Blog

Wilayah Pertahanan, Memilih Negara Sahabat Dalam Membangun Alut Sista

Oleh harmen batubara

Para pengamat umumnya sepakat terkait Presiden Joko Widodo. Penampilan memang tidak berbanding lurus dengan nyali dan keberanian. Tubuhnya boleh jadi kurus ringkih, tidak beraura dan tidak bertampang seorang pemimpin negara besar, bahkan dicemooh secara fisik rupa. Namun, SOAL NYALI BESAR, kini siapa yang menyangsikannya. Presiden Joko “Jokowi” Widodo, dalam kesempatan sambutan di panggung besar pertama sekelas KTT Asia Afrika, Rabu (22/03) mencuri panggung perhatian media yang sudah dari ancang ancangnya suuzhon akan menulis Jokowi “jual Indonesia” kembali dengan semangat lebih memelas, karena Indonesia memang membutuhkannya.
Kebalikannya, di atas panggung Jokowi malah mengacak acak logika yang sudah diketam para jurnalis dan malah menyerukan sebuah tatanan ekonomi global baru yang tidak bergantung pada tiga lembaga pemberi pinjaman multilateral utama dunia Bank Dunia, IMF, dan ADB “Ide bahwa masalah-masalah ekonomi dunia dapat diselesaikan hanya melalui Bank Dunia, IMF dan ADB adalah usang dan harus ditinggalkan,” Pangkas Jokowi di hadapan para pemimpin dunia, termasuk pemimpin negara ekonomi terbesar pertama dan kedua di Asia, Presiden China Xi Jinping dan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe.

Pertahanan Dengan Alut Sista Serba Bekas

Dalam hal pertahanan dan kemampuan nasional kita dalam mempersiapkan Alut Sista dikaitkan dengan persahabatan kita dengan negara Barat khususnya Amerika justeru mengalami kondisi yang menghawatirkan. Pertanyaannya bisakah kita mempunyai Alut Sista yang kuat dan modern dari negara sahabat kita belakangan ini? Maksudnya sejak era Orde Baru hingga Reformasi secara fakta jelas memperlihatkan teman-teman seperti Amerika, Inggeris dan Australia tidak pernah sepenuhnya memberikan kita alut sista yang memadai. Tetapi sebaliknya mereka hanya memberikan alut sista bekas yang sudah kedaluarsa. Masih ingat dengan Hibah 24 F-16 block 25? Coba bayangkan negara “sahabat” itu KONGRESNYA hanya mau memberikan alut sista jenis F-16 block 25. Padahal negara tetangga kita Singapura mereka berikan F-16 block 52 sejak tahun 1998. Terus terang sebagai mantan prajurit saya sangat kecewa dan miris dengan Kemhan atau pemerintah tapi mau bilang apa? Menurut hasil penelitian saya, Amerika dan Inggeris serta sekutunya belum pernah memberikan Indonesia alut Sista yang memadai, tetapi sebaliknya jauh dari standar yang dimiliki oleh negara-negara persemakmuran tetangga kita.
Kita kini mempunyai presiden baru, yang menurut para pengamat punya NYALI. Karena itu kita berharap agar dalam hal Alut Sista kita perlu melakukan kaji ulang. Melihat pada fakta, pada negara sahabat yang pernah memberi kita kemampuan Alut Sista yang terbaik untuk dunia belahan Timur. Jangan lagi percaya pada kata-kata dan iming-iming. Ingat Amerika hnya rela memberikan alut sista bekas mereka dengan cara pembayaran “cash” di depan. Cash setelah para ahli kita memilih pesawat bekas F-16 block 25 itu di “gudang” alut sista bekas mereka. Padahal untuk bisa menghidupkan kembali pesawat itu perlu waktu tiga tahun, sementara kita sudah harus bayar, padahal belum tentu pesawatnya bisa terbang lagi. Nyatanya satu malah sudah jatuh dan terbakar tanpa bekas. Saya percaya negara sahabat itu hanya bisa bilang ikut prihatin dan itu bukan salah siapa-siapa? Apakah ada asuransinya? Logika dagangnya anggak akan ada perusahaan asuransi yang bakal berminat, tetapi semoga saya salah dan semoga pesawat itu ditanggung asuransi.

Rusia Teman Terbaik Dalam Alut Sista

Fakta memperlihatkan, kekuatan Alut Sista pertahanan Indonesia sangat membanggakan saat Indonesia berteman baik dengan Rusia. Pilihan itu adalah sesuatu yang alami. Saat perebutan Irian Jaya waktu itu, Belanda justeru berada satu pihak dengan sekutu plus Amerika. Tiongkok pada zaman itu, juga masih sebatas negara yang penuh dengan trauma sebagai negara taklukan barat plus Jepang. Kondisi seperti itulah yang menyebabkan Semangat Trikora kala itu memintak dukungan Rusia. Gayung bersambut luar biasa. Presiden Soekarno yang pernah di buang ke Boven Digul, juga tahu dengan niat pecah-belah dan adu domba Belanda dibantu Sekutu, yakni dengan membentuk negara boneka Papua, negara yang seolah-olah berdiri sendiri tetapi sebenarnya sepenuhnya dibawah kendali Belanda.
Presiden Sukarno dengan pilihan yang ada mengambil tindakan ekstrim, tujuannya satu, merebut kembali Irian Jaya. Sukarno segera mengeluarkan maklumat “Trikora” di Yogyakarta, dan isinya adalah: Gagalkan pembentukan negara boneka Papua buatan kolonial Belanda; Kibarkan Sang Saka Merah Putih di seluruh Irian Barat; dan Bersiaplah untuk mobilisasi umum, mempertahankan kemerdekaan dan kesatuan tanah air bangsa.
Di saat seperti itulah Indonesia mendapatkan bantuan besar-besaran berupa kekuatan super power baik dalam wujud armada laut dan udara, dan bisa dikatagorikan sebagai negara dengan kekuatan militer terdepan di dunia dengan nilai raksasa, US$ 2.5 milyar saat itu. Masa itu, kekuatan militer Indonesia menjadi yang terkuat di seluruh belahan bumi timur. Kekuatan utama Indonesia di saat Trikora itu terlihat dari salah satu kapal perang terbesar dan tercepat di dunia buatan Sovyet kelas Sverdlov, dengan 12 meriam raksasa kaliber 6 inchi, dinamai KRI Irian, dengan bobot raksasa 16.640 ton dengan awak sebanyak 1270 orang termasuk 60 perwira. Sovyet, tidak pernah sekalipun memberikan kapal sekuat ini pada bangsa lain manapun, kecuali Indonesia. (bayangkan kapal-kapal terbaru Indonesia sekarang dari kelas Sigma hanya berbobot 1600 ton).
Demikian pula dengan angkatan udara Indonesia, juga menjadi salah satu skuadron udara paling ditakuti di dunia sat itu, yang terdiri dari lebih dari 100 pesawat tercanggih di zamannya yang terdiri dari : 20 pesawat pemburu supersonic MiG-21 Fishbed ; 30 pesawat MiG-15; 49 pesawat tempur high-subsonic MiG-17; dan 10 pesawat supersonic MiG-19. Pesawat MiG-21 Fishbed misalnya adalah salah satu pesawat supersonic tercanggih di dunia saat itu, yang telah mampu terbang dengan kecepatan mencapai Mach 2. Pesawat ini bahkan lebih hebat dari pesawat tercanggih Amerika kala itu, pesawat supersonic F-104 Starfighter dan F-5 Tiger. Sementara Belanda sendiri masih mengandalkan pesawat-pesawat peninggalan Perang Dunia II seperti P-51 Mustang. Indonesia juga masih memiliki armada 26 pembom jarak jauh strategis Tu-16 Tupolev. Fakta ini membuat Indonesia menjadi salah satu dari hanya 4 bangsa di dunia yang mempunyai pesawat pembom strategis, yaitu Amerika, Rusia, dan Inggris. Pangkalannya terletak di Lapangan Udara Iswahyudi, Surabaya.
Bayangkan negara sebesar China atau Australia pun belum memiliki pesawat pembom strategis seperti itu. Pembom ini juga dilengkapi berbagai peralatan elektronik canggih dan rudal khusus anti kapal perang AS-1 Kennel, yang daya ledaknya bisa dengan mudah menenggelamkan kapal-kapal tempur Barat.Indonesia juga memiliki 12 kapal selam kelas Whiskey, puluhan kapal tempur kelas Corvette, 9 helikopter terbesar di dunia MI-6, 41 helikopter MI-4, berbagai pesawat pengangkut termasuk pesawat pengangkut berat Antonov An-12B. Total, Indonesia mempunyai 104 unit pesawat tempur. Belum lagi ribuan senapan serbu terbaik saat itu dan masih menjadi legendaris sampai saat ini, AK-47.

Kebangkitan Tiongkok Dan Kepentingan Nasional

Munculnya Tiongkok sebagai kekuatan Global baru adalah suatu peluang, terlebih lagi setelah Inggris bergabung ke dalam Bank Investasi Infrastruktur Asia (AIIB) bentukan Tiongkok (Kompas, 14/3) memberikan indikasi penting terjadinya perubahan geopolitik global. Perubahan geopolitik global dengan kebangkitan RRT sebagai negara adidaya baru akan menjadi negara penyeimbang atas peran AS yang selama tujuh dekade jadi pengendali globalisasi dalam aspek politik, ekonomi, perdagangan, sosial-budaya, dan pertahanan keamanan. Tapi ketika RRT juga akan menghibahkan Alut Sista “bekas” nya Indonesia. Maka dengan ini kita ingatkan agar dari awal-awal kita mengatakan tidak mau menerimanya, tetapi sebaliknya memintak negara itu berpartner untuk membangun Alut Sista Baru sesuai kebutuhan kita. Kalau Tiongkok tidak berkenan maka kita lebih baik berpaling ke kawan lama Rusia. Mengajak Rusia membangun Alut Sista bersama.

Leave a Reply