
Oleh Harmen Batubara
Bloomberg New Economy Forum 2025 menegaskan pergeseran kekuatan ekonomi
dunia. Tema “Thriving in an Age of Extremes” menggambarkan realitas global saat
ini: konflik geopolitik, perang tarif, dan ketidakpastian teknologi. Dalam
forum penting tersebut, sosok Joko Widodo—mantan Presiden Republik
Indonesia—memainkan peran strategis sebagai jembatan peluang ekonomi di kawasan
ASEAN, di tengah persaingan sengit antara Amerika Serikat dan Tiongkok.
1. Peran Joko Widodo di
Forum Global
Kehadiran Jokowi di Bloomberg Forum bukan sekadar simbolik. Dengan
pengalaman luas dalam memimpin Indonesia, ia turut menyumbang visi bahwa ASEAN
harus menjadi pusat logistik dan ekonomi alternatif dalam persaingan
dagang global. Dalam sesi diskusi kelompok, Jokowi menggarisbawahi bahwa ASEAN
tidak ingin menjadi sekadar penghuni “koridor dagang” antara Tiongkok dan
Amerika Serikat, tetapi sebagai aktor utama yang mampu mengambil manfaat
strategis dari konflik tarif dan kebijakan proteksionis.
Menurut Jokowi, strategi ASEAN harus dua arah: memperkuat integrasi
internal—melalui konektivitas infrastruktur, digitalisasi, dan rantai pasok
regional—serta membangun kemitraan luar negeri yang saling menguntungkan.
ASEAN, menurutnya, harus menegaskan diri sebagai alternatif netral dan
produktif bagi perusahaan global yang mencari stabilitas dan efisiensi di
tengah gejolak geopolitik.
![]() |
| Menulis Artikel Berkualitas dan Menarik |
2. Tariff Trump dan Risiko bagi ASEAN
Salah satu latar belakang penting forum ini adalah kebijakan tarif yang
pernah dijalankan oleh Donald Trump. Meskipun masa jabatan Trump telah berlalu,
dampak kebijakan proteksionisnya masih terasa dalam rantai pasok global. Tarif
terhadap barang-barang dari Tiongkok menyebabkan perusahaan multinasional
meninjau ulang strategi produksi dan distribusi mereka.
Dalam skenario ini, ASEAN berpotensi menjadi koridor produksi dan
ekspor yang sangat menarik. Banyak perusahaan yang mencari lokasi
alternatif di luar Tiongkok untuk menghindari risiko tarif tinggi ke AS.
Negara-negara ASEAN seperti Indonesia, Vietnam, dan Malaysia bisa menarik
investasi manufaktur baru—terutama dalam industri teknologi, elektronika, dan
barang konsumen—karena biaya tenaga kerja yang kompetitif dan potensi pertumbuhan
pasar domestik.
Jokowi menekankan bahwa Indonesia harus memanfaatkan momen ini untuk
memperkuat kebijakan industri lokal, memperkuat kawasan ekonomi khusus (KEK),
serta menarik investasi asing langsung yang bisa menciptakan lapangan pekerjaan
dan transfer teknologi.
3. Penguatan Ekonomi ASEAN: Peluang Jejaring Global
Forum Bloomberg memberi ruang bagi para pemimpin ekonomi dunia untuk
membangun jejaring strategis. Selain Jokowi, hadir tokoh seperti mantan Perdana
Menteri Inggris Rishi Sunak, mantan Menteri Perdagangan AS Gina
Raimondo, Gubernur Oklahoma Kevin Stitt, dan Menteri Perdagangan
Rwanda Prudence Sebahizi.
Di antara para pelaku bisnis global, terdapat nama-nama seperti Lila
Ibrahim (COO Google DeepMind), Patrick Maloney (Co-Founder The
Nuclear Company), dan Merit E. Janow (Chairperson Mastercard).
Keterlibatan tokoh-tokoh teknologi dan keuangan ini membuka akses strategis
bagi ASEAN untuk menarik investasi dalam bidang riset dan pengembangan
teknologi, fintech, serta energi baru.
Jokowi melihat ini sebagai peluang untuk membawa perusahaan-perusahaan
global ke ASEAN dan sekaligus mengajak perusahaan ASEAN untuk meningkatkan daya
saing dan inovasi. Melalui kolaborasi di bidang kecerdasan buatan, teknologi
ramah lingkungan, dan infrastruktur pintar, ASEAN dapat mengembangkan ekosistem
ekonomi digital yang kuat dan berkelanjutan.
4. Tantangan dan Strategi
Keberlanjutan
Tentu, peluang besar ini tidak bebas risiko. Infrastruktur yang belum
merata, masalah birokrasi, dan perbedaan kebijakan antar negara ASEAN menjadi
tantangan utama dalam mengintegrasikan kawasan. Selain itu, persaingan antar
negara anggota ASEAN untuk menarik investasi bisa menimbulkan “perlombaan
subsidi” yang justru merugikan.
Untuk mengatasi ini, Jokowi mengusulkan beberapa strategi:
- Harmonisasi
regulasi antar negara ASEAN untuk memudahkan arus
modal dan teknologi.
- Investasi
infrastruktur transportasi dan logistik lintas negara agar
rantai pasok regional makin efisien.
- Peningkatan
kapasitas SDM melalui pendidikan dan pelatihan digital
untuk menjawab kebutuhan investor teknologi.
- Kolaborasi
publik-swasta untuk membangun proyek berkelanjutan yang
mendukung ekonomi hijau dan tata kelola lingkungan.
Saya Ingin Katakan
Dalam lanskap persaingan dagang global yang semakin kompleks, kehadiran
Joko Widodo di Bloomberg New Economy Forum 2025 bukan hanya penting — ia sangat
strategis. Visinya untuk menjadikan ASEAN sebagai pusat alternatif ekonomi
global menghadirkan harapan besar bahwa negara-negara Asia Tenggara bisa
mengubah tantangan geopolitik menjadi peluang ekonomi nyata.
Jika dijalankan dengan baik, strategi ini bisa memperkuat posisi ASEAN
sebagai mesin pertumbuhan global, memacu investasi teknologi, dan
menciptakan masa depan yang lebih seimbang serta berkelanjutan. Ini bukan
sekadar mimpi diplomasi — ini adalah langkah nyata menuju kemajuan bersama.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar