Rabu, 14 Januari 2026

Iran: Mampukah Bertahan Menghadapi Pendemo dan Ancaman Amerika?

 


Oleh  Harmen Batubara 

Januari 2026 menjadi musim dingin yang paling membara di Teheran. Di balik kabut asap dan aroma gas air mata yang menyengat di Lapangan Enqelab, Iran kini berdiri di sebuah persimpangan eksistensial. Negara ini tidak hanya sedang beradu kekuatan dengan militer asing di perbatasannya, tetapi juga sedang bertarung merebut kembali hati rakyatnya sendiri yang mulai mendingin.

Kontrak Sosial yang Retak: Antara Rakyat dan Rezim

Sejarah selalu mengajarkan satu kebenaran universal: suatu negara akan menemukan kondisi di mana warganya akan memberikan loyalitasnya bila dan hanya bila pemerintahnya memang berjuang untuk kepentingan warganya. Di jalan-jalan Teheran, Shiraz, hingga Tabriz, narasi ini sedang diuji secara nyata.

Ketika inflasi meroket dan nilai Rial terjun bebas hingga menyentuh titik terendah dalam sejarah, warga tidak lagi melihat kemegahan teknologi militer atau pengaruh regional sebagai sebuah kebanggaan. Bagi mereka, sebuah negara kehilangan legitimasinya saat meja makan di rumah-rumah penduduk mulai kosong. Warga akan menjadi tidak peduli, bahkan melawan, jika mereka merasa pemerintahnya hanya memperkuat dan membangun demi kejayaan rezimnya sendiri, sementara penderitaan rakyat dianggap sebagai "pengorbanan yang diperlukan."

Loyalitas bukanlah cek kosong; ia adalah hasil dari timbal balik kesejahteraan. Saat ini, gelombang demonstrasi di 31 provinsi Iran bukan sekadar protes ekonomi, melainkan gugatan terhadap prioritas penguasa.


Bayang-Bayang "Sang Pembenci": Ancaman dari Barat

Kondisi internal yang rapuh ini menjadi jauh lebih runyam ketika aktor luar mulai masuk ke dalam arena. Amerika Serikat, di bawah kepemimpinan yang kini lebih agresif, tampil sebagai "pembenci" yang siap memanfaatkan celah sekecil apa pun. Dengan retorika "penyelamatan rakyat," Washington telah menempatkan aset militernya dalam posisi locked and loaded, memberikan tekanan psikologis yang luar biasa besar bagi Teheran.

Bagi pemerintah Iran, ini adalah dilema ganda yang mematikan:

Menindak keras pendemo akan memberikan alasan bagi Amerika dan sekutunya untuk melakukan intervensi militer langsung atas nama kemanusiaan.

Membiarkan demonstrasi tanpa kendali berisiko meruntuhkan struktur kekuasaan dari dalam.

Ujian Pengelolaan: Negosiasi di Dua Lini

Kini, kelangsungan hidup Republik Islam Iran sepenuhnya bergantung pada kemampuan pemerintah dalam mengelola dua front secara simultan:

Lini Domestik: Mampukah pemerintah menurunkan ego rezim dan mulai bernegosiasi secara jujur dengan para demonstran? Ini bukan lagi tentang penindasan aparat, melainkan tentang reformasi ekonomi yang konkret dan pengakuan atas hak-hak sipil.

Lini Internasional: Di tengah ancaman serangan langsung, kemampuan diplomasi Iran sedang diuji. Melakukan negosiasi dengan Amerika Serikat tanpa terlihat lemah di mata rakyatnya sendiri adalah seni tingkat tinggi yang harus segera dikuasai.

Menemukan Titik Balik

Iran berada di ujung tanduk. Namun, sejarah juga mencatat bahwa bangsa yang besar mampu bangkit dari krisis terdalam jika pemimpinnya berani kembali kepada rakyatnya. Bila kondisi ini ditangani dengan tepat dan baik—melalui dialog yang inklusif dan diplomasi yang cerdas—semua hal bisa terjadi. Iran bisa saja keluar sebagai bangsa yang lebih solid, atau justru terkubur oleh ambisi rezimnya sendiri dan tekanan asing yang tak kenal ampun.

Pada akhirnya, peluru dan rudal mungkin bisa menghalau musuh dari luar, namun hanya keadilan dan kesejahteraan yang bisa memadamkan api pemberontakan dari dalam.




Tidak ada komentar: