Kamis, 19 Februari 2026

Menyerang Iran Tidak Sulit, Tapi Mengendalikannya Bukanlah Mudah

 


Oleh  Harmen Batubara 

Di atas kertas, Iran adalah target empuk bagi mesin perang Amerika Serikat. Dengan anggaran militer yang tak tertandingi dan teknologi siluman mutakhir, AS memiliki kemampuan untuk melumpuhkan infrastruktur vital Iran dalam hitungan jam. Namun, sejarah dan realitas lapangan seringkali merobek perhitungan di atas kertas tersebut.

Dua Kekuatan yang Saling Mengunci

Saat ini, ketegangan berada pada titik nadir. Amerika tengah memperkuat pertahanan udaranya di kawasan sembari memastikan setiap rudal mereka siap menghujam dengan presisi tinggi. Mereka bersandar pada sekutu setia: NATO, Israel, dan mitra di Timur Tengah.

Namun, Iran bukanlah pemain baru yang gagap. Mereka berada dalam status "Siaga" sepanjang tahun. Teheran sangat paham pola serangan Barat. Di saat AS membidik, Iran dipastikan sudah mengunci target balasannya—pangkalan militer AS di wilayah Teluk hingga kapal-kapal tanker di Selat Hormuz.


Bukan Sekadar Senjata, Tapi Soal Nyali

Perang ini bukan hanya soal siapa yang punya bom lebih besar, melainkan soal:

Harga Diri Bangsa: Bagi Iran, ini adalah perjuangan eksistensi.

Strategi Proksi: Jika Iran mampu memberikan perlawanan awal, "Poros Perlawanan" atau kekuatan proksi mereka di Lebanon, Irak, dan Yaman akan membara, membuat militer AS kedodoran di banyak front sekaligus.

Faktor Keberuntungan: Satu kesalahan taktis bisa mengubah dukungan domestik maupun internasional.

Jika Amerika mampu menghancurkan pertahanan Iran dalam waktu singkat, mereka mungkin bisa menata ulang Iran sesuai keinginan mereka. Namun, jika pertahanan AS tidak siap membendung balasan Iran, Amerika akan menanggung malu yang tiada tara di mata dunia.

Solusi yang Masuk Akal: Diplomasi di Atas Intimidasi

Jawaban dari ketegangan ini sebenarnya sederhana namun mendalam. Perang ini akan menjadi ujian pembuktian: Apakah warga Iran benar-benar mencintai rezimnya untuk ikut berjuang, dan apakah Amerika masih pantas menyandang gelar Polisi Dunia?

Daripada bertaruh pada keberuntungan yang bisa berujung pada depresi ekonomi global dan tumpahan darah, solusi paling masuk akal adalah:

De-eskalasi Melalui Pihak Ketiga: Menggunakan mediator netral untuk mendinginkan saraf di Selat Hormuz.

Pakta Keamanan Regional: Mendorong dialog langsung antara Iran dan tetangganya tanpa campur tangan militer luar yang dominan.

Pengakuan Kedaulatan: Menyadari bahwa mengendalikan Iran dari dalam jauh lebih sulit daripada sekadar menjatuhkan bom dari langit.

Pada akhirnya, kemenangan sejati bukan terletak pada seberapa hancur lawan, tapi pada seberapa mampu pemimpin dunia menghindari kehancuran yang tidak perlu.




Tidak ada komentar: