Bisnis Perang Zelensky

Bisnis Perang Zelensky

Oleh Harmen Batubara

Ukraina tahu bahwa ia jantung Pertahanan Rusia dan berharap Ukraina bisa paham dan bertimbang Rasa. Tapi Ukraina juga tahu ia sangat di minati Amerika plus Nato karena ia memang punya SDA yang melimpah dan jalan masuk buat menghancurkan Rusia. Intinya baik Rusia maupun Amerika akan berbuat apa saja yang ukraina mau, kalau dia mau bergabung atau manut dengan mereka.

Dalam pandangan kita, dalam posisi seperti ini tentunya Ukraina harus betul-betul bisa menempatkan diri. Karena kalau ia salah menempatkan diri apalagi salah memilih posisi maka negaranya  akan dijadikan kancah perseteruan dahsat  perseteruan hidup mati antara dua Negara adi kuasa yang saling memperebutkannya.

Nampaknya Ukraina tidak sadar akan hal itu dan juga nggak berpikir kea rah itu, dan malah dengan genit atau sengaja memilih Amerika UE dan Nato. Bisa jadi karena ia percaya Rusia akan bertekuk lutut di bawah ke digdayaan pilihannya. Tapi apakah anggapannya benar?  Dan itulah kini yang terjadi.

Pada Posisi Yang Tidak Tepat

Menurut laporan  dan dari berbagai sumber media diperoleh gambaran bahwa Rusia berhasil menguasai setidaknya tujuh wilayah Ukraina yakni, Luhansk dan Donetsk atau yang biasa disebut Donbas, Melitopol, Kherson, Berdyansk, dan Mariupol kalau di persentasekan antara 23-27% dari wilayah Ukraina. Sejauh yang bisa kita peroleh dari data, maka pertempuran yang tengah gencar-gencarnya terjadi adalah di satu sisi dalam rangka memperluas caplokan wilayah oleh Rusia dan upaya pembebasan wilayah oleh militer Ukraina. Sementara itu, berbagai kota-kota di luar wilayah taklukan ini terus di bombardier oleh Rusia untuk merusak infrastruktur nya seperti jaringan listrik, gas dan air bersih.

Belakangan ini kita melihat Ukraina tengah menunggu kedatangan suplai peralatan perang baru yang berupa Tank-tank seperti tank Abram dari Amerika dan Tank Leopard-2 dari Jerman serta tank tank lainnya dari anggota NATO lainnya. Ukraina juga tengah memintak dukungan baru yang berupa Jet tempur dan Rudal  dalam jumlah banyak. Seiring dengan itu berbagai riak perpecahan juga mulai muncul di ukraina, mulai dari pejabat yang mundur, kasus korupsi yang terbuka, dan malah menuduh Zelesnky melanggar Undang-undang. Tetapi yang jauh lebih menarik perhatian adalah atas tawaran bisnis perang.

Ngajak Bisnis Perang

Yang lebih hebat lagi Presiden Volodymyr Zelensky malah mengajak dan menawarkan para pengusaha Amerika dan UE  dan malah sudah bekerja sama dengan beberapa raksasa industri keuangan dan militer itu, menawarkan peluang “bisnis besar” kepada perusahaan Amerika. Pernyataan Zelensky itu muncul dalam pesan video ke asosiasi perusahaan Amerika Serikat (AS) di pertemuan National Association of State Chambers (NASC) di Boca Raton, Florida, pada Senin (23/1/2023), Zelensky berpendapat, “Bisnis Amerika dapat menjadi lokomotif yang sekali lagi akan mendorong pertumbuhan ekonomi global.”

Kita hanya bisa mengelus dada, sekaligus juga ikut prihatin  bukannya mencari upaya untuk menghentikan eskalasi perang. Tetapi sebaliknya,  malah justeru membuka dan mengajak untuk sebuah peluang “bisnis besar” dan itu dilakukannya di wilayah negaranya sendiri…yang nota bene yang paling hancur dan menderita adalah warganya sendiri. Apakah itu makna dari sebuah ungkapan “ perang sampai tetes darah terahir”? atau bebaskan wilayah ukraina atau mati seperti slogan kita tempo hari  Merdeka atau Mati. Bagi Rusia mungkin beda lagi…daripada kalah biar saja mati bersama..perang nuklir bisa jadi pilihan yang logis bagi mereka. Yang jelas daripada Ukraina Jatuh ke Amerika plus Nato maka ia lebih baik hancur biar tak lagi berwujut. Peradaban manusia, dari dahulu selalu ada saja hal-hal seperti ini.