Senin, 26 Januari 2026

Mewujudkan Kemerdekaan Palestina, Laksana Upaya Menegakkan Benang Basah

 


Oleh   Harmen Batubara 

Di tanah di mana aroma minyak bercampur dengan debu mesiu, sebuah drama besar sedang dimainkan. Panggungnya adalah Timur Tengah, sebuah kawasan yang hingga kini masih bergetar akibat guncangan Arab Spring. Di sana, singgasana para raja berdiri di atas fondasi yang rapuh; "ke-Tahtaan" mereka terus dibayangi oleh krisis legitimasi dari rakyatnya sendiri.

Peta Kekuatan yang Saling Mengunci

Dalam kerapuhan itu, muncul dua poros besar yang membuat kawasan ini terus membara:

Poros Keamanan (Amerika Serikat & Israel): Amerika datang membawa "perisai." Ia menjamin keamanan Israel sekaligus menjadi pelindung bagi tahta para raja Arab. Namun, perlindungan ini tidaklah gratis. Imbalannya adalah konsesi besar: pangkalan-pangkalan militer yang tertanam di jantung kerajaan-kerajaan tersebut.


Poros Perlawanan (Iran & Proksi): Di seberang sana, Iran meniupkan api yang berbeda. Dengan semangat anti-Israel yang membara, mereka menggerakkan "Sumbu Perlawanan" melalui proksi seperti Hamas, Hizbullah, dan Houthi. Bagi mereka, kemerdekaan Palestina adalah harga mati yang hanya bisa dicapai lewat konfrontasi.

Lingkaran Setan Keamanan

Inti dari konflik ini adalah ketidakpercayaan yang membatu. Sejujurnya, kekuatan-kekuatan di Timur Tengah sulit menerima kehadiran Israel di tanah tersebut. Sebaliknya, Israel merasa seperti sebuah pulau kecil di tengah samudera musuh yang ingin menghapusnya dari peta.

Israel tidak akan pernah mengakui kemerdekaan Palestina selama mereka melihat negara baru tersebut sebagai ancaman atau "pintu masuk" bagi serangan musuh. Inilah "Benang Basah" itu: Bagaimana mewujudkan kemerdekaan di atas tanah yang penuh dengan kecurigaan dan dendam?

Harapan Indonesia: Sebuah Jalan Tengah

Di tengah kebuntuan inilah Indonesia melangkah. Sebagai negara muslim terbesar sekaligus pelopor gerakan Non-Blok, Indonesia tidak datang dengan senjata, melainkan dengan visi mendukung Dewan Perdamaian Gaza.

Indonesia menyadari bahwa memaksa benang basah untuk tegak membutuhkan pendekatan yang berbeda. Harapan itu terletak pada sebuah paradigma baru:

Palestina sebagai Negara Sahabat: Kemerdekaan Palestina hanya bisa diterima oleh dunia (dan Israel) jika ia lahir sebagai entitas yang moderat.

Jaminan Keamanan Timbal Balik: Palestina yang berdaulat bukan hanya harus berdaulat secara politik, tetapi juga harus mampu dan mau menjamin bahwa wilayahnya tidak akan menjadi basis serangan terhadap tetangganya.

Rekonsiliasi Total: Mengubah wajah "musuh" menjadi "tetangga" adalah satu-satunya cara agar eksistensi keduanya bisa diakui secara berdampingan.

"Menegakkan benang basah memang sulit, tapi bukan berarti tidak mungkin jika kita tahu di mana harus memegang ujungnya."

Bagi Indonesia, kemerdekaan Palestina bukan sekadar memindahkan kekuasaan, melainkan menciptakan sebuah stabilitas baru di mana rasa takut tidak lagi menjadi penentu kebijakan. Melalui Dewan Perdamaian Gaza, Indonesia ingin membuktikan bahwa perdamaian bisa hadir jika semua pihak mau berhenti saling menghapus dan mulai saling menjamin.

 


 


Tidak ada komentar: