Sabtu, 24 Januari 2026

Strategi Trump “Make America Great Again”, Lewat Membuka Peluang Pasar Perangkat Perang

 


Oleh Harmen Batubara

Bagi Donald Trump, dunia bukan sekadar papan catur politik, melainkan sebuah supermarket besar. Dalam pandangannya, jika Amerika Serikat harus menjadi polisi dunia, maka "negara yang dilindungi" harus membayar biaya langganannya—dan cara terbaik untuk membayar adalah dengan membeli produk buatan Amerika: Senjata.

1. Pasar Ketakutan: Ukraina dan Taiwan

Coba lihat  mengenai beban utang dan anggaran militer. Di awal 2026 ini, Ukraina tetap berada dalam posisi sulit di mana setiap peluru dan sistem pertahanan udara yang dikirimkan sering kali datang dengan skema pinjaman atau bantuan yang memperkuat ketergantungan ekonomi jangka panjang pada industri pertahanan AS.

Sementara itu, di Selat Taiwan, ketegangan yang memuncak di Januari 2026 telah memaksa Taiwan mengalokasikan anggaran tambahan lebih dari Rp 660 triliun. Ini adalah "durian runtuh" bagi kontraktor pertahanan seperti Lockheed Martin atau Raytheon. Strategi Trump di sini sederhana: Ciptakan urgensi (atau biarkan urgensi itu ada), lalu tawarkan solusinya.


2. Manuver Greenland: Ekspansi Properti atau Benteng Militer?

Krisis Greenland di awal tahun ini menjadi contoh paling ekstrem. Trump secara terbuka menyatakan bahwa AS perlu "memiliki" Greenland untuk melindunginya dari pengaruh Rusia dan China.

Logika Bisnisnya: Jika Greenland menjadi bagian dari AS atau setidaknya menjadi pangkalan militer permanen yang masif, maka akan ada kebutuhan infrastruktur pertahanan senilai miliaran dolar.

Prioritas: Pertahanan menjadi komoditas. Denmark dan Uni Eropa mungkin protes, namun Trump menggunakan ancaman tarif (seperti rencana tarif 10–25%) sebagai alat tekan agar kesepakatan militer/wilayah ini terjadi.

3. Indonesia dan Efek "FOMO" Pertahanan

Bahkan negara non-blok seperti Indonesia pun terkena dampaknya. Dengan meningkatnya anggaran pertahanan RI menjadi sekitar Rp 335,2 triliun untuk tahun 2026, kita melihat fenomena di mana semua negara merasa harus "mempersenjatai diri hingga gigi" agar tetap relevan dan aman. Ini adalah Global Arms Race yang dipicu oleh ketidakpastian.

Power Play atau Roda Bisnis?

Apakah ini hanya power play sebelum perang sesungguhnya? Atau strategi bisnis paling aman?

Sepertinya, bagi Trump, bisnis perangkat perang adalah cara paling aman untuk menjalankan "perang" tanpa harus benar-benar menumpahkan darah tentara Amerika secara masif. 1. Ekonomi Domestik: Pabrik senjata di Ohio, Arizona, dan Texas beroperasi 24 jam. Ini menciptakan lapangan kerja, yang merupakan inti dari janji MAGA.

Minimalisir Risiko: Dengan menjual senjata ke Taiwan atau Ukraina, Amerika mendapatkan keuntungan finansial dan pengaruh geopolitik tanpa harus mengirim pasukan darat ke garis depan.

Nikmat Bersama: Seperti bisa di duga dan terbaca, negara penghasil senjata lain (Prancis dengan Rafale-nya, atau Inggris) juga "menikmati" situasi ini. Namun, AS tetap menjadi pemain utama yang menentukan standar dan teknologi.

Kesimpulan: Ini adalah "War-Nomics". Trump tidak sedang mencari kemenangan moral di medan laga; ia sedang mencari angka positif di neraca perdagangan AS. Perang—atau setidaknya ancaman perang—adalah stimulus ekonomi terbaik bagi mereka yang memegang kunci gudang senjata.

 



Tidak ada komentar: