Oleh Harmen Batubara
Januari 2026 menjadi musim dingin yang paling
membara di Teheran. Di balik kabut asap dan aroma gas air mata yang menyengat
di Lapangan Enqelab, Iran kini berdiri di sebuah persimpangan eksistensial.
Negara ini tidak hanya sedang beradu kekuatan dengan militer asing di
perbatasannya, tetapi juga sedang bertarung merebut kembali hati rakyatnya
sendiri yang mulai mendingin.
Kontrak
Sosial yang Retak: Antara Rakyat dan Rezim
Sejarah selalu mengajarkan satu kebenaran
universal: suatu negara akan menemukan kondisi di mana warganya akan
memberikan loyalitasnya bila dan hanya bila pemerintahnya memang berjuang untuk
kepentingan warganya. Di jalan-jalan Teheran, Shiraz, hingga Tabriz,
narasi ini sedang diuji secara nyata.
Ketika inflasi meroket dan nilai Rial terjun bebas
hingga menyentuh titik terendah dalam sejarah, warga tidak lagi melihat
kemegahan teknologi militer atau pengaruh regional sebagai sebuah kebanggaan.
Bagi mereka, sebuah negara kehilangan legitimasinya saat meja makan di
rumah-rumah penduduk mulai kosong. Warga akan menjadi tidak
peduli, bahkan melawan, jika mereka merasa pemerintahnya hanya memperkuat dan
membangun demi kejayaan rezimnya sendiri, sementara penderitaan
rakyat dianggap sebagai "pengorbanan yang diperlukan."
Loyalitas bukanlah cek kosong; ia adalah hasil dari
timbal balik kesejahteraan. Saat ini, gelombang demonstrasi di 31 provinsi Iran
bukan sekadar protes ekonomi, melainkan gugatan terhadap prioritas penguasa.
Bayang-Bayang
"Sang Pembenci": Ancaman dari Barat
Kondisi internal yang rapuh ini menjadi jauh lebih
runyam ketika aktor luar mulai masuk ke dalam arena. Amerika Serikat, di bawah
kepemimpinan yang kini lebih agresif, tampil sebagai "pembenci" yang
siap memanfaatkan celah sekecil apa pun. Dengan retorika "penyelamatan
rakyat," Washington telah menempatkan aset militernya dalam posisi locked and loaded, memberikan tekanan psikologis yang
luar biasa besar bagi Teheran.
Bagi pemerintah Iran, ini adalah dilema ganda yang
mematikan:
Menindak keras pendemo akan memberikan alasan bagi Amerika dan sekutunya untuk melakukan
intervensi militer langsung atas nama kemanusiaan.
Membiarkan demonstrasi tanpa kendali berisiko meruntuhkan struktur kekuasaan dari dalam.
Ujian
Pengelolaan: Negosiasi di Dua Lini
Kini, kelangsungan hidup Republik Islam Iran
sepenuhnya bergantung pada kemampuan pemerintah dalam mengelola dua front
secara simultan:
Lini Domestik: Mampukah
pemerintah menurunkan ego rezim dan mulai bernegosiasi secara jujur dengan para
demonstran? Ini bukan lagi tentang penindasan aparat, melainkan tentang
reformasi ekonomi yang konkret dan pengakuan atas hak-hak sipil.
Lini Internasional: Di tengah ancaman serangan langsung, kemampuan diplomasi Iran sedang
diuji. Melakukan negosiasi dengan Amerika Serikat tanpa terlihat lemah di mata
rakyatnya sendiri adalah seni tingkat tinggi yang harus segera dikuasai.
Menemukan Titik Balik
Iran berada di ujung tanduk. Namun, sejarah juga
mencatat bahwa bangsa yang besar mampu bangkit dari krisis terdalam jika
pemimpinnya berani kembali kepada rakyatnya. Bila kondisi ini ditangani
dengan tepat dan baik—melalui dialog yang inklusif dan diplomasi yang
cerdas—semua hal bisa terjadi. Iran bisa saja keluar sebagai bangsa
yang lebih solid, atau justru terkubur oleh ambisi rezimnya sendiri dan tekanan
asing yang tak kenal ampun.
Pada akhirnya, peluru dan rudal mungkin bisa
menghalau musuh dari luar, namun hanya keadilan dan kesejahteraan yang bisa
memadamkan api pemberontakan dari dalam.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar