Oleh Harmen Batubara
Di atas kertas, Iran adalah target empuk bagi mesin
perang Amerika Serikat. Dengan anggaran militer yang tak tertandingi dan
teknologi siluman mutakhir, AS memiliki kemampuan untuk melumpuhkan
infrastruktur vital Iran dalam hitungan jam. Namun, sejarah dan realitas
lapangan seringkali merobek perhitungan di atas kertas tersebut.
Dua Kekuatan
yang Saling Mengunci
Saat ini, ketegangan berada pada titik nadir.
Amerika tengah memperkuat pertahanan udaranya di kawasan sembari memastikan
setiap rudal mereka siap menghujam dengan presisi tinggi. Mereka bersandar pada
sekutu setia: NATO, Israel, dan mitra di Timur Tengah.
Namun, Iran bukanlah pemain baru yang gagap. Mereka
berada dalam status "Siaga" sepanjang tahun.
Teheran sangat paham pola serangan Barat. Di saat AS membidik, Iran dipastikan
sudah mengunci target balasannya—pangkalan militer AS di wilayah Teluk hingga
kapal-kapal tanker di Selat Hormuz.
Bukan Sekadar
Senjata, Tapi Soal Nyali
Perang ini bukan hanya soal siapa yang punya bom
lebih besar, melainkan soal:
Harga Diri Bangsa: Bagi Iran, ini adalah perjuangan eksistensi.
Strategi Proksi: Jika Iran
mampu memberikan perlawanan awal, "Poros Perlawanan" atau kekuatan
proksi mereka di Lebanon, Irak, dan Yaman akan membara, membuat militer AS
kedodoran di banyak front sekaligus.
Faktor Keberuntungan: Satu kesalahan taktis bisa mengubah dukungan domestik maupun
internasional.
Jika Amerika mampu menghancurkan pertahanan Iran
dalam waktu singkat, mereka mungkin bisa menata ulang Iran sesuai keinginan
mereka. Namun, jika pertahanan AS tidak siap membendung balasan Iran, Amerika
akan menanggung malu yang tiada tara di mata dunia.
Solusi yang
Masuk Akal: Diplomasi di Atas Intimidasi
Jawaban dari ketegangan ini sebenarnya sederhana
namun mendalam. Perang ini akan menjadi ujian pembuktian: Apakah warga Iran benar-benar mencintai rezimnya untuk ikut
berjuang, dan apakah Amerika masih pantas menyandang gelar Polisi Dunia?
Daripada bertaruh pada keberuntungan yang bisa
berujung pada depresi ekonomi global dan tumpahan darah, solusi paling masuk
akal adalah:
De-eskalasi Melalui Pihak Ketiga: Menggunakan mediator netral untuk mendinginkan saraf di Selat Hormuz.
Pakta Keamanan Regional: Mendorong dialog langsung antara Iran dan tetangganya tanpa campur
tangan militer luar yang dominan.
Pengakuan Kedaulatan: Menyadari bahwa mengendalikan Iran dari dalam jauh lebih sulit daripada
sekadar menjatuhkan bom dari langit.
Pada akhirnya, kemenangan sejati bukan terletak
pada seberapa hancur lawan, tapi pada seberapa mampu pemimpin dunia menghindari
kehancuran yang tidak perlu.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar