Blog

Wilayah Pertahanan, Industri Strategis Pengabdian, Peluang dan Birokrasi Yang Melayani

Oleh harmen batubara

Kalau kita melihat industri pertahanan nasional kita, sejauh itu dalam hal visi dan misi sudah jelas sangat membanggakan. Tetapi kalau melihat kehidupan industri pertahanan itu sendiri sepertinya belum banyak yang berubah dari dahulu, pola dan dinamikanya masih pada pola lama yang sudah tidak asing lagi bagi kita. Polanya selalu sama kalau kita sedang membicarakan kemandirian industeri pertahanan, maka semua pihak dapat memberikan kontribusi yang sangat baik buat berbenah dan untuk terus mengembangkan semangat “Indonesia Incorporated” dalam pertahanan. Tapi kalau tiba pada fase pembelian alutsista maka ujung-ujungnya ya tetap saja membeli produk negara lain. Ada kesan kuat bangsa ini kalau mau membangun secara benar sesungguhnya tahu apa yang harus dilakukan. Tetapi begitu melihat peluang, maka KEPENTINGAN PRIBADI dan GOLONGAN sangat kental. Saya masih ingat dahulu ketika Pertamina akan membeli Tanker, ternyata pemerintah waktu itu lebih suka membeli produk negara lain. Memang tetap ada porsi pada industri strategis dalam negeri, tetapi tidak lebih dari sekedar pemanis “berita”. Ibarat kata, kalau yang dibeli itu seharga 2 triliun, untuk dalam negerinya hanya sebesar 500 jt saja. Alangkah teganya para pengambil keputusan itu berbuat seperti itu.
Dalam diskursus pengembangan kemandirian industeri pertahanan dikenal adanya beberapa model. Model kemandirian yang lazim dan diterapkan oleh suatu negara yang berambisi mendapatkan kemandirian pertahanan. Kemandirian pertahanan ini diukur dari (1) kapasitas negara untuk menguasai teknologi militer yang dibutuhkan untuk membuat sistem senjata, (2) kapasitas finansial nasional untuk membiayai produksi sistem senjata, serta (3) kapasitas industri nasional untuk memproduksi sistem senjata di dalam negeri. Model ini akan tercapai jika suatu negara mampu memiliki minimal 70 persen kapasitas teknologi, finansial, dan produksi sistem senjata ( Andi Widjajanto,2012) . Model ini memang seolah berpendapat bahwa yang bisa membangun kemandirian industri pertahanannya hanyalah negara-negara kaya. Apakah memang tidak ada peluang bagi negara miskin untuk bisa memandirikan industri pertahanannya? Memang hal ini masih bisa diperdebatkan, tetapi peluang itu selalu ada terlebih lagi kalau birokrasinya suatu negara itu jujur dan melayani.
Memang harus diakui, dalam semangat berkompetisi ada juga produsen dalam negeri yang mencoba masuk dalam ruang kompetisi bisnis global atau regional. Ada yang sukses, tetapi ada juga yang belum beruntung. Kita hanya bisa berkata, betapa asyiknya kalau pengusaha nasional kita berani naik ke panggung persaingan bisnis dengan menawarkan produk berkelas yang bisa diterima publik. Indah nian persaingan itu, dan kita memberi respek kepada produsen dalam negeri yang berani bertarung dan memenangi pertarungan bisnis itu. Tidak terkecuali industri strategis kita. Kita percaya persaingan bisnis tidak hanya menekankan pada kualitas produk, penjualan, dan terobosan pemasaran, tetapi juga kecerdasan, percaya diri, dan nyali untuk bersaing di pentas bisnis yang penuh lika-liku.
Masalahnya, kita juga merasakan bagaimana jahatnya PELAYANAN BIROKRASI KITA. Mereka seolah tidak peduli ini usaha yang belum jelas juntrungannya, bahwa ini usaha demi menampilkan harkat diri bangsa? Tapi mereka hanya melihat sisi “upetinya”, sudah layanannya lama bertele-tele dan banyak pungutan punglinya lagi. Anehnya sepertinya kementeriannya baik itu pimpinan atau pegawainya juga tidak menyadari jelaknya layanan yang mereka berikan. Kalau anda seorang pengusaha anda pasti paham betul bagaimana perilaku birokrasi kita dalam pelayanan. Sama sekali jauh dari rasa patriotisme. Saya tidak tahu apakah pelayanan seperti itu masih belum berubah? Tapi yang jelas produk kita sendiri memang rasanya belum ada yang “muncul”.
Anda juga masih ingat ketika beberapa waktu yang lalu, takkala Pertamina dan Medco akan mencoba jadi bagian Indonesia Incorporated untuk mengejar pesona “petronas” Malayasia? Tohk nyatanya hanya dan baru sebatas angan-angan. Kemampuan bangsa kita beroraganisasi masih lemah dan tidak mampu menghadapi hambatan birokrasi dan intrik politik. Padahal dalam bisnis semuanya harus bisa tertata dengan baik, sehingga sebuah usaha bisa tampil tangguh dan maju. Tapi ya sudah biarlah itu bagian dari masa lalu. Meski kita tetap miris kapan ya jiwa patrotisme itu bisa muncul di semua lini?

Negara Lain Birokrasinya Jujur , Cerdas dan Melayani

Di Jepang dunia bisnisnya kuat dan terus berkembang, karena pada umumnya para pebisnisnya percaya dan dan mau mengikuti administrative guidance yang dikeluarkan birokrasi pemerintahnya. Mereka memang mendapatkan pelayanan yang baik dan percaya betul pada birokrasinya. Khususnya yang di Kementerian MITI (perdagangan internasional dan industri) dan Kementerian Keuangan, orang-orang yang cakap- cerdas-patriot. Ketika sekolah, mereka sudah bersama dan tahu kualitas teman mereka yang masuk ke Departemen tersebut, dan mereka tahu mutu mereka tinggi. Para pebisnis itu sangat percaya dan yakin para birokrat itu pasti mengusahakan yang terbaik bagi Jepang dan perekonomian serta bisnisnya. Apakah kita sudah punya semangat seperti itu?
Yang ada dan sudah kita dengarkan belakangan ini memang sudah ada komitmen pemerintah untuk mendukung pendanaan bagi BUMN strategis nasional. Misalnya PT Pindad akan disuntik dengan dana segar sebesar 700 milliar dan bahkan BUMN secara sekeseluruhan akan ada dana sebesar 48 triliun yang akan diberikan. Tapi itukan, baru bagian yang bisa kita baca lewat media. Bagaimana sebenarnya yang terjadi di BUMN tersebut? Kita mesti harus sabar untuk melihat seperti apa jadinya kelak.

Tumbuhkan Dari Kebutuhan Itu Sendiri

Dalam beberapa kejadian belakangan ini, kita melihat peran SAR atau bantuan yang di gelar oleh BNPB Badan Nasional Penanggulangan Bencana tergolong sangat menonjol. Dalam pengorganisasiannya mereka jelas terlihat profesional, tetapi dalam hal hardware atau berbagai peralatannya sungguh masih sangat memprihatinkan. Dalam artian mungkin saja hanya ada beberapa yang dibuat oleh Indonesia, selebihnya ya buatan negara lain. Maksudnya adalah bagaimana kalau BUMN strategis kita mencoba untuk mengkolaborasikannya dengan instansi terkait seperti BNPB agar dalam pola pertolongan yang mereka lakukan terstandar sesuai dengan klassifikasinya, tetapi sebisa mungkin memanfaatkan teknologi buatan Indonesia di sana.
Misalnya kalau pakai Heli ya Helinya buatan Indonesia. Kalau pakai kenedaraan roda 4 atau 6 ya buatan Indonesia. Kalau pakai pesawat ya pesawat buatan Indonesia, speedboat ya buatan Indonesia. Pendek kata menjadi ujung tombak pengujian kemampuan dan kualitas produksi teknologi nasional. BUMN harus bisa memastikan produk mereka unggul dan berkualitas, minimal sama dengan produk negara lain yang sedang ”in”. Jadi setiap ada bencana datang (harapan kita sih jangan) maka satuan SAR BNPB kita akan siap beraksi, baik di dalam dan atau di luar negeri dan jangan lupa meski dalam kondisi dan suasananya sedang memprihatinkan, tetapi para marketer kita tetap bisa menjadikannya sebagai ajang pemasaran yang baik dan bershabat. Kita menawarkan kepelatihanan dan perangkat yang kita punya dengan harga yang bersahabat. Kalau hal itu bisa terjembatani dengan baik, maka percayalah semua pihak akan senang.Mari jadikan negara kita yang berada di putaran bencana jadi peluang.
Begitu juga dengan Satuan-satuan TNI kita yang bergabung dalam penjaga perdamaian Dunia. Pemerintah dan BUMN strategis kita harus bisa membangun sarana dan peralatan yang dipergunakan secara maksimal oleh prajurit itu dari hasil produk dari dalam negeri. Kita sudah melihat ada beberapa produk BUMN strategis kita yang sudah disetujui oleh PBB dan berkualitas internasional dan dipakai oleh prajurit kita. Sebuah capaian yang menggembirakan. PBB memang punya standar tetapi kalau kita mampu membuatnya dapat dipastikan mereka pasti akan tidak keberatan.
Begitu juga dengan perangkat perlatan Pengendalian Dalmas dari kepolisian RI, kita berharap semua peralatan mereka didesain dan dibuat oleh BUMN strategis nasional. Harus kita akui bahwa akan sangat banyak kejadian yang mengharuskan Polri mempunyai kenderaan angkut personil yang tahan bakar dan tahan pukul. Kita ingin industri strategis BUMN kita mendesain dan membuat Kenderaan seperti itu bagi kepolisian. Kenderaan Dalmas ini jelas akan sangat banyak peminatnya teritama di lingkungan ASEAN yang gejolak sosialnya masih akan sangat tinggi dan ini adalah potensi pasar yang menjanjika.

Leave a Reply