pajak atas ke amanan pelayaran di wilayah tersebut. Keamanan sejatinya hanya bisa dihasilkan lewat suatu sistem yang terlebih dahulu mampu melahirkan kesejahteraan bagi warganya, yang bisa diraih lewat nilai tambah atau daya saing sebagai cerminan kualitas SDM yang baik dan alut sista serta gelar kekuatan yang tepat dan itu adalah intinya geopolitik kita. Sayangnya selama ini tidak pernah jadi acuan; semisal bangsa bahari yang jadi petani tadah hujan.

“Saat ini geo-politik dan geo-ekonomi sudah bergeser dari negara Barat ke Asia dan Indonesia berada di tengah-tengahnya,” kata Joko Widodo pada Debat Capres ke tiga tersebut. Menurut Joko Widodo, pergeseran geo-politik dan geo-ekonomi merupakan momentum yang harus dimanfaatkan oleh Indonesia sebagai negara dengan wilayah geografis terbesar di Asean.

Dengan membangun potensi maritim menjadi poros maritim, menurut dia, maka Indonesia dapat memenangkan persaingan di darat maupun di laut, paling tidak di kawasan Asean. “Dengan membangun potensi maritim, maka suatu saat Indonesia akan menjadi poros maritim dunia,” katanya. Sementara ini kita baru bisa melihat hebatnya ide itu sebagai tumpuan kejayaan bangsa dimasa yang akan datang. Tapi bagaimana mewujudkannya?  Itulah yang selalu menjadi persoalannya.

 

[1] Sumber Kompas 3 Desember 2012, Geostrategi Indonesia oleh Daoed Yoesoef Alumnus Université Pluridisciplinaires Panthéon-Sorbonne Paris

One Response

Page 1 of 1
  1. harmen batubara says:

    “Saat ini geo-politik dan geo-ekonomi sudah bergeser dari negara Barat ke Asia dan Indonesia berada di tengah-tengahnya,” kata Joko Widodo pada Debat Capres ke tiga tersebut. Menurut Joko Widodo, pergeseran geo-politik dan geo-ekonomi merupakan momentum yang harus dimanfaatkan oleh Indonesia sebagai negara dengan wilayah geografis terbesar di Asean.

Leave a Reply