Kamis, 20 November 2025

Pandangan Jokowi Dalam Mengelaborasi Peluang Ekonomi ASEAN di Tengah Persaingan Dagang China–Amerika Serikat


Oleh  Harmen Batubara

Bloomberg New Economy Forum 2025 menegaskan pergeseran kekuatan ekonomi dunia. Tema “Thriving in an Age of Extremes” menggambarkan realitas global saat ini: konflik geopolitik, perang tarif, dan ketidakpastian teknologi. Dalam forum penting tersebut, sosok Joko Widodo—mantan Presiden Republik Indonesia—memainkan peran strategis sebagai jembatan peluang ekonomi di kawasan ASEAN, di tengah persaingan sengit antara Amerika Serikat dan Tiongkok.

1. Peran Joko Widodo di Forum Global

Kehadiran Jokowi di Bloomberg Forum bukan sekadar simbolik. Dengan pengalaman luas dalam memimpin Indonesia, ia turut menyumbang visi bahwa ASEAN harus menjadi pusat logistik dan ekonomi alternatif dalam persaingan dagang global. Dalam sesi diskusi kelompok, Jokowi menggarisbawahi bahwa ASEAN tidak ingin menjadi sekadar penghuni “koridor dagang” antara Tiongkok dan Amerika Serikat, tetapi sebagai aktor utama yang mampu mengambil manfaat strategis dari konflik tarif dan kebijakan proteksionis.

Menurut Jokowi, strategi ASEAN harus dua arah: memperkuat integrasi internal—melalui konektivitas infrastruktur, digitalisasi, dan rantai pasok regional—serta membangun kemitraan luar negeri yang saling menguntungkan. ASEAN, menurutnya, harus menegaskan diri sebagai alternatif netral dan produktif bagi perusahaan global yang mencari stabilitas dan efisiensi di tengah gejolak geopolitik.

Menulis Artikel Berkualitas dan Menarik

2. Tariff Trump dan Risiko bagi ASEAN

Salah satu latar belakang penting forum ini adalah kebijakan tarif yang pernah dijalankan oleh Donald Trump. Meskipun masa jabatan Trump telah berlalu, dampak kebijakan proteksionisnya masih terasa dalam rantai pasok global. Tarif terhadap barang-barang dari Tiongkok menyebabkan perusahaan multinasional meninjau ulang strategi produksi dan distribusi mereka.

Dalam skenario ini, ASEAN berpotensi menjadi koridor produksi dan ekspor yang sangat menarik. Banyak perusahaan yang mencari lokasi alternatif di luar Tiongkok untuk menghindari risiko tarif tinggi ke AS. Negara-negara ASEAN seperti Indonesia, Vietnam, dan Malaysia bisa menarik investasi manufaktur baru—terutama dalam industri teknologi, elektronika, dan barang konsumen—karena biaya tenaga kerja yang kompetitif dan potensi pertumbuhan pasar domestik.

Jokowi menekankan bahwa Indonesia harus memanfaatkan momen ini untuk memperkuat kebijakan industri lokal, memperkuat kawasan ekonomi khusus (KEK), serta menarik investasi asing langsung yang bisa menciptakan lapangan pekerjaan dan transfer teknologi.

3. Penguatan Ekonomi ASEAN: Peluang Jejaring Global

Forum Bloomberg memberi ruang bagi para pemimpin ekonomi dunia untuk membangun jejaring strategis. Selain Jokowi, hadir tokoh seperti mantan Perdana Menteri Inggris Rishi Sunak, mantan Menteri Perdagangan AS Gina Raimondo, Gubernur Oklahoma Kevin Stitt, dan Menteri Perdagangan Rwanda Prudence Sebahizi.

Di antara para pelaku bisnis global, terdapat nama-nama seperti Lila Ibrahim (COO Google DeepMind), Patrick Maloney (Co-Founder The Nuclear Company), dan Merit E. Janow (Chairperson Mastercard). Keterlibatan tokoh-tokoh teknologi dan keuangan ini membuka akses strategis bagi ASEAN untuk menarik investasi dalam bidang riset dan pengembangan teknologi, fintech, serta energi baru.

Jokowi melihat ini sebagai peluang untuk membawa perusahaan-perusahaan global ke ASEAN dan sekaligus mengajak perusahaan ASEAN untuk meningkatkan daya saing dan inovasi. Melalui kolaborasi di bidang kecerdasan buatan, teknologi ramah lingkungan, dan infrastruktur pintar, ASEAN dapat mengembangkan ekosistem ekonomi digital yang kuat dan berkelanjutan.

4. Tantangan dan Strategi Keberlanjutan

Tentu, peluang besar ini tidak bebas risiko. Infrastruktur yang belum merata, masalah birokrasi, dan perbedaan kebijakan antar negara ASEAN menjadi tantangan utama dalam mengintegrasikan kawasan. Selain itu, persaingan antar negara anggota ASEAN untuk menarik investasi bisa menimbulkan “perlombaan subsidi” yang justru merugikan.

Untuk mengatasi ini, Jokowi mengusulkan beberapa strategi:

  • Harmonisasi regulasi antar negara ASEAN untuk memudahkan arus modal dan teknologi.
  • Investasi infrastruktur transportasi dan logistik lintas negara agar rantai pasok regional makin efisien.
  • Peningkatan kapasitas SDM melalui pendidikan dan pelatihan digital untuk menjawab kebutuhan investor teknologi.
  • Kolaborasi publik-swasta untuk membangun proyek berkelanjutan yang mendukung ekonomi hijau dan tata kelola lingkungan.

Saya Ingin Katakan

Dalam lanskap persaingan dagang global yang semakin kompleks, kehadiran Joko Widodo di Bloomberg New Economy Forum 2025 bukan hanya penting — ia sangat strategis. Visinya untuk menjadikan ASEAN sebagai pusat alternatif ekonomi global menghadirkan harapan besar bahwa negara-negara Asia Tenggara bisa mengubah tantangan geopolitik menjadi peluang ekonomi nyata.

Jika dijalankan dengan baik, strategi ini bisa memperkuat posisi ASEAN sebagai mesin pertumbuhan global, memacu investasi teknologi, dan menciptakan masa depan yang lebih seimbang serta berkelanjutan. Ini bukan sekadar mimpi diplomasi — ini adalah langkah nyata menuju kemajuan bersama.

 







Tidak ada komentar: