Oleh Harmen Batubara
Meme tentang Prabowo belakangan ini begitu ramai di ruang publik. Ada
yang menghibur, ada yang menyindir, bahkan ada yang terasa cukup tajam.
Untungnya, seorang pemimpin memang dituntut untuk tetap legowo.
Sebab di tengah derasnya arus informasi, dunia sedang menghadapi
persoalan yang lebih besar: mistrust dan distrust—semakin banyak orang
mudah curiga dan semakin sulit memberikan kepercayaan.
Dalam situasi seperti ini, emosi mudah tersulut, konflik mudah membesar,
sementara komunikasi dapat dengan cepat menemui jalan buntu.
Karena itu, inilah saatnya pemerintah tidak terlalu sibuk menghadapi
kebisingan, tetapi fokus bekerja.
Program yang baik harus dioptimalkan. Pelayanan publik harus diperbaiki.
Penegakan hukum harus dilakukan secara konsisten. Pemerintahan harus semakin
hadir sebagai institusi yang melayani, mengayomi, melindungi, sekaligus
menertibkan.
Kalau angka kepuasan publik menurun, jangan buru-buru menganggapnya sebagai
serangan. Jadikanlah ia sebagai alarm untuk melakukan koreksi.
Sebab kritik, apabila diterima dengan kepala dingin, bukan selalu
ancaman. Kritik dapat menjadi cermin untuk melihat apa yang belum berjalan
sebagaimana mestinya.
Kita juga harus jujur mengakui:
Program yang bagus belum tentu menghasilkan manfaat yang bagus apabila pelaksanaannya buruk.
Di sinilah persoalan kompetensi menjadi sangat penting.
Jangan sampai sebuah kebijakan yang dirancang dengan baik kehilangan
manfaat hanya karena salah pelaksana, lemahnya pengawasan, koordinasi yang buruk,
atau orang yang ditempatkan tidak sesuai dengan kemampuan dan tanggung
jawabnya.
Karena itu, pemerintah membutuhkan profesionalisme dan meritokrasi.
Penempatan orang semestinya semakin mengutamakan kemampuan, integritas,
pengalaman, dan prestasi—bukan semata-mata karena kedekatan politik,
kepartaian, atau kepentingan koalisi.
Koalisi boleh menjadi kekuatan politik.
Tetapi kompetensi harus menjadi kekuatan pemerintahan.
Presiden Prabowo sendiri pada September 2026 menyatakan bahwa bangsa
yang memilih jalan demokrasi harus terbuka terhadap kritik dan koreksi, selama
semuanya diarahkan untuk kepentingan rakyat. (Setneg)
Maka kritik ini saya sampaikan bukan untuk memperlemah pemerintah.
Justru sebaliknya.
Saya ingin pemerintah semakin kuat karena mau memperbaiki diri.
Pak Prabowo, mungkin inilah saatnya kembali menunjukkan ketegaran
seorang komandan profesional: tidak mudah terseret oleh riuhnya meme, tidak
terpancing oleh kritik, tetapi mampu membaca tanda-tanda zaman, memperbaiki
yang kurang, mempertahankan yang sudah baik, dan memastikan setiap program
benar-benar sampai kepada rakyat.
Karena pada akhirnya, yang akan dikenang bukanlah seberapa banyak meme
yang beredar.
Yang akan dikenang adalah seberapa jauh sebuah pemerintahan mampu
memperbaiki kehidupan rakyatnya.
Tetap tegar.
Tetap terbuka terhadap kritik.
Tetap bekerja.
Koreksi bukan tanda kelemahan.
Koreksi adalah jalan menuju pemerintahan yang lebih baik.
