Oleh Harmen Batubara
Sindrom The Ugly American di Abad ke-21
Masih ingatkah kita pada karya klasik tahun 1958, The Ugly American tulisan Eugene Burdick dan William
Lederer? Novel tersebut secara tajam memotret watak Amerika yang sombong,
arogan, dan selalu memaksakan standar hegemoninya di negeri orang tanpa mau
memahami realitas akar rumput. Dekade demi dekade berlalu, namun sindrom ini
tampaknya tidak pernah benar-benar hilang dari koridor kekuasaan Washington.
Kini, arogansi tersebut menemui batunya di Timur Tengah: Amerika Serikat
terperangkap dalam eskalasi konflik panjang dengan Iran, yang bermuara pada
sebuah Memorandum of Understanding (MOU) yang tak ubahnya
sebuah deklarasi kekalahan mutlak.
Jebakan Kesepakatan Prancis dan Kepanikan Politik
Realitas geopolitik sering kali kejam bagi mereka
yang salah berhitung. Trump, yang kerap menempatkan diri sebagai negosiator
ulung, pada akhirnya harus menelan pil pahit. Ia baru menyadari bahwa MOU yang
ditandatanganinya di Prancis tersebut justru menjadi bumerang. Kesepakatan itu
secara telanjang mempermalukan supremasi Amerika di mata dunia dan berpotensi
besar mematikan karier politiknya di dalam negeri. Citra "Amerika yang
Tidak Terkalahkan" luntur seketika di atas secarik kertas diplomasi.
Dalam kondisi terdesak untuk keluar dari jerat tersebut, sebuah manuver pengalihan (diversion) dimainkan. Israel diminta, atau setidaknya diberi lampu hijau, untuk melanjutkan dan mengeskalasi serangan di Lebanon. Tujuannya sangat taktis: menciptakan letupan destabilisasi baru di kawasan agar bisa dijadikan dalih bahwa situasi keamanan telah berubah drastis, sehingga MOU Prancis tersebut "sah" untuk ditinjau ulang atau dibatalkan sepihak.
Saran Jeffrey Sachs dan Paradoks Mundur
Lalu, bagaimana kelanjutannya? Akademisi dan analis
kebijakan publik ternama, Jeffrey Sachs, memberikan pandangan yang realistis.
Sachs, yang lama mengkritik intervensi hegemonik AS, menyarankan satu hal:
Trump harus pulang dan tinggalkan Timur Tengah. Ia berargumen bahwa era tatanan
dunia unipolar telah berakhir, dan memaksakan kehadiran militer hanya akan
menguras darah serta anggaran.
Namun, bagi seorang politisi AS, mendengarkan saran
Sachs dan menarik diri sepenuhnya dari Timur Tengah adalah sebuah pengakuan
kalah yang secara absolut akan mengubur sisa-sisa karier politik Trump di mata
para pemilih dan pelobi di Washington.
Dilema Meja Perundingan dan Godaan Serangan Masif
Peluang yang masih tersisa secara diplomatis adalah
kembali ke meja perundingan. Sayangnya, diplomasi ini berjalan di atas pijakan
rapuh karena kedua belah pihak sudah kehilangan mutual trust (rasa
saling percaya).
Di tengah kebuntuan ini, para penasihat garis keras
(hawks) di lingkaran Trump maupun Israel kemungkinan besar membisikkan opsi
militer. Mereka menyarankan doktrin Shock and Awe—sebuah
serangan militer gabungan yang kuat, presisi, dan masif dalam waktu singkat,
dengan harapan bisa melumpuhkan infrastruktur strategis Iran sebelum mereka
merespons.
Kalkulasi Realistis: Mengapa Mesin Perang Pun Bisa
Gagal
Dihadapkan pada realitas kapabilitas mesin perang
Amerika dan Israel, opsi serangan kilat ini membawa risiko yang teramat besar.
Dari perspektif taktis perang asimetris, superioritas udara tidak lagi menjamin
kemenangan absolut.
Jika serangan masif ini dipaksakan, korban yang
jatuh akan sangat masif. Lebih fatal lagi, sistem pertahanan udara gabungan
Amerika dan Israel (seperti Iron Dome, David's Sling, atau baterai Patriot
dan THAAD) secara matematis tidak akan mampu menangkis
gelombang pembalasan dari Iran. Taktik serangan saturasi menggunakan ribuan drone kamikaze dan rudal balistik hipersonik Iran
dipastikan akan menembus payung pertahanan tersebut, menghancurkan aset-aset
vital AS dan Israel di kawasan.
Kesimpulan: Tunduk pada Realitas Geografis
Setelah semua variabel taktis, strategis, dan
diplomatis dihitung, di atas kertas Trump hanya dihadapkan pada satu pilihan
realistis yang sangat menyakitkan: Mengakui kekalahan dan membayar kerugian
kompensasi kepada Iran.
Konsekuensi logis dari kekalahan strategis ini adalah
pergeseran peta kendali maritim yang tak bisa dihindari. Dominasi militer Barat
di perairan Teluk harus diakhiri, membiarkan urat nadi perdagangan minyak
dunia—Selat Hormuz—dikelola dan dijaga sepenuhnya oleh aktor regional yang
secara historis dan geografis memang memilikinya, yakni Iran dan Oman.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar