Oleh Harmen Batubara
Bagi Donald Trump, dunia bukan sekadar papan catur
politik, melainkan sebuah supermarket besar.
Dalam pandangannya, jika Amerika Serikat harus menjadi polisi dunia, maka
"negara yang dilindungi" harus membayar biaya langganannya—dan cara
terbaik untuk membayar adalah dengan membeli produk buatan Amerika: Senjata.
1. Pasar
Ketakutan: Ukraina dan Taiwan
Coba lihat mengenai beban utang dan anggaran militer. Di
awal 2026 ini, Ukraina tetap berada dalam posisi sulit di mana setiap peluru
dan sistem pertahanan udara yang dikirimkan sering kali datang dengan skema
pinjaman atau bantuan yang memperkuat ketergantungan ekonomi jangka panjang
pada industri pertahanan AS.
Sementara itu, di Selat Taiwan, ketegangan yang
memuncak di Januari 2026 telah memaksa Taiwan mengalokasikan anggaran tambahan
lebih dari Rp 660 triliun. Ini adalah "durian runtuh"
bagi kontraktor pertahanan seperti Lockheed Martin atau Raytheon. Strategi
Trump di sini sederhana: Ciptakan urgensi (atau biarkan
urgensi itu ada), lalu tawarkan solusinya.
2. Manuver
Greenland: Ekspansi Properti atau Benteng Militer?
Krisis Greenland di awal tahun ini menjadi contoh
paling ekstrem. Trump secara terbuka menyatakan bahwa AS perlu
"memiliki" Greenland untuk melindunginya dari pengaruh Rusia dan
China.
Logika Bisnisnya: Jika
Greenland menjadi bagian dari AS atau setidaknya menjadi pangkalan militer
permanen yang masif, maka akan ada kebutuhan infrastruktur pertahanan senilai
miliaran dolar.
Prioritas: Pertahanan
menjadi komoditas. Denmark dan Uni Eropa mungkin protes, namun Trump
menggunakan ancaman tarif (seperti rencana tarif 10–25%) sebagai alat tekan
agar kesepakatan militer/wilayah ini terjadi.
3. Indonesia
dan Efek "FOMO" Pertahanan
Bahkan negara non-blok seperti Indonesia pun terkena dampaknya. Dengan meningkatnya anggaran pertahanan RI menjadi sekitar Rp 335,2 triliun untuk tahun 2026, kita melihat fenomena di mana semua negara merasa harus "mempersenjatai diri hingga gigi" agar tetap relevan dan aman. Ini adalah Global Arms Race yang dipicu oleh ketidakpastian.
Power Play
atau Roda Bisnis?
Apakah ini hanya power play sebelum
perang sesungguhnya? Atau strategi bisnis paling aman?
Sepertinya, bagi Trump, bisnis
perangkat perang adalah cara paling aman untuk menjalankan "perang"
tanpa harus benar-benar menumpahkan darah tentara Amerika secara masif.
1. Ekonomi Domestik: Pabrik senjata di Ohio, Arizona, dan
Texas beroperasi 24 jam. Ini menciptakan lapangan kerja, yang merupakan inti
dari janji MAGA.
Minimalisir Risiko: Dengan menjual senjata ke Taiwan atau Ukraina, Amerika mendapatkan
keuntungan finansial dan pengaruh geopolitik tanpa harus mengirim pasukan darat
ke garis depan.
Nikmat Bersama: Seperti bisa
di duga dan terbaca, negara penghasil senjata lain (Prancis dengan Rafale-nya,
atau Inggris) juga "menikmati" situasi ini. Namun, AS tetap menjadi
pemain utama yang menentukan standar dan teknologi.
Kesimpulan: Ini adalah
"War-Nomics". Trump tidak sedang mencari kemenangan moral di medan
laga; ia sedang mencari angka positif di neraca perdagangan AS. Perang—atau
setidaknya ancaman perang—adalah stimulus ekonomi terbaik bagi
mereka yang memegang kunci gudang senjata.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar