Oleh Harmen Batubara
Di tengah hiruk-pikuk pemberitaan global, narasi
perang antara Amerika-Israel melawan Iran memang dipenuhi retorika sengit dan
banjir hoaks dari berbagai kubu. Namun, di balik kabut propaganda itu, ada satu
fakta keras yang tak terbantahkan: Amerika Serikat sedang tersedak di medan
perangnya sendiri.
Hingga pekan ketiga bulan Juli 2026, Washington
telah menggelontorkan anggaran militer lebih dari “30 miliar dolar AS”. Namun,
yang mereka dapatkan bukanlah kemenangan, melainkan inflasi yang meroket, harga
bahan bakar yang melonjak, serta kebutuhan pokok yang kian tak terjangkau di
dalam negeri. Sementara itu, Selat Hormuz—jalur vital minyak dunia—masih kokoh
di bawah kendali Iran. Hampir tidak ada satu pun tujuan perang yang dicanangkan
Presiden Trump yang benar-benar tercapai.
Retorika di Udara, Realita di Bumi
Di hadapan para pendukungnya, Trump dituntut untuk
terus tampak kuat. Ia harus meyakinkan publik bahwa mesin perang Iran telah
hancur dan bahwa Iran kini "memohon" untuk berdamai. Tetapi realitas
di lapangan berkata lain. Berbekal laporan intelijen yang diyakininya akurat, Trump
memerintahkan serangan habis-habisan ke Iran yang berlangsung antara 6 hingga
22 Juli 2026. Namun, serangan balasan Iran justru berada di luar seluruh
skenario Pentagon.
Hasilnya sungguh di luar dugaan dan mengerikan.
Iran tidak hanya menyerang sasaran militer Amerika
secara frontal, tetapi juga melumpuhkan infrastruktur pendukung mereka secara
sistemik. Pangkalan, radar, jalur logistik, hingga pusat komando dan kendali
hancur dalam sekejap. Berikut adalah sejumlah data yang dirilis oleh “Tasnim
News Agency” atas klaim dari juru bicara IRGC, Mohebbi:
- “7 pusat komando dan kendali serta 3 sistem
komunikasi satelit lenyap.
- 6 sistem pertahanan Patriot dan 8 radar deteksi
dini dilumpuhkan.
- 6 pusat perawatan jet tempur & helikopter, 3 pusat
logistik, 12 tangki bahan bakar, dan 17 depot suku cadang kapal serta pesawat
hancur total.
- 6 hanggar drone MQ-9, 5 hanggar pesawat tempur,
serta 4 platform rudal HIMARS juga tak tersisa.
Nasib tragis juga menimpa aset udara Amerika.
Disebutkan bahwa Iran berhasil menghancurkan:
- 11 pesawat tempur dan helikopter,
- 17 drone intai dan operasional (termasuk 8 unit
terbaru),
- Satu jet tempur F-15 di tempat perlindungan,
- Satu pesawat patroli P-8 dan satu pesawat angkut
C-17,
- 8 pesawat pengisian bahan bakar serta 4
helikopter berat.
Yang paling dramatis adalah serangan terhadap
pangkalan Amerika di “Yordania”, yang menewaskan 3 prajurit dan melukai belasan
lainnya. Amerika Serikat pun terpaksa menarik serta mengamankan sisa-sisa
perangkat perangnya ke wilayah Israel—sebuah langkah mundur yang sangat memalukan.
Proksi Iran dan Pilihan Sulit bagi Teluk
Tak hanya sasaran militer AS, Iran melalui jaringan
proksinya juga melancarkan pukulan telak terhadap sekutu-sekutu Amerika di
kawasan:
- Kilang minyak Arab Saudi di Ras Tanura, Jubail,
dan Yanbu menjadi sasaran dan mengalami kerusakan parah, memicu goncangan harga
minyak global.
- Jembatan King Fahd (King Fahd Causeway) yang
menghubungkan Arab Saudi dan Bahrain—sebuah struktur sepanjang 25
kilometer—juga dilaporkan hancur, memutus jalur darat vital di Teluk.
Pesan dari Iran kini terdengar jelas dan tanpa
tafsir ganda: “Pilih Amerika, pilih Iran, atau netral.” Namun siapa pun yang
memilih untuk tetap netral sekalipun, mereka harus melarang Amerika menggunakan
wilayah udara, darat, atau laut mereka—termasuk hotel-hotel berbintang yang
kini dijadikan tempat persembunyian prajurit AS di kawasan Teluk. Jika tidak,
mereka harus siap menanggung seluruh konsekuensinya.
Negara-negara Dewan Kerjasama Teluk (GCC) yang
sebelumnya masih percaya pada kedigdayaan militer Amerika, kini berada di
persimpangan jalan yang sulit. Selama ini, AS menawarkan perlindungan keamanan
dan peluang ekonomi yang menjadikan kawasan ini sebagai pusat bisnis global.
Kini, seluruh tatanan itu berantakan dalam hitungan hari.
Jebakan yang Tak Terduga
Analis militer dan intelijen AS seperti “Scott
Ritter” dan “MacGregor” terus mengingatkan agar Trump bersikap realistis.
Mereka menilai bahwa Amerika telah salah perhitungan secara fundamental.
Kemenangan kecil di Venezuela—dengan pengambilalihan minyak dan penangkapan
Maduro—telah membuat Washington meremehkan kapasitas perlawanan Iran di luar
nalar.
Amerika tidak sedang menghadapi lawan yang mudah
diprediksi. Mereka justru terjebak dalam pusaran yang mereka ciptakan sendiri.
Kini, pertanyaan besarnya bukan lagi "bagaimana cara menang",
melainkan "bagaimana bisa pulang tanpa kehilangan muka?"




