Blog

Wilayah Pertahanan, TNI Mendengar 2015

Oleh harmen batubara

Mendengar menjadi sulit ketika seseorang hanya mau didengar dan tidak mau mendengarkan serta tidak mau membuka ruang dalam diri untuk memberikan kepada orang lain menyampaikan apa yang dipikirkannya. Masalah mendengar dan didengar bukanlah di telinga tetapi adanya di hati. Demikian dikatakan Panglima TNI Jenderal TNI Dr. Moeldoko ketika membuka kegiatan “Program TNI Mendengar” tahun 2015 dengan tema “Ketahanan di Bidang Energi dengan Berbagai Permasalahan dan Solusinya”, di Aula Gatot Subroto, Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur (12/3/2015).
Adapun tujuan dilaksanakan kegiatan tersebut adalah memberikan pemahaman dan pandangan kepada para Pamen dan Pati TNI agar dapat membantu dalam aplikasi pekerjaan sesuai dengan tugas pokok masing-masing dalam mendukung program pemerintah. Sasaran penyelenggaraan Program TNI Mendengar Tahun 2015 adalah tergugahnya daya inspiratif dan konspiratif para Pamen dan Pati TNI di bidang energi serta mampu memberikan kontribusi yang konkrit kepada pemerintah dan solusi yang terbaik dalam menghadapi kelangkaan energi yang sedang dihadapi bangsa Indonesia dalam mengatasi kelangkaan energi untuk masa yang akan datang.
Lebih lanjut Jenderal TNI Moeldoko menyampaikan bahwa, hal yang sangat sulit dari mendengar adalah ketika proses selanjutnya hanya berhenti pada mendengar belaka. Orang mengerti apa yag didengar belum tentu memahaminya. Pemahaman memang memerlukan kerja yang lebih dari seorang manusia selain melibatkan kecerdasan berpikir juga melibatkan aspek kepribadian yang lain dan orang yang telah melewati proses pemahaman belum tentu juga mampu berempati dengan apa yang telah dipahaminya.“Empati membutuhkan kepekaan dan kecerdasan emosi untuk berada di pihak lain tanpa terjerumus di dalamnya dan yang ber-empatipun belum tentu juga mampu untuk melakukan aksi dan tindakan yang membutuhkan kemampuan yang lain yang lebih dari sekedar empati”, ujarnya.
Program TNI Mendengar Tahun 2015 diikuti 200 orang Pamen terdiri dari 45 Pamen dari TNI AD, 40 Pamen TNI AL, 30 Pamen TNI AU, dan 85 Pamen dari Balakpus Mabes TNI serta penanggap berjumlah 17 orang, antara lain; Gede Pradnyana (Sekjen SKK Migas), Dirgo D. Purwo, Prof. Bambang B, Ujang Kuswara (Pembina YPP), dan Maria (Perusahaan Oil & Gas). Kegiatan ini juga merupakan langkah untuk mempererat hubungan silaturahmi antara TNI dengan seluruh elemen bangsa dan sebagai upaya institusi TNI memberikan apresiasi serta pembekalan pentingnya pengetahuan tentang kondisi dan pemahaman masalah energi serta peranan sumber energi & kebutuhan energi dalam mendukung ketahanan nasional saat ini.

Kebijakan Energi Yang Tidak Tepat

Dalam pemaparannya Dr. Abdul Muin (Pakar Migas) selaku narasumber, terkait kelangkaan sumber energi di Indonesia mengatakan bahwa faktor fundamental sebagai penyebab mengapa terjadi kondisi krisis Migas di Indonesia antara lain: pertama, selama beberapa dekade ini Indonesia tidak memiliki Kebijakan Pengelolaan Energi Strategis yang komprehensif dan terpadu; kedua, tidak adanya suatu Perencanaan Jangka Panjang yang memadai, workable, konsisten berkelanjutan dan berimbang dengan kepentingan publik lainnya; ketiga, kebijakan dari berbagai departemen masih bersifat sektoral, terlalu berorientasi kepada target jangka pendek, tumpang tindih dan lemah koordinasinya;
keempat, pengelolaan pelistrikan yang relatif parah dimana pengadaan pembangkit listrik di masa lalu dominan berbasiskan energi fosil yang “murah”; kelima, kebijakan untuk menyiapkan “Spare Capacity” yang memadai untuk mengamankan kebutuhan minyak dan gas untuk domestik dalam situasi “emergency” masih terabaikan; keenam, upaya penghematan/efisiensi konsumsi energi, terutama BBM belum tersentuh secara jelas; ketujuh, pengelolaan hasil/revenue dari sumber energi Migas cenderung berorientasi kepada pemenuhan kebutuhan rutin belanja negara (APBN), sehingga alokasi dana bagi pengembangan infrastruktur dan kegiatan eksplorasi relatif terabaikan cukup lama dan kedelapan, kebijakan fiskal juga cenderung untuk lebih mengoptimalkan penerimaan negara (pajak) secara sektoral dalam jangka pendek, sehingga tidak merangsang (kontra produktif) bagi pengembangan energi alternatif jangka panjang yang berkesinambungan.

Prajurit Mengamankan Energi di Lapangan

Hampir bersamaan di Desa Sakarotan, Kecamatan Teluk Belengkong, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, Kepala Staf TNI AD Jenderal Gatot Nurmantyo memperlihatkan, prajurit TNI AD harus menunjukkan kepedulian agar menyatu dengan rakyat. Kepedulian itu harus diwujudkan dengan perbuatan nyata yang berguna bagi masyarakat. KSAD berkunjung ke desa terpencil tersebut menyaksikan kiprah prajurit Kodam I/Bukit Barisan bersama rakyat membangun pembangkit listrik mikrohidro. Gatot mengatakan, TNI AD “mendengar” bahwa daerah tersebut masih belum dialiri listrik PLN sehingga masyarakat mengandalkan mesin listrik sendiri dengan memakai bahan bakar solar.
Selama ini, masyarakat patungan membeli solar seharga Rp 11.600 per liter, jauh di atas harga resmi pemerintah Rp 6.500 per liter. Lokasi desa yang terisolir membuat harga solar sangat mahal. “Satu malam, kami kasih satu botol solar,” kata Muslim, warga setempat, sambil menunjuk botol air mineral berukuran 600 ml. Muslim bersama empat tetangganya menyetor masing-masing sebotol solar untuk bahan bakar mesin listrik. Dengan demikian, mereka bisa menikmati aliran listrik bagi satu lampu berdaya 25 watt untuk setiap rumah sejak pukul 18.00-23.00.
Prajurit bersama warga mengerjakannya bersama untuk memperkuat fondasi pembangkit di kanal lahan gambut tersebut. Aliran air dari kanal memutar turbin untuk membangkitkan listrik. Pelaksana tugas Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman menyambut baik kerja sama antara TNI AD dan masyarakat ini. Ia mengatakan, hal ini adalah cermin dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ia berharap masyarakat belajar dan mampu merawat pembangkit listrik mikrohidro tersebut. Menurut Arsyadjuliandi, masih ada ratusan desa di Riau yang belum dialiri listrik PLN.
Kalau TNI mau mendengar, tentu berbagai warga di wilayah terpencil dan perbatasan sesungguhnya membutuhkan keberadaan listrik. Padahal energi terbarukan melimpah dan ada di mana-mana khususnya energi Surya atau Matahari, energi Angin dan Air. Kalau saja TNI mempunyai keahlian khusus dalam memanfaatkan ketiga SDA tersebut maka pengaruhnya akan sangat besar bagi kesejahteraan warga. Semoga dengan program TNI Mendengar 2015, TNI berkenan memperkuat kemampuan SDM nya dalam bidang energi terbarukan dan mengabdikan kemampuannya di wilayah terpencil dan perbatasan.

Leave a Reply