Jumat, 16 Januari 2026

Iran: Mampukah Bertahan Menghadapi Resesi Ekonomi dan Tekanan Dunia?

 Oleh Harmen Batubara

Dalam ilmu politik, kita mengenal sebuah kesepakatan tak tertulis yang disebut Kontrak Sosial. Intinya sederhana: warga negara memberikan kesetiaan dan ketaatan kepada pemerintah, asalkan negara mampu menjamin hak paling dasar mereka, yaitu kehidupan yang layak.

Namun, di Teheran dan berbagai kota besar di Iran saat ini, kontrak itu sedang berada di titik nadir.

Realitas Pahit: Rial yang Tak Berdaya dan Harga yang Meroket

Kondisi ekonomi Iran saat ini dapat digambarkan melalui dua monster yang mencekik rakyatnya: Pelemahan Nilai Tukar dan Inflasi Tinggi.

Lemahnya Nilai Tukar (Depresiasi): Bayangkan Rial sebagai "daya tawar" bangsa. Saat ini, nilai Rial telah jatuh ke titik terendah sepanjang sejarah (melampaui 1,4 juta Rial per 1 USD). Artinya, untuk membeli barang impor yang sama (seperti gandum atau obat-obatan), negara harus mengeluarkan uang berkali-kali lipat lebih banyak. Bagi warga, tabungan mereka dalam sekejap "menguap" nilainya karena uang yang mereka pegang tidak lagi memiliki kekuatan beli di pasar global.

Tingginya Inflasi: Ini adalah dampak langsung dari jatuhnya mata uang. Di Iran, inflasi pangan dikabarkan telah menembus angka 75%. Artinya, harga telur, susu, dan daging yang hari ini dibeli, bisa naik hampir dua kali lipat dalam waktu singkat. Ketika inflasi berada di level ini, pendapatan warga tidak lagi mampu mengejar harga barang. Hidup bukan lagi tentang menabung untuk masa depan, tapi tentang cara bertahan hidup untuk makan esok hari.


Jika Negara Gagal Menjamin Kehidupan, Lalu Bagaimana?

Loyalitas warga adalah aset paling berharga bagi sebuah rezim. Jika negara gagal memberikan jaminan hidup—saat subsidi dicabut dan harga energi melonjak—maka pondasi loyalitas itu akan runtuh.

Sejarah mencatat bahwa ketika perut lapar, ideologi seringkali terpinggirkan. Gelombang protes yang terjadi di awal 2026 ini, yang melibatkan para pedagang pasar tradisional (Bazaaris), menunjukkan bahwa dukungan dari pilar ekonomi terkuat negara pun mulai goyah.

Kemana mereka meminta bantuan?

Dalam kondisi terjepit sanksi internasional yang berat, pilihan Iran sangat terbatas:

IMF (Dana Moneter Internasional): Secara teori, Iran adalah anggota IMF dan berhak mengajukan pinjaman darurat. Namun, secara praktis, pengaruh Amerika Serikat di dalam dewan IMF seringkali menjadi penghalang (veto). Pinjaman dari IMF juga biasanya menuntut "transparansi finansial" yang ketat, sesuatu yang seringkali enggan dipenuhi oleh otoritas Teheran karena alasan keamanan nasional.

Poros Timur (Tiongkok dan Rusia): Ini adalah harapan utama. Bantuan biasanya tidak datang dalam bentuk uang tunai "cuma-cuma", melainkan dalam bentuk:

Lines of Credit (Jalur Kredit): Pinjaman untuk membeli barang dari negara pemberi utang.

Barter Minyak: Menukar minyak mentah dengan infrastruktur, teknologi, atau kebutuhan pangan.

Swap Currency: Menggunakan mata uang lokal (Yuan atau Rubel) untuk perdagangan guna menghindari ketergantungan pada Dollar Amerika.

Jalan Keluar: Mencari Celah di Tengah Kebuntuan

Agar Iran tidak hanya sekadar "bertahan" tapi juga "pulih", ada beberapa langkah strategis yang harus diambil:

Diplomasi De-eskalasi: Membuka kembali ruang negosiasi terkait isu nuklir untuk mengangkat sebagian sanksi ekonomi. Tanpa akses ke sistem perbankan global (SWIFT), ekonomi Iran akan terus beroperasi dengan tangan terikat.

Diversifikasi Ekonomi: Mengurangi ketergantungan kronis pada ekspor minyak dan mulai memperkuat sektor manufaktur domestik serta teknologi informasi yang lebih tahan terhadap sanksi luar negeri.

Reformasi Transparansi: Mengurangi kebocoran anggaran akibat korupsi sistemik agar bantuan atau pendapatan negara yang terbatas benar-benar sampai ke meja makan rakyat dalam bentuk subsidi yang tepat sasaran.

Kita Ingin Menambahkan

Ketahanan Iran tidak lagi diuji di medan tempur fisik, melainkan di dapur-dapur setiap rumah rakyatnya. Jika pemerintah mampu menstabilkan harga dan menjamin ketersediaan kebutuhan pokok, mereka mungkin akan bertahan. Namun, jika "kontrak sosial" ini benar-benar putus, Iran akan menghadapi tantangan internal yang jauh lebih berbahaya daripada sanksi dunia mana pun.

 



Tidak ada komentar: