Sabtu, 12 Juni 2021

RI Irian Kapal Perang Andalan Indonesia Era Tahun 60 an


BUKU JEJAK LANGKAH TNI ANGKATAN LAUT
Kapal perang RI Irian sebelumnya dinamakan “Ordzhonikidze” dari kelas Sverdlov milik Angkatan Laut Uni Soviet. Karena diperuntukkan beroperasi di perairan tropis, kapal ini dimodifikasi secara khusus.
Di pengujung 1962, kapal penjelajah Republik Indonesia Irian atau RI Irian tiba di perairan Indonesia. Kapal perang RI itu disiapkan untuk kampanye perebutan Irian Barat dalam Operasi Mandala yang dicanangkan Presiden Soekarno di atas Kapal Perang RI atau KRI Teluk Tomini. KRI Tomini eks USS Bledsoe County adalah salah satu kapal angkut jenis landing ship tank yang terlibat saat pendaratan Jenderal Dwight D Eisenhower (Ike) dalam serangan yang dikenal dengan Hari-H (D-Day) di pantai Normandia, Perancis, 1944.
RI Irian sebelumnya bernama ”Ordzhonikidze” dari kelas Sverdlov milik Angkatan Laut Uni Soviet yang dimodifikasi khusus untuk beroperasi di perairan tropis. Tahun ini genap 55 tahun sejarah keberadaan kapal perang terbesar RI yang nasibnya berakhir tragis seiring pergantian rezim Soekarno ke Soeharto.
Sebelumnya, awal Indonesia merdeka dalam kurun 1945- 1950, Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) hanya memiliki kapal-kapal kayu sisa rampasan dari Jepang. Pada 1950, barulah TNI AL memiliki kapal hibah eks Belanda setelah pengakuan kedaulatan RI, yakni korvet RI Hang Tuah dan RI Pati Unus. Kapal hibah lainnya adalah RI Rajawali dan RI Banteng, serta beberapa kapal lainnya. Kapal modern selanjutnya yang dihibahkan ke pemerintah adalah kapal perusak, destroyer RI Gadjah Mada. Kapal korvet berukuran panjang 60 meter dan diawaki 85 orang. Sementara kapal destroyer Gadjah Mada berbobot 1.700 ton dengan panjang 108 meter.
Sejarawan Universitas Diponegoro Semarang, Jawa Tengah, Boogie Wibowo, menyebutkan, RI Irian adalah kapal perang terbesar di Asia saat itu. Kapal tersebut dibangun di galangan kapal Admiralty di Saint Petersburg. Saint Petersburg adalah pusat modernisasi Rusia zaman Tsar Peter. Kota tersebut adalah pusat modernisasi sektor maritim yang mengacu ke Eropa Barat, terutama Belanda dan Inggris.
Salah satu jejak modernisasi era Tsar tersebut adalah sebutan Matroos—bahasa Belanda—untuk kelasi di Rusia. Galangan Admiralty yang dibangun pada 1704 itu dapat menampung kapal dengan panjang 250 meter dan lebar 35 meter dengan bobot maksimal 70.000 ton.
Galangan tersebut, menurut Boogie, dalam kurun 1740-1917, memproduksi lebih dari 1.000 kapal. Pada 1959, di sana sudah diproduksi kapal sipil bertenaga nuklir dan kapal pemecah es terbesar yang diberi nama Lenin.
Kelahiran RI Irian alias ”Ordzhonikidze” diawali pada dekade 1950-an ketika Uni Soviet merencanakan pembangunan kapal penjelajah yang didasari desain Italia masa Perang Dunia II. Spesifikasi teknis kapal tersebut harus mampu melaju di perairan ganas Atlantik Utara dan dilengkapi radar dan artileri pertahanan udara. ”Semula dirancang 40 kapal bersama dengan pembangunan kapal perang Stalingrad dan kapal induk. Proyeksi tersebut untuk menyaingi kekuatan Inggris di Atlantik Utara. Namun, perkembangannya, pembangunan kapal tersebut dibatalkan Nikita Kruschev pada tahun 1954 setelah 14 unit kapal penjelajah selesai. Ke-14 unit kapal itu adalah bagian dari 21 unit kapal yang direncanakan dibuat pada tahap awal,” kata Boogie.
”Ordzhonikidze” dibangun mulai 19 Oktober 1949 dan diluncurkan 17 September 1950, serta beroperasi pada 18 Agustus 1952. Kapal itu kemudian bertugas di Armada Baltik Angkatan Laut Uni Soviet. Karena hubungan baik Presiden Soekarno dan Perdana Menteri Nikita Kruschev, kapal itu dijual ke Indonesia pada tahun 1961. ”Kapal dimodifikasi di Armada Laut Hitam di Sevastopol hingga Juni 1962 agar cocok beroperasi di perairan tropis. Pada Juli hingga awal Agustus 1962, kapal berlayar dari Sevastopol hingga ke Surabaya,” kata Boogie.
Pada masa itu, Indonesia membeli pesawat pengebom Tu 16, jet tempur Mig dari berbagai varian, Ilyushin, peluru kendali, 12 unit kapal selam dan kapal penjelajah RI Irian dari Uni Soviet. Saat bersamaan, sejumlah perlengkapan militer dari Amerika Serikat juga dibeli. Misalnya, pesawat angkut dan kapal angkut, tank dan kendaraan taktis Perancis dan pesawat intai maritim Inggris. Tujuannya, kampanye merebut Irian Barat.
Sejarawan Maritim Pusat Sejarah Militer Kementerian Pertahanan Belanda, Anselm van der Piet, menceritakan adanya riset di Belanda tentang keberadaan perwira dan pelaut Uni Soviet dalam armada angkatan perang yang disiapkan untuk Operasi Mandala. Hal itu dibenarkan almarhum Laksamana Pertama (Pur) RP Poernomo, yang menjadi Komandan Satuan Kapal Selam ALRI saat itu.
Dalam satu kesempatan Poernomo mengakui memang ada personel Rusia dalam satgas yang dipimpinnya untuk berperang. Hal itu menarik mengingat di masa Perang Dingin, Uni Soviet hanya memberikan penasihat militer kepada negara sahabatnya, seperti Vietnam, Kuba, dan Yaman.
Spesifikasi RI Irian
Secara teknis, RI Irian punya dua turbin uap dan enam ketel uap yang menghasilkan daya 110.000 tenaga kuda sehingga dapat melaju hingga kecepatan 33,7 knot. Daya jelajahnya juga dapat mencapai jarak 5.220 mil laut pada kecepatan 18 knot atau setara lebih dari 8.500 kilometer dengan kecepatan jelajah hampir 30 kilometer per jam di darat. Kapal punya tangki bahan bakar berkapasitas 3.900 ton.
Kapal tersebut juga punya dua lunas sehingga lincah bermanuver ekstrem dalam kecepatan tinggi. Konstruksi lunas ganda tersebut sangat tak lazim di zamannya sehingga pihak NATO penasaran. Boogie menceritakan, seorang agen rahasia MI-6 Inggris, Lionel Crabb, hilang ketika berusaha menyelam memata- matai kapal tersebut saat AL Uni Soviet mengadakan muhibah ke Pelabuhan Portsmouth, Inggris, 1956.
RI Irian juga dilengkapi 12 meriam dalam empat kubah dengan laras berukuran 152 milimeter dan 6 meriam ganda dalam enam kubah ukuran 100 milimeter. Sebagai pembanding, baru pada tahun 2014 TNI kembali mempunyai meriam kaliber besar, yakni meriam Howitzer Caesar buatan Perancis ukuran 155 milimeter dan kanon pada tank tempur Leopard dengan ukuran sama. Selain itu, terdapat 16 pucuk meriam anti-serangan udara berukuran 37 milimeter dan berbagai radar pelacak serangan udara, radar permukaan laut, radar pembidik meriam, radar navigasi, dan sonar bawah laut. Singkat kata, dengan fasilitas itu, RI Irian ”Benteng Terapung” di Asia Tenggara.


Osa Kurniawan Ilham, pegiat sejarah asal Surabaya yang mengenal pelaku sejarah Irian Barat, menceritakan, kapal tersebut pada akhir 1962 bergabung di pangkalan depan Operasi Mandala di Bitung, Sulawesi Utara. Komandan pertamanya Frits Suak. ”Kapal dengan 1.250 awak itu diberi nomor lambung 2 untuk kelas Cruiser dan diberi nama pulau besar, yakni Irian. Hingga kini belum ada lagi kapal perang kita yang diberi nama pulau besar dan kode 2,” kata Osa.
RI Irian pernah bersenggolan dengan kapal selam sehingga harus menjalani perawatan di Galangan Dalzavod, Uni Soviet. Kapal RI Irian akhirnya mengantarkan Bung Karno mengunjungi Irian yang sudah kembali ke Indonesia. Sayangnya, saat peralihan ke Orde Baru, RI Irian ditelantarkan. Dari kapal sejenis buatan Uni Soviet, hanya RI Irian yang tak diketahui nasibnya.  Oleh : Iwan Santosa ( Kompas.id, 3 Desember 2017)




Selasa, 29 Desember 2020

Buku Perbatasan : Pengalaman Pribadi Ikut Seleksi Seskoad

 


Pengalaman Pribadi Ikut Seleksi Seskoad, Keras & Bergengsi

Oleh harmenBatubara

Lulus Seskoad bukanlah sebuah jaminan bahwa seorang perwira akan jadi seorang jenderal berbintang. Tetapi harus diakui bahwa bisa menjadi perwira siswa (Pasis) pendidikan reguler Sekolah Staf dan Komando TNI AD (Dikreg Seskoad) merupakan dambaan setiap Perwira TNI AD. Karena pendidikan Seskoad merupakan Jenjang karier kritis yang harus dilalui untuk pengembangan karier selanjutnya. Tanpa melalui pendidikan Seskoad, peluang perwira untuk mengembangkan karier di TNI AD khususnya maupun TNI umumnya menjadi sangat terbatas.

Banyak yang menyatakan masuk Seskoad itu ‘sulit’ dan melelahkan. Tapi itu semua tergantung dari posisi mana Anda menilainya. Kalau persiapannya hanya ala kadarnya saja, ya sudah lebih baik nggan usah ikutan. Tapi kalau anda mempersiapkan diri dengan baik, maka semuanya bisa berbeda. Karena kalau anda mempersiapkan diri dengan baik dan benar maka untuk lulus tes Seskoad adalah sesuatu yang biasa. Ya biasa saja. Begitu juga kalau Yang Maha Kuasa menghendaki maka semua jalan seolah terbuka dan anda bisa lolos dengan mudahnya. Tetapi di luar itu, maka semua jalan seolah buntu. Sebab kalau dengan uang, kemampuannya hanya bisa meloloskan anda sampai kebatas tertentu. Begitu juga dengan Katabelece, ia hanya akan didengar kalau hasil ujian anda memang bisa memenuhi standar kualitas tertentu; bahkan kalau lagi sial katabelece malah bisa jadi bumerang bagi diri anda sendiri. Karena bisa di klassifikasi sebagai menghina panitia seleksi sebuah lembaga pendidikan “terbaik” di Angkatan Darat negeri ini.

Dalam rangka peningkatan SDM, idealnya TNI AD memberikan kesempatan bagi setiap perwira yang telah memenuhi syarat (administrasi) untuk mengikuti pendidikan Seskoad. Namun terbatasnya alokasi  pendidikan membuat  tidak semua perwira yang telah memenuhi syarat administrasi dapat mengikuti pendidikan ini. Karena itulah maka harus dilakukan lewat seleksi. Hanya perwira yang berhasil melalui seleksi yang dapat mengikuti pendidikan. Terbatasnya alokasi   serta  demikian pentingnya  pendidikan ini membuat persaingan dalam mengikuti seleksi ini menjadi sangat bergengsi. 



Bisa dipastikan setiap perwira akan berusaha maksimal dan ALL OUT untuk mempersiapkan  diri untuk menghadapi seleksi Seskoad ini. Karena itu setiap informasi akan menjadi sangat penting dan berharga. Ketatnya persaingan dalam seleksi Seskoad membuat orang berpikir dengan berbagai cara, termasuk dengan memanfaatkan KKN dan Uang. Berbagai pendapat miring terkait seleksi Seskoad ini sering juga mengemuka khususnya dikalangan mereka yang selalu gagal dalam seleksi. Karena menurut beberapa pendapat, khususnya mereka yang sedang kesal,  bahwa Seleksi Seskoad bisa diatur dengan uang. Tetapi apakah itu masuk akal atau apakah hal seperti itu bisa diterima akal sehat? Terpulang pada penilaian anda.

Dari pengalama penulis ini kalau dihadapkan dengan soal-soal aplikasi pada waktu itu, maka penulis sangat yakin akan banyak para casis (calon siswa) yang bakal kesulitan. Terlebih lagi bagi mereka yang buta tentang peta Topografi, apa lagi bagi mereka yang tidak bisa membaca peta. Maksudnya bagi seorang perwira yang sudah terlatih dengan peta, maka sesungguhnya sudah bisa melihat dimana gunung, dimana aliran sungai dll sama halnya kalau anda melihat bentang alam itu secara langsung. Jadi kalau anda mengenal medan dan tahu teori taktik maka akan dengan mudah bagi anda untuk menentukan apakah pasukan anda akan menyerang atau bertahan. Anda akan mudah menentukan dimana garis pangkal serta melakukan berbagai taktik lainnya pada saat bertahan atau menyerang. Artinya dengan mengenal medan dan tahu teori taktik maka berbagai kemungkinan anda bisa lakukan terkait kondisi yang ada. Saya bisa bayangkan rekan-rekan dari korps keuangan, dari kesehatan dll yang tidak terbiasa dengan peta, apa lagi buta peta maka bisa dipastikan nilai aplikasi mereka akan jeblok.

Demikian juga dengan teori Taktik, saya menyarankan agar anda bisa menguasai taktik dan prosedur operasi mulai dari tingkat Danru sampai dengan Dan Brigif. Terus terang pada waktu itu saya melakukan hal itu. Karenanya saya masih hapal betul teori taktik dan SOP mulai dari menggerakkan satuan setingkat Regu sampai dengan Batalyon. Anda juga harus hati-hati. Anda juga perlu tahu cara membuat dan mengirimkan Berita, buat Telegram dll lewat Radio. Intinya anda harus benar-benar jadi seorang perwira cerdas berpangkat Mayor. Kenapa hal ini penulis lakukan? Pertama karena saya prajurit Korps Topografi. Saya tahu Seskoad itu sekolahnya Infantri. Saya juga tahu kalau saya seorang perwira Militer wajib yang bukan dari Akademi. Artinya, kalau nilai saya hanya sama dengan nilai rekan perwira dari Infantri maka secara logika mereka akan memilih yang Infantri. Kecuali mereka memang dari awal mau mencari seorang Casis Topografi.

Dalam buku ini Anda juga diberikan ketrampilan Menempa KUO atau Konsep Umum Operasi menjadi Perintah Operasi. Bagaimana anda mengkonsepkan Serangan atau Pertahanan secara tertulis dalam bentuk PERINTAH OPERASI. Anda dilihatkan visualisasinya; apa yang anda lakukan sebagai seorang Danyon sejak menerima  Perintah Operasi kemudian anda juga diberikan Pamhaman dan bagaimana cara Menuliskan Karmil yang benar; serta cara menulis Essay serta artikrl yang baik, benar dan menarik.

Dengan buku ini Anda akan tahu  seperti apa sih seleksi Seskoad itu, seperti apa penilaiannnya? Juga diberi tahu cara mudah memahami Psiko Tes; Buku ini juga memberi tahu anda tentang Jati Diri YNI; tentang UUD 1945, kenapa ada Amendemen UU 1945;  Kapan bisa menggunakan Kekuatan TNI dan bagaimana PEMBINAAN LATIHANNYA ( BinLat) Sebuah Buku yang perlu anda baca kalau mau Ikutan Seleksi Seskoad.

Pengalaman Pribadi Ikut Seleksi Seskoad

Mengikuti tes Seskoad bagi penulis sungguh sebuah kisah tersendiri dan menarik. Sejak selesai pendidikan Diklapa, saya sudah mulai mempersiapkan diri untuk mengikuti selesi pendidikan Seskoad. Karena apa?Semua Gumil dan instruktur selama ikut Diklapa selalu memberi penekanan bahwa pendidikan Seskoad merupakan Jenjang karier kritis yang harus dilalui seorang Perwira untuk pengembangan karier selanjutnya. Tanpa melalui pendidikan Seskoad, peluang perwira untuk mengembangkan karier di TNI AD khususnya maupun TNI umumnya menjadi sangat terbatas. Jadi ada semacam tantangan di sana, yang mampu menaikkan adrenalin untuk berbuat sesuatu yang lebih baik dari biasanya. Sejak saat itu, saya terus mengumpulkan bahan serta menysishkan waktu untuk belajar materi yang akan diujikan dalam seleksi Seskoad. Dalam hal Taktik saya memberikan koridor mempelajari serangan, pertahanan mulai dari pelibatan satuan setingkat Regu hingga Brigade. Saat itu saya perkirakan akan punya waktu kurang lebih 3-4 tahun, baru kesempatan ikut seleksi Seskoad itu datang. Suatu kesempatan yang bisa dimanfaatkan dengan sebaik baiknya.

Tanpa terasa ternyata kesempatan itu datang juga. Gembiaranya bukan main. Bagaimana tidak. Penulis masih ingat betul, pada bulan Agustus sampai 28 November 1994 Tim penulis (Tim Pemetaan Topografi-AD yang di dalamnya penulis terlibat) masih melakukan “OPERASI PEMETAAN” di Merauke-Mindip Tanah-Tanah Merah dengan jadwal ketat. Kami waktu itu dibekali dua Helikopter Hawlet sebagai sarana mobiliasi di lapangan (kerja sama dengan Puspenerbad). Saya masih ingat pada bulan Oktober  Danyon (satuan penugasan) yang anggotanya jadi pengawal kami di lapangan berangkat ke Jayapura ikut PERSIAPAN MENGIKUTI SELEKSI SESKOAD. Meski sederhana kami ikut merayakan dan mendoakan keberangkatan Danyon ke Jayapura untuk seterusnya mempersiapkan diri ikut TES SESKOAD. Padahal kita sendiri sebenarnya akan ikut tes pada tahun dan waktu yang sama, tetapi karena dinamika tugas maka tidak bisa lain kita tetap bertugas di lapangan hingga waktu tes tiba.



Dalam Tim Pemetaan Topografi sendiri ada tiga calon casis yang bakal ikut tes Seskoad. Tetapi kami tidak mendapatkan fasilitas mengikuti persiapan tes tersebut, karena memang merupakan Tim Inti pemetaan. Pendek ceritra, tim baru sampai di Jakarta pada tanggal 30 November, dan hari itu juga baru mendapat kepastian dapat mengikuti seleksi. Tes Seskoad akan diadakan pada tanggal 6 Desember 1994 di Rindam Kodam Jaya. Boleh dikatakan kalau secara logika dan akal sehat, waktu yang tersedia sungguh tidak memberi angin. Tapi itu tadi pertolongan Yang Maha Kuasa itu datang. Penulis dan dua sahabat diajak oleh kawan dari Satuan Topografi sendiri untuk berkenan tinggal dan belajar bersama di rumahnya di Pondok Kopi Jakarta. Karena teman itu sendiri ikut seleksi.  Fasilitas rumahnya menurut saya lebih dari hotel bintang empat, satu pembantu dia sediakan khusus melayani keperluan belajar. Pakaian tinggal pakai, makan tinggal suap dan kopi tinggal tuang. Apalagi pada saat itu sahabat itu baru saja membeli mobil sedan baru. Luar biasa.

Rumah dinas penulis sendiri sebenarnya di Bandung, karena waktu yang terbatas, maka praktis penulis tidak bisa menemui keluarga tetapi sebaliknya fokus menghadapi tes. Saya bersyukur, bahwa teman-teman saya itu ternyata punya koleksi contoh soal dari beberapa tahun sebelumnya. Maklum salah satu senior kami itu sudah mengikuti tes Seskoad empat kali dan beliau abituren Akmil tapi belum berhasil. Penulis salut sekali pada senior tersebut, semangatnya untuk tes tidak pernah kendur. Yang menjadi kami kian solid adalah karena semua soal bisa kami jawab dengan baik. Persoalannya dalam hal aplikasi harus penulis akui teman-teman saya itu masih belum sepenuhnya siap, teori taktiknya masih ngambang. Sepertinya mereka belum paham tentang Serangan, begitu juga dengan Pertahanan, dengan Operasi Grilya, operasi lawan grillya serta berbgai Taktik yang melekat padanya seperti Pendel, Kirpat Dll. Kalau di awal tulisan ini, penulis sebut bahwa sebaiknya kita harus menguasai teori taktik sejak dari Danru hingga Dan Brigif, maka dalam keadaan seperti ini hal itu terasa benar bedanya. Tidak ada soal yang tidak bisa terjawab.

Hari pelaksanaan tes itupun datang juga, pagi itu kami berangkat ke Rindam Jaya dengan memakai mobil sedan baru, sahabat kami itu sendiri yang jadi sopirnya. Penulis saat itu benar-benar bersyukur, kalau tidak ada bantuan fasilitas se[erti itu, mana mungkin penulis bisa menghadapi ujian sebaik itu. Karena saya bandingkan dengan teman-teman lainnya, mereka tinggal di Mes Topografi Jakarta yang nyamuknya banyak, sudah gigitannya sakit nyamuknya juga besar-besar. Tidak ada AC, dan makannya beli sendiri, sementara panasnya Jakarta tiada ampun. Begitu juga saat mengikuti tes mereka paling paling hanya diantar mobil kantor yang kondisinya juga tidak kalah menyedihkan. Mobilnya sudah tua dan tidak punya AC lagi. Sungguh bedanya sangat kontras. Tapi itu nyata.

Setiap kami pulang dari tes saya menahan diri untuk tidak memperlihatkan kegembiraan bathin saya. Sebab apa? Karena saya merasakan apa yang ditanyakan itu saya bisa jawab dengan baik. Para sahabat saya itu juga sangat gembira dan bercerita bahwa 60 persen di tangan. Kalau mereka menanyakan pada penulis, maka saya selalu sampaikan ya kira-kira begitulah. Pendek kata, suasana gembira ada diantara kami. Tetapi pada hari terahir, selesai ujian Aplikasi, maka terlihatlah keraguan pada para sahabat penulis itu. Memang ada satu hal yang selalu saya temukan selama ini. Karena itu pada kesempatan ini saya ingin mengingatkan para Casis untuk mengerti dan paham tentang perannya seperti apa dalam mengikuti proses seleksi ini. Untuk lebih jelasnya, maka dalam ujian seleksi para CASIS harus bertindak hanya sebagai STAF BRIGIF atau DANYONIF sehingga produk Casis hanya berkisar pada 2 subyek itu saja. Casis akan bertindak sebagai Danyonif atau staf Brigif (TIDAK MUNGKIN SEBAGAI DAN BRIGIF). Jangan salah sangka, banyak casis yang belum tahu sebagai apa ia dalam proses penempaan Analisa Tugas Pokok. Ya bisa dibayangkan akan jadi apa jawaban soal aflikasinya.

Ada satu hal yang juga perlu saya sampaikan pada para pembaca pada para Casis. Dalam mengikuti tes Seskoad tersebut saya juga punya perhitungan sebagai berikut. Untuk bisa lolos, anda harus bisa masuk minimal “the best 50%”. Jadi kalau jumlah atau alokasi Casis itu adalah sekitar 200. Dari 200 itu 100 diantaranya dapat masuk karena alasan ini dan itu. Maksudnya dari jumlah 100 itu, didalamnya ada yang masuk karena kebijakan Kasad sendiri. Misalnya untuk para perwira pilihan yang sangat cemerlang di lapangan. Ada karena disebabkan kebijakan pemerintah bagi daerah tertentu yang perlu mendapat perhatian dan lain sebagainya. Nah kalau anda bisa mendapatkan posisi the best 50% dari 200, maka secara logika anda akan dapat lolos dengan aman dalam seleksi. Tapi ini juga sifatnya analisis penulis saja, benar tidaknya sama sekali tidak bisa dipastikan. Oh ya terkait Danyon yang ikut persiapan Tes di Jayapura ternyata tidak lolos. Terahir saya mengucapkan banyak terimakasih pada semua sahabat yang telah memberikan dorongan sehingga saya tetap meneruskan penulisan Buku ini. Terus terang tadinya saya sudah segan. Tetapi para sahabat itu bilang akan lebih bermanfaat kalau Buku ini bisa dibaca oleh mereka yang akan mengikuti Seleksi Seskoad.

Untuk bisa lolos Seleksi ini sebaiknya anda harus tahu persis penguasaan masalah dari setingkat Danru hingga sampai Dan Brig. Tahu tugas, tanggung Jawab para Dinas Staf; mulai dari staf Intel, Staf Operasi, Staf Personil, Staf Logistik dan Staf Teritrial. Anda juga harus menguasai Teori Serangan, begitu juga dengan Pertahanan, juga Operasi Grilya, operasi lawan grillya serta Operasi Lawan Insurjensi serta berbgai Taktik yang melekat padanya seperti PENDEL, KIRPAT Dll. Ya sebaiknya memang anda perlu menguasai TEORI TAKTIK sejak dari Danru hingga Dan Brigif, dan mahir meng Olah Yudhakannya dan tentu saja menuangkannya dalam berbagai Perkiraan Cara Bertindaknya sehingga berbentuk suatu Perintah Oprasi. 

Anda juga diberikan ketrampilan Menempa KUO atau Konsep Umum Operasi menjadi Perintah Operasi. Bagaimana anda mengkonsepkan Serangan atau Pertahanan secara tertulis dalam bentuk PERINTAH OPERASI. Anda dilihatkan visualisasinya; apa yang anda lakukan sebagai seorang Danyon sejak menerima  Perintah Operasi kemudian anda juga diberikan Pamhaman dan bagaimana cara Menuliskan Karmil yang benar; serta cara menulis Essay serta artikrl yang baik, benar dan menarik.

Dengan buku ini Anda akan tahu  seperti apa sih seleksi Seskoad itu, seperti apa penilaiannnya? Juga diberi tahu cara mudah memahami Psiko Tes; Buku ini juga memberi tahu anda tentang Jati Diri YNI; tentang UUD 1945, kenapa ada Amendemen UU 1945;  Kapan bisa menggunakan Kekuatan TNI dan bagaimana PEMBINAAN LATIHANNYA ( BinLat) Sebuah Buku yang perlu anda baca kalau mau Ikutan Seleksi Seskoad.

 

Sabtu, 31 Oktober 2020

Buku Perbatasan : Kegiatan Ilegal di Perbatasan

 Pengamanan Perbatasan: Kegiatan Ilegal di Perbatasan

Indonesia yang jelita, zamrud khatulistiwa, sebuah negara benua maritim. Hamparan lautannya yang luas, terdiri dari belasan ribu pulau dengan panjang pantai lebih dari 81 ribu km serta berada diantara dua samudra Hindia dan Pasifik serta dua benua Australia dan Asia. Lokasi yang strategis ini; kalau saja bisa memanfaatkannya dengan baik maka semua akan datang dan jadi pusat bisnis dunia yang menjanjikan. Bila diumpamakan, bagai sebuah resort tempat persinggahan bagi para pelintas batas, pelaku bisnis  dua benua, dua samudra. Sesungguhnya, dengan membangun infrastruktur yang fungsional dan bagus, menyediakan berbagai fasilitas perdagangan, produksi serta layanan kelas dunia serta biaya pajak yang kompetitip,  percayalah semua orang akan singgah, dan bahkan datang serta memberikan semangat kerjasama. Indonesia mestinya, bisa dan mampu menjadikan wilayah zamrud khatulistiwa ini menjadi sesuah ”resort” yang menarik untuk didatangi,  bukan saja karena keindahannya, kaya dalam budaya, kaya dalam  sumber daya alam, hayati dan masyara katnya ramah serta menghargai.

Tetapi bagaimana mengamankan Wilayah yang begitu Jelita? Ya. Bagaimanapun pengamanan wilayah perbatasan NKRI juga harus dilihat sebagai fungsi-fungsi yang bersifat permanen, selama eksistensi negara ada. Yang selalu akan berubah dan mengalami penyesuaian adalah, “Analisis ancaman (THREAT ASSESSMENT) yang mempengaruhi besaran sumber daya dan kekuatan yang diperlukan dan bagaimana sumber daya dan kekuatan itu diorganisir untuk keperluan pengelolaan dan pengamanan wilayah perbatasan.” Analisis Ancaman-Lah Yang Menentukan Apakah Ancaman Tersebut Bersifat Internal Atau Eksternal Serta Apakah Penanganannya Bersifat Defensif Atau Ofensif. Termasuk apakah penanganan pengelolaan dan pertahanan wilayah perbatasan akan lebih dititikberatkan pada kawasan tertentu dengan memperhatikan derajat ancaman atau optensi ancaman berdasarkan kondisi geografis sebuah negara.

Hal itulah yang juga dilakukan oleh Badan Nasional Pengelola Perbatasan[1] (BNPP) menggelar Rapat Koordinasi Nasional Pengamanan Perbatasan Negara (Rakornas Pamtas) Tahun 2020. Acara diselenggarakan di Ballroom Hotel Pullman Lt. L Central Park Podomoro City, Jakarta Barat, Rabu (11/03/2020).  Maksud dan tujuan dari pelaksanaan Rakornas Pamtas 2020 ini adalah memberikan pemahaman tentang arah kebijakan dan strategi pengamanan perbatasan negara serta menemukan permasalahan-permasalahan pengelolaan batas wilayah negara dan lintas batas negara sebagai dasar perumusan dan kebijakan untuk mewujudkan sistem pengamanan perbatasan negara terpadu menuju perbatasan negara yang aman, tertib, dan dinamis.

Dalam keynote speech-nya, Tito Karnavian menyatakan salah satu isu yang di bahas dalam Rakornas Pamtas ini adalah langkah sinergis seperti apa yang harus dilakukan menyingkapi banyaknya temuan aktivitas lintas batas ilegal yang keluar masuk Indonesia tanpa melalui prosedur formal. Contohnya di tahun 2018, Bakamla mencatat total pelanggaran di wilayah perairan Indonesia mencapai 332 kasus dengan permasalahan utama penyelundupan barang, narkotika dan human trafficking. Angka yang jauh lebih besar tentu akan ditemukan di batas darat.

Wilayah perbatasan adalahi gerbang & etalase bangsa sekaligus jadi buffer zone. Ada berbagai persoalan dalam pengelolaan perbatasan, baik di darat, laut, maupun udara. Belum selesainya penetapan & penegasan batas wilayah negara pada beberapa segmen termasuk masalah FIR. Tak kalah pentingnya adalah terkait dengan sarana, prasarana yang dapat menunjang aspek keamanan. Untuk itu, perlu adanya teknologi dan terpadunya sistem pengamanan untuk melindungi batas negara.     

Di bidang pengamanan jumlah Pos pengaman perbatasan kuantitasnya terbatas. Tidak sepadan dengan daerah yang harus diawasi. Kondisinya masih lebih banyak menggunakan cara manual. Kita membutuhkan peran teknologi & terpadunya sistem pengamanan aktivitas lintas batas pada jalur non resmi, non PLBN, & resmi tapi bukan PLBN, yang betul-betul terpadu, integrated border security system. Persoalan perbatasan juga menyangkut kemiskinan karena itu perlu mennghadirkan pusat-pusat kesejahteraan di wilayah perbatasan dengan menjadikan perbatasan sebagai peluang ekonomi bagi tumbuhnya kesejahteraan warga.

Dalam kondisi seperti itulah maka penulisan buku ini. Buku dengan judul “ Pengamanan Perbatasan. - Catata Blog Seorang Prajurit Perbatasan” Pengamanan tidak bisa dilepaskan dari Pembangunan kekuatan dan kemampuan pertahanan negara diselenggarakan secara terpadu dan bertahap sesuai dengan kemampuan negara serta diarahkan untuk mewujudkan pertahanan yang professional,  modern yang mampu menindak dan menanggulangi setiap ancaman. Selama ini pembangunan pertahanan negara dilakukan, dengan memberi prioritas kepada pembangunan Ekonomi Nasional. Tetapi kini ada suasana baru, pertama karena ekonomi Indonesia diyakini akan terus membaik; kemudian produk industri pertahanan nasional kita juga ternyata kian diminati di negara tetangga. Karena itu sudah saatnya negara membenahi gelar kekuatan pertahanan kita secara keseluruhan termasuk di wilayah perbatasan.

Sebagai pertahanan dia diwajibkan punya kemampuan memonitor di wilayah terluar perbatasan nasional kita. Pada lokasi-lokasi tertentu di perbatasan kita harus mempunyai Lapangan Terbang yang mampu dimanfaatkan pesawat tempur. Di perbatasan semestinya ada gelar meriam batas atau meriam pantai yang bisa menjangkau posisi strategis yang diperkirakan jadi masuknya agresi musuh. Kodam perbatasan dan Polda perbatasan harus diperkuat dengan kemampuan sesuai dengan kebutuhan realitas dan prediksi ancaman yang ada. Mereka harus mempunyai kemampuan patroli dan menindak berbagai kegiatan illegal yang merugikan kepentingan nasional. Itulah sejatinya ide-ide yang ada pada saat penulisan Buku ini. Semoga bisa menjadi sesuatu yang bermakna bagi pemerhati pertahanan di Perbatasan.

Seperti apakah gelar kekuatan pertahanan kita dalam menjaga kedaulatan di perbatasan? Sejauh manakah aparat keamanan kita mampu mengontrol pergerakan barang dan orang di perbatasan? Hal hal itulah yang menjadi sasaran pengamatan dan menjadi Catatan seorang prajurit perbatasan ini.  Membaca buku ini secara perlahan akan terlihat betapa kadang ketidak mampuan dalam menjaga kedaulatan negara kita diperbatasan. Sehingga sering terjadi berbagai pemberitaan yang menyuguhkan keprihatinan terkait payahnya managemen pengelolaan perbatasan kedaulatan negara kita. Tapi setelah berita itu reda, ya kembali lagi ke pola biasa, dan juga tidak akan mampu melakukan perubahan apalagi perbaikan. Itulah yang terjadi hari demi hari. Perbatasan jadi menarik semua pihak, karena mereka mencoba mencari kepentingan  sektornya masing-masing di sana.

Buku ini ibarat menyesuaikan kembali inti sari dari tulisan-tulisan yang pernah ada di Web Wilayapertahanan.com dan menyajikannya begitu rupa agar ia tetap menarik. Kadang diutarakan secara fulgar dan menohok meski secara umum sudah diupayakan agar tulisannya bisa diterima dalam norma kepenulisan biasa. Penulis mengucapkan banyak terima kasih atas partisifasi berbagai pihak yang tidak bisa kami sampaikan satu persatu di sini. Tetapi Buku dengan rangkaian pemikiran ini tidak akan bisa selesai tanpa bantuan mereka. Mereka bisa ada di Kemhan, biasa ada di Kodam terkait, Kemdagri, Kemlu dan Pemda terkait, Perguruan Tinggi Perbatasan terkait dan para pemerhati pertahanan perbatasan. Semoga bermanfaat.




[1] https://www.kapernews.com/2020/03/12/bnpp-gelar-rakornas-pengamanan-perbatasan-negara-tahun-2020/


Jumat, 17 Juli 2020

Perang Perbatasan India-China, Demi Keunggulan&Superioritas


Bentrok antara tentara China dan India di daerah perbatasan Lembah Galwan, Ladakh, Himalaya, hingga menewaskan 20 tentara India. Bentrokan, Senin (15/6/2020) malam.  “sesuai kesepakatan bersama”  perang diperbatasan hanya boleh dengan bersenjatakan batu dan tongkat. Kedua pihak saling menyalahkan atas insiden itu dan saling klaim sebagai pemilik Lembah Galwan yang sah. India menuding China memicu perselisihan karena membangun infrastruktur di wilayah sengketa. Sebaliknya, China tidak merasa salah karena berkeyakinan Lembah Galwan masuk wilayah China.

Menyelesaikan masalah konflik perbatasan sebenarnya tidaklah susah. Tetapi yang menjadi persoalan adalah kalau kedua Negara itu memang tidak punya niat untuk membangun kerja sama tetapi hanya fokus pada kepentingan negarany sendiri. Tidak punya keinginan untuk bersama-sama membangun kerja sama di perbatasan, maka bisa dipastikan upaya untuk menemukan solusi perselisihan batas hanyalah sebuah pekerjaan yang sia-saia. Kalau persoalannya di serahkan pada Pengadilan Internasional, maka penyelesaiannya menjadi sangat mahal dengan kenyataan bisa tidak mendapatkan apa-apa. Pengalaman seperti itu kita punya dalam hal sengketa batas atas kepemilikan Pulau Sipadan dan Ligitan. Karena itu janganlah berusaha menyelesaikan masalah perbatasan kalau kedua Negara tidak punya niat tulus bagi menjalin persahabatan yang lebih baik. Masalahnya, apakah masih perlu perang karena beda tafsir perbatasan?
Diatas kertas semua sepakat, bahwa tidaklah perlu perang. Masalah perbatasan dapat diselsaikan lewat meja perundingan. Tetapi pada kenyataannya. Pada faktanya hal itu sulit dilakukan dan malah umumnya mereka bersedia perang untuk membela perbatasan sesuai yang mereka tapsirkan. Masih ingat sengketa perbatasan antara Kamboja dan Thailand? Sengketa wilayah perbatasan antara Kamboja dan Thailand sudah lama berlangsung, terkait masalah tersebut Pengadilan Dunia pada tahun 1962 memberikan Candi Preah Vihear kepada Kamboja, tetapi tidak jelas kedaulatan atas lahan di sekitarnya. Apakah otomatis ikut Candi atau bagaimana? Putusan pengadilan itu hanya soal kepemilikan Candi. Pengadilan konstitusi Thailand, pada tahun 2008, memutuskan bahwa komunike bersama yang ditandatangani Noppadon dengan pihak Kamboja, yang mendukung pengajuan kepada UNESCO oleh Kamboja itu, melanggar konstitusi dan Thailand menarik lagi dukungannya. Mereka pilih “perang ter batas” dan jatuhlah korban.

Bentrokan ini sebenarnya hanya mengikuti pengalaman kedua Negara pada tahun 1962. Pada tahun 1962, setelah 13 tahun Mao Zedong memproklamasikan negara Republik Rakyat China, kedua negara itu terlibat dalam perang hebat karena masalah perbatasan yang dikenal dengan Sino–Indian War tahun 1962.
China-India Perang Karena Perbatasan, Masihkah Sepadan?
Pada perang tersebut, pasukan China masuk menyerang melalui dua jalur perbatasan yang berbeda yakni melalui Ladakh dekat Kashmir dan McMohan Line yang berada di Arunachal Pradesh yang hingga kini masih disengketakan oleh kedua negara. Perang tersebut menewaskan 1.383 tentara India dan 722 tentara China. Jumlah yang terluka mencapai 1.047 dari pihak India dan 1.697 dari pihak China. Korban kebanyakan berjatuhan karena kondisi ekstrem karena berada di ketinggian ribuan kaki dan tak mendapat perawatan medis. Perang ini semestinya menjadi catatan berharga bagi hubungan diplomatik antara kedua negara. Tetapi nyatanya juga tidak.

Militer India dan China juga pernah bertempur di Nathu La sebuah jalur perdagangan kuno melalui Himalaya yang merupakan bagian dari Jalur Sutra. Wilayah itu terpaksa ditutup dan dibuka kembali pada 2006. Setelah Insiden Nathu La, China dan India juga terlibat dalam pertempuran di Cho La. Wilayah yang tak jauh dari Nathu La. Ketegangan juga mewarnai perbatasan China dan India di Arunachal Pradesh. Kehadiran dan provokasi China di wilayah tersebut, membuat India mengirim tentara ke wilayah itu. Kini India memasukkan Arunachal Pradesh sebagai salah satu negara bagian dan masuk dalam teritorinya bahkan pada bulan Mei lalu meresmikan jembatan sepanjang 9 kilometer yang menghubungkan Arunachal Pradesh dengan utara Assam.
Demi Keunggulan Wilayah
Yang membuat perbatasan kedua Negara ini jadi lebih rumit, karena kedua Negara  memanfaatkan pengaruhnya pada Negara-negara yang juga berbatasan dengan India dan China. Buthon memihak India, Pakistan memilih China dan Tibet menjadi bagian dari China. Bisa dibayangkan bagaimana jadinya masalah perbatasan di wilayah itu jadi saling tarik dan menutup jalan menuju kerja sama. Ditambah lagi. Kedua Negara tidak mempunyai kesepakatan terkait perbatasan. Mereka saling tidak mengakui hak Negara tetangganya.  Ketika India di jajah oleh Inggeris, pernah melakukan kesepakatan batas dengan Tibet yang dikenal dengan Mc Mahon Line. Tetapi garis batas itu tidak diakui oleh China, karena menurut mereka Tibet sebagai bagian dari China tidak punya hak untuk itu.
Garis McMahon adalah garis perbatasan antara India Timur Laut dan Tibet yang diusulkan oleh administrator kolonial Britania Henry McMahon (India adalah Negara jajahan Inggeris) dalam Konvensi Simla 1914.  Garis ini merupakan perbatasan efektif antara Tiongkok dan India. Garis ini dinamakan sesuai nama Henry McMahon, menteri luar negeri India Britania dan juru runding utama konvensi di Simla. Konvensi tersebut ditandatangani oleh McMahon dan Lonchen Satra atas nama Pemerintah Tibet. Garis ini membentang sepanjang 550 mil (890 km) dari Bhutan di barat hingga 160 mil (260 km) di timur dari tikungan besar Sungai Brahmaputra di sebelah timur, sebagian besar di sepanjang puncak Pegunungan Himalaya. Konvensi ini tidak diakui oleh China.
Dalam hal perbatasan India-China dikenal juga adanya Garis Kontrol Aktual. Garis Kontrol Aktual (LAC) adalah sebuah garis demarkasi yang memisahkan wilayah yang dikuasai India dengan wilayah yang dikuasai oleh Tiongkok di bekas negara  Jammu dan Kashmir. Ada dua cara umum di mana istilah “Garis Kontrol Aktual” digunakan. Dalam pengertian sempit, garis ini hanya mengacu pada garis kontrol di sektor barat perbatasan antara kedua negara. Dalam pengertian itu, LAC membentuk batas efektif antara kedua negara, bersamaan dengan Garis McMahon di timur dan bagian kecil yang tidak bersengketa di antaranya. Dalam pengertian yang lebih luas, garis ini dapat digunakan untuk mengacu pada garis kontrol bagian barat dan Garis MacMahon, di mana garis ini merupakan perbatasan efektif antara India dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT). Tetapi sekali lagi. Tiongkok tidak mengakui Garis Kontrol Aktual yang hampir menyerupai sebagian besar “yang disebut garis McMahon tersebut”
Pemicu Terjadinya Perang Perbatasan.
Ada beberapa alasan. Namun utamanya, masing-masing pihak mempunyai strategis untuk mendapatkan keunggulan dan itulah sebenarnya yang jadi Pemicu Utama. Kedua belah pihak saling menyalahkan. Sungai Galwan yang secara tradisional mengalir secara damai kini berubah menjadi wilayah konflik. China melihat, di daearh itu, daerah yang paling dekat dengan  LAC[1] atau Garis Kontrol Aktual India membangun jalan baru dari Leh ke Murgo, sepanjang Sungai Shyok menuju Daulet Beg Oldi (DBO), daerah terpencil sepanjang LAC di Ladakh. Tindakan India untuk meningkatkan infrastruktur di perbatasan tampaknya membuat marah China. Menurut China  Wilayah Lembah Galwan adalah wilayah China, dan situasi kontrol perbatasan ada pada mereka. “Menurut militer China, India telah memaksa mereka masuk ke lembah Galwan. India mengubah status quo di sepanjang LAC dengan membangun jalan, yang membuat marah China,” jelas Dr Long Xingchun, presiden Chengdu Institute of World Affairs (CIWA), kepada BBC. Jalan Baru itu bisa meningkatkan kemampuan India untuk memindahkan pasukan dan materialnya  dengan cepat jika terjadi konflik. Gesekan itu juga dipicu oleh  India yang secara kontroversial memutuskan untuk mengakhiri otonomi terbatas Jammu dan Kashmir pada Agustus tahun lalu, dan sekaligus India juga membuat ulang peta wilayah itu.Ladakh, yang nantinya akan dikelola pemerintah federal yang baru, mencakup daerah Aksai Chin, wilayah yang diklaim India tetapi dikendalikan dan diduki oleh China.

Pemerintah India juga telah berbicara tentang merebut kembali Kashmir yang dikelola Pakistan. Jalan raya Karakoram yang strategis melewati area ini, menghubungkan China dengan sekutunya Pakistan. India juga melihat bahwa China telah menginvestasikan sekitar US$60 miliar dalam infrastruktur ke Pakistan, yang disebut Koridor Ekonomi China Pakistan, atau China Pakistan Economic Corridor (CPEC). Proyek itu merupakan bagian dari Inisiatif Sabuk dan Jalan (One Belt One Road, OBR). Jalan raya tersebut merupakan kunci untuk mengangkut barang ke dan dari pelabuhan Gwadar di Pakistan selatan. Pelabuhan itu memberi China pijakan di Laut Arab. Selain itu, China tidak senang ketika India pada awalnya melarang semua ekspor peralatan medis dan pelindung untuk menopang stoknya segera setelah pandemi virus corona dimulai awal tahun ini.
Dari sisi India, mereka juga melihat China terus membangun infrastrukturnya di sekitar perbatasan. China membangun jalan yang langsung menghubungkan  provinsi Xinjiang dengan bagian barat Tibet di wilayah Doklam yang menurut China merupakan bagian dari wilayahnya, bukan milik Bhutan apalagi India. China berpendapat tak ada pelanggaran yang dilakukan.“Itu adalah fakta yang tak terbantahkan yang didukung oleh bukti historis dan yurisprudensi,” kata juru bicara kementerian luar negeri China Lu Kang. Bhutan sendiri berharap China mematuhi kesepakatan bersama dan tetap mempertahankan status quo di wilayah tersebut.
China-India Perang Karena Perbatasan, Masihkah Sepadan?
Wilayah yang menjadi pemicu sengketa itu berada di persimpangan antara India, China, dan Bhutan[2]. Wilayah itu sesungguhnya menjadi sengketa antara China dan Bhutan. India hadir atas permintaan Bhutan untuk menghadapi China. Sudah lebih dari 30 tahun sengketa itu berlangsung, tapi hingga saat ini belum ditemukan jalan keluar yang tepat untuk semua pihak. Dan dipercaya tidak akan ditemukan jalan keluar yang bisa menyenagkan para pihak.
Bagi India, meski dataran tinggi itu bukan wilayahnya, tapi jelas jalan tersebut akan sangat merugikan strategi pertahanannya, karena jalan itu berada di dataran tinggi Doklam, dan itu sangat menguntungkan bagi mobiliasi pasukan China, terlebih lagi jalan raya itu menghubungkan provinsi Xinjiang dengan bagian barat Tibet. Pembangunan jalan raya di dataran tinggi itu akan memberi akses bagi China untuk bisa menuju daerah yang sering disebut “chicken’s neck”, yakni sebuah wilayah di timur laut. Wilayah itu dapat menjadi salah satu pintu masuk menuju teritori India yang sekaligus bisa menjangkau dengan mudah beberapa negara bagian di India.
“Pembangunan infrastruktur tambahan dapat mengurangi keseimbangan kekuatan lokal yang akan menguntungkan China, yang pada dasarnya akan membuat India lebih rentan terhadap invasi jika terjadi konfrontasi militer dengan Beijing,” Kata peneliti senior di Royal United Services Institute (RUSI) London, Shashank Joshi, kepada CNN.
Masalah perbatasan antara India dan China dipercaya masih akan berlangsung lama. Terlebih lagi kalau kita melihat cara-cara penyelesaian pertiakain perbatasan antara kedua Negara itu dengan Negara-negara yang berbatasan dengan mereka. Misalnya China, mereka mempunyai masalah perbatasan dengan beberapa Negara seperti Jepang, dengan Korea Selatan, bahkan dengan beberapa Negara Asean di Laut China Selatan dan belum ada yang bisa terselesaikan dengan baik. Begitu juga dengan India, mereka bersengketa dengan hampir semua Negara yang berbatasan dengan negaranya dan juga tidak mampu menyelesaikannya dengan baik. Meski Dunia kian modern, tetapi cara pandang manusianya terkait perbatasan malah semakin kuno. Masing-masing mau ambil untung sebesar-besarnya demi kepentingannya sendiri. Tidak mau berbagi atau tidak sudi bekerja sama.
[1] https://www.matamatapolitik.com/sebab-detail-kenapa-konflik-memanas-di-perbatasan-china-india-analisis/
[2] https://tirto.id/perselisihan-antara-cina-dan-india-yang-tak-kunjung-usai-ct8E