Senin, 05 Januari 2026

Setelah Maduro Ditangkap: Mungkinkah Lai Ching-te Taiwan Bakal Mengalami Nasib Serupa?

 


Oleh   Harmen Batubara

Opini – Dunia dikejutkan dengan berita penangkapan Presiden Venezuela, Nicolás Maduro, oleh pasukan elite Amerika Serikat pada 3 Januari 2026. Operasi militer di Caracas ini tidak hanya mengubah peta politik Amerika Latin, tetapi juga mengirimkan gelombang kejut ke seluruh dunia. Pertanyaan besar kini menggantung di udara: Di tengah tatanan dunia yang semakin mengedepankan kekuatan fisik daripada kekuatan hukum, mungkinkah Presiden Taiwan, Lai Ching-te, akan mengalami nasib serupa di tangan kekuatan besar lainnya?

Kemerosotan Dewan Keamanan PBB dan Matinya Hukum Internasional

Penangkapan Maduro terjadi di saat kepercayaan global terhadap Dewan Keamanan PBB berada di titik nadir. Lembaga yang seharusnya menjadi penjaga perdamaian dunia ini seolah sudah tidak berdaya.

Kita telah melihat bagaimana Rusia menginvasi Ukraina tanpa ada tindakan berarti dari PBB karena hak veto yang dimiliki Moskow. Jauh sebelum itu, sejarah mencatat bagaimana Inggris dan Amerika Serikat melakukan invasi ke Irak tanpa otorisasi Dewan Keamanan. Kini, dengan tindakan sepihak AS di Venezuela, preseden hukum internasional semakin terkikis. Jika negara adidaya bisa "menculik" seorang kepala negara yang diakui secara internasional, lantas hukum apa yang masih tersisa untuk melindungi pemimpin negara lain?



Bisakah Amerika Serikat Dibuat Menghormati Hukum Internasional?

Salah satu inti persoalan adalah paradoks kepemimpinan Amerika Serikat. Di satu sisi, Washington sering kali menjadi pembela utama "tatanan berbasis aturan" (rules-based order). Namun, di sisi lain, AS kerap menunjukkan bahwa mereka berada di atas hukum tersebut jika kepentingan nasionalnya—seperti perang melawan narkoba atau keamanan energi—terancam.

Bagi banyak analis, operasi di Venezuela menunjukkan bahwa hukum internasional kini hanya berlaku bagi negara-negara lemah. Tantangannya adalah: Bisakah dunia memaksa negara adidaya untuk patuh pada aturan yang sama? Selama mekanisme sanksi di PBB bisa dilumpuhkan oleh hak veto, maka "keadilan" akan tetap bersifat selektif.


Taiwan di Bawah Bayang-bayang China: Belajar dari Ukraina

Kekhawatiran terbesar saat ini bergeser ke Selat Taiwan. Jika Rusia merasa berhak menginvasi Ukraina atas dasar keamanan sejarah dan teritorial, dan AS merasa berhak menangkap pemimpin negara lain di tanahnya sendiri, apa yang menghalangi China untuk melakukan hal serupa terhadap Taiwan?

Beijing secara konsisten menegaskan bahwa Taiwan adalah bagian dari wilayahnya. Di mata Beijing, Lai Ching-te dianggap sebagai tokoh "separatis". Dengan melemahnya wibawa hukum internasional:

·         China bisa menggunakan preseden Venezuela: Jika AS bisa menangkap Maduro atas tuduhan kriminalitas internasional, China mungkin akan mencoba menggunakan narasi hukum domestiknya sendiri untuk melakukan tindakan paksa terhadap pemimpin Taiwan.

·         Erosi Norma Kedaulatan: Setiap kali negara besar melanggar kedaulatan negara lain tanpa konsekuensi hukum, hal itu memberikan "lampu hijau" moral bagi kekuatan regional lainnya untuk bertindak serupa.

Nasib Lai Ching-te dalam Dunia yang Tanpa Aturan

Jika hukum internasional benar-benar telah digantikan oleh hukum rimba (might makes right), maka posisi Lai Ching-te dan Taiwan menjadi sangat rentan. Taiwan bukan hanya berhadapan dengan kekuatan militer China, tetapi juga dengan kenyataan bahwa dunia internasional—melalui PBB—mungkin tidak akan mampu berbuat banyak jika eskalasi terjadi.

Penangkapan Maduro adalah pengingat pahit bahwa kedaulatan sebuah bangsa hari ini lebih banyak bergantung pada kekuatan aliansi militer daripada pada lembaran-lembaran Piagam PBB. Bagi Lai Ching-te, tantangan ke depan bukan hanya soal diplomasi, melainkan bagaimana bertahan dalam dunia di mana aturan main bisa diubah dalam semalam oleh pemegang kekuatan terbesar.

Lai Ching-te, Presiden Taiwan sejak 2024, menghadapi tekanan dari China yang menganggapnya separatisme. Beijing telah menggelar latihan militer masif di sekitar Taiwan dan memperingatkan "teori dua negara" Lai sebagai provokasi. Analisis skenario invasi China menunjukkan risiko tinggi: blokade atau invasi amfibi mungkin, tapi biaya nuklir dan ekonomi global membuatnya tidak mungkin dalam waktu dekat—PLA ditargetkan siap 2027. Berbeda dengan Maduro, Taiwan didukung AS via Taiwan Relations Act, tapi jika China bertindak seperti Rusia di Ukraina, DK PBB kemungkinan lumpuh oleh veto China. Nasib serupa penangkapan? Tidak mungkin, karena AS tak akan "menangkap" Lai; sebaliknya, ketegangan bisa meningkat tanpa hukum internasional yang ditegakkan.