Jumat, 09 Agustus 2013

Kudeta Militer- Membandingkan Mesir dan Indonesia | KawasanPerbatasan.com

Kudeta Militer- Membandingkan Mesir dan Indonesia | KawasanPerbatasan.com



Oleh: Wiranto[1]
Gejolak politik di Mesir belum juga usai. Kelompok pendukung presiden terguling Muhammad Mursi masih terus melakukan berbagai upaya menolak pemerintahan baru dari hasil kudeta militer. Situasi tidak menentu di Mesir berawal dari ketidakpuasan terhadap kinerja satu tahun pemerintahan Presiden Mursi, yang kemudian mendapat dukungan militer. Mereka mengultimatum Mursi agar mampu menyelesaikan persoalan yang menjadi tuntutan oposisi.
Ultimatum itu ditolak mentah-mentah oleh Mursi yang berlatar belakang kelompok Ikhwanul Muslimin. Pendukung utama Mursi: Partai Kebebasan dan Keadilan, adalah pemenang pemilu. Akhirnya militer mengambil alih kekuasaan Mursi pada 3 Juli 2013 dengan dipimpin Panglima Militer Jenderal Abdel Fatah Sisi. Ketua Mahkamah Agung Adly Mansour ditunjuk sebagai presiden transisi.
Langkah ini tak bisa diterima Ikhwanul Muslimin dan para pendukung Mursi. Mereka berdemonstrasi, melibatkan lebih dari sejuta massa, dan meminta Mursi dikembalikan sebagai presiden. Bentrokan pun tak terhindarkan dengan puluhan korban jiwa dan ratusan orang lainnya menderita luka-luka.

Mei 1998 

Situasi seperti ini pernah kita alami. Saat itu terjadi demonstrasi besar-besaran di pelbagai kota yang menuntut mundur Presiden Soeharto. Konsentrasi ratusan ribu orang mengepung Ibu Kota. Kejadian bermula tanggal 13 Mei 1998, tatkala mahasiswa Universitas Trisakti Jakarta tengah berkabung lantaran empat rekannya meninggal tertembak aparat kepolisian saat berunjuk rasa pada 12 Mei 1998.
Sebagian mahasiswa ikut mengantarkan jenazah ke pemakaman. Iring-iringan kemudian menimbulkan konsentrasi massa di beberapa lokasi. Tanpa ada yang mengomando, konsentrasi massa pun bergerak. Situasi ini diikuti kelompok kerumunan lain sehingga terjadilah pergerakan massa di banyak lokasi.
Dimulai dari kawasan Jalan Kyai Tapa, Grogol, lalu Jalan Daan Mogot dan Jalan S Parman, makin lama, kerumunan orang meluas. Mereka tak hanya bergerak, tetapi juga merusak dan menjarah. Keesokan harinya, 14 Mei 1998, kerusuhan merembet ke wilayah sekeliling Jakarta. Perusakan, penjarahan, dan pembakaran juga terjadi di Depok, Tangerang, dan Bekasi. Selaku Panglima ABRI saat itu, saya berinisiatif menggelar rapat luar biasa yang melibatkan unsur polisi, TNI, Panglima Komando Utama ABRI, dan Gubernur DKI.
Saya langsung meminta Pangdam Jaya dan Kapolda Metro Jaya untuk mengomando dan mengendalikan langsung di lapangan. Pasukan dari Jawa Timur, Kostrad, dan Marinir ikut saya perintahkan menjaga keamanan Ibu Kota. Hanya dalam tempo tiga hari sejak kerusuhan meletus, situasi dapat dikuasai aparat keamanan. Pada tanggal 15 Mei 1998, kondisi Ibu Kota dan sekitarnya berangsur pulih.
Saya tak bermaksud memamerkan keberhasilan meredam situasi huru-hara di Jakarta pada saat itu. Sama sekali tak benar jika TNI membiarkan kondisi rusuh dan penjarahan saat itu. Jika memang TNI melakukan pembiaran, mustahil kerusuhan itu bisa terkendali dalam tiga hari.
Memang korban jiwa akibat massa yang terbakar di beberapa pertokoan dikabarkan mencapai lebih dari 200 orang. Itu sungguh sangat menyedihkan dan amat kami sesalkan. Karena itu, aparat saya perintahkan segera menghentikan kerusuhan agar korban tidak terus bertambah.
Marilah kita tengok pula kerusuhan di Los Angeles, Amerika Serikat, pada tahun 1992. Kejadian bermula pada 3 Maret 1991 ketika warga kulit hitam Rodney King tertangkap dan dianiaya empat polisi. Kebetulan ada seorang warga yang merekam peristiwa itu dan menyerahkannya ke stasiun televisi.
Protes pun berdatangan sehingga akhirnya keempat polisi diseret ke pengadilan. Ketika pengadilan setempat pada 29 April 1992 menyatakan empat polisi itu tak bersalah, meledaklah suara ”ketidakadilan rasial”.
Kerusuhan meledak di Los Angeles dan berjalan berhari-hari. Penjarahan terjadi di mana- mana. Ratusan toko dan fasilitas sosial dibakar. Lebih dari 50 orang tewas, ribuan orang terluka, dan 5.000 orang ditangkap.
Jangan pula kerusuhan Mei dibandingkan dengan perebutan kekuasaan di Suriah dan Libya. Perang di Suriah yang berlangsung hampir 26 bulan itu membunuh lebih dari 100.000 nyawa. Adapun perebutan kekuasaan di Libya yang akhirnya menewaskan Presiden Moammar Khadafy membuat lebih dari 30.000 nyawa melayang.

Kudeta militer

Satu lagi pembeda utama antara peristiwa di Mesir dan Indonesia adalah peran militer. Di Mesir, meski tanpa mandat, militer mengambil alih kekuasaan. Di Indonesia, militer memilih tetap menjaga kelangsungan kehidupan yang demokratis. Pada tanggal 18 Mei 1998, tiga hari sebelum mengundurkan diri, Presiden Soeharto menandatangani Instruksi Presiden Nomor 16 Tahun 1998 yang mengangkat Menhankam/Panglima ABRI sebagai Panglima Komando Operasi Kewaspadaan dan Keselamatan Nasional. Inti dari Inpres itu adalah memberi kewenangan kepada Panglima ABRI menentukan kebijakan nasional menghadapi krisis, mengambil langkah secepatnya untuk mencegah dan meniadakan penyebab atau peristiwa yang mengakibatkan gangguan nasional, serta meminta para menteri dan pemimpin lembaga pusat serta daerah membantu tugas Panglima ABRI.
Kondisi sangat kritis, Indonesia di ambang perang saudara, salah melangkah bisa membawa kehancuran total. Wajarlah kalau Kassospol saat itu, Letjen TNI Susilo Bambang Yudhoyono, bertanya, ”Apakah Panglima akan mengambil alih?”
Saya jawab, ”Tidak ! Mari kita antar proses pergantian pemerintahan secara konstitusional.”
Bagi saya demokrasi adalah jalan terbaik. Tidak ada alasan untuk membangun otoritarianisme dan kediktatoran. Pengambilalihan kekuasaan atau kudeta bagi saya merupakan pengkhianatan terhadap demokrasi. Kudeta juga berarti mengabaikan hak rakyat dalam pemilu.
Jika itu terjadi, peristiwa itu akan merupakan sejarah buruk dan cacat demokrasi dalam perjalanan kita berbangsa dan bernegara. Saya lebih memilih menjaga demokrasi daripada sekadar berkuasa, tetapi menghalalkan segala cara.

Mendagri pimpin Raker BNPP ke-5 dan Semangat Membangun Wilayah Perbatasan | WilayahPerbatasan.com

Mendagri pimpin Raker BNPP ke-5 dan Semangat Membangun Wilayah Perbatasan | WilayahPerbatasan.com

Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) 18 juli 2014 menggelar rapat kerja ke-lima di HOTEL BOROBUDUR, LAPANGAN BANTENG, JAKARTA PUSAT. Rapat kerja yang bertemakan ‘DENGAN MEMBUKA KETERISOLASIAN KAWASAN PERBATASAN, KITA WUJUDKAN KESEJAHTERAAN RAKYAT DALAM KERANGKA NKRI’ ini, dipimpin oleh Ketua Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) dalam hal ini Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi.
Rapat kerja yang dimulai pukul 09:30 WIB ini dihadiri juga PANGLIMA TNI LAKSAMANA AGUS SUHARTONO, dan MENTERI PERENCANAAN PEMBANGUNAN NASIONAL (PPN)/KEPALA BAPPENAS ARMIDA SALSIAH ALISJAHBANA. Sementara Kementerian lainnya yang terkait dengan BNPP ini, DIWAKILI OLEH WAKIL MENTERI ATAU PEJABAT ESELON 1. SELAIN ITU, 13 GUBERNUR YANG MERUPAKAN ANGGOTA BNPP juga turut hadir.
Dari pelaksanaan Raker ini saja kita sudah mafhum bahwa dalam hal soal rapat negara kita memang tiada tandingannya-tapi begitu melihat realitas di perbatasan sungguh sangat kontras. Para penentu kebijakan negara itu dapat rapat tenang dan penuh fasilitas sementara wilayah dan warga yang di rapatkan itu benar-benar tengah sekarat. Sekarat karena terisolasi, sekarat karena urat nadi ekonomi yang mati dan mereka tidak memiliki akses apa-apa kecuali kemalaratan itu sendiri. Benar-benar kehidupan yang mematikan.
Rapat BNPP ini sendiri adalah kali ke-5  serta difokuskan pada satu isu strategis khusus, yaitu isu tentang keterisoalisian kawasan perbatasan. Menurut Ketua Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) yang juga merupakan Menteri Dalam Negeri Gamawan Fauzi menuturkan, ada lima agenda utama pengelolaan perbatasan negara.
Pertama, agenda penetapan dan penegasan batas wilayah negara. Kedua, agenda peningkatan pertahanan, keamanan dan penegakkan hukum. Ketiga agenda pengembangan ekonomi kawasan. Keempat, peningkatan pelayanan sosial dasar; dan Kelima, agenda penguatan kelembagaan.

Gaungnya dan Gemuruh Rapat

Rapat akbar BNPP ke -5 ini tentu akan menarik perhatian para media, dan berbagai pejabat lain terkait ikut juga terekpos; misalnya Menkopolhukam, beliau  dalam tuturannya bersyukur bahwa pengelolaan perbatasan masih menjadi pokok kebijakan, karena berkaitan erat dengan rencana pembangunan nasional. Selain itu juga berkaitan dengan ketahanan dan keamanan nasional dan upaya meningktakan kesejahteraan.
Menurut beliau “Pemerintah pada dasarnya memiliki komitmen tinggi dengan reorientasi pendekatan pembangunan dari semula kepentingan keamanan menjadi kesejahteraan dan kelestarian lingkungan hidup. Dengan komitmen ini tak lagi perbatasan menjadi halaman belakang, tapi halaman depan,”
Menurut Menkopolhukam, ada 3 aspek yang menjadi perhatian dalam pembangunan perbatasan wilayah. Pertama aspek geografi di mana sampai hari ini masih memiliki potensi wilayah kepulauan yang belum dioptimalkan dengan baik; Aspek kedua, lanjutnya, adalah demografis, di mana saat ini kepadatan penduduk tidak merata akibat penyebaran penduduk yang tidak merata, terutama di daerah perbatasan. Rendahnya kualitas hidup dan rendahnya kesejahteraan dapat menimbulkan kejahatan. “Misalnya illegal loging, ini menjadi tantagan bersama.”; dan Aspek ketiga, sambung nya lagi, terkait banyaknya wilayah perbatasan daerah yang masih terisolir dan tertinggal, namun bersinggungan dengan negara lain. Maka itu rentan masuknya paham asing dan sangat mudah dipengaruhi kepentingan politik negara perbatasan.
Selain itu, aspek lain yang harus diperhatikan terkait wilayah perbatasan mudahnya budaya asing masuk ke wilayah perbatasan. Dari sisi keamanan juga sangat berpengaruh, kondisi ini ditambah dengan sarana dan prasarana yang kurang baik. “Hal ini berdampak pada keamanan nasional baik langsung maupun tak langsung,” Maka itu, menurut Menkopolhukam, beberapa pembangunan yang harus dilakukan adalah pembangunan infrastruktur di perbatasan, sekaligus mendorong potensi pertumbuhan strategis. Selain itu juga meningkatkan SDM setempat agar mampu memanfaatkan potensi sumber daya yang ada dan semakin kokoh wilayah perbatas NKRI.
Tokoh lain yang juga  memberikan komentar adalah  Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Bappenas  Armida Salsiah Alisjahbana; menurutnya  untuk pembangunan perbatasan perlu dilakukan pembangunan konektifitas bisa dilakukan dengan membangun jalan non status yang menghubungkan antar desa. Tidak hanya itu, Armida juga menilai untuk membuka keterisolasian perbatasan negara, perlu juga dilakukan pembangunan infrastruktur jalan, untuk konektifitas jalur darat dan laut. Pembangunan akses untuk konektifitas tersebut, lanjutnya, bisa dilakukan dengan membentuk lokasi prioritas (lokpri) untuk membangun wilayah perbatasan. Sedangkan untuk wilayah perbatasan laut, permasalahan utamanya adalah minimnya akses antar pulau terluar.
“Pembangunan atau rehabilitasi dermaga kecil (perintis) dan tambahan perahu di pulau-pulau terpencil serta terluar. Hanya saja menurutnya  anggaran pemerintah masih minin untuk melakukan pembangunan jalan konektifitas tersebut. “Pemerintah hanya memiliki anggaran Rp26 triliun untuk 19 dana alokasi khusus (DAK). Oleh karena itu, pemerintah berencana akan melibatkan invenstor,” imbuhnya.

Kementerian Lain Juga Mulai Aksi

KEMENTERIAN Perumahan Rakyat (Kemenpera) RI mengalokasikan 3.750 rumah khusus untuk masyarakat berpenghasilan rendah di Kabupaten Belu, wilayah batas antara RI-Timor Leste.  ”Jumlah alokasi rumah tersebut terdiri dari 2.305 unit merupakan sisa tahun 2011 dan sisanya 1.445 unit merupakan usulan baru pada tahun 2012,” kata Bupati Belu Joachim Lopez di Atambua, Kamis (06/12/) waktu itu. Joachim mengatakan, hal itu menjawab soal intervensi pemerintah pusat terhadap Pemerintah Kabupaten Belu untuk mengatasi pemenuhan kebutuhan akan rumah yang layak huni bagi warga di wilayah yang berbatasan dengan Timor Leste tersebut.  Ia mengakui masih banyak masyarakat yang tersebar di 24 kecamatan di kabupaten tersebut, yang belum mermiliki rumah layak huni, dan membutuhkan fasilitas bantuan perumahan tersebut.
Pemerintah Kabupaten Belu sudah menerima kucuran bantuan Rp 350 miliar dari Kementerian Perumahan Rakyat RI untuk pembangunan perumahan di kabupaten yang berbatasan langsung dengan Timor Leste itu. “Jumlah itu yang terbesar dari keseluruhan bantuan yang dikucurkan pemerintah pusat oleh sejumlah kementerian yang mencapai total Rp 825 miliar,” kata Joachim. Terhadap alokasi jumlah perumahan yang diberikan tersebut, katanya, Pemerintah Kabupaten Belu telah menyediakan lahan untuk pelaksanaan pembangunan perumahan tersebut.  Pemerintah Kabupaten Belu telah mengeluarkan kebijakan untuk membagi alokasi 3.750 unit rumah di Kabupaten Belu tersebut, selain untuk kepentingan masyarakat berpenghasilan rendah, tetapi juga akan disalurkan kepada warga eks-pengungsi Timor Timur yang masih berada di daerah tersebut dan telah memilih untuk menjadi warga negara Indonesia.
Dia berharap, dengan perhatian pemerintah melalui Kementerian Perumahan Rakyat RI tersebut, bisa memberikan manfaat warga miskin dan warga eks-Timor Timur di wilayah perbatasan tersebut, untuk bisa meningkatkan derajat ekonomi dan mencapai kesejahteraannya.  Menteri Perumahan Rakyat RI Djan Faridz mengatakan alokasi kuota bantuan rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah pada 2012 berjumlah 250 ribu unit yang akan disalurkan ke seluruh wilayah negara kepulauan tersebut. “Jumlah itu merupakan alokasi kuota yang pemerintah sediakan di tahun 2012 ini dan sedang disalurkan sesuai permintaan pemerintah daerah masing-masing,” kata Djan Faridz saat berkunjung ke Desa Fatulotu, Kecamatan Lasiolat, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur, beberapa waktu lalu. (IndonesiaRayaNews.com)
Di Provinsi Kalimantan Timur semangat memperkuat pembangunan perbatasan itu juga semarak. Pemda menargetkan akhir tahun ini sudah mampu menuntaskan pembangunan tiga landasan pacu di perbatasan Indonesia-Malaysia. Pembangunannya TERLETAK DI LONG BAWAN KABUPATEN NUNUKAN, LONG AMPUNG DI KABUPATEN MALINAU, DAN DATAH DAWAI KABUPATEN KUTAI BARAT (KUBAR). “Mudah-mudahan akhir tahun sudah bisa rampung, itu target kita. Sehingga bisa difungsikan. Harapannya, pesawat Herucles dan pesawat ATR bisa mendarat agar berdampak positif untuk ekonomi,” kata Wakil Gubernur Kalimantan Timur, Farid Wadjdy, Senin, 1 April 2013.
Landasan pacu Bandara Long Bawan diperpanjang dari 1.500 meter menjadi 1.600 meter dengan lebar 30 meter. Di Bandara Long Apung dari 940 meter menjadi 1600 meter dan lebar 30 meter. Adapun di Bandara Datah Dawai dari 850 meter menjadi 1600 meter dan lebar 30 meter. Total dana yang digunakan untuk pengembangan tiga bandara tersebut, mencapai Rp 400 miliar, dianggarkan melalui APBD Kaltim 2012 dan 2013. Biaya terbesar untuk pengembangan Bandara Datah Dawai yang menelan anggaran mencapai Rp 150 miliar, diikuti Bandara Long Ampung sebesar Rp 130 miliar, dan Bandara Long Bawan sbebsar Rp 120 miliar.
Farid mengatakan tiga bandara tersebut nantinya akan berfungsi sebagai jalur distribusi bahan bahan pokok di perbatasan. Selama ini, sulitnya distribusi membuat harga  sejumlah bahan pokok melambung tinggi dibandingkan kota lain di Kalimantan Timur. “Semen satu sak bisa mencapai  Rp 1,3 juta. Ini akibat pasokannya langka di perbatasan,” ujarnya. Selain itu, Farid mengatakan bandara juga bisa difungsikan sebagai sarana pengamanan dan ketahanan Negara di perbatasan. TNI bisa memanfaatkannya untuk sirkulasi pasukan hingga kebutuhan pokok anggota di lapangan. “Sehingga pembangunanya kerjasama antara pemda dengan TNI,” katanya. Dalam rangka pembangunan wilayah perbatasan, aspek kesejahteraan sangat penting bagi masyarakat di kawasan perbatasan. Pelayanan sosial pun harus dilakukan secara nyata di kawasan perbatasan.(Tempo; april 2013)

Selasa, 16 Juli 2013

Negara Kepulauan Negara Benua Maritim

Oleh: Muhidin M Dahlan[1]

Rangga Lawe, pendekar pesisir terbaik pelabuhan Tuban, akhirnya mati di air tawar pedalaman Jawa (Sungai Tambakberas). Kematian yang dramatis pada 1295 itu diinformasikan Kitab Pararaton dan didedah secara detail dalam Kidung Rangga Lawe. Kematian tragis itu kemudian didramatiskan S Tidjab dan Sanggar Prativi secara audio di serial sandiwara Tutur Tinular (1989), khususnya Episode 10 dan 11.

Oleh: Muhidin M Dahlan[1]

Rangga Lawe, pendekar pesisir terbaik pelabuhan Tuban, akhirnya mati di air tawar pedalaman Jawa (Sungai Tambakberas). Kematian yang dramatis pada 1295 itu diinformasikan Kitab Pararaton dan didedah secara detail dalam Kidung Rangga Lawe. Kematian tragis itu kemudian didramatiskan S Tidjab dan Sanggar Prativi secara audio di serial sandiwara Tutur Tinular (1989), khususnya Episode 10 dan 11.
Rangga Lawe—atau Piagam Kudadu menyebutnya Arya Adikara—tumbang di air tawar pedalaman Jawa. Kita membaca tumbangnya Rangga Lawe sebagai nubuat hilangnya pamor Maritim di Jawa.
Tuban pada masanya adalah pelabuhan internasional terbesar. Ketika masa suram Majapahit datang, lenyap pula kebesarannya. Dalam novel klasik Pramoedya Ananta Toer, Arus Balik, kekuatan maritim Tuban tersaruk tak berdaya ke bawah pasir.
Armada maritim Tuban hancur segalanya tatkala rezim pasca-Majapahit, yakni Demak, lebih berorientasi pada air tawar di pedalaman. Demak lebih kagum pada angkatan darat (kuda) ketimbang angkatan laut (kapal). Pada akhirnya parafrase: ”Jawa ini lautnya luas daratannya kecil” mirip dengan dongengan yang nyeri.

Ironi maritim

Art Jog 13 dan Borobudur Writers & Cultural Fest secara bersamaan mengangkat ”Maritime Culture” serta ”Bahari dan Rempah Nusantara” sebagai tema penjelajahan dan perbincangan kreatif tahun 2013. Dua penyelenggaraan event seni dan kreativitas di Yogyakarta dan Jawa Tengah ini seperti merayakan ironi panjang yang nyeri tentang maritim.
Yogyakarta dan juga Borobudur memang dekat dengan laut. Namun, lautnya lebih banyak terbentuk sebagai dongeng negatif lewat tuturan Nyi Roro Kidul. Laut selatan adalah laut mati, laut yang tak produktif. Di kota dengan tradisi maritim yang ”negatif” inilah tinggal seniman, perajin, sekolah seni, dan penulis budaya. Mereka diminta untuk memeriksa dan merayakan (matinya) kultur maritim itu.
Peristiwa seni itu hanya serangkaian kronik dari suara-suara yang (ingin) mengembalikan (peradaban) maritim yang riuh di media massa dalam 10 tahun terakhir ini. Dan tentu saja disertai lini masa peristiwa buruk di paras maritim.
Yang agak mengagetkan adalah ketika Raja Mataram Sultan Hamengku Buwono X menyerukan untuk membangun budaya maritim ini dalam sebuah kampanye politik tahun 2009. Kita tahu, tak ada jejak budaya maritim yang kuat dalam Kesultanan Mataram.
Ketika menyerang pelabuhan laut VOC di Batavia pada 1629, Sultan Agung menggunakan armada darat. Dan kalah. Yang tersisa dari kekalahan itu adalah tanah-tanah pertanian (agraris) di desa-desa sepanjang Jawa Barat yang dilalui armada darat, terutama Karawang dan Cirebon.

Menonton maritim

”Rangga Lawe mati” adalah kutukan. Berabad-abad tak bertolak ke laut, kita lupa bagaimana bau laut, bahasa ikan, rempah, cara berperang di atas buih ombak, dan cara mengeksplorasi bahari menjadi kekuatan ekonomi baru.
Bahkan, lupanya kita bersifat mendasar, seperti kata WS Rendra (2008) di Yogyakarta, ”Negara kita adalah negara satu-satunya di dunia yang memiliki laut. Negara-negara lain hanya mempunyai pantai. Tetapi, negara kita mempunyai Laut Natuna, Laut Jawa, Laut Sulawesi, Laut Flores, Laut Banda, Laut Aru, Laut Arafuru, Laut Maluku, Laut Seram, Laut Halmahera, Laut Timor, dan Laut Sawu. Namun, toh, ketatanegaraan kita tetap saja ketatanegaraan
negara daratan, bukan Negara Kesatuan Maritim Republik Indonesia.”
Pemerintah sudah menghafal setiap jengkal luas laut dan pantai Nuswa Antara bernama Indonesia ini. Namun, data itu ditafsir sebagai pariwisata. Tak jauh dari itu. Maritim dilihat bukan sebagai budaya dan sikap, apalagi politik, melainkan maritim sebagai tontonan.
Karena tontonan ini pula, misalnya, pemerintah mendaratkan orang-orang Bajo di Gorontalo dan Manado. Mereka diminta menetap, bertani, dan ikut program Keluarga Berencana. Padahal, kata etnografer asal Perancis, Francois-Robert Zaco (2008), orang-orang Bajo telah hidup di atas buih laut berabad-abad lamanya. Perahu adalah rumahnya. Ikan adalah teman hidupnya.
Dan realitas baru yang menimpa orang Bajo pada abad ke-21 adalah bergelombang orang-orang film atas persetujuan pemerintah menjadikan orang-orang laut ini jadi tontonan.
Di Yogyakarta tahun 2013, mari ramai-ramai menonton kultur maritim sampai tandas.

[1] Muhidin M Dahlan Koordinator Penulisan Almanak Seni Rupa Jogja; Bergiat Di Warungarsip.Co Yayasan Indonesia Buku;kompas.11 juli 2013

Rabu, 05 Juni 2013

RUU Komponen Cadangan, Secara Konsep lemah dan Tidak Terintegrasi | WilayahPertahanan.Com

RUU Komponen Cadangan, Secara Konsep lemah dan Tidak Terintegrasi | WilayahPertahanan.Com

Indonesia kini tengah bersilat lidah beradu argumen tentang pentingnya tidaknya pembentukan Komponen Cadanga. Para penggiat Kelompok pembela hak asasi manusia (HAM), Imparsial, menolak usulan rancangan undang-undang (RUU) Komponen Cadangan (Komcad) yang memuat wajib militer bagi warga negara sipil. Menurut mereka Pemerintah lebih baik meningkatkan kapasitas komponen pertahanan inti dan teknologi pertahanan yang ada. Kebutuhan membentuk komponen cadangan dianggap belum mendesak karena Indonesia tidak memiliki ancaman perang setidaknya hingga 15 tahun mendatang. Peneliti Imparsial, Al Araf mengatakan itu di Jakarta, Senin (3/6/2013).
Menurut Araf, saat ini konsep pertahanan modern di dunia lebih mengutamakan teknologi dan kualitas sumber daya manusianya ketimbang menambah kuantitas. Misalnya, negara-negara di Eropa yang sudah menghapuskan wajib militer bagi warga sipil dan bahkan mengurangi jumlah tentara atau komponen intinya. “Sekarang bukan lagi seperti Zaman Yunani yang strategi pertahanan itu mengutamakan kuantitas prajurit,” ujarnya.

BRAND NEW UNLOCKED BLACKBERRY Q10 WHITE 16GB

BRAND NEW UNLOCKED BLACKBERRY Q10 WHITE 16GB
From BlackBerry

Price:$714.99

Availability: Usually ships in 1-2 business days
Ships from and sold by HeavyDuty Electronics
11 new or used available from $699.99

Product Description

2G Network GSM 850 / 900 / 1800 / 1900 3G Network HSDPA 4G Network LTE SIM Yes Announced 2013, January Status Available. Released 2013, April Body Dimensions 119.6 x 66.8 x 10.4 mm (4.71 x 2.63 x 0.41 in) Weight 139 g (4.90 oz) Keyboard QWERTY Display Type Super AMOLED capacitive touchscreen, 16M colors Size 720 x 720 pixels, 3.1 inches (~328 ppi pixel density) Multitouch Yes Sound Alert types Vibration, MP3 ringtones Loudspeaker Yes 3.5mm jack Yes Memory Card slot microSD, up to 64 GB Internal 16 GB storage, 2 GB RAM Data GPRS Yes EDGE Yes Speed HSDPA, HSUPA WLAN Wi-Fi 802.11 a/b/g/n, dual band, Wi-Fi hotspot Bluetooth Yes, v4.0 with A2DP NFC Yes USB Yes, microUSB v2.0 Camera Primary 8 MP, 3264 x 2448 pixels, autofocus, LED flash Features Geo-tagging, image stabilization, face detection Video Yes, 1080p@30fps Secondary Yes, 2 MP, 720p Features OS BlackBerry 10 OS Chipset TI OMAP 4470 CPU Dual-core 1.5 GHz Cortex-A9 GPU PowerVR SGX544 Sensors Accelerometer, gyro, proximity, compass Messaging SMS, MMS, Email, Push Email, IM, BBM 6 Browser HTML5 Radio TBD GPS Yes, with A-GPS support Java Yes, MIDP 2.1 Colors Black, White - SNS integration - HDMI port

Dari aspek anggaran, wajib militer juga hanya akan membebani anggaran negara karena membutuhkan pelatihan-pelatihan bagi warga sipil. Lebih baik, kata dia, anggaran tersebut digunakan untuk memperbaharui alutsista TNI dan komponen pertahanan inti lainnya. Yang lebih membahayakan dengan adanya wajib militer adalah penyalahgunaan untuk membentuk milisi-milisi yang berpotensi digunakan dalam konflik horizontal. “Secara sosiologis, itu bisa jadi sarana pelatihan pelaku kejahatan. Akan sulit mengontrolnya, dari kasus Cebongan saja kita bisa lihat bahwa komponen intinya saja sulit dikontrol, apalagi komponen cadangan,” tuturnya.

Negara Demokrasi Negara Sebatas Akan

Indonesia memang negara demokrasi dan negara akan artinya hanya “akan” dan tidak pernah tuntas,. Setiap pendapat perlu didengar dan dicermati, tetapi satu hal yang perlu diingat membangun pertahanan memerlukan usaha mendasar, terintegrasi dan berlanjut. Bukan apa-apa. Dua tahun lalu pemerintah lewat Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) pernah membentuk Garda Batas. Pemerintah membentuk Garda Batas yang terdiri dari para tokoh masyarakat dan pemuda di kawasan perbatasan. Pembentu kan Garda Batas ditujukan sebagai bagian dari pengembangan manajemen lintas batas negara. Ditargetkan, hingga 2014 mendatang anggota Garda Batas akan mencapai dua ribu orang yang tersebar di 111 kecamatan lini terde pan prioritas perbatasan. Keberadaan relawan dalam Garda Batas tersebut perlu ditegaskan peran dan fungsinya. ”Selama dalam konteks membangun partisipasi pembangunan dari masyarakat setempat, banyak pihak melihatnya sebagai sesuatu yang wajar. Namun, jika para relawan yang tergabung dalam Garda Batas tersebut memerankan fungsi pengamanan, apalagi jadi “milisi” tentu masalahnya jadi lain lagi. Fungsi penjagaan pengamanan dan lalu linas batas negara semestinya menjadi tanggungjawab kepolisian yang di back up oleh TNI.
Sudah ada delapan angkatan kader Tasbara yang dididik dan dilatih oleh BNPP untuk ikut serta menjaga perbatasan dan mengembangkan partisipasi masyarakat dalam memelihara dan menjaga perbatasan.   Peserta Bintek Manajemen Tasbara Angkatan IX-X Tahun 2011 diikuti oleh 111 orang terdiri dari Camat 21 orang, Dan Ramil 23 orang, Kapolsek 30 orang, Pemerintahan Kabupaten 27 orang dan Fasilitator 10 orang. Mereka adalah Pembina di level Kecamatan yang membina kader-kader Garda Batas dalam ikut serta memelihara tanda-tanda batas negara dan mengembangkan potensi yang tersedia di kawasan perbatasan. Tetapi kini sudah jadi apa program itu? Jelas program itu sudah tidak terdengar lagi. Seorang kawan malah “miris”, semua itu hanya program cari “duitnya” orang-orang BNPP. Kawan lain juga menilai RUU Komcad kita itu terlalu datar, lemah dan tidak terintegrasi; seolah mereka hanya sekedar berbuat tanpa suatu konsep yang jelas dan utuh.

Komponen Cadangan Melaysia

Malaysia sudah lama mempunyai Komponen Cadangan yang disusun sesuai UUnya dan sudah terintegrasi dengan kekuatan militernya. Menreka menyebutnya Askar wathaniah, dan sudah terintegrasi dengan Satpur, banpur dan banmin tentara regular diraja Malaysia dan jumlahnya juga tidak tangung-tanggung, untuk tahun 2011 jumlahnya sudah mencapai 45 ribu personil dalam 15 divisi. Untuk sepanjang perbatasan Indonesia – Malaysia ( Sabah-Kaltim dan Sarawak-Kalbar) terdapat 4 devisi atau setara 2000 personil.
Askar Wataniah Malaysia (AW) adalah badan sukarela yang merupakan Angkatan Cadangan Tentara Darat Malaysia sebagai benteng kedua dalam mempertahankan negara Malaysia. Penyertaan rakyat dalam AW merupakan satu sumbangan murni dalam menyambut seruan pertiwi Malaysia sesuai dengan konsep HANRUH (Pertahanan Menyeluruh) yang ditetapkan dalam Dasar Pertahanan Negara.
Askar Wataniah (AW) telah diorganisasikan dan distrukturkan dalam komponen-komponen berikut:Elemen Tempur melekat pada satuan Tempur;
Elemen Bantuan Tempur melekat pada bantuan tempur;Elemen Bantuan Pelayanan melekat pada satuan admin;Elemen Pakar; Pasukan Latihan Perwira Cadangan (PALAPES); dan Pasukan AW Kerahan (Mobilisasi).
Elemen Tempur.Yaitu Seri 500 Askar Wataniah. Elemen ini berperan sama seperti pasukan-pasukan infantri Angkatan Tentara Tetap. Pada saat ini terdapat enam belas rejimen Seri 500 AW di seluruh Malaysia. Setiap rejimen mempunyai tiga batalion yang ditempatkan di beberapa lokasi.

Resimen  yang dibentuk tahun 1981.

Rejimen 501 Askar Wataniah, Kem Tebrau, Johor Bharu; Rejimen 502 Askar Wataniah, Kem Sungai Buloh, Selangor; Rejimen 503 Askar Wataniah, Kem Jalan Tambun, Ipoh, Perak ;Rejimen 504 Askar Wataniah, Kem Bukit Keteri, Kangar, Perlis ;Rejimen 505 Askar Wataniah, Kem Teluk Sisik, Kuantan, Pahang; Rejimen 506 Askar Wataniah, Kem Pengkalan Chepa, Kota Bahru, Kelantan; Rejimen 507 Askar Wataniah, Kem Bukit Perwira, Kota Kinabalu, Sabah ;Rejimen 508 Askar Wataniah, Kem Jalan Rasah, Seremban, Negeri Sembilan ;Rejimen 509 Askar Wataniah, Kem Lebuhraya Peel, George Town, Pulau Pinang;Rejimen 510 Askar Wataniah, Kem Sri Rejang, Sibu, Sarawak ;Rejimen 511 Askar Wataniah, Kem Ria Kompleks, Kuching, Sarawak ;Rejimen 512 Askar Wataniah, Kem Padang Midin, Kuala Berang, Terengganu.

Resimen yang dibentuk tahun 1993.

Rejimen 513 Askar Wataniah, Kem Jalan Kolam Air, Sungai Petani, Kedah ;Rejimen 514 Askar Wataniah, Kem Bukit Beruang, 75450 Melaka; Rejimen 515 Askar Wataniah, Kem Jalan Ampang, Kuala Lumpur;Rejimen 516 Askar Wataniah, Kem Kukusan, Tawau, Sabah