Senin, 28 September 2026

Meme Boleh Ramai, Pemerintahan Harus Tetap Tegar


Oleh Harmen Batubara

Meme tentang Prabowo belakangan ini begitu ramai di ruang publik. Ada yang menghibur, ada yang menyindir, bahkan ada yang terasa cukup tajam.

Untungnya, seorang pemimpin memang dituntut untuk tetap legowo.

Sebab di tengah derasnya arus informasi, dunia sedang menghadapi persoalan yang lebih besar: mistrust dan distrust—semakin banyak orang mudah curiga dan semakin sulit memberikan kepercayaan.

Dalam situasi seperti ini, emosi mudah tersulut, konflik mudah membesar, sementara komunikasi dapat dengan cepat menemui jalan buntu.

Karena itu, inilah saatnya pemerintah tidak terlalu sibuk menghadapi kebisingan, tetapi fokus bekerja.

Program yang baik harus dioptimalkan. Pelayanan publik harus diperbaiki. Penegakan hukum harus dilakukan secara konsisten. Pemerintahan harus semakin hadir sebagai institusi yang melayani, mengayomi, melindungi, sekaligus menertibkan.

Kalau angka kepuasan publik menurun, jangan buru-buru menganggapnya sebagai serangan. Jadikanlah ia sebagai alarm untuk melakukan koreksi.

Sebab kritik, apabila diterima dengan kepala dingin, bukan selalu ancaman. Kritik dapat menjadi cermin untuk melihat apa yang belum berjalan sebagaimana mestinya.

Kita juga harus jujur mengakui:


Program yang bagus belum tentu menghasilkan manfaat yang bagus apabila pelaksanaannya buruk.

Di sinilah persoalan kompetensi menjadi sangat penting.

Jangan sampai sebuah kebijakan yang dirancang dengan baik kehilangan manfaat hanya karena salah pelaksana, lemahnya pengawasan, koordinasi yang buruk, atau orang yang ditempatkan tidak sesuai dengan kemampuan dan tanggung jawabnya.

Karena itu, pemerintah membutuhkan profesionalisme dan meritokrasi.

Penempatan orang semestinya semakin mengutamakan kemampuan, integritas, pengalaman, dan prestasi—bukan semata-mata karena kedekatan politik, kepartaian, atau kepentingan koalisi.

Koalisi boleh menjadi kekuatan politik.

Tetapi kompetensi harus menjadi kekuatan pemerintahan.

Presiden Prabowo sendiri pada September 2026 menyatakan bahwa bangsa yang memilih jalan demokrasi harus terbuka terhadap kritik dan koreksi, selama semuanya diarahkan untuk kepentingan rakyat. (Setneg)

Maka kritik ini saya sampaikan bukan untuk memperlemah pemerintah.

Justru sebaliknya.

Saya ingin pemerintah semakin kuat karena mau memperbaiki diri.

Pak Prabowo, mungkin inilah saatnya kembali menunjukkan ketegaran seorang komandan profesional: tidak mudah terseret oleh riuhnya meme, tidak terpancing oleh kritik, tetapi mampu membaca tanda-tanda zaman, memperbaiki yang kurang, mempertahankan yang sudah baik, dan memastikan setiap program benar-benar sampai kepada rakyat.

Karena pada akhirnya, yang akan dikenang bukanlah seberapa banyak meme yang beredar.

Yang akan dikenang adalah seberapa jauh sebuah pemerintahan mampu memperbaiki kehidupan rakyatnya.

Tetap tegar.
Tetap terbuka terhadap kritik.
Tetap bekerja.

Koreksi bukan tanda kelemahan.
Koreksi adalah jalan menuju pemerintahan yang lebih baik.