Oleh Harmen Batubara
Dalam beberapa tahun terakhir, panggung geopolitik
global menyaksikan pertunjukan yang tak terduga. Dua konflik besar—Rusia vs
Ukraina dan Amerika-Israel vs Iran—telah menjadi cermin yang memantulkan perubahan
wajah kekuasaan dunia. Jika dahulu kita terbiasa dengan dunia yang didominasi
satu kekuatan adidaya, kini kita mungkin sedang menyaksikan awal dari era baru
yang lebih multipolar. Tapi pertanyaannya, apakah pergeseran ini benar-benar
membawa dunia menuju perdamaian yang lebih demokratis?
Ketika Kekuatan Adidaya Tersandung
Perang di Ukraina telah menjadi ujian nyata bagi
kekuatan NATO dan Amerika Serikat. Konflik yang berkepanjangan ini
memperlihatkan bahwa meskipun dengan dukungan penuh dari negara-negara Barat,
Ukraina tidak mampu melumpuhkan Rusia. Seorang pensiunan letnan kolonel
Angkatan Bersenjata Swiss bahkan menegaskan bahwa jalannya operasi militer di
Ukraina telah membuktikan bahwa NATO tidak mampu melancarkan serangan langsung
terhadap Rusia. Ini bukan lagi tentang kekuatan militer semata, tetapi tentang
daya tahan dan kemampuan strategis.
Sementara itu, di Timur Tengah, perang antara Amerika-Israel melawan Iran menyajikan narasi serupa. Analisis dari berbagai media internasional menggambarkan situasi ini sebagai "kegagalan strategis" dan "bencana" bagi Amerika. Iran, yang dianggap sebagai kekuatan regional yang lebih lemah, justru berhasil menggunakan strategi "paksaan segitiga" dengan menyerang negara-negara Teluk yang lebih rentan dan menguasai Selat Hormuz—jalur vital perdagangan minyak dunia. Hasilnya? Amerika dan Israel gagal mencapai tujuan mereka untuk menggulingkan rezim atau menetralisir ancaman nuklir
Realitas Baru: Tidak Ada Dominasi TunggalKedua konflik ini dengan jelas menunjukkan satu
hal: pertarungan antara NATO, Amerika, dan Israel di satu sisi dengan Rusia,
China, Iran, dan Korea Utara di sisi lain tidak menghasilkan dominasi yang
jelas. Ini bukanlah perang dingin baru dengan dua kubu yang jelas, melainkan pertunjukan
multipolaritas yang sebenarnya.
Seorang analis dari *The Atlantic* bahkan
menggambarkan Amerika saat ini sebagai "superpower nakal"—sebuah
kekuatan yang semakin terisolasi dan ditinggalkan oleh sekutu tradisionalnya.
Survei menunjukkan bahwa kepercayaan terhadap Amerika Serikat sebagai mitra
yang dapat diandalkan menurun drastis, dengan banyak warga di Kanada, Jerman,
dan Inggris justru menganggap China lebih dapat diandalkan daripada Amerika.
China: Pemenang di Tengah Kekacauan
Di tengah ketidakpastian ini, China muncul sebagai
aktor yang cerdik. Sementara dunia dilanda konflik, China memanfaatkan situasi
dengan mengambil peran yang tepat dan menuai berbagai keuntungan.
Dalam bidang ekonomi, China membuktikan
ketahanannya. Ketika krisis Selat Hormuz mengganggu pasokan energi global,
China justru relatif terlindungi karena cadangan minyak dan gas yang besar
serta investasi dalam energi bersih. Lebih dari itu, China berhasil
mempromosikan diri sebagai mitra dagang yang stabil dan dapat diandalkan di
tengah kekacauan global.
Dari sisi teknologi, lompatan China semakin nyata.
Data menunjukkan bahwa pada tahun 2026, ekspor produk teknologi tinggi China
melonjak, dengan ekspor semikonduktor tumbuh 111% dalam satu tahun dan ekspor
komponen komputer meningkat 66%. Semua ini didorong oleh gelombang investasi AI
global yang justru menguntungkan China sebagai produsen utama komponen
teknologi.
Menuju Tatanan Dunia Multipolar yang (Agak) Demokratis?
Yang menarik, pergeseran ini membawa angin segar
bagi negara-negara di Global South. Dunia yang multipolar berarti lebih banyak
suara yang didengar, lebih banyak kekuatan yang diperhitungkan. BRICS,
misalnya, hadir bukan untuk menghancurkan tatanan dunia yang ada, tetapi untuk
mendefinisikan ulang berdasarkan multilateralisme, keadilan, dan stabilitas
global.
Tatanan dunia baru yang multipolar ini diharapkan
lebih inklusif dan demokratis, memberikan ruang bagi negara-negara berkembang
untuk menentukan nasib mereka sendiri tanpa harus tunduk pada dominasi satu
kekuatan adidaya. Bukan lagi dunia di mana Washington menjadi pusat dari segala
keputusan global, melainkan dunia dengan banyak pusat kekuasaan yang saling
berdialog dan bernegosiasi.
Namun, Akankah Dunia Lebih Damai?
Inilah pertanyaan yang paling krusial. Meskipun
pergeseran menuju multipolaritas tampak lebih demokratis di atas kertas, jalan
menuju ke sana bukanlah tanpa tantangan. Sebaliknya, transisi ini digambarkan
sebagai "kacau". Ketegangan antar kekuatan besar masih tinggi, dan
risiko konflik tetap nyata.
Analis memperingatkan bahwa meskipun Amerika dan
Israel memiliki kekuatan militer yang luar biasa, Iran telah menunjukkan bahwa
superioritas militer tidak lagi menjamin kemenangan politik. Ini adalah
pelajaran berharga: kekuatan keras saja tidak cukup di dunia yang terhubung dan
saling bergantung.
Dunia multipolar mungkin berarti lebih banyak
negosiasi dan kompromi, tapi juga potensi konflik yang lebih kompleks dengan
lebih banyak aktor yang terlibat.
Pada akhirnya, meredupnya kekuatan Amerika sebagai
satu-satunya adidaya adalah fakta yang semakin sulit disangkal. Yang muncul
adalah dunia multipolar dengan China sebagai salah satu pemenang utama,
negara-negara Global South yang semakin vokal, dan tatanan kekuasaan yang lebih
tersebar.
Apakah ini berarti dunia lebih damai? Jawabannya
mungkin bergantung pada bagaimana kita mendefinisikan perdamaian. Jika
perdamaian berarti tidak ada satu kekuatan pun yang bisa mendominasi dan
memaksakan kehendaknya, maka multipolaritas membawa angin segar. Namun jika
perdamaian berarti stabilitas dan kepastian, maka dunia yang sedang
bertransformasi ini justru menyimpan banyak ketidakpastian.
Satu hal yang pasti: kita sedang menyaksikan akhir
dari era unipolar dan awal dari babak baru dalam sejarah peradaban manusia.
Apakah ini akan menjadi cerita tentang perdamaian yang lebih demokratis atau
kekacauan yang lebih terfragmentasi, waktu yang akan menjawab.

