Oleh Harmen Batubara
Dalam ilmu politik, kita mengenal sebuah
kesepakatan tak tertulis yang disebut Kontrak Sosial.
Intinya sederhana: warga negara memberikan kesetiaan dan ketaatan kepada
pemerintah, asalkan negara mampu menjamin hak paling dasar mereka, yaitu kehidupan yang layak.
Namun, di Teheran dan berbagai kota besar di Iran
saat ini, kontrak itu sedang berada di titik nadir.
Realitas
Pahit: Rial yang Tak Berdaya dan Harga yang Meroket
Kondisi ekonomi Iran saat ini dapat digambarkan
melalui dua monster yang mencekik rakyatnya: Pelemahan Nilai Tukar
dan Inflasi Tinggi.
Lemahnya Nilai Tukar (Depresiasi): Bayangkan Rial sebagai "daya tawar" bangsa. Saat ini, nilai
Rial telah jatuh ke titik terendah sepanjang sejarah (melampaui 1,4 juta Rial
per 1 USD). Artinya, untuk membeli barang impor yang sama (seperti gandum atau
obat-obatan), negara harus mengeluarkan uang berkali-kali lipat lebih banyak.
Bagi warga, tabungan mereka dalam sekejap "menguap" nilainya karena
uang yang mereka pegang tidak lagi memiliki kekuatan beli di pasar global.
Tingginya Inflasi: Ini adalah dampak langsung dari jatuhnya mata uang. Di Iran, inflasi
pangan dikabarkan telah menembus angka 75%. Artinya, harga
telur, susu, dan daging yang hari ini dibeli, bisa naik hampir dua kali lipat
dalam waktu singkat. Ketika inflasi berada di level ini, pendapatan warga tidak
lagi mampu mengejar harga barang. Hidup bukan lagi tentang menabung untuk masa
depan, tapi tentang cara bertahan hidup untuk makan esok hari.
Jika Negara
Gagal Menjamin Kehidupan, Lalu Bagaimana?
Loyalitas warga adalah aset paling berharga bagi
sebuah rezim. Jika negara gagal memberikan jaminan hidup—saat subsidi dicabut
dan harga energi melonjak—maka pondasi loyalitas itu akan runtuh.
Sejarah mencatat bahwa ketika perut lapar, ideologi
seringkali terpinggirkan. Gelombang protes yang terjadi di awal 2026 ini, yang
melibatkan para pedagang pasar tradisional (Bazaaris), menunjukkan bahwa
dukungan dari pilar ekonomi terkuat negara pun mulai goyah.
Kemana mereka meminta bantuan?
Dalam kondisi terjepit sanksi internasional yang
berat, pilihan Iran sangat terbatas:
IMF (Dana Moneter Internasional): Secara teori, Iran adalah anggota IMF dan berhak mengajukan pinjaman
darurat. Namun, secara praktis, pengaruh Amerika Serikat di dalam dewan IMF
seringkali menjadi penghalang (veto). Pinjaman dari IMF juga biasanya menuntut
"transparansi finansial" yang ketat, sesuatu yang seringkali enggan
dipenuhi oleh otoritas Teheran karena alasan keamanan nasional.
Poros Timur (Tiongkok dan Rusia): Ini adalah harapan utama. Bantuan biasanya tidak datang dalam bentuk
uang tunai "cuma-cuma", melainkan dalam bentuk:
Lines of Credit (Jalur Kredit): Pinjaman untuk membeli barang dari negara pemberi utang.
Barter Minyak: Menukar
minyak mentah dengan infrastruktur, teknologi, atau kebutuhan pangan.
Swap Currency: Menggunakan
mata uang lokal (Yuan atau Rubel) untuk perdagangan guna menghindari
ketergantungan pada Dollar Amerika.
Jalan Keluar:
Mencari Celah di Tengah Kebuntuan
Agar Iran tidak hanya sekadar "bertahan"
tapi juga "pulih", ada beberapa langkah strategis yang harus diambil:
Diplomasi De-eskalasi: Membuka kembali ruang negosiasi terkait isu nuklir untuk mengangkat
sebagian sanksi ekonomi. Tanpa akses ke sistem perbankan global (SWIFT),
ekonomi Iran akan terus beroperasi dengan tangan terikat.
Diversifikasi Ekonomi: Mengurangi ketergantungan kronis pada ekspor minyak dan mulai
memperkuat sektor manufaktur domestik serta teknologi informasi yang lebih
tahan terhadap sanksi luar negeri.
Reformasi Transparansi: Mengurangi kebocoran anggaran akibat korupsi sistemik agar bantuan atau
pendapatan negara yang terbatas benar-benar sampai ke meja makan rakyat dalam
bentuk subsidi yang tepat sasaran.
Kita Ingin Menambahkan
Ketahanan Iran tidak lagi diuji di medan tempur
fisik, melainkan di dapur-dapur setiap rumah rakyatnya. Jika pemerintah mampu
menstabilkan harga dan menjamin ketersediaan kebutuhan pokok, mereka mungkin
akan bertahan. Namun, jika "kontrak sosial" ini benar-benar putus,
Iran akan menghadapi tantangan internal yang jauh lebih berbahaya daripada
sanksi dunia mana pun.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar